About me

Foto saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Instagram: @dewikusumapratiwi Facebook: https://www.facebook.com/dewi.kusumapratiwi

Minggu, 13 Maret 2016

Dua Tahun untuk Dua Hati dari Gede-Pangrango

Tentang cinta,
Cinta yang tak mungkin?
Bagaimana tidak.
Dirinya terlihat terjaga, sedangkan diri ini pernah berkali-kali maksiat.
Namun, kuingin seperti Umar bin Khathab, yang mampu berhijrah 180 derajat.
Yang dulu paling terang2an membenci rasulullah saw, setelah bertaubat (masuk islam), menjadi yang paling terang2an membela rasulullah saw.
Yang dulu sangat keras dalam menentang ajaran islam, bahkan sering melakukan perbuatan kasar pada kaum muslim, setelah bertaubat, menjadi sahabat yang selalu setia menemani rasulullah dalam berdakwah hingga ia termasuk orang yang dijamin masuk syurga.

***

Tingkat II kuliah di kampus ini, saat kita tergabung dalam suatu forum. Kuingat percakapan pertama kita, "Arbi anak 78? Wah, sekolah kita tetanggan ya..." "Iya. Alhamdulillah ya, nambah saudara nih..." dilanjutkan dengan basa basi belaka di dalam forum tersebut.
Setahun, dua tahun, rasanya kita sering terlibat dalam amanah (kepanitiaan acara) yang sama. Namun, tak ada percakapan intens.


Aku tak begitu mengenal dirimu, meski kutahu engkau ada.
Banyak yang bilang kamu orangnya totalitas, bertanggung jawab, dan rela berkorban.
Namun itu semua belum begitu menarik perhatianku...
Tingkat IV kuliah di kampus ini, saat penat dengan dunia skripsi. Kuingat itu bulan Mei 2014, saat aku mengajak semua orang di dalam suatu grup untuk liburan bareng (backpacker ke Lampung Selatan). Dengan sopannya kamu meminta izin untuk tidak ikut karena sedang KP (Kerja Praktek). Aku pun hanya memberi kata semangat yang standar.
Belum ada rasa.

Juli 2014, adalah pendakian pertamaku, di gunung Merbabu. Tak ada dirimu di sana. Aku hanya bersyukur. Diriku yang lemah ini, yang dulunya sakit2an, yang pernah dijudge orang tak akan mampu, diberi kesempatan untuk menaklukkan puncak setinggi 3145 mdpl.
Dari sana, aku melihat puncak2 lain yang ingin kudaki...

Agustus 2014, aku hendak melanjutkan double summitku yang tertunda, menaklukkan puncak Merapi 2950 mdpl dan Sumbing 3371 mdpl. Tiba-tiba ada kamu di sana.
"Merapi adalah gunung dengan track tersulit dari yang pernah kudaki. Namun Merapi menjadi gunung paling favouriteku karena Merapi hangat dan entah mengapa aku mendapatkan suatu energi di sana. Ada hal yang tidak biasa yang aku rasakan, yang entah itu dimulai sejak kapan. Merapi mengubah banyak hal dalam kehidupanku. Aku menjadi berani untuk naik gunung manapun setelah naik Merapi." (http://dewikusumapratiwi.blogspot.co.id/2013/11/akhir-dari-sebuah-pencarian.html)
"Sumbing adalah gunung yang pertama kali aku black list karena cerita horor dan sulit tracknya. Namun setelah melewatinya, Sumbing menjadi gunung yang menggoreskan kesan yang paling dalam, dalam sekali. Sumbing yang mengajariku arti perjalanan hidup, tentang perjuangan cita dan cinta." (http://dewikusumapratiwi.blogspot.co.id/2013/11/akhir-dari-sebuah-pencarian.html)
ANTARA MERAPI, SUMBING DAN DIA, AKU JATUH CINTA PADA MEREKA BERTIGA.

Selanjutnya, aku melewati bulan-bulan yang berat, yang ternyata menjadi bulan yang berat pula bagi dirimu.
Nasehat sahabat, "ujian terberat bagi seorang penuntut ilmu adalah lawan jenis".
Ya, rasa itu datang lagi. Rasa yang pernah berkali2 membuatku terjerumus ke dalam jurang pacaran. Namun kali itu, aku tak ingin mengulanginya lagi.
Bukan hal yang mudah. Mencintai dalam diam. Mencintai tanpa kepastian.
Logika ini selalu berkata "tak mungkin!"
Namun entah mengapa, hati ini selalu mendo'a.

Oktober 2014, kamu mngajakku double summit Gede-Pangrango bersama 33 orang teman yang lain.
Tim kita harus terbagi menjadi 2, melalui Cibodas (jalur wisata) dan Salabintana (jalur hutan).
Kamu menempatkanku di tim yang kamu ketuai, Salabintana.
Sebuah perjalanan yang cukup mendebarkan. Kita harus melewati track yang sangat melelahkan dan mengancam. Medan yang berat, diguyur hujan, diserang pacet, diancam binatang buas, terpaksa perjalanan malam karena jadwal molor, laper, capek, sampai ada beberapa orang yang halusinasi dan sakit. Dan perjalananpun semakin terasa berat tanpa dirimu. Saat itu, kamu harus tracking terlambat 5 jam dari kami karena harus mengurus simaksi tim kita...
Medan yang berat kalah dengan perasaan khawatir. Khawatir akan keselamatan diri sendiri, tim, dan dirimu yang di belakang.
Mungkin, saat itu kita semua mengerahkan seluruh indera untuk bekerja. "... kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya, serta mulut yang akan selalu berdoa." (Donny Dhirgantoro - 5 cm).


Rasa syukur yang luar biasa adalah saat dirimu dan tim kecilmu mampu menyusul kami. Hingga kita semua selamat sampai padang luas dengan indahnya bunga edelweiss, alun-alun Surya Kancana.
"
Ada sesuatu yang berharga di alun-alun Surya Kancana, tempat yang seharusnya menjadi tempat bersejarah bagiku. Ada hati yang mau berkata di tempat indah itu. Namun sayangnya tertunda karena ia harus mengutamakan kepentingan bersama. Suatu tanggung jawab untuk membawa mereka semua selamat sampai di bawah lagi. Suara hati yang selama dua bulan sebelum itu, aku harapkan dalam setiap do’a-do’aku. Entahlah, inilah yang namanya Rahasia Tuhan. Surprise istimewa dari Tuhan yang datang jauh lebih cepat dari yang pernah aku harapakan. Yang hadir dengan cara yang lebih baik dari yang aku inginkan. Sebuah hati yang jauh lebih baik dari yang pernah aku impikan." (http://dewikusumapratiwi.blogspot.co.id/2014/04/dua-hati-dari-gede-pangrango.html)
"Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?" (QS. Ar Rahman)

Beratnya medan Salabintana, menghadiahkan alam Gede-Pangrango yang begitu indah. Begitu megahnya ciptaan Allah SWT. Sabana edelweiss (Surya Kancana), puncak Gede, Kandang Badak (area camp malam kedua), puncak Pangrango, Mandalawangi (padang edelweiss), sungai air panas, air terjun, goa, danau, dll. Seluruh kegalauan terkubur dalam di gunung itu. <3

***

Kini, dua tahun aku telah hidup bersamamu. Banyak suka dan duka. Banyak air mata dan tawa.
Dua tahun yang tidak mudah untuk dijalani.
Dua tahun yang penuh dengan ujian dan rintangan.
Namun, aku sangat mensyukuri dua tahun ini...
Hidup bersamamu,
Sang pangeran impian.

Bukan hanya karena kamu tampan di mataku,
Bukan juga karena aku telah menjadi pemenang hatimu yang banyak direbutkan.
Namun, kamu begitu sangat melengkapiku yang penuh dengan kekurangan ini.
Perhatianmu, tanggung jawabmu, kesetiaanmu, kasih sayangmu, kesabaranmu, pengorbananmu, keikhlasanmu dan banyak sekali detail mulai dari hal besar sampai hal sepele yang kamu lakukan untukku.
Aku rasa, aku tak akan pernah menemuinya pada laki-laki lain selain ayahku.

Aku tak akan berdusta pada dunia, kalau kamu bukan cowok yang perfect.
Ada banyak kekuranganmu,
Tak jarang juga kamu melakukan khilaf...
Namun, semua itu adalah bagianku...

Aku juga tak akan berdusta pada dunia, kalau sebenarnya kamu bukan cowok yang romantis...
Yang suka memuji dengan kata2 indah (ngegombal), ngasih surprise, selalu merayakan hari istimewa, suka ngajak dinner candle light, suka ngasih bunga, dll.
Gak jarang kamu suka ngebully2, nyuekin aku gara2 lagi main game, lama bales whatsapp, dan suka telat pulang.
Tapi dengan pedenya aku berani bilang pada dunia kalau KAMU SAYANG BANGET SAMA AKU.
Sayang yang bukan sekedar bualan,
Sayang yang sangat nyata.
Sayang yang bukan hanya aku rasakan, namun juga dirasakan oleh seluruh anggota keluargaku,
Tanpa terkecuali...

I praise Allah for sending me you, my lovely navy...
So did our lovely baby...
Happy 2nd anniversary,
Thanks so much for everything. <3
I love you so much, seems like begin.



Ditulis pada #9Maret2016 saat #solareclipse

Selasa, 02 Februari 2016

Aku Bukan

Aku bukan Khadijah,
Wanita sempurna yang pantas menjadi teladan bagi semua wanita dalam pengabdiannya kepada suami...
Aku bukan Aisyah,
Wanita cantik berpipi merona yang bukan hanya sedap dipandang suaminya namun  kecerdasan dan banyak ilmunya menjadi sumber manfaat bagi orang lain...
Aku bukan Fathimah,
Yang selalu zuhud dalam kehidupannya dan ikhlas hatinya...
Aku tak seperti mereka,
Para wanita soleha yang luar biasa bagi suami dan keluarganya...

Aku tak tahu, mengapa dulu kau memilihku...
Hingga sampai saat ini masih sangat menyayangiku...
Bahkan menyayangi keluargaku dengan begitu tulusnya...
Aku hanya bisa bersyukur...

Mungkin aku tak akan pernah bisa menjadi Khadijah, Aisyah, Fathimah, maupun wanita-wanita lain yang dijamin masuk syurga...
Namun aku berharap, kau selalu setia di sisiku...
Untuk menjadi pesaing sejati dalam urusan ibadah dan kebaikan,
Seorang navy dalam perjalanan,
Dan seorang sahabat dalam keistiqomahan...