About me

Foto saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Instagram: @dewikusumapratiwi Facebook: https://www.facebook.com/dewi.kusumapratiwi

Kamis, 21 November 2013

Dengarlah Suara Hatiku

Aku adalah penikmat jalan kelam
Namun aku adalah perindu jalan terang
Aku selalu meminta yang kurindukan
Meski aku berjalan di arah sebaliknya

Dia yang kuminta selalu memberikan semuanya
Meskipun jalanku seringkali berlawanan arah dengannya

Aku adalah anak nakal
Yang tidak konsisten dengan apa yang kuinginkan dan apa yang kujalani
Namun Dia sangat baik

Kini Dia mendorongku ke jalan yang aku inginkan
Meskipun aku ‘tidak suka’ dengan ‘paksaan’ ini
Jalan ini begitu ‘menyakitkan’
Tapi, aku tahu ini yang terbaik untukku
Dan alasan bahwa Dia sayang sekali denganku

Kata ‘tidak suka’, ‘paksaan’, dan ‘sakit’ itu hanyalah sebuah kedzholiman
Kedzholiman atas dirku sendiri
Betapa aku tidak ridha mendapatkan yang terbaik untukku sendiri
Ini sebuah kesalahan besar

Ternyata Dia lebih tahu apa yang aku butuhkan dan apa yang aku inginkan
Dia lebih mengerti akan diriku
Dia lebih menjagaku
Dan Dia lebih sayang sama aku
Daripada diriku sendiri

Dia Maha Baik
Dia Maha Pemurah
Dia Maha Pengasih
Dia Maha Penyayang
Dialah Allah, Tuhanku, Tuhanmu, dan Tuhan kita semua

Wahai penghuni jalan kelam,
Janganlah kau memanggilku lagi untuk menuju ke sana
Jika kamu merindukanku dan ingin memanggilku,
Panggillah aku dari jalan yang terang

Aku ingin terbiasa berada di jalan ini
Dan aku ingin tetap menjadi intan
Yang akan semakin bersinar dengan tempaan-tempaan

Senin, 11 November 2013

Akhir dari Sebuah Pencarian

Mengingat kembali memori, mengapa aku bisa hobi naik gunung? http://dewikusumapratiwi.blogspot.com/2013/07/catatan-pendakian-gunung-merbabu-part-1.html
Padahal dulu aku lemah dan malas, naik Tangkuban Perahu saja minta ditarik dan dibawain tasnya. Namun, ketika mengenal Bibit dan Tamasya Ganesha, aku merasa banyak mengalami perubahan. Banyak sekali pelajaran yang mereka berikan, sangat berarti dan bermakna.

Awalnya, aku hanya ingin naik 1 gunung saja, yaitu Semeru, karena efek nonton film 5 cm. Namun, gara-gara banyak yang bilang sebelum naik Semeru harus naik gunung-gunung yang lebih pendek dulu maka aku naik gunung-gunung yang lain. Alhamdulillaah, aku sangat bersyukur karena teman pertamaku naik gunung adalah Bibit dan Tamasya Ganesha. Tidak ada penyesalan naik gunung bersama mereka dan mereka lah yang membuatku bisa sampai di puncak, serta puncak-puncak berikutnya. ^_^

Summit Attack I
Merbabu menyimpan kenangan yang sangat dalam. Ketika aku pulang kampung, aku bisa melihat Gunung Merapi dan Merbabu dengan jelas. Terkadang terharu sampai bisa meneteskan air mata. Summit attack Merbabu menjadi summit attack yang paling berkesan karena mungkin adalah pengalaman pertamaku. Selain itu, summit attack merbabu adalah summit attack tersoleh dari yang pernah kulewati karena isinya mayoritas anak-anak Salman. Dan kapten terbaik dari semua dan selama ini yang aku rasakan adalah kapten di Merbabu (baiknya objektif loh). Dia lah yang membuatku banyak belajar dan berazzam untuk menjadi lebih kuat & lebih peka setelahnya.
Quotes untuk Merbabu : terdingin, terindah, terkenang.

Summit Attack II
Merapi adalah gunung dengan track tersulit dari yang pernah kudaki. Namun Merapi menjadi gunung paling favouriteku karena Merapi hangat dan entah mengapa aku mendapatkan suatu energi di sana. Ada hal yang tidak biasa yang aku rasakan, yang entah itu dimulai sejak kapan. Merapi mengubah banyak hal dalam kehidupanku. Aku menjadi berani untuk naik gunung manapun setelah naik Merapi.
Quotes untuk Merapi : terkeren.

Summit Attack III
Sumbing adalah gunung yang pertama kali aku black list karena cerita horor dan tracknya. Namun setelah melewatinya, Sumbing menjadi gunung yang menggoreskan kesan yang paling dalam, dalam sekali. Sumbing yang mengajariku arti perjalanan hidup, tentang perjuangan cita dan cinta.
Quotes untuk Sumbing : LUAR BIASA, terlelah, terdalam.

Summit Attack IV
Gunung Manglayang 1818 mdpl : (belum ada tulisan) 
Manglayang yang mengajariku pertama kali menjadi manajer perjalanan. Entah mengapa saat itu merasa ribet, namun banyak sekali pelajaran yang aku dapatkan. Orang yang paling berjasa, tentunya adalah Bibit, Pras, dan Ugun, meski kami semua gak naik bareng. Saat itu aku salah memenej jumlah cewek dan cowok. Saat itu cewek : cowok = 3 : 1, padahal seharusnya terbalik. Namun alhamdulillah perjalanan lancar karena mereka (segenap tim Manglayang) yang luar biasa. ^_^
Quotes untuk Manglayang : terribet.

Summit Attack V & VI
Aku masih belum bisa menceritakan tentang perjalanan ini karena terlalu banyak cerita dan keindahan-keindahan yang aku temukan di sana, terutama keindahan alamnya. Namun seperti tesimoni salah satu anggota tim Double Summit Gede-Pangrango, bahwa "segala kegalauan berakhir dan terkubur di dalam gunung itu". Sebenarnya tidak ada hal yang kurasa terlalu spesial selama di sana karena Sumbing masih menjadi pemenang. Namun entah, aku merasa cukup sampai di sini pencarian dan latihanku naik gunung.

Akhir dari Sebuah Pencarian
Kini aku telah menjadi seorang 'wanita strong', meski kata mereka staminaku masih payah. Aku merasa, aku telah menjadi pemenang. Dan ini mungkin menjadi gunung terakhirku untuk latihan. Setelah ini, aku ingin menaiki gunung yang sebenarnya sangat ingin aku naiki di saat yang paling tepat, yaitu Semeru dan Rinjani. Semeru dan Rinjani adalah gunung tujuan utamaku. Dan seperti visi Tamasya Ganesha : Survey tempat, situasi, dan kondisi untuk perjalanan berikutnya yang lebih baik bersama orang yang sangat ingin diajak. (Sumber: http://www.facebook.com/groups/tamasyaganesha/666027866752200/?ref=notif&notif_t=group_comment_reply), maka aku berharap, aku menjadi 'orang yang sangat ingin diajak' oleh seseorang untuk summit attack ke Gunung Semeru dan Rinjani. :-)

Sahabat-sahabat Tasha (Tamasya Ganesha)
Semua yang pernah naik gunung bareng aku, aku namakan Happy Sunrise B-). Kami memiliki grup whatsapp, di mana kami dapat ngobrol dan semakin dekat. Selain HS, aku juga menjadi sahabat sanggar, di mana hampir setiap hari aku makan dan hang out bareng mereka. Aku juga sering mangkal di sanggar mereka, sanggar Pramuka ITB, di mana seperti menjadi rumah keduaku setelah kosan. Mereka lah yang mengisi dan mewarnai kehidupanku akhir-akhir ini, di saat aku sedang hectic TA dan urusan-urusanku di tingkat akhir. Mereka sudah kuanggap seperti saudara. Mereka adalah sahabat-sahabat yang baik.
Di antara mereka, ada sahabat yang paling baik menurutku, yang pantas untuk aku sebut sebagai best friend. Namanya Bibit. Selain itu, ada beberapa yang juga kuanggap seperti keluarga sendiri. Mungkin aku ingin sedikit mendeskripsikan tentang mereka.
  • Bibit Musnaini (Bibit)
Bibit itu nyebelin, suka mendemotivasi, suka ngebully2, banyak back up nya, alay, suka modus, suka tidur di kelas, gak tinggi :-P kekekeke, dan sinis. Ketika di lapangan, Bibit tidak sering terlihat (gelap kali ya bit, kamu? :-P Kekekeke), namun dialah yang memastikan semuanya aman, semua orang dan semua keadaan. Ketika summit attack, mungkin dia jarang mem-back-up-i atau memotivasi orang namun dia selalu memastikan kalau setiap orang ter-back-up-i, aman dan termotivasi. Bibit muncul ke permukaan ketika memang dibutuhkan, ketika memang tidak ada lagi yang bisa melakukannya. Kayak Bima Satria Garuda dong ya? haha. Itulah alasan mengapa aku sangat trust dengan Bibit dan setiap summitku selama ini harus ada Bibit.
Setelah 6 kali summit bersamanya selama ini, aku mengakui bahwa dia adalah porter level V. Kalau kata mereka, porter level I adalah orang yang mampu membawa logistik bersama seperti kompor, misting, makanan dan air; porter level II adalah orang yang mampu membawa tenda dan logistik bersama; porter level III adalah orang yang mampu membawa tenda & logistik bersama dan mampu mem-back-up-i (menjaga dan memotivasi) orang lain; porter level IV adalah orang yang mampu membawa tenda & logistik bersama dan mampu mem-back-up-i 'kaewong' orang lain. hahahaha. Sedangkan Bibit adalah porter level V, di mana selama ini tidak ada yang mampu menandinginya, baik di lapangan maupun di kehidupan nyata. Dia mampu mem-back-up-i dan memfasilitasi semua orang, bahkan menyerahkan back up nya kepada orang lain. Kekekeke. (semoga pada roaming).
Di kehidupan nyata, Bibit itu SUPER BAIK. Meski nyebelin tapi dia sering bikin seneng banyak orang; meski suka mendemotivasi, sebenernya itu cara dia untuk memotivasi; meski suka ngebully2, tapi dia sering membantu dan mensolusikan masalah-masalah orang; Bibit itu solutif dan tempat sampah (baca: tempat curhat) banyak orang; meski (keliatan) banyak back up, tapi setauku dia itu setia, bahkan sangat setia; meski alay, tapi emang dia alay, haha; meski suka modus, tapi sebenernya itu emang hobi dia, kekekeke; meski suka tidur di kelas, tapi dia fast track dan double degree ITB-Belanda, yang lulus tepat waktu dan saat ini udah S2 sendiri di antara semua anggota Tasha, bentar lagi berangkat ke Groningen, Belanda; meski gak tinggi, tapi diem2 banyak fansnya (namun sayang, fansnya aja gak mau sama dia. Kekeke); dan meski sinis, tapi kesan pertamanya ramah kok (berarti dia gak ramah dong sebebernya? haha. Makanya, silakan kenalan dulu sama makhluk yang namanya Bibit ini, maka kalian pun akan menyesal :-P Ini nih alamat fb nya: http://www.facebook.com/bibitmusnaini?fref=ts)
Dua kata yang pantas aku berikan untuk Bibit, SUPER TULUS.
FYI: hampir setiap perjalananku ada Bibit nya.
  • Angga Prabowo (Angga)
Angga itu, meski saat itu adalah orang yang paling muda tapi yang paling berpengalaman dan paling gak polos. Angga itu kaewong aku loh. Haha. Kaewong, di mana aku merusak definisi kaewong dan membuat kata kaewong gak sakral lagi. Entah dia itu sebenernya apa, kalau kata Bibit sih dia LO aku. Haha. Angga adalah temen summit pertama yang mendadak aku anggep udah kayak adhek sendiri. Tapi karena definsi di kalimat pertama, maka tentunya dia lebih dewasa dari aku dan dia yang sering jadi tempat sampahku. Angga itu peka dan pengertian, dia type observer, banyak fansnya, banyak back up nya, pendengar yang baik, dan setia. Meski baru 2x summit attack bareng Angga tapi aku sangat mengenal Angga. :-)
  • Syifaturahmah Nurfalah (Syifa)
Aku suka menyebutnya kk Cipa. Beliau angkatan 2008. Kk Cipa itu kayak primadonanya Tasha. Kata mereka, kk Cipa adalah kaewong semua orang. Haha (jangan GR kak). Kk Cipa hampir setype sama Bibit dalam hal kedewasaan dan kesolutifan. Kayaknya mereka cocok tuh. Cocok menjadi ayah dan ibunya Tamasya Ganesha. Kekeke. Kk Cipa juga type pendengar dan pemberi solusi yang baik, dewasa, keibuan, namun penurut. Kk Cipa itu manis, supel, dan populer. ;-)
Aku baru sekali summit attack bareng kk Cipa, Gede via Salabintana.
  • Mutiara Annisa M (Icha)
Icha itu salah satu cewek Tasha yang aku fans di awal. Dia yang banyak diceritain anak2 pas summit pertamaku. Katanya Icha itu strong dan lincah. Dia pernah menuruni jurang. Pas udah kenal dia, ternyata dia emang strong. Icha itu simple, kalau naik gunung suka dadakan dan persiapannya minimal, tapi tenaganya maksimal. Dia akhwat sporty. Dia unyu dan cengeng. Huuu, icha cengeng huuu. :-P Pokoknya sayang Icha deh. <3
Aku baru 2x summit attack bareng Icha, Sumbing dan Manglayang. Tapi sering ketemu di sanggar, belanja bareng dan makan bareng.
  • Nur Laily (Lily)
Lily kalau lagi sama Icha, kayak anak kembar. Sama-sama anak Farmasi dan sama-sama unyu. Aku sayang banget sama Lily. Panggilan sayangku buat dia adalah Lilymon. Dia itu lucu, baik, manis, setia, dan ngangenin. Dia punya kemampuan khusus yang membuat dia mampu melihat hal lebih banyak daripada orang lain. Dia aktivis Salman dan anak asrama putri Salman.
Aku udah 4x summit attack bareng Lily : Merbabu, Sumbing, Gede via Salabintana, dan Pangrango.
  • Yuniarti Karina Pumpun (Nia)
Nia itu cewek sabi. Dia tahan dingin daripada orang lain. Dia termasuk yang menurunkan derajat cowok2 Salabintana pas di alun-alun Surya Kencana karena dalam keadaan dingin, dia pake pakaian serba pendek. Nia baik banget dan sangat toleransi. Nia kadang-kadang juga lucu, dia supel, ramah dan menyenangkan. Nia jarang muncul di whatsapp tapi sekalinya muncul banyak yang nyambut. Mereka punya lagu tersendiri buat Nia, lagunya The Pandal. Lagu itu sesuatu banget, katanya sih buat motivasi Nia pas summit attack Semeru. Aku udah 3 kali summit attack bareng Nia: Sumbing, Manglayang, dan Gede via Salabintana.
  • Athia Nur Aziza (Athia)
Athia itu adhek gue banget. Beneran kalau ini karena satu2nya orang yang gak lebih dewasa dari aku cuma Athia. Kekeke. Tapi sebenernya tetep dewasaan dia sih, soalnya dia lebih kalem. Haha. Pertama kali kenal Athia, lucu banget ceritanya, tapi aku gamau nyeritain di sini. Dan setelah kejadian yang lucu itu maka membuat kami dekat dan saling curhat2an. Athia sekarang udah sidang dan dia lagi semangat banget buat bisnis.
"Athia, semoga deklarasi Angga dan Bibit pada saat pertama kali kita kenal menjadi nyata ya? Semoga suatu saat kita menjadi semakin dekat. Hehe" #kode
Aku belum pernah Summit attack bareng Athia tapi udah sangat deket sih. Haha.
  • Septian Dwi Prasetyo (Pras)
Pertama kali kenal Pras di grup Tasha. Kesan pertama saat itu juga, Pras itu ganteng, objektif, dan polos. Tapi setelah kenal beneran? Menipu. Hahahaha. Pras kalau di lapangan keren banget, cariernya yang paling berat (100 liter) dan biasanya paling padat. Dia juga pernah naik gunung sendirian dengan beban yang sangat berat (bawa beras dan baju bekas pulang kampung). Pras emang kurang peka tapi dia selalu mencoba untuk peka. Pras emang suka garing tapi dia selalu berusaha untuk menghibur orang lain. Pras adalah salah satu kapten perjalanan yang baik. Dia kritis namun realistis. Kadang dewasa, kadang childish. Overall, Pras baik hati, manis, tulus dan perhatian. Pras adalah porter level IV yang katanya sudah tidak objektif lagi. Pras juga aktivis, aktivis banget malahan. Seringkali dia punya agenda bentrok, dia juga pelayan umat (sering nganterin orang yang butuh).
  • Widi Arfianto (Widi)
Kesan pertama kali kenal Widi adalah karismatik. Sebelumnnya udah kenal Widi pas gathering2 Tasha. Tapi pertama kali kenal Widi beneran pas naik Gede-Pangrango kemarin. Ternyata Widi itu koplak. Haha. Kalau ada Widi, pasti suasana jadi berwarna dan gak pernah ngebosenin. Widi jago banget main gitar. Kalau Widi main gitar, bikin melting. Widi itu ex senatornya HMM loh. Dia kalau main werewolf jago banget, jago menguasai masa. Efek senator kali ya? Haha. Widi kalau di lapangan juga termasuk orang yang peka dan pengertian. Ternyata kalau di kehidupan nyata juga. Dia itu baik, peka, dan pengertian. Dia porter level IV. Pokoknya Widi itu menyenangkan dan aku adalah salah satu anggota WFC (Widi Fans Club).
  • Achmad Arbi (Arbi)
Arbi itu kecil-kecil tapi strong. Arbi itu baik banget. Dia type motivator. Dia supel, peka dan gampang memahami orang lain. Kadang-kadang dia cool. Gak heran kalau Arbi banyak yang suka. Tapi kalau dia lagi hectic atau fokus ngerjain sesuatu, jangan sesekali gangguin dia. "Senggol dikit, bacok". Haha, gak deng bercanda. Tapi sepertinya dia type monotasking. Kalau lagi sibuk (terutama di lapangan), dia gak bisa digangguin. Arbi itu kapten yang baik.
Kalau di kehidupan nyata, aku pernah beberapa kali seamanah sama dia. Dia itu amanah banget, totalitas, dan suka mementingkan orang lain di atas kepentingannya sendiri. Overall, dia itu low profile sehingga aku tidak bisa mendefinisikannya lebih.
  • Hasti Asfarina (Hasti)
Hasti itu super ramah dan super baik. Dia type pencerita dan menyenangkan. Rumah Hasti sering menjadi homebase saat Tasha naik Sindoro atau Sumbing dan jalan-jalan ke Dataran Tinggi Dieng. Keluarga Hasti baik banget. Rumahnya bikin betah buat kita main.
  • Adam Wicaksono (Adam)
Adam itu sesuatu banget. Dia cool. Pendiem tapi supel. Dia juga peka dan ulet saat di lapangan. Dia baik dan pengertian. Rumahnya sering jadi homebase saat Tasha naik Merapi-Merbabu. Ayah dan ibunya super baik. Suasana rumahnya ngangenin banget. Ibu dan ayahnya juga ngangenin banget. Adam tuh udah kayak saudara juga. Dia anak asrama Salman dan aktivis Salman. Bacaan Al-Qur'annya bagus. Pokoknya dia favourite banget lah.
  • Fakhri Abdul Mu'iz (Fakhri)
Fakhri itu kalem, dewasa, dan baik. Dia peka dan pengertian. Pokoknya do'a buat fakhri, semoga mendapatkan jodoh terbaik sesuai dengan yang dia inginkan dan segera tercapai target2nya. ^_^ (entah kenapa pengen do'ain Fakhri gitu).
  • Guntur Gunawan (Ugun)
Entah kenapa, Merapi tuh bikin aku jadi deket banget sama timnya meskipun awalnya gak kenal sama sekali. Dialah Ugun, yang baru kenal tapi udah dengerin curhatanku. Dia yang selalu setia menemani di setiap langkahku, terutama saat turun Merapi. Dia cowok dengan carier teringan, tapi dia tetep baik dan peka. Dia pendengar yang setia. Dia yang pertama kali jadi kapten di Tasha saat di Sumbing, dan keduanya di Manglayang. Aku cukup trust sama Ugun. Kata anak-anak, dia tuh bocah, gak keliatan kalau dia angkatan 2009. Ugun tuh sunda pisan, klopannya kak Doni. Haha. Dia juga agak ribet karena makannya harus teratur, padahal kalau di gunung susah untuk teratur. Haha. Overall, Ugun itu teman yang baik dan aku cukup akrab dengannya. Aku udah 5x summit attack bareng Ugun.
  • Ririn ariani Dewi (Ririn)
Ririn adalah salah satu cewek Tasha yang aku fansnin karena kestrongannya. Lagi-lagi berawal dari cerita mereka hingga aku mulai mengenalnya saat summit attack Gede-Pangrango meskipun aku terpisah tim darinya (dia via Cibodas, sedangkan aku via Salabintana). Pas udah kenal, kesanku buat Ririn adalah dia itu polos, periang, strong, baik dan pengertian. Dia aktivis dan akademisi yang berprestasi.

Karena udah low, jadi aku mau memisahkan sisa dari mereka yang belum sempet ketulis per tim.

Tim Merbabu


Tim Manglayang
  • Ustica Riastuti (Ica)
Kak Ica, meskipun baru kenal tapi entah kenapa saat itu aku langsung bisa curhat dan trust sama beliau. Kak Ica itu dewasa, keibuan, pendengar yang baik tapi lucu dan menyenangkan. Kak Ica itu kakak banget dan favourite banget. Aktivitasnya di dunia nyata jugta luar biasa. Kak Ica sedang thesis dan ingin naik gunung lagi. Semangat kakak sayang ;-)
  • Nida Asma Amaniy (Nida)
Nida itu polos dan pasrah. :-P Dia baik, soleha, terjaga, dan perfeksionis. Nida itu silent reader dan open mind. Di dunia nyata, aku bersahabat dengannya. Namun kalau summit attack, baru pertama kali bareng dia. Dia suka jalan-jalan tapi kalau naik gunung agak susah dapet izin. Semoga Nida dapetin suami soleh yang biasa naik gunung biar bisa naik gunung lagi ke gunung2 yang lebih indah. ^_^
  • Mirra Novyanti (Mirnov)
Meskipun udah 2x travelling bareng dia tapi hanya satu kata yang bisa aku kasih buat dia: terdewasa. ^_^
Dia juga aktivis dan soleha. Dia baik, tulus dan ramah.
  • Wendy
Anak Betawi tapi entah kenapa punya rumah di Bandung. Dia ngefans banget sama Gaby JKT48. Masih belum bisa mengenal dan mengerti Wendy meski udah pernah summit attack Manglayang bareng, makan bareng dan nonton bareng.

Tim Salabintana Double Summit Gede-Pangrango
  • Verry Anggara Musriana (Verry)
Verry itu temen sejurusan yang hampir gak pernah sekelas. Dia temen sehimpunan tapi beraktivitasnya jarang seperiode. Saat aku aktif banget di himpunan, dia lebih aktif di luar. Saat dia aktif banget di himpunan, aku lebih aktif di luar sehingga aku bisa akrab sama Verry pas double summit kemarin. Verry tuh sering banget ke luar negeri. Dia aktivis banget dan pinter. Pas di gunung, dia porter level IV. Pas turun Pangrango kemarin, aku ditemenin sama dia. Hehe. Terus beberapa kali lari bareng dia. Bareng yang lain juga tapi. :-P
  • Doni Herlambang (Doni)
Senior di Fisika pas jaman tingkat II dulu. Salah satu aktivis BP Himafi yang deket sama aku. Dan tiba2 ketemu lagi pas double summit Gede-Pangrango. Kak Doni porter level berapa ya? Atau sudah bukan porter lagi? :-P
  • Yoga Febriano (Yoga)
Yoga juga kecil-kecil tapi strong. Gak nyangka, kemarin bisa bawa air 5 botol x 1,5 liter, padahal di dalem cariernya ada SBku, bajuku 2 stel lengkap, matrasku dan semua perlengkapan dia sendiri. Dia juga masih sempet jagain orang lain. Yoga porter level I aja lah ya. Kekekeke. Yoga itu baik banget, meskipun suka usil. Dia peka dan pengertian. Yoga juga low profile.
  • Galih Rakasiwi (Galih)
Galih tuh baik banget. Dia juga rajin, mau bantuin kerjaan cewek, peka, proven, termasuk favourite juga pas summit attack Gede via Salabintana. Aku baru kenal Galih. Galih porter level III kayaknya.
  • Muhammad Hafizan (Hafiz)
Hafiz termasuk cowok favourite di Salabintana. Dia baik, proven, peka dan pengertian. Aku juga baru kenal Hafiz. Dia tim kecilku pas summit attack Pangrango. Dia juga yang nemenin aku turun Gede pas bawa carier dengan sabar bareng Arbi. Hafiz porter level berapa ya? Tapi dia juga selalu jagain orang lain.
  • Ahmad Kamil (Kamil)
Kamil itu strong banget dan jalannya cepet. Dia selalu straching sebelum gerak (long march, summit ataupun turun). Dia juga peka dan rajin kalau di lapangan. Dia kemarin summit attack Pangrango dalam keadaan shaum (puasa). Kamil porter level II tapi kayaknya lebih deh. Aku belum terlalu kenal Kamil, tapi dia type2 kapten juga kayaknya. Keliatan berpengalaman.
  • Anik Marianik (Anik)
Ini anak sesuatu banget. Dia heboh, lucu, baik hati dan strong. Dia juga rajin dan menyenangkan.
  • Yazid Ridla (Yazid)
Aku lebih banyak kenal Yazid di dunia nyata dan profesional daripada di gunung. Baru sekali summit attack bareng Yazid via salabintana dan dia yang selalu jagain aku. Dia emang proven di manapun dan cukup the best lah. Dia adalah salah satu temen baikku.
  • Shaffiati Faiziah (Sofi)
Sofi itu type orang perfeksionis. Dia juga type yang serba ingin cepat. Menurutku dia type pengatur atau manajer yang baik.
  • Yusuf Bachtiar
Ucup adalah porter level II. Dia cool-cool gimana gitu. Ucup punya fans club loh. Pas di Gede-Pangrango lumayan heboh. Haha.

Tim Cibodas Double Summit Gede-Pangrango
  • Doni Widodo (Doni)
  • Hylda Damayanti (Hylda)
  • Musa Mujaddid (Musa)
  • Ayu Winarni Lanjani (Ayu)
  • Iman Sulaiman (Iman)
  • Kartika Trianita (Tika)
  • Nisa Fadlilah
  • Muhamad Rivani (rivani)
  • Amiril Pratomo
  • Yohanes Rian Setianto
  • Aldi Aliyandi (Aldi)
  • Ivan Stupak (Ivan)

Maaf ya belum bisa mendeskripsikan kalian satu per satu. Semoga video testimoni kalian segera menyusul.

Alhamdulillaah. Thanks for all.
Mereka lah orang-orang yang menemaniku summit attack selama ini. :-)

Jumat, 20 September 2013

Rahasia Perjalanan Sumbing (3371 mdpl), 17-18 Agustus 2013


Satu frasa yang paling pantas untuk perjalanan Sumbing adalah LUAR BIASA
Perjalanan yang menyimpan banyak makna dan arti yang begitu dalam
Sulit untuk diceritakan dengan kata-kata namun begitu dalam untuk dirasa
Perjalanan yang paling menguras energi, perasaan, dan emosi

Kurasa, track Sumbing bukan yang paling indah
Namun juga bukan yang paling sulit dan menantang
Di antara semua gunung yang pernah kudaki, Sumbing yang paling aku ‘black list’
Namun, Sumbing akan menjadi kenangan yang paling indah

Sumbing mendidikku banyak hal
Tentang persahabatan dan kepemimpinan
Tentang arti sebuah perjuangan
Tentang makna cinta, cita, dan harapan :-)



Tim MERAhPI menuju homebase sumbing


Full team Sumbing di depan homebase, sebelum pendakian


Happy Sunrise B-) team
(Harusnya ada Adam, Azka, dan Hasti yang memakai baju kuning juga, oleh-oleh dari seseorang)


Full team di Puncak Sumbing


Kamis, 22 Agustus 2013

Catatan Pendakian Gunung Merapi 2950 mdpl

Kali ini aku tidak akan bercerita tentang mereka secara personal seperti tulisanku sebelumnya:
Mungkin, ceritaku ini bisa menggambarkan tentang mereka.

Kenapa pilih Merapi?
Berawal dari double summit Merbabu - Merapi yang gagal pada tanggal 6-8 Juli 2013. Saat itu aku hanya berhasil sampai di puncak Merbabu (3145 mdpl) saja pada tanggal 6-7 Juli 2013. Sejak ada di track Merbabu, aku ingin sekali mendaki Gunung Merapi karena track Merapi yang terlihat dari Merbabu sangat menantang. Ditambah dengan melihat video testimoni dari tim Merapi (Azka, dkk) yang membuatku semakin penasaran dan harus banget naik Merapi. Katanya, track Merapi menguras energi, perasaan, dan mental banget. Katanya, track Merapi adalah track tersulit dari puluhan gunung yang pernah mereka daki. Dan, semua itu harus aku buktikan.
Kemudian aku berwacana bersama Adam yang rumahnya dekat dengan Merapi (yang rumahnya selalu menjadi homebase perjalanan Merapi-Merbabu kami) namun seumur hidupnya sampai saat itu belum pernah naik Merapi. Alhamdulillah, wacana itu terealisasikan pada tanggal 16 Agustus 2013.

Kisah sebelum sampai homebase
Kondisinya saat itu aku sedang mudik ke Boyolali (dekat dengan Klaten, rumah Adam), jadi aku standbay di sana menunggu kedatangan teman-teman yang lain dari Bandung. Dari wacana dan persiapan, timnya ada aku, Ridwan (adhek aku --> meski aku cewek sendiri di tim, tapi alhamdulillah tetep ada mahram), Adam, Arbi, dan Ugun. Adam sudah standbay di rumahnya, sedangkan Arbi dan Ugun naik kereta bisnis Bandung-Klaten hanya dengan 60ribu rupiah (promo lebaran melawan arus balik --> sedangkan saat aku hendak memesan tiket buat adhekku, harga tiket Solo-Jakarta saat itu mencapai 800ribu karena masih dalam kondisi lebaran).
Arbi dan Ugun berangkat dari Bandung tanggal 5 juli 2013 malam. Sewajarnya, kami memantau perjalanan mereka. Dengan alur maju, aku akan menceritakan tentang perjalanan mereka berdua. Pada tanggal 6 Juli 2013 pagi, kami bertanya tentang keberadaan mereka. Terakhir dari yang gak perlu diceritakan, mereka sudah sampai stasiun menuju terminal Penggung, Klaten. Saat itu, Adam (yang punya rumah) tidak dapat dihubungi karena sedang ngecamp di Pantai. Katanya mau ngirim nomor ayahnya ke Arbi namun tidak sampai juga. Kemudian aku mencari-cari nomor ibunya Adam karena sebelumnya aku pernah menginap di rumahnya setelah summit attack Merbabu. Setauku yang paling dekat dengan ibunya Adam adalah Indah, maka aku menghubunginya. Namun nihil, Indah tidak dapat ditelepon, di sms juga gak dibales. Aku juga berkali-kali telepon Adam membantu mereka meski kutahu itu perbuatan sia-sia. Aku mencoba bertanya kepada para anggota tim Merbabu tentang nama ibu atau bapaknya Adam dan nomornya, tapi nihil juga. Kondisinya cukup panik, namun dengan gaya Arbi yang santai itu, dia berkata "gapapa Dew, nanti ngapain dulu kek di terminal sambil nungguin Adam bisa dihubungi". NO, kataku. Karena aku tahu pasti mereka berdua capek banget habis perjalanan Bandung-Klaten, apalagi Arbi habis banyak agenda sebelum berangkat ke Klaten. Aku mencoba memberikan arah karena seingatku, jalan ke rumah Adam itu mudah, asalkan sudah menemui terminal Penggung. Kupastikan mereka benar2 sampai di terminal Penggung, lalu aku memberikan arah.
Nah, rute setelah terminal Penggung itu adalah SMAN 1 Karanganom. Namun saat itu aku lupa dengan nama Karanganom. Aku sangat yakin itu adalah SMA dan angkanya 1 karena Adam pernah cerita kalau dia sekolah di SMA itu, namun aku lupa dengan kata "Karanganom" nya. Dan dengan samar-samar aku juga mengingat kalau samping SMA itu ada SMP. Untuk meyakinkan ingatanku, aku telepon Bibit dan bertanya nama sekolah yang ada di dekat rumah Adam tersebut. Saat itu Bibit menjawab, "santai, bisa lah dicari dengan GPS".
GPS, adalah satu kata yang membuatku sangat tsiqah tanpa perlu berdebat soal keraguanku. Tak lama, Bibit ngewhatsapp "SMP 2 Karanganom, Dew". Langsung saja whatsapp Bibit aku forward ke Arbi. Kemudian aku menjelaskan bahwa di depan SMP itu agak ke kanan, ada gang, agak ke kanan lagi, ada Alfa Mart (karena dulu aku pernah belanja di sana), dan aku mengirim foto depan rumah Adam (dulu aku ambil secara iseng dan alhamdulillah terpakai). Kurasa penjelasan itu cukup untuk membantu pencarian mereka terhadap rumah Adam.
Namun ternyata Arbi dan Ugun mengirim poto yang terlihat asing bagiku.
Memang sih, itu benar SMP 2 Karanganom, tapi sebelumnya aku tidak pernah melihatnya. Kemudian aku meminta gambar depan sekolah itu dan mereka mengirim:
Sejenak aku kaget, "hah? kok sawah sih?" Dan pikiranku mulai sadar dengan ketsiqahanku yang salah pada Bibit. Kupastikan lagi ke Bibit, aku menyangkal ke Bibit kalau sekolah itu pasti namanya bukan SMP2, melainkan SMP 1 karena sebelumnya aku telah menduga demikian dan menurut logika, Adam pasti sekolah di sekolah favourite #eh (ada lah penjelasannya, tapi gak perlu dijelasin di sini lah). Namun, dengan yakin Bibit masih bilang, "gak ah, aku yakin SMP 2" -_-
Meski aku masih belum bisa yakin kalau Bibit salah, tapi sejenak aku berlepas diri dari Bibit dan aku menelpon Arbi kembali. Arbi pun berkata kalau dia akan mencari gang yang aku maksud lewat belakang SMP itu. Sejenak kupikir ada bolehnya juga karena barangkali jalan yang pernah aku lewati itu ternyata bagian belakang SMPnya. Kemudian mereka mengirim poto suatu gang daaaaannnnnnn gang itu gak pernah aku lihat. Dan aku berani memastikan kalau mereka salah. Bukan SMP 2, tapi SMP 1.
Aku meminta mereka mencari SMP 1 saja dan aku bertanya kepada mereka, tadi ke sana naik apa? Kata mereka naik ojek dan di sana gak ada kendaraan. Lalu mereka mencari SMP 1 itu dengan jalan kaki. WOW, bisa kubayangkan, betapa kasiannya mereka. Aku pun cerita pada tante dan orang-orang di rumah. Lalu malah aku yang disalahkan. Kata tanteku, "kalau aku jadi mereka, aku bakal balik lagi ke stasiun terus pulang ke Bandung. Ini temen2nya kok pada gak bertanggung jawab gini sih? Kasian banget itu temennya luntang-lantung di Klaten dari perjalanan jauh". Kyaaaaa T_T (meleleh). "Kenapa gak tadi suruh ke sini aja ntar dijemput di jalan raya?", lanjut tanteku. Kenapa tadi aku gak nyuruh mereka ke rumah nenekku karena kupikir rumah Adam lebih dekat dan mudah dicari. Aku juga gak pernah kepikiran kalau mereka bakal kesasar dan bahkan gak pernah sengaja untuk memberikan info yang salah ke mereka. T_T Saat itu aku sangat merasa bersalah. Kubilang, "Mereka berhati malaikat", apalagi Arbi, dia tidak menunjukkan kelelahannya selama di telepon, dia juga gak membuatku merasa bersalah. Namun perkataan tanteku memang menyadarkanku dan membuatku merasa bersalah. "Kyaaaa, maafkan aku, Arbi, Ugun. Harusnya kalian tadi ke rumah nenekku aja, ntar aku jemput deh di jalan Solo-Semarang". Kemudian aku ngewhatsapp mereka lagi dan berkata, "kalau gak ketemu juga, kalian naik bus ke Solo aja, ntar aku jemput". Tidak ada respon. Aku telepon juga tidak diangkat lagi. Kemudian tiba-tiba Ugun ngewhatsapp mengabarkan kalau mereka sudah sampai. Dan saat itu juga aku lega.
Tak lama kemudian Arbi menjarkom kami (maybe aku, Adam, Bibit) dan berkata makasih udah kompak ngasih info yang salah. T_T (makin merasa bersalah), tapi seperti gaya Arbi biasanya, dia ngewhatsapp panjang dengan gaya sanguinisnya, dan kutahu dia bukan type orang yang mudah marah. Kemudian aku suruh mereka istirahat. (Fyi: kenapa aku lebih sering menceritakan Arbi karena saat itu aku belum terlalu mengenal Ugun, sedangkan Arbi adalah teman lamaku).
Siangnya Adam sms, yang tandanya dia sudah dapat sinyal. Adam bilang sampai rumah sekitar pukul 3. WOW. Bisa dibayangkan kalau Arbi dan Ugun menunggunya di terminal, mau ngapain mereka dari pagi sampai jam 3 sore gitu? Mana itu terminal terbuka, tempat duduknya ada di samping jalan banget, berdebu, polusi, gak ada tempat tidur.
Sorenya, aku nyusul ke rumah Adam bersama Ridwan, adhekku, naik motor. Sampai di rumah Adam maghrib. Semua cowok shalat di masjid, sedangkan aku dan ibunya Adam shalat di rumah karena sambil jagain banyak motor yang berjajar di depan rumahnya. Saat itu ada kabar surprise bagiku ^_^ Ternyata Bibit ikutan dan saat maghrib itu dia sudah sampai Jogja. Yeeeee, akhirnya summitku kali ini ditemani Bibit lagi :-3 Bibit yang pernah aku ceritakan sebelumnya, namun ternyata, tidak semua yang aku ceritakan itu benar. (Hehe, peace Bit ^_^v). Kemudian kami makan malam bersama dan ngobrol-ngobrol.
Ternyata, tadi pagi ayahnya Adam menjemput mereka dari pukul setengah 5 pagi di stasiun (jadwal tiba kereta mereka pukul setengah 6 pagi). Kemarin, sebelum berangkat ke pantai, Adam bilang mau ngasih nomor ayahnya ke Arbi dan ngasih nomor Arbi ke ayahnya. Namun entah kenapa (mungkin karena gak dapet sinyal), gak ada satupun nomor yang dikirim ke mereka oleh Adam. Kondisinya random banget. Ayah dan adhiknya Adam menunggu mereka berdua di stasiun selama 3 jam dalam keadaan tidak tahu nomor mereka dan tidak tahu mereka naik kereta apa. Yang ayahnya Adam tahu hanyalah "mereka berduaan dan yang satu memakai kacamata". Yo'i banget kan? Orang yang pake kacamata kan banyakkkkk. -_- Ayahnya Adam berpikir, pasti mereka bawa carier lah, tapi kereta yang tiba kan bermacam2 dan beliau tidak tahu mereka naik kereta apa. Ayah dan adhiknya Adam hanya menunggu karena beliau pikir, Arbi sudah menyimpan nomor ayahnya Adam. Namun setelah 3 jam menunggu, ayahnya Adam mengajak adhinya Adam pulang karena sudah lapar dan hendak sarapan dulu serta berencana kembali jika sudah ada yang menghubungi beliau. Beberapa waktu setelah sampai di rumah, Arbi dan Ugun pun menyusul tiba di rumah. Arbi dan Ugun berhasil menemui rumahnya Adam dengan petunjuk yang aku berikan tadi, masuk rumah dengan ciri2 ini. Hehe.
(Tampak depan rumah Adam)

Persiapan Menuju Merapi
Tak terasa, kami ngobrol-ngobrol sampai pukul 9 malam, aku mengajak mereka belanja ke Alfa Mart karena memang spek kami belum lengkap (makanan dan air minum). Namun masih saja mereka berputar-putar (ada yang ngantri mandi lah, ada yang mager lah), hingga pukul setengah 10 malam aku menegaskan kalau jam 10 Alfa Mart tutup, lalu kami pun berangkat belanja. Setelah belanja aku menyeduh susu dan kami pun minum susu bersama sambil packing. Kemudian setengah 11 mereka menyuruhku tidur karena mereka sudah cukup tidur siangnya. Siangnya aku memang belum tidur (biasa, euforia sebelum perjalanan biasanya susah tidur), maka akupun masuk kamar. Di sana ternyata aku juga tak kunjung bisa langsung tidur. Aku mendengarikan suara berisik di luar. Pukul 11 malam, Ridwan masuk kamar ngambil sesuatu dan saat itu aku belum bisa tidur juga. Aku bertanya tentang suara itu. Kata Ridwan, Arbi sedang membuat topeng, namun entah kenapa seberisik itu. Kemudian aku mencoba lagi untuk menidurkan diri. Hingga tiba-tiba Ridwan masuk kamar lagi dan membangunkanku. Kulihat jam di HP ku terbaca pukul 00:04. Kutahu harusnya saat itu juga kami berangkat namun badanku masih terasa berat. Dengan terpaksa aku menuju kamar tamu, tempat mereka berkumpul. Kulihat Ugun masih tidur di ruang tengah, dan ketika masuk ruang tamu, hanya Ridwan dan Bibit saja yang masih terjaga. Aku lihat, Arbi tidur di bawah kolong meja, lalu aku berkata dengan kondisi masih setengah sadar, "Hmmm, masih tidur juga", kemudian aku masuk kamar lagi dan terlungkup. Bibit langsung teriak, "terus kalau Arbi masih tidur kamu mau tidur lagi?" Badanku masih mau dimanjakan dengan kasur namun aku tahu kalau demikian maka rencana sunrise di puncak Merapi bakal gagal. Meski kutahu itu udah telat banget, tapi aku tetep ke kamar mandi buat cuci muka, gosok gigi, dan wudhu. Aku masih menyempatkan diri untuk QL, padahal barang-barangku belum masuk daypack semua. Setelah aku selesai shalat, ternyata mereka sudah siap dan aku pun memasukkan barang-barangku dengan buru-buru. Kemudian kami berangkat, entah jam berapa itu.

Perjalanan dari Homebase ke Basecamp Merapi
Jumat, 16 Agustus 2013, dini hari, kami berenam naik motor dan berboncengan. Kami membawa 2 carier dan 1 daypack karena kami tidak berencana ngecamp. Malam itu cukup dingin, perjalanan ke basecamp lumayan berat, apalagi bagi pengendaranya. Awalnya Ridwan sempat takut, namun sepertinya mereka telah berhasil meyakinkan Ridwan sehingga dia berani mengemudi motor pada malam itu menuju basecamp Merapi. Kami berdua sengaja meminta untuk selalu berada di tengah, namun di beberapa titik kami tertinggal karena Ridwan belum terlalu lincah mengganti gigi motor saat berada di jalanan yang sangat nanjak bertikung di kaki gunung Merapi. Kecepatan kami cukup tinggi karena kedinginan dan mengejar waktu juga. Namun semakin ke atas, kami semakin berhati-hati. Keadaan semakin mencekat, jalan tertutup kabut yang cukup tebal. Ridwan sempat bilang, "dzikir mbak". Kadang teringat akan cerita-cerita tentang Merapi tapi semua kulupakan dengan dzikir. Dan akhirnya, alhamdulillah kami sampai basecamp dengan selamat.  

Pendakian dari Basecamp Merapi ke Pasar Bubrah
Sampai di basecamp Merapi, sekitar pukul 2 dini hari. Kami mendaftarkan diri di loket pendaftaran, kemudian melakukan pemanasan yang dipimpin oleh Arbi. Saat itu, ada pemanasan yang kurang, yaitu bagian pergelangan tangan. Aku pun lupa. Setelah pemanasan, kami mulai berjalan ke atas menuju pos 'New Selo'. Ohya, saat itu, di antara kami tidak ada yang mengetahui nama pos-pos Merapi. Tujuan pertama yang kami ketahui di awal adalah pasar bubrah, padahal pasar bubrah itu daerah yang sudah sangat dekat dengan puncak. Namun di sini aku ingin menamai sendiri pos-pos yang kami lewati.
Menuju 'New Selo' hanya sekitar 10 menit dengan kondisi jalan beraspal (bisa pakai mobil, namun kami jalan kaki karena motor kami tinggal di basecamp). Kami bertemu dengan bule sekeluarga gitu bersama porternya. Ada anjing juga. Haha, gak penting.
Di 'New Selo' kami masak air untuk mebuat minuman hangat. Saat itu, yang aku keluarkan adalah minuman jahe. Aku hanya membawa 2 bungkus dan ternyata kurang untuk air yang sudah kami masak (padahal tidak ada seperempat misting), kemudian kami tambahkan energen. Kebetulan energen yang aku bawa rasa jahe juga. Kami menikmatinya bersama.
Setelah merasa cukup energi, kami mulai berjalan kembali. Jalanan Merapi nanjak terus, beda banget sama Merbabu. Lebih sulit, namun saat itu aku merasa lebih tenang dalam menjalaninya, dibandingkan summit perdanaku di Merbabu.
Ketua tim (yang aku sebut sebagai kapten) kami adalah Arbi. Seperti biasanya, aku selalu ada di belakang kapten. Belakangku ada Ugun, kemudian Ridwan, dan paling belakang ada Bibit dan Adam. Saat itu, Ridwan perdana summit attack, langsung minta bawa carier. Niatnya sih masih belum lurus (emang gak pernah lurus kali ya? haha), buat gaya-gayaan. Namun belum ada seperempat jalan, dia udah kelelahan karena headlamp dia juga gak bisa dipake.
Arbi adalah kapten yang cukup konsisten saat itu, yang membuat kami berjalan tanpa berhenti setiap 20 menit dengan waktu istirahat +- 1 menit. Dua kali istirahat konsisten. Kemudian belum sampai 20 menit lagi, kami menemui gapura. aku menamakan sebagai pos 'gerbang masuk'. Saat itu aku merasa lapar dan aku meminta makanan. Malkist. Hanya aku yang makan. Entah, kenapa aku lemah sendiri, padahal energi awal mendekati sama (kami makan bareng-bareng, minum susu bareng-bareng  minum energen bareng-bareng meski porsiku memang lebih kecil tentunya). Namun selama di Merapi aku lebih jarang meminta minum karena kutahu persediaan minum kami hanya 4 botol untuk berenam selam pendakian hingga turun kembali.
Kami mulai berjalan lagi dan perjalanan kami terhitung lancar meski semakin ke atas, kekonsistenan kami semakin memudar. Akupun hampir tidak pernah meminta istirahat. Hanya saja, sesekali aku berhenti sejenak untuk mengambil nafas. Arbi mengajarkanku cara jalan efektif, "melangkah setiap detik Dew, tap, tap, tap" (sambil memperagakan teorinya). Aku pun mengikutinya. Hingga adzhan subuh tiba, kami istirahat di suatu tempat yang agak lapang. Kami shalat subuh berjama'ah dengan imam, Adam. Saat itu aku tidak shalat dengan khusyuk, apalagi sampai menangis seperti saat di Merbabu yang sat itu, shalat menjadi momen terindah di perjalanan kami. Hal itu terjadi padaku karena ada perasaan was-was, huhu. Aku jama'ah akhwat yang ada di belakang sendirian, di tengah kegelapan, malah jadi ngebayangin cerita-cerita horor Merapi (parah emang). Namun kubalas dengan do'a yang kupaksa khusyuk. Seenggaknya kontakku dengan Allah gak blank banget.
Kemudian kami melanjutkan perjalanan lalu kami bertemu dengan sunrise. Entah saat itu, aku gak terlalu pengen sunrise di puncak karena itu bakal jadi harkos banget. Sunrise di track tersebut sudah terasa cukup indah karena merupakan sunrise terbersih dari yang pernah kulihat. Aku juga bisa memandangi Gunung Merbabu yang menyimpan kenangan dalam di saat summit attack perdanaku. ^_^
(sunrise (terbersih) di track pendakian)
(istirahat terakhir sebelum sampai di pasar bubrah)
Setelah menikmati sunrise, aku mendahului kapten Arbi bersama Ugun. Ridwan pun aku tinggal karena aku percaya mereka bakal menunggunya. Mungkin aku memang egois, maunya jadi yang paling duluan tanpa melihat kondisi yang lain, namun kurasa mereka tidak mempermasalahkan itu karena mereka cowok semua. Jalur track Merapi sangat jelas, hari pun juga sudah terang sehingga aku tidak takut lagi untuk menjadi tim advance. Aku berada di paling depan. Hingga kami tiba di pasar bubrah, kami beristirahat dan bersyukur, mengeluarkan perbekalan dan sarapan, kemudian berpoto2.

Di Pasar Bubrah
(track menuju pasar bubrah)
(pintu pasar bubrah)
(masak air panas dan energen untuk toping roti tawar)
 
(kami bernama tim MERAhPI (dari kiri: Arbi, aku, Bibit, Ridwan, Ugun) --> lokasi di pasar bubrah, membelakangi puncak garuda Gunung Merapi)
 (tim MERAhPI berubah menjadi power ranger --> ide dan kerjaan sang kapten)
Pada saat membuat sarapan, kami ngobrol dengan pendaki bule yang berasal dari Hongkong. Kami menawari mereka ikutan sarapan namun mereka tidak mau. Mereka berdua (cewek dan cowok) sedang menunggu temannya turun dari puncak karena mereka tidak ikutan ke puncak. Sambil sarapan, kami ngobrol dengan mereka, juga sembari menyaksikan aksi teman-temannya yang turun dari puncak. Saat menuruni pasir, mereka lari dan ada yang terjatuh, terguling ke depan. Tentunya kami menertawakannya, kemudian ada rasa iba juga. Yang jatuh itu berhenti cukup lama dan ditolong oleh porternya. Aksi merekalah yang semakin membuatku semakin semangat naik ke puncak karena aku ingin merasakan serunya turun di track pasir. Aaat itu, entah, aku tidak merasa lelah sedikitpun.
Setelah kami berpoto (kami berpoto dengan kamera timer karena bulenya lagi sibuk nyambut temennya), mereka meminta kami untuk mempoto mereka. Dan topeng ranger kami (buatan Arbi yang awalnya sempat terasa alay, tapi kami tidak peduli) itu, ternyata mengundang daya tarik mereka. Merekapun meminjam topeng kami untuk meminta dipoto juga. Haha.
(aksi pendaki dari Hongkong mengenakan topeng ranger kami)

Kemudian kami berpoto bersama mereka dan sempat bertukar email dan account fb.

Summit Attack Puncak Garuda
Setelah puas dan cukup lama berpoto ria (karena mengatur posisi HP dan timernya cukup memakan waktu), Arbi bilang, "sampai di sini aja yuk, mager banget nih ke puncak". Bibit pun mengimbuhi, "iya, sampai di sini aja yuk, lain kali ke sini lagi". What? NO. Memang, rencana kami adalah sunrise di Pasar Bubrah dan mulai naik puncak jam 6 pagi sehingga sampai puncak jam 7, kemudian turun setangah 8 karena khawatir arah angin berbalik ke arah kami sehingga asap kawah Merapi dapat mengenai kami. Sedangkan saat itu (ketika kami di pasar bubrah) sudah sekitar pukul 8. Namun melihat puncak Merapi yang tenang, aku sangat berontak. "Masa' perjalananku tadi malem yang melewati track yang naik terus itu sia-sia gak sekalian sampai puncak? T_T Gak banget, aku harus sampai puncak!" Dan saat itupun gak ada alasanku untuk menyerah karena sama sekali aku gak capek. Kemudian aku bilang ke mereka, "yaudah, kalian tunggu di sini aja, aku mau naik sama Ugun". Kutahu saat itu Ugun masih mau naik ke puncak. Sedangkan Ridwan dan Arbi memang sudah terlihat loyo. Kupikir saat itu karena carier Arbi yang paling berat. Arbi memang terlihat kelelahan dan pusing.
Kata Bibit sih aku egois. Tapi saat itu aku gak pernah berpikir egois karena naik Merapi tuh cobaannya lumayan banyak. Minta izinnya susah, berita miringnya banyak, dan saat itu banyak banget yang menghalangi aku (baik dari keluarga besar maupun teman-teman), bahkan H-1 banyak yang sms dan ngewhatsapp aku, mereka melarangku untuk naik Merapi. Udah gitu, malemnya aku melewati track yang nanjak, terjal, dan berbatuan. Jadi aku harus banget menyelesaikan perjalananku itu. Aku juga gak merasa egois karena aku mempersilakan mereka istirahat di pasar bubrah dan aku hanya mengambil Bibit untuk aku jadikan teman perjalananku karena kutahu bibit adalah orang yang paling strong. Tak lupa, aku juga mengingatkan Ridwan, "kalau gak kuat jangan maksain diri".
Setelah pamit sama mereka, aku naik. Aku ada di paling depan, sengaja mencari jalan yang kupandang tercepat, yaitu jalan yang arahnya lurus ke puncak. Tiba-tiba kulihat Bibit dan Ugun yang mendahuluiku dari samping menjauhi trackku. Aku diteriakin mereka, "Dew, jangan lewat sana! Bahaya!" Namun aku hiraukan mereka karena aku pengen cepat sampai. Tiba-tiba, semakin ke atas, batu-batuannya semakin tinggi dan sulit didaki. Sehingga aku mencoba pindah track. Pindah track itu adalah pekerjaan yang sangat tidak mudah, namun aku melakukannya secara perlahan. Rasa lelah dan rasa takutku masih kalah dengan kekuatan keinginanku. Tidak ada kata menyerah saat itu. Hingga aku melewati jalan berpasir. Itu jalan yang aku nantikan. Aku pikir seperti yang mereka bilang di Semeru, tapi ternyata pasirnya kering, kasar dan berbatu sehingga kata mereka memang lebih sulit dari dari daerah summit attack Semeru. Kadang-kadang aku bisa maju sedikit-sedikit. Maju satu langkah, mundur setengah langkah. Kadang-kadang bisa maju 2 langkah, mundur hanya setengah langkah. Pernah juga maju selangkah, mundur lagi 3 langkah. Tracknya menguras energi dan perasaan. Satu kata untu track itu, "ngeselin". Tadinya pengen nangis tapi karena di belakangku masih ada tim lemah jadi membuatku lebih merasa kuat dan aku harus bisa. Saat itu aku masih berpisah dari mereka karena mereka melewati jalan yang muter, namun enak untuk dilewati (berbatuan). Meski berada di track yang berbeda dan aku seakan-akan berjuang sendirian, namun ternyata mereka selalu mengawasiku. Tiba-tiba Bibit meneriaki aku, "Dew, lewat sini aja..." Wow, Bibit cepet banget lah, tiba-tiba udah di samping kiri jauh dan lebih di atasku. Akupun mencoba pindah track. Kulihat ke bawah sejenak, Ridwan ada di paling belakang bersama Arbi. Mereka berdua lebih sering beristirahat dan jalan pelan-pelan. Sedangkan aku tetap sibuk dengan diriku sendiri.

Pengalaman Terheboh
Aku masih berjalan jauh ke kiri untuk pindah track. Hingga aku berada di track yang menyerupai batu padat dengan sampingnya gundukan sesuatu yang menyerupai batu padat juga. Ternyata yang aku pijak adalah pasir. Aku terperosot, lalu jongkok dan berpegangan pada gundukan itu. Ketika aku mencoba bangkit, ternyata gundukan itu adalah pasir juga, jadi tidak ada pegangan sama sekali dan aku tidak dapat bergerak karena jika aku bergerak maka aku akan terpeleset ke bawah menuju jurang. Aku berteriak meminta tolong pada mereka. Tentunya tidak ada yang berani mendekati aku karena jika kita menaiki track itu, bisa dipastikan akan terperosok mundur ke arah jurang (licin sekali). Kemudian ada Adam yang berposisi menangkapku dari bawah, berjaga jika aku terpeleset ke bawah. Dibantu juga oleh Ugun yang berada di samping Adam yang mengikuti arah gerakku. Meski mereka bersiaga menangkapku, tapi aku berusaha untuk tidak menjatuhkan diri ke arah mereka. Dapat diprediksi, jika aku jatuh ke arah mereka, pasti mereka akan ikut terbawa jatuh ke arah jurang juga bersamaku karena jarakku dengan mereka cukup jauh dan tekanan yan aku berikan pasti besar sehingga mereka tidak sanggup menahanku. Saat itu aku merasa cukup takut. Namun, aku diarahkan oleh Adam untuk bergerak maju pelan-pelan sambil miring ke kiri. Aku beranikan diri untuk berdiri dan bergerak sedikit demi sedikit. Pelan-pelan sekali, hingga akhirnya aku sampai pada mereka. Alhamdulillah. Kemudian aku berada di track bersama mereka.

Tidak berarti track itu sudah aman. Kami memasuki track batu terjal yang rapuh. Entah itu berapa derajat, perkiraanku lebih dari 70 atau bahkan 80 derajat soalnya ketika melihat ke atas seakan2 kita harus siap ditimpa oleh batu di atas kita. Kami melewatinya harus dengan merangkak namun penuh kehati-hatian karena batu-batunya rapuh dan mudah menggelinding ke bawah. Cukup lama kami melewati track seperti itu. Hingga akhirnya kami sampai pada puncak. Akhirnya aku melihat kawah Merapi yang cukup dalam dan menyeramkan itu.
(daerah summit attack Merapi setelah track pasir (saat melewati pasir tidak berani mendokumentasikan karena untuk konsentrasi jalan saja sudah sangat sulit). Poto yang paling bawah itu track saat mendekati puncak, batuan yang semakin berkurang itu mengakibatkan track semakin licin dan sulit)
(kawah Gunung Merapi)
Di Kawasan Puncak
Daerah puncak tersebut sangat sempit sehingga kami tidak berpikir untuk poto-poto di sana. Aku pun tidak poto-poto narsis. Tempat duduknya sangat sempit dan licin. Bahkan, duduk pun harus pegangan karena kalau tidak, bisa merosot ke bawah.
Meski demikian kondisinya, aku masih sempat membuat video bareng Bibit untuk membalas testimoni tim Merapi yang bareng Azka tanggal 8 Juli 2013 lalu.
(Proses pembuatan video di kawasan Puncak Gunung Merapi)
(Posisi mereka istirahat dengan diganjal batu)
Mereka sudah menyerah sampai di sana (sayap kiri puncak garuda), namun aku masih sangat semangat untuk bisa mencapai puncak Kepala Garuda. Aku mencoba memotivasi mereka yang sudah lelah (sok-sokan sih), aku bilang, "Kaderisasi dari Merbabu, kalau mengerjakan sesuatu itu harus dikerjakan sampai selesai" (by Agis). Namun nihil, mereka malah bilang, "yaudah kamu aja". Kemudian aku memaksa Bibit. Melihat keberanianku, akhirnya Ugun mengikutiku. Kondisi track menuju puncak kepala adalah jalan setapak licin dengan samping kiri adalah tebing kawah 90 derajat, dan samping kanan adalah jurang batu-pasir. Jalannya sangat licin, sehingga aku tidak berani berdiri. Namun kulihat Bibit dengan santainya berjalan memandu aku dari depan. Aku masih juga tak kunjung berdiri, lalu aku merangkak. Di suatu titik, Ugun menyerah dan berkata kepadaku, "Dew, udah dew, bahaya ih. Gausah aja". Tapi aku masih bandel, aku masih mencoba merangkak. Kemudian aku terpeleset (alhamdulillah bukan terpeleset ke kawah), namun masih bisa menyelamatkan diri.
(tempat di saat aku terpeleset (ujung bawah leher garuda). Ke arah atas itu menuju kepala garuda)
Tiba-tiba semua kompak mendemotivasiku dengan alasan safety. Sejujurnya aku masih pengen, bukan pengen aja tapi pengen banget buat bisa naik sampai di kepala garuda, tapi tidak ada yang berani menanggung keamananku. Aku masih sempat berdebat dengan Ugun dan Bibit. Aku mau banget sampai puncak. Tapi kata Ugun, "udah Dew, kita udah sampai di puncak kok ini". Aku pun masih sempat menyangkal dan merengek, "Tapi aku maunya sampai kepala" T_T. Masih ada rasa ingin nekat tapi ketika aku lihat jalan ke atas juga semakin menyeramkan. Galau banget saat itu. Namun karena mereka semakin mendemotivasi, ditambah aku melihat ke arah kiri bawah (kawah), akhirnya akupun menyerah. Dengan berat hati aku berhenti sampai di leher puncak garuda. Entah, bagaimana caranya aku bisa ke sana lagi sampai di kepalanya puncak garuda. T_T
(Ujung atas itu adalah kepala Puncak Garuda)
Perjalanan Turun Ke Pasar Bubrah
Sebelumnya, kami ke sana membawa webbing karena aku yang memintanya. Dari saat koordinasi jauh hari sebelum berangkat, aku sudah request ke mereka, minta ditarik pakai webbing saat summit attack. Namun saat itu, kondisinya ada yang lebih lemah dari aku sehingga cukup gengsi untuk meminta ditarik pakai webbing. Alhamdulillah aku dan mereka bisa tanpa webbing.
Kami turun dari puncak sekitar pukul setengah 11 siang. Perjalanan menuruni daerah summit attack, tentunya adalah perjalanan yang ditunggu-tunggu dan menyenangkan, apalagi track pasirnya. Sebelum sampai track pasir, perjalanan turun kami penuh dengan kehati-hatian karena selain curamnya sudut track, batu yang kami pijaki rawan rapuh, selain itu juga terdapat ancaman terkena runtuhan batu dari atas.
 (Kondisi saat kami menuruni track sebelum pasir)
Pada saat sampai di track pasir, kami bermain-main dan bersenang-senang. Tidak ada dokumentasi poto namun kami mendokumentasikannya dengan beberapa video. Kami main lomba lari. Sedangkan aku lebih banyak main perosotan. Selain itu juga kami lomba banyak-banyakan mengeluarkan pasir dari sepatu.
(Video saat kami jalan menuruni track pasir)
(Video saat mereka berlomba lari di track pasir)
(Video saat mengeluarkan pasir dari sepatu (main banyak-banyakan))
(Start aku mulai membawa carier (carier terberat mereka), dari ujung akhir track pasir sampai ujung pintu Pasar Bubrah (ujung atas bukit kecil di depan itu adalah pintu Pasar Bubrah))
(Berpose di Pasar Bubrah)
Segala puji bagi Allah yang telah membuat kami sampai di puncak garuda meskupun tidak sampai di kepalanya. Semua kurasakan ada hikmahnya. Kurasa, ketidakpuasan itu hanyalah nafsu. Semoga lain kali bisa ke sana lagi dan sampai di kepala garudanya. Semoga lain kali aku menjadi lebih berani.
Mengulang naik gunung yang sama itu, rasanya enggak banget selama masih ada gunung yang belum aku daki. Tapi jika harus ada gunung yang aku ulang untuk kudaki, itu adalah Merapi.
Merapi, meski katanya tracknya paling sulit tapi menjadi gunung paling favouriteku. Merapi juga tidak terlalu dingin seperti Sumbing dan Merbabu (mungkin karena naiknya dini hari dan sedikit istirahat, jadi kerasa dinginnya pas shalat subuh aja). Aku suka banget sama Merapi.
Merapi kereeeeennnnnnnn banget, dan Allah yang menciptakan Merapi Maha kereeeeennnnnnnn banget. Aku cinta Merapi karena Allah. ^_^ (kutahu ini lebay tapi ini yang aku rasakan, hehe).

Perjalanan Turun dari Pasar Bubrah
Kemudian kami turun pada sekitar pukul 12 kurang, kondisinya panas-panasan, muka cukup terbakar. Kami mencari tempat yang lebih teduh untuk shalat dzuhur dan makan siang, namun cukup panjang kami tidak menemukan tempat yang nyaman. Kami berhenti di suatu tempat yang sedikit ada tanaman yang melindungi sebagian dari kami untuk makan dan minum. Saat itu persediaan makanan limit habis sehingga kami harus menerima kenyataan tersebut. Hal itu membuat kami sama-sama semangat untuk segera sampai ke bawah. Hingga kami sampai di tempat kami shalat subuh (saat naik: sekitar 3,5 jam sebelum sampai pasar bubrah) pada pukul setengah 2 siang. Kami shalat dzuhur berjama'ah di sana karena tempatnya cukup teduh karena pohon-pohon yang mengitarinya. Setelah shalat, kami istirahat dan bercanda-canda. Saat itu juga kami minum air terakhir. Perbekalan kami fix habis.
Tiba-tiba, dengan kompak, mereka membully aku hingga aku ngambek. Lalu aku mengajak Ugun untuk turun duluan dan kami turun dengan berlari. Yang aku pikir, selain karena memang ingin cepat sampai di bawah, aku enggan bareng sama mereka berempat yang nyebelin. Aku mengajak Ugun bersemangat untuk terus berlari. Mereka berempat lebih sering berhenti, sedangkan aku dan Ugun tidak pernah berhenti lagi sejak istirahat terakhir di tempat shalat. Namun ketika menyusul, mereka berempat cepat sekali, sesekali aku dan Ugun hampir tersusul mereka namun aku selalu menambah kecepatan ketika mereka mendekat. Ketika aku mulai merasa lelah dan menurunkan kecepatan, mereka masih sempat menyindir, "eh, cuma tim advance yang tau jalan. Kita gak boleh ngeduluin". Hal itu menyebalkan bagiku saat itu, mereka nyindir banget. >_<
Namun ternyata, apa yang mereka lakukan padaku adalah unsur kesengajaan. Hal itu adalah trick supaya aku dan mereka cepat sampai di bawah, melihat perbekalan kami yang telah habis. Dengan membuatku ngambek, mereka pikir aku akan turun dengan cepat mendahului mereka. Dan trick mereka tepat sekali. Meskipun nyebelin. >_<
Aku jadi ingat, ketika di Merbabu, aku adalah orang yang memperlambat tim sweeper karena aku jalan turun dengan sangat lama. Namun saat di Merapi, aku memakai sepatu dan aku berani berlari. Kami sampai di pos 'New Selo' pukul 4 sore.
(Pos 'New Selo')
(Basecamp Bara Meru Merapi)
Dan ternyata lagi (setelah aku melihat video testimoni dari sang kapten), saat mereka berkata cukup sampai di pasar bubrah saja, tidak usah naik ke puncak, itu juga salah satu trick mereka juga. Mereka menamakannya sistem 'demotivasi'. Menurut mereka, aku adalah orang yang beda. Mainstreamnya, kalau orang memotivasi dengan cara membujuknya dari depan untuk sampai ke puncak. Namun aku diperlakukan beda. Dengan mereka memanas-manasi aku untuk tidak usah sampai puncak maka keinginanku untuk sampai puncak malah semakin kuat. "Dan terbukti aku menjadi kuat, sedangkan mereka semua loyo. Hahahahaha". Namun, tetap saja mereka tidak mengakui prestasiku. Mereka bilang, hari itu adalah hari kebalikan. Hmmmm, yasudahlah tapi. -.-

Special Thanks to Ach ArbiAdam Wicaksono Al FaqihBibit AurumGuntur GunawanMuhammad Ridwan yang telah menemani perjalanku yang ekstra keren dan udah banyak banget ngasih pelajaran-pelajaran berharga, serta mendidikku dengan cara yang anti mainstream ^_^

Dokumentasi Perjalanan Merapi: