About me

Foto saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Instagram: @dewikusumapratiwi Facebook: https://www.facebook.com/dewi.kusumapratiwi

Kamis, 08 Februari 2018

Maafkan Aku, Ayah

Maafkan Aku, Ayah

Ibuku sudah menelponku berkali-kali untuk menyuruhku pulang. Namun kala itu aku sibuk sekali. Menjadi aktivis kampus, menurutku adalah ladang pahala. Aku mengerahkan tenaga, pikiran, dan materi untuk kebaikan. Demi umat.

"Kapan pulang, nak?"
"Nanti ya bu, masih banyak urusan"
Demikianlah kira-kira aku selalu menolak ibuku. Namun ibuku selalu memakluminya. Padahal kala itu ayahku sedang sakit keras.

Karena desakan, akhirnya aku mengusahakan pulang meskipun hanya sehari. Formalitas, menengok ayahku sebentar ke rumah sakit. Aku hanya gerah dengan tetangga yang mulai membicarakan aku. "Anak macam apa itu, ayahnya sakit tapi gak mau nengok."

Melihat kondisinya yang lemas dan manja, bergantung pada ibu, aku jadi sedikit jengkel. Saat mau kembali ke tempat perantauan, aku berpesan dengan nada ketus.
"Cepet sehat dong, Yah... Jangan nyusahain ibu terus, kasihan!"
Aku tak sadar dengan apa yang aku ucapkan. Hanya itu yang menurutku benar.

Aku kembali ke tempat perantauan untuk menghadapi Ujian Akhis Semester (UAS). Ibuku pun menitipkan do'a.
"Sukses ujiannya ya nak... Kalau sudah selesai ujian langsung pulang ya..."

***

3 Minggu berlalu. Aku sudah selesai UAS. Aku memang berniat liburan sekalian mudik dan menengok ayah. Rencananya besok pagi aku akan pulang dan malam ini packing. Namun setelah ujian di hari akhir ini, sorenya aku ada rapat. Aku ikut rapat terlebih dahulu. Rapat tersebut memutuskan bahwa panitia acara besar keagamaan kala itu harus mencari dana karena adanya kekurangan dsna yang belum tertutupi. Sebagian besar dari mereka tidak ada yang liburan. Hal ini membuatku galau.

Selesai rapat aku pulang ke kosan, tiba-tiba ada telepon dari rumah. Tanteku.
"Mbak, pulang sekarang ya... Bisa gak bisa pokoknya pulang sekarang"
Suaranya tersedu-sedu. Kudengar di belakangnya banyak suara tangisan. Aku menebak hal yang tidak aku harapkan terjadi.
Aku menelepon adikku yang kecil. Adikku hanya berkata satu kalimat sambil menangis. "Mbak, Ayah meninggal."

Hatiku sangat terpukul kali itu. Air mata tak dapat kubendung. Aku segera packing dan pergi ke terminal. Sepanjang perjalanan aku menangis dan menyesali perbuatanku. Untuk apa selama ini aku berbuat baik pada orang lain, namun tidak kepada keluargaku sendiri? Aku lebih mementingkan orang lain daripada keluargaku sendiri. Aku berkata sopan kepada orang lain namun tidak kepada orang tua dan keluargaku sendiri. Aku telah menyakiti ayah yang selama hidupku, ia berjuang, banting tulang untuk menafkahiku. Dan di saat aku bertemu dengannya, aku malah menyakiti hatinya. Tak pernah ada kesempatan lagi untuk aku meminta maaf.

Aku sadar, bahwa seharusnya, keluarga menjadi prioritas utama.

#day17 #30DWC #30DWCjilid11 #cerpen #fiksi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar