About me

Foto saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Instagram: @dewikusumapratiwi Facebook: https://www.facebook.com/dewi.kusumapratiwi

Minggu, 16 November 2014

LDR, Terpaksa atau Pilihan?

LDR, membuat orang kudet menjadi cupdate, membuat orang chupu menjadi gaul, membuat orang kalem menjadi terlihat show off. Tidak. Mereka bukan bermaksud show off atau pamer penderitaan, tapi mereka hanya butuh berekspresi sesaat. Karena pada hakikatnya wanita itu butuh didengar, setelah itu sudah. Bahkan kadang dia lupa apa yg telah diceritakannya. Mereka bukannya lemah, bahkan sebenarnya mereka itu kuat. Kuat banget malah.

Sebelum ini, aku sering sekali mendengar dan membaca curhatan wanita2 LDR. Termasuk teman-teman dekatku sendiri. Saat itu aku hanya simpati dan dengan gampangnya bilang, "sabar ya sob. Kamu kan kuat, udah pernah melalui kesulitan2 sebelumnya". Nasehat dan hiburan standar. Tapi kini aku dapet pelajaran untuk merasakan apa yang mereka rasakan. Jangankan 2-6 bulan, 2 minggu aja berat, 2 hari pun sebenarnya terasa berat...
"Karena waktu terasa lama bagi orang yg menunggu". (Makanya cowok2 jangan suka ngegantungin atau bikin cewek menunggumu terlalu lama. "Nikah itu simple kok, kalo lo bener2 niat". #eh #salahfokus)

Ibuku juga pernah LDR dan sangat menyarankanku untuk tidak LDR. Katanya, meskipun harus terpaksa LDR, tinggal aja di rumah ibu atau mertua, atau nanti pas udah punya anak aja karena rasanya akan beda, ada hiburan. Beliau udah merasakan LDR pra dan pasca punya anak, bahkan bertahun2. Tanteku juga. Mereka tetap berharap aku tidak mengalami hal seperti mereka. Kalau kata orang Jawa lebih baik “mangan ora mangan sing penting ngumpul” (makan atau tidak makan yang penting kumpul).

Aku respect banget sama wanita2 yg LDR, meski terpaksa ataupun pilihan. Tapi aku rasa hampir tidak ada yg memilih untuk sengaja LDR. Keadaan yg membuat orang harus memilih LDR. Karena memang berat. Apalagi bagi wanita yg sudah berpasangan. Mungkin, untuk orang yg belum merasakan, akan berkata "ya'elah, dulu kan lo juga sendiri. Bisa tuh". Mungkin akupun termasuk yg berkomentar seperti itu. Tapi, ternyata memang beda ketika kita sudah menikah. Coba aja kalau mau. :-P

Kebetulan suamiku ada di bidang electrical engineering. Meski belum lulus, tapi sejak TA, alhamdulillaah selalu dilibatkan dalam proyek dosennya yang lumayan produktif. Tapi selama ini kebanyakan kerjaannya ngoding di lab PLN. Ke lapangan cuma sesekali. Selama nikah, baru 3 kali ditinggal. Pertama ditinggal 4 hari ke Chevron di Duri, Riau, tapi waktu itu aku masih bisa pulang ke Jakarta jadi ga terlalu kesepian. Kedua ke PLN Pekanbaru, Sumatera. Cuma 2 hari sih, tapi itu perdana aku harus tetep stay di Bandung karena aku juga banyak urusan. Sedangkan aku type orang yang gak bisa tinggal sendirian malem2 sejak dulu sebelum nikah.

Sekarang ke Total, Balikpapan, Kalimantan Timur. Yang ini sih kemarin bilangnya seminggu, tapi ternyata ada kendala di sana sehingga harus nambah waktu lagi. Kali ini posisi beliau bukan lagi sebagai follower dosennya kemudian kerjaannya cuma ngoding seperti kemarin2, tapi beliau punya peran baru yang cukup berat, yaitu sebagai manager tim. Sebelum berangkat, nama beliau didaftarkan sebagai electrical engineer expert. Ternyata itu bukan jabatan untuk sekedar gaya2an. Tugasnya berat untuk porsi mahasiswa tingkat akhir. Di sana beliau ditinggal dosennya pulang ke Bandung, sehingga beliau diposisikan sebagai manager tim dalam proyek besama PT Total E&P Indonesie, yg harus tau banyak hal yang berkaitan dengan pekerjaan mereka, memimpin tim yang isinya orang2 yang lebih berumur dari beliau, bertanggung jawab atas timnya, menjadi pusat bertanya (baik timnya maupun orang2 dr PT Total sendiri), bahkan harus sering rapat bareng bos2 di PT Total, di sana disejajarkan dengan mereka sehingga jika beliau ditanya2 harus mampu menjawab layaknya seorang profesional di bidang electrical engineering. Juga banyak sekali pekerjaannya yang lain. Sampai2 hampir setiap hari tidur menjelang pagi karena harus banyak belajar setelah pulang kerja. Subuh bangun, persiapan dan kembali lagi bekerja.

Di satu sisi aku sedih karena harus LDR dan jarang dihubungi. Jarang ditelpon, komunikasi whatsapp juga sering searah karena saat beliau whatsapp, aku sudah tidur. Saat aku bales, paginya beliau udah sibuk lagi. Apalagi waktu di sana satu jam lebih cepat dari di sini. Tapi di sisi lain, rasa sedihku telah dikalahkan oleh semangat beliau yang luar biasa dan rasa syukurku karena suamiku dikasih kepercayaan yang besar. Apalagi orang Total sempet ga percaya kalau beliau masih mahasiswa tingkat akhir dan langsung menawarkan jabatan di PT Total E&P Indonesie pasca lulus dari ITB nanti.

Bulan lalu aku ikut seminar bertema "Women in Science, Engineering and Technology" (notulensi belum diposting) dan aku berkesimpulan: aku tidak ingin bekerja di bidang hard science/engineering (meski gatau jalan yang dikasih Allaah nanti gimana). Namun aku sangat salut dengan wanita2 luar biasa yang mengisi seminar tersebut. Mereka adalah para engineer terutama yang bekerja di bidang oil and gas, dan akademisi yang aktif proyek di lapangan / hard science. Mereka wanita2 strong (lahir-batin) yang bekerja seporsi dengan laki2, mereka LDR dengan suami serta keluarganya, bahkan mereka menjadi "bang toyib" yang jarang pulang menemui anak dan keluarganya. Sampai anak mereka diurus pembantu / baby sister. Gaji mereka memang sangat besar, fasilitas mereka memang terlihat wah, meskipun aku sangat salut dengan kestrongan mereka, tapi aku tidak ingin seperti mereka. Ini hanya soal pilihan.

Di hari yang sama, aku ikut kajian "Sistem Pendidikan Khilafah" dan "Peran Wanita dalam Islam". Tentang sistem pendidikan yang ideal, di mana sistem pendidikan tidak dapat dipisahkan dengan sistem lain. Tentang peran wanita. Bahwa wanita berperan penting dalam mencetak generasi2 terbaik dan negara yang madani. Dari wanita muncul pemimpin yang akan menjadi pemimpin dan mensejahterakan umat.
Pendidik. Bukankah 4 wanita terbaik yang dijamin masuk syurga (Khadijah istri Muhammad, Fathimah putri Muhammad, Asiyah istri Fir'aun, dan Maryam ummu Isa) itu adalah seorang ibu dan pendidik?

Peran wanita sangat penting dan tanggung jawabnya sudah cukup berat. Namun, materi "Woman in Science, Engineering and Technology" tidak juga langsung menguap. Jika digabungkan, maka aku berkesimpulan, "setiap dari kita memiliki peran pada setiap bidang keprofesian masing2". Ilmu science, engineering and technology itu hukumnya fardhu kifayah, maka bagi yang menuntut sebaiknya memberikan kontribusi untuk umat/masyarakat melalui keilmuannya. Namun, wanita jangan pernah melupakan hakikat dan peran utamanya.

Itu juga salah satu alasan aku dan suami memilih untuk tidak punya anak dulu dalam waktu dekat ini karena kami ingin ketika punya anak, saat itu aku sudah bisa fokus dengannya. Kalaupun saat nanti aku sibuk dan harus menggunakan baby sister, aku mau mereka selalu ada di bawah pengawasanku. Saat ini aku masih ingin banyak mencari pengalaman. Mumpung masih muda. :-D Lagi2 ini soal pilihan.

Kembali lagi tentang LDR, kalau disuruh milih, tentunya aku tidak ingin LDR. Aku yakin, suamiku pun demikian. Hidup bersamanya membuatku terbiasa untuk hidup sederhana. Jika ingin demikian, maka banyak jalan mudah. Salah satunya, jadi PNS, gaji cukup, aman. Tapi kami sevisi untuk tidak hidup "selalu mencari aman", untuk tidak hidup "biasa2 saja". Mungkin kami mampu hidup sederhana, tapi orang sekitar kita belum tentu. Banyak yang menanti uluran tangan kita. Yah, apapun itu, aku sudah mulai terbiasa menghadapi konsekuensi dari setiap yang kami pilih insyaa Allaah. Bismillaah.

Kemarin pas lagi galau2nya, baca tausiyah ini, rasanya pas sekali:
"Kehidupan seorang mu'min tidak akan sunyi dari ujian: rasa sakit, kegelisahan, kegagalan, fitnah, dan musibah lainnya. Tidak ada auliyâ' menjadi auliyâ' kecuali telah mengalami berbagai hantaman hidup yang berat sebab hanya dengan itulah hamba Allâh naik derajatnya menjadi mulia. Tetapi hati harus siaga untuk memahami rasa pahit sebagai manisnya ujian, kerasnya pukulan sebagai latihan, kerasnya hidup sebagai kelembutan dari Allâh. Kesiagaan hati itulah yang kita mintakan. Yâ hayyu yâ qayyûm...lâ ilâha illa anta".
~Ustd. Mohamad Ishaq

Senin, 07 April 2014

Dua Hati dari Gede-Pangrango

Perjalanan Double Summit Gunung Gede dan Pangrango:
http://dewikusumapratiwi.blogspot.com/2014/04/catatan-pendakian-double-four-summit.html

Ada sesuatu yang berharga di alun-alun Surya Kancana, tempat yang seharusnya menjadi tempat bersejarah bagiku. Ada hati yang mau berkata di tempat indah itu. Namun sayangnya tertunda karena ia harus mengutamakan kepentingan bersama. Suatu tanggung jawab untuk membawa mereka semua selamat sampai di bawah lagi. Suara hati yang selama dua bulan sebelum itu, aku harapkan dalam setiap do’a-do’aku. Entahlah, inilah yang namanya Rahasia Tuhan. Surprise istimewa dari Tuhan yang datang jauh lebih cepat dari yang pernah aku harapakan. Yang hadir dengan cara yang lebih baik dari yang aku inginkan. Sebuah hati yang jauh lebih baik dari yang pernah aku impikan.
Bagi hati tersebut, perjalanan Salabintana adalah perjalanan yang paling mengesankan. Saat itu kami terpisah. Ada perasaan khawatir yang mendalam dalam perpisahan itu, ada harapan yang besar untuk menyusul dengan selamat, ada ungkapan serius yang ingin segera diucapkan. Salabintana adalah sebuah medan perjuangan cinta, di mana alun-alun Surya Kancana adalah hadiahnya.
Hati tersebut berkata, “ibarat perjalanan Salabintana, aku ingin kamu menungguku di Surya Kancana. Biarkan aku berjuang di Salabintana, berlelah-lelah dan berdarah-darah untuk menjemputmu. Aku ingin kamu menungguku di tempat yang tenang dan jauh dari bahaya”. Dan aku menjawab, “aku bukan type orang yang bisa menunggu sesuatu di tempat yang tenang, sedangkan saat itu aku tahu yang aku tunggu sedang berjuang sendirian di tempat yang berbahaya. Aku bukanlah seseorang yang hanya ingin berdiam diri menunggu seseorang di puncak gunung, melainkan aku ingin menemani seseorang itu mendaki gunung dengan jerih payahnya, hingga kita sampai di puncak dan menikmati keindahan alamnya bersama”.
Ya, menurutku, sesuatu yang diperjuangkan bersama akan terasa lebih nikmat hasilnya, meski penuh dengan lika-liku dan kepahitan prosesnya. Menurutku, sesuatu yang kita dapatkan terlalu mudah akan mudah pula hilang nikmatnya. Dan menurutku, akan ada banyak pelajaran berharga dalam hidup ini ketika sesuatu dijalani penuh dengan perjuangan. “Aku ingin menemaninya melewati medan hutan berbahaya itu, Salabintana, hingga kita sampai di tempat yang tenang dan indah bersama, Surya Kancana”; “aku ingin menemaninya memperjuangkan cita-citanya hingga cita-cita kita raih bersama”, “aku ingin menemaninya memperjuangkan visi-misi hidupnya hingga ridha Allaah kita capai bersama, hingga kita sama-sama menginjakkan kaki di tanah syurga-Nya”. Insyaa Allaah.

Tentang Dua Hati itu
Tingkat dua kuliah di kampus Ganesha, aku telah mengenalnya. Hanya sebatas teman kerja secara profesional. Memang dia cukup menginspirasi dua hal, kepemimpinan dan ketulusannya. Namun, ada puluhan teman yang mampu menginspirasiku. Nothing special about him in my heart dan aku memang tidak pernah akrab dengannya selama itu.
Agustus 2013, di summit attack ke-dua ku, aku mulai mengenalnya. Mengenal dia yang pernah ku kenal. Dua summit, dua malam, dan dua sunrise cukup membuatku merasakan hal yang belum pernah ku rasakan sebelumnya terhadapnya. Aku tidak pernah berani mengungkapkan kepadanya, tidak pernah berani. Aku juga tidak punya kepercayaan diri bahwa apa yang aku inginkan itu pantas aku raih, namun aku berani memasukkan namanya dalam setiap do’aku.
Dua bulan lamanya, aku tidak mendapatkan kode sama sekali darinya. Hingga Oktober 2013, setelah melewati dua summit berikutnya (Gede-Pangrango), ia menghadiriku di depan dua orang saksi. Dia menyatakan rasa yang serius. Maha suci Allah yang telah menjawab do’aku selama dua bulan itu. Ia hadir di saat yang jauh lebih cepat dari yang pernah aku harapkan. Ia hadir dengan cara yang lebih baik dari yang aku inginkan. Dan ternyata ia adalah seseorang yang jauh lebih baik dari yang pernah aku impikan. Dialah anugerah terindah dari-Nya yang menyempurnakan kekuranganku dengan segala kelebihannya.
Ternyata, sejak dua bulan sebelum itu, ia juga mulai merasakan hal yang sama dengan yang aku rasakan. Ternyata, apa yang aku rasakan dan apa yang ia rasakan tidak pernah bertepuk sebelah tangan. Namun ia tidak pernah bermain api yang dapat mencelakakannya maupun mencelakanku. Dua bulan itu ia gunakan untuk mengenalku melalui orang-orang terdekatku tanpa aku tahu. Bahkan ia ke rumah orang tuaku tanpa sepengetahuanku. Dua bulan itu juga ia gunakan untuk istikharah untuk memantabkan hatinya bahwa aku memanglah pilihan pertama dan terakhirnya. Ia menyatakan perasaannya setelah mengetahui sekian banyak kekuranganku dan setelah memantabkan hatinya. Bahkan saat itu ia berkata, ia tidak perlu mengenalku lagi.
Dua bulan setelah ungkapan itu, ia berencana untuk menyegerakan hal yang memang harus disegerakan. Desember 2013 ia datang ke rumah untuk bertemu denganku dan orang tuaku. Ia meminta izin untuk menyegerakan menyempurnakan separuh agama denganku. Namun, ternyata perjalanan hidup tidak semulus jalan tol. Perjalanan hidup ini memang seperti Salabintana, banyak binatang berbahaya, banyak ancaman, banyak kondisi yang membuat kita harus selalu berhati-hati. Namun, kami tidak pernah menyerah. Proses untuk menyegerakan tetap kami lalui meski dengan lika-liku.
Hingga dua bulan setelahnya, pekan terakhir Februari 2014, rintangan-rintangan itu berhasil kami lalui. Dua bulan yang terasa panjang, dua bulan yang berat dan penuh perjuangan, serta dua bulan yang akan terus menjadi sejarah dan pelajaran berharga bagi kami. Alhamdulillaah, cita-cita kami tercapai. 22 Februari 2014, keluarga besarnya mendatangi keluargaku untuk menyampaikan khitbah secara resmi. Dengan proses selama dua minggu, insyaa Allaah kami telah menyempurnakan separuh agama kami pada tanggal 9 Maret 2014. Dua hati yang telah menyatu, semoga sekali untuk selamanya. Menjadi harapan besar, dua hati yang saling mencintai karena-Nya dan saling menguatkan untuk selalu istiqomah berjuang di jalan-Nya, hingga kami bersama menginjakkan kaki di syurga-Nya. Aamiin.
Meski kami tahu, kami telah membuat kecewa banyak orang karena kami tidak langsung menyi’arkannya. Bukan karena sensasi, namun ada hal lain. Tentang kondisi di sekitar kami, tentang syarat-syarat yang diajukan kepada kami, hingga kami harus menyelesaikan studi kami terlebih dahulu. Mohon maaf kepada seluruh teman dekat kami yang pernah merasa kami kecewakan. Semoga kalian mengerti. Jazakumullaahu ahsanul jazaa’ untuk nasehat, do’a serta dukungannya selama ini, juga yang telah hadir untuk menyaksikan akad serta janji suci kami meski dengan pemberitahuan yang sangat mendadak (H minus dua). J

Telah Menikah:
Achmad Arbi
(SMPN 75 Jakarta aka 2006, SMAN 78 Jakarta aka 2009, Elektro Power ITB aka 2009)
dengan
Dewi Kusuma Pratiwi
(SMPN 1 Bdn, Boyolali aka 2006, SMAN 65 Jakarta aka 2009, Fisika ITB aka 2009)
Pada tanggal 9 Maret 2014, pukul 09.30-10.30 WIB
Di Masjid Jami’ Al-Anshar, Jl. Budhi Swadaya I Rt. 002 / Rw. 004 Kebon Jeruk, Jakarta Barat
Akad nikah
Pasca akad nikah
Yang turut menyaksikan akad nikah kami:
Keluarga besar (foto belum lengkap)
Keluarga "BIUS 2009"
Sahabat "Gang IV"
Sahabat "Geng Gong"
Sahabat "Tazzam"
Komunitas "Tamasya Ganesha"
Komunitas "Bujang Gaul"
Komunitas "Bidadari-Bidadari Syurga"
HME ITB
Himafi ITB
Gamais ITB
MILIS ITB
BRT OSKM 2012
Aktivis Kampus
Alumni SMAN 78 Jakarta
Alumni SMAN 65 Jakarta
Beasiswa ITB Untuk Semua

Jumat, 04 April 2014

Catatan Pendakian Double (Four) Summit Gunung Gede (2958 mdpl) - Pangrango (3019 mdpl)

Sekilas tentang jejak summit attack ku:
http://dewikusumapratiwi.blogspot.com/2013/11/akhir-dari-sebuah-pencarian.html

Sulit memberikan quotes untuk perjalanan ini. Kompleks sekali. Perjalanan yang membuat aku semangat, takut, bahagia, tertantang, takjub, kecewa, dan banyak lagi. Perjalanan termenakutkan namun membuat kegalauan selama ini terkubur dalam-dalam di dalam gunung itu.

Persiapan di Sanggar Pramuka ITB
Kondisi sanggar Pramuka ITB saat kami packing bersama
(Jumat, 11 Oktober 2013, pukul 15.00-19.00 WIB)

Super “tim Salabintana”
Salabintana, merupakan sebuah track hutan yang masih asli. Jalannya nanjak konstan, semakin ke atas, semakin terjal. Hanya ada jalan setapak dengan tepi jurang. Banyak pacet yang sering menyerang kami yang melewatinya, menyedot darah-darah kami, dan membuat sebagian dari kami berteriak histeris karenanya (karena jijik, haha). Di sana juga masih ada harimau, ular, kera, dan hewan-hewan lainnya yang membuat kami selalu harus waspada, terutama ketika malam tiba. Ini bukan karangan, namun itulah kondisi track yang kami ber-18 lalui.
Rasa lelah, rasa takut, was-was, kekhawatiran kami hadapai bersama dengan hujan-hujanan. Hal itu yang membuat kami menjadi dekat. Saling menjaga, saling mengerti, saling peka, saling menyemangati, saling menunggu, saling bersabar, saling berdo’a dan yang paling penting adalah saling menurunkan ego-ego kami. Kami adalah tim yang solid dan kompak.
Perjalanan double summit Gede-Pangrango oleh Tamasya Ganesha beranggotakan 35 orang. 18 orang melalui jalur Salabintana, 17 orang melalui jalur Cibodas. Tim Salabintana terbagi lagi menjadi 2 tim karena ketuanya harus mengurus simaksi terlebih dahulu di Cibodas. “Tim depan” berjumlah 14 orang: Kak Doni, Nia, Ucup, Anik, Hafizh, Lily, Galih, Sofi, Yoga, Yazid, aku, Ugun, kak Syifa, Pras, yang mulai tracking sejak sekitar pukul 11 siang. “Tim belakang” berjumlah 4 orang: Arbi (ketua tim), Widi, Kamil, dan Verry yang mulai menyusul tracking sekitar pukul 3 sore.
Sebelum naik, kami mendapatkan peringatan dari bapak penjaga basecamp Salabintana tentang kondisi track tersebut, juga bahaya-bahaya yang mungkin mengancam kami. Pesan yang beliau sampaikan adalah kami tidak boleh berpisah, selain itu kami disuruh menghentikan perjalanan ketika matahari tenggelam karena saat itulah harimau-harimau di sana berkeliaran. Namun dengan do’a kami, keberanian serta tanggung jawab PJ pengganti tim (kak Doni dan Pras), dan ketsiqahan kami sebagai anggota tim, kami terus melanjutkan perjalanan hingga tiba di "bukit teletabies" yang luas dan penuh dengan bunga edelweiss, yaitu alun-alun Surya Kancana.
Tempat istirahat, shalat subuh berjama'ah dan sarapan pagi (Pondok Halimun --> basecamp Salabintana)
(Sabtu, 12 Oktober 2013, pukul 02.00-06.00 WIB)
di Basecamp Salabintana
Rapat khusus pada saat kondisi genting
main werewolf
Persiapan tracking
Kegiatan di Pondok Halimun (basecamp jalur salabintana), sambil menanti hasil simaksi (nomor surat izin masuk) dari ketua tim yang berada di basecamp Cibodas
(sabtu, 12 Oktober 2013, pukul 06.00-11.00 WIB) 
Super "Tim Salabintana"
(dari kiri belakang: Kamil, Pras, Lily, Sofi, Galih, Ucup, aku, Very, Ugun, Anik, kak Syifa, Yazid, Hafizh.
dari kiri depan: kak Doni, Yoga, Nia)
Super "Tim Salabintana"
Yang penuh perjuangan mengurus simaksi, luntang-lantung di Cibodas selama 2 hari 1 malam (Widi dan Arbi)

Kenangan Salabintana
Tracking pun kami lalui dengan meninggalkan notes di spot-spot tertentu untuk memberikan pesan kepada “tim belakang”. Kami semua berharap, sampai di alun-alun Surya Kancana pada saat maghrib tiba untuk menghindari bahaya binatang buas di malam hari. Dengan beban yang cukup berat (perbekalan double summit selama 3 hari - malam), kami memunculkan strong way kami dan menumbuhkan sikap anti menyerah. Target kami sampai di alun-alun Surya Kancana dengan selamat dan kami berharap “tim belakang” pun mampu segera mengejar kami di tengah perjalanan.
Pada saat dzuhur tiba, kami mencari spot untuk shalat. Pacet-pacet sudah mulai menyerang kami saat itu. Semua yang menjadi korban pacet mengeluarkan ekspresi takut dan jijiknya dengan gaya masing-masing. Ada yang cool, ada yang teriak-teriak, ada juga yang berteriak histeris, termasuk aku, hehe. Kami saling memeriksa seluruh anggota tubuh kami apakah ada pacetnya atau tidak. Setelah shalat dzuhur, kami makan siang sandwich isi sosis, tomat dan keju dengan olesan saos tomat dan mayonaise. Oiya, pagi harinya kami hanya sarapan seadanya (mie instant dan potongan browniez mocaf). Pagi itu kami memang tidak terlalu memperhatikan asupan energi kami karena hectic dengan urusan nomor simaksi yang cukup membuat kami heboh pada pagi itu. Tanpa simaksi kami tidak bisa memulai tracking, padahal target kami bisa tracking pagi supaya kami tiba di alun-alun Surya Kancana sebelum maghrib tiba. Namun di Cibodas, ketua tim kami mengalami banyak kendala. 
Perjalanan kami lanjutkan, hingga sekitar pukul 2 siang kami melewati track yang tepinya jurang. Suara-suara binatang kami dengar sehingga sulit membedakan antara suara binatang dengan suara peluit (yang kami gunakan untuk saling memberi kode). Karena saat itu “tim depan” pun terbagi menjadi 2 tim lagi yang kami sebut sebagai “tim kuat” (tim pendahulu yang bertugas memasang notes-notes) dan ‘tim lemah” (tim sweeper yang siap mengkeep orang-orang sakit). “Tim lemah” berjumlah 5 orang, dan aku berada di dalamnya. Kami berjalan lebih lambat daripada “tim kuat”. Namun sesekali “tim kuat’ menunggui kami untuk beristirahat bersama di spot-spot tertentu untuk mengisi energi dan mengevakuasi pacet yang menggigit kami, kemudian jalan lagi mendahului kami.
Sebelum meninggalkan sumber air, kami memenuhi botol-botol kami dengan air suangi di sana
(Sabtu, 12 Oktober 2013, pukul 11.00 WIB)
Kondisi awal track Salabintana
Spot istirahat di beberapa tempat
Makan siang dan shalat dzuhur berjama'ah
(Sabtu, 12 oktober 2013, sekitar pukul 13.30 WIB kami baru menemukan spot untuk shalat dan makan siang)
Pacet
Sekitar pukul 3 sore, hujan mulai turun, kami semua mengeluarkan ponco dan raincoat. Keadaan semakin gelap dan mencekat. Harapan semakin menguat untuk segera sampai di alun-alun Surya Kancana. Pada pukul 4 sore, aku membaca plang penunjuk arah bertuliskan 6.5 KM, yang artinya kami sudah berjalan sejauh 6.5 KM secara vertikal (vertikal bukan merupakan panjang track). Saat itulah aku mulai takut karena dalam waktu 2 jam rasanya impossible untuk sampai di alun-alun Surya Kancana yang jaraknya 11 KM secara vertikal, sedangkan semakin ke atas, track nya semakin berat (terjal). Kami sudah tidak lagi mempedulikan pacet-pacet yang menyerang kami, setelah banyak yang menjadi korban. Banyak yang luka karenanya. Ada yang luka di tangannya, di lehernya, bahkan ada yang luka di pusarnya. Haha. Saat itu, yang paling terkenal menjadi dokter bedah pacet adalah Yazid, namun Yazid sendiri terserang pacet dalam keadan tidak sadar hingga pacetnya meletus sehingga darahnya membanjiri tangan Yazid karena lama tidak dievakuasi.
Kondisi hutan mulai lebat dan track semakin terjal
(Sabtu, 12 Oktober 2013, pukul 15.00-16.00 WIB)
Kami terus fokus pada perjalanan dan tujuan. Gigitan pacet dan basah karena hujan yang 'mematikan' gaya kami, sesaat kami lupakan. Kami sudah mulai terbiasa olehnya. Pada saat menjelang maghrib, “tim kuat” menunggui kami. Setelah bertemu, di sana kami disatukan. Tidak ada lagi tim kuat dan tim lemah. Kami menjadi satu tim kembali. Jika ada yang jalannya lambat karena kelelahan maka semua ikutan jalan lambat. Saat itu kami mengabaikan pesan dari bapak di basecamp. Meski matahari telah tenggelam, kami tetap bertekad untuk melanjutkan perjalanan karena keadaan di sana lebih terlihat rawan. Menurut kedua PJ, lebih baik kami terus berjalan daripada mendirikan tenda di tempat berbahaya tersebut. Para anggota saat itu menjadi anggota-anggota yang tsiqah (penurut). Tidak ada yang membantah, termasuk aku yang sebenarnya takut jika harus melanggar pesan bapak di basecamp, namun aku juga tau kalau tempat itu memang tidak aman untuk kami beristirahat.

Bersatu di "Spot Macan"
Dengan inputan energi yang minim namun dengan kekuatan do’a, kami melanjutkan perjalanan. Saat itu kami tidak shalat maghrib dan meniatkan men-jama’ takhir dengan isya di alun-alun Surya kancana karena tidak ada spot datar lagi di sana. Tracknya sangat terjal, licin, dan banyak ancaman bahaya binatang buas. Hingga pada plang 8.5 KM, saat itu sekitar pukul setengah 8 malam, kami menemukan sumber air di tempat yang bernama Cileutik. Katanya, di sana merupakan tempat harimau menggunakan sumber air, namun saat itu di antara anggota tim tidak ada yang sadar. Alhamdulillaah, kami semua aman. Kami di sana untuk sekedar istirahat dan memanfaatkan sumber air tersebut, yang berupa semacam genangan air hujan, untuk membuat minuman hangat. Beberapa menit setelah kami sampai di sana, “tim belakang” (ketua tim, dkk) menyusul kami. Kami semua bersorak dengan penuh rasa syukur. Orang-orang yang kami nantikan dan kami harapkan selamat tiba. Mereka pun juga mengkhawatirkan kami. Saat itu, kami sudah lengkap ber-18 menjadi satu tim. Sungguh, saat itu, rasa syukur yang sangat luar biasa kami ungkapkan karena Allaah telah mempertemukan kami kembali dengan keadaan selamat di tempat itu, meskipun kami masih harus menempuh perjalanan 2,5 KM vertikal lagi menuju alun-alun Surya Kancana.
Di Cileutik
(Sabtu, 12 Oktober 2013, sekitar pukul setengah delapan malam)
Arbi, Kamil, Verry, dan Pras mendahului kami untuk membangun tenda dan memasak nasi, supaya ketika sampai di alun-alun Surya Kancana, kami bisa segera makan dan tidur. Sweeper paling belakang digantikan oleh Widi yang merupakan porter level IV seperti Pras juga. :-D Mulai pukul 9, kami sudah menemui batas vegetasi alam, di mana kami dapat melihat langit setelah sekitar 10 jam kami berjalan di dalam hutan yang lebat dan cukup gelap. Namun ternyata batas vegetasi itu PHP. Setiap kami melihat langit, tiba-tiba tertutup lagi, padahal jalan yang kami lewati selalu nanjak.

Tiba di Alun-alun Surya Kancana dengan Selamat
Hingga akhirnya sebagian dari kami sampai di alun-alun Surya Kancana pukul 11 malam dan sebagian kecil sampai pada pukul 12 malam karena ada yang sakit. Setelah sujud syukur dan beribadah shalat maghrib dan shalat isya, kami bergabung dengan “tim advance” untuk memasak. Menu makan pada malam itu adalah nasi, martabak mie-telur, dan tempe goreng. Pukul setengah 2 dini hari, makanan baru tersaji dan kami melakukan makan malam bersama. Setelah makan, sebagian langsung masuk tenda dan tidur, sebagian beres-beres. Yang paling terakhir masuk tenda adalah aku, Kamil, dan Arbi, pukul setengah 4 pagi. Perjanjiannya, pukul 4 pagi kami harus bangun untuk melaksanakan shalat subuh dan pukul setengah 5 pagi kami harus sudah summit attack bersama (puncak Gede dari Surya Kancana, selambat-lambatnya dapat ditempuh dengan waktu setengah jam sampai satu jam). Kami punya janji dengan tim cibodas untuk menikmati sunrise bersama full team Tamasya Ganesha di puncak Gede. 
Makan malam di alun-alun surya Kancana
(Minggu, 13 Oktober 2013, sekitar pukul 2 dini hari)

Summit Attack Puncak Gede
Pukul 4 pagi aku membangunkan mereka, namun mereka tidak segera bangun. Wajar, kami sangat kelelahan. Hingga pukul 5 pagi, semuanya baru selesai shalat subuh, itu juga dilakukan di tenda masing-masing karena kondisi di sana cukup dingin. Sebagian membuat minuman hangat berenergi. Setelah minum bersama, kami mulai summit attack. Sunrise memang sudah lewat tapi seenggaknya kami memenuhi janji untuk bertemu full team dengan tim Cibodas di puncak Gede.
Ternyata tim Cibodas sudah standbay di puncak Gede dari pukul setengah 5 pagi. Mereka sampai di Kandang Badak (nama tempat camp mereka) pukul 4 sore dan mulai summit attack pukul 2 dini hari. Namun sayang, mereka juga tidak dapat menikmati sunrise karena puncak Gede tertutup oleh kabut.
Summit attack puncak Gunung Gede
(Minggu, 13 Oktober 2013, pukul 05.30-06.30 WIB)
Ngemil di Puncak Gede
"Tamasya Ganesha"
"Tazzam" at Puncak Gunung Gede 
"Sahabat Sanggar" ITB
Ketemu "tim mata angin HIMAFI" di puncak Gede
aku dan kak Syifa
aku dan Lily
di Puncak Gunung Gede 2958 mdpl
Setelah berpoto-poto di puncak Gede, kami (tim Salabintana) mengajak tim Cibodas untuk mampir di alun-alun Surya Kancana dan makan pagi bersama kami. Kami memasak menu nasi, tumis brokoli-wortel, dan tempe kecap. Sebagian memasak, sebagain packing. Hingga sekitar pukul 10 siang, hujan mulai turun, kami segera makan dalam keadaan hujan-hujanan.
Tempat camp pertama tim Salabintana (Alun-alun Surya kancana)
kegiatan memasak
(Minggu, 13 Oktober 2013, pukul 08.30-10.00 WIB)
Kegiatan makan
(Minggu, 13 Oktober 2013, pukul 10.00-11.00 WIB)
Kabut di Alun-alun Surya Kancana

Menuju Kandang Badak bersama “Tim Cibodas”
Setelah makan, semua menuju area camp, Kandang Badak, melalui puncak Gede lagi. Sebagian sampai di Kandang Badak pukul 1 siang, sebagian sampai pukul 2 siang, sebagain sampai pukul 5 sore karena ada yang sakit (kram perut) dari malam harinya saat di Salabintana. Track turun ke puncak Gede memang relatif mudah. Sebagian besar dari kami melaluinya dengan berlari, termasuk aku.
Kondisi kandang badak sangat ramai. Kami agak kesulitan mencari tempat camp sehingga tenda kami agak terpisah-pisah. Ketiga tenda tim Salabintana pun dapat berdiri sekitar pukul 4 sore sejak pencarian spot dari pukul 1 siang. Saat sebagian mendirikan tenda, sebagian membuat makan siang. Jadwal makan kami saat itu memang kacau, padahal menu-menu yang kami bawa cukup hedon. Hehe. Kalau kata mereka, saat itu adalah naik gunung termewah dengan makanan yang banyak dan anti mainstream dari spek yang biasa dibawa oleh Tamasya Ganesha. Makanan-makanan yang kami bawa seperti bekal piknik. Hehe. Menu makan siang seharusnya adalah coco crunch dan susu, namun spek tersebut dibawa oleh tim yang mendampingi teman kami yang sakit. Kami mengganti menunya dengan nasi kocek mie goreng-telur. Pukul 5 sore kami baru mulai makan (pengganti makan siang).
Kondisi Kandang Badak lebih dingin daripada alun-alun Suya Kancana. Entah mengapa, padahal alun-alun Surya Kancana jauh lebih sepi dan jauh lebih luas. Sebagian dari kami tidur, sebagian lagi main-main, dan sebagian beres-beres. Saat itu aku mencoba untuk mandi dan mengganti baju setalah masak. Aku mandi ala gunung, yaitu menggunakan tissue basah. Haha. Itu pertama kalinya aku mandi di gunung. Perjalanan Gede-Pangrango memang perjalanan terbersih karena kondisnya sejuk dan banyak sumber mata air meskipun tidak ada yang mandi di sana selain bermain air di air terjun Cibodas esok harinya. Itu juga sebagian saja dari tim karena mereka tidak mengikuti summit attack ke Puncak Gunung Pangrango.
Track menuju Kandang Badak dari puncak Gede
(Minggu, 13 Oktober 2013, pukul 12.00-14.00 WIB)
Kondisi tempat camp di Kandang Badak

Bermalam di Kandang Badak dan Pembagian tim Summit Attack Puncak Pangrango
Setelah shalat maghrib (masing-masing shalat di tenda karena kondisi di sana sulit digunakan untuk shalat berjama’ah, saat itu karena tempatnya terbatas), sebagian dari kami main werewolf di tenda porter. Saat itu kami menamakannya sebagai “rumah hijau” karena tendanya berwarna hijau. Kami melanjutkan permainan werewolf yang tertunda di basecamp Salabintana saat menunggu ketua tim mengurus simaksi. Sementara itu, tim Cibodas membuat makan malam untuk kami semua (ceritanya gantian menjamu karena saat di alun-alun suya Kancana, kami yang menjamu mereka). Sekitar pukul 8 malam, kami diundang makan malam oleh tim Cibodas. Menu makan saat itu terasa nikmat, yaitu nasi, mie goreng, sosis, telur, dan sarden.
Pada saat makan malam, kami sambil briefing untuk summit attack ke puncak Pangrango. Melihat kondisi tim Salabintana, ketua tim Cibodas yang juga seorang CEO sekaligus ketua komunitas "Tamasya Ganesha" (Bibit) memberikan opsi kepada semua anggota tim untuk memilih opsi: “mau banget” summit attack puncak Pangrango; “mau aja”; atau “gak mau”. Kami akan dikelompokkan berdasarkan opsi karena waktu kami terbatas. Waktu yang dibutuhkan untuk sampai di puncak Pangrango sekitar 4 jam menurut perkiraannya. Bibit membuat target summit attack pukul 2 malam sehingga kami dapat menikmati sunrise di puncak Pangrango. Kemudian turun ke lembah Mandalawangi sebentar, setelah itu naik lagi ke puncak Pangrango untuk kembali lagi ke kandang Badak. Targetnya sampai di kandang badak lagi pukul 8 pagi. Tim yang tidak ikut summit attack Pangrango diharapkan membuat sarapan supaya kami semua segera sarapan pukul 8 pagi kemudian packing. Target kami pukul 10 pagi sudah turun dari Kandang Badak sehingga pukul 2 siang kami sudah keluar basecamp untuk menuju ke Bandung. Target akhirnya, maksimal waktu maghrib sudah sampai di Bandung. Kami mengejar target waktu tersebut karena malamnya adalah malam takbir Idul Adha sehingga kami semua berharap dapat takbiran di tempat tujuan masing-masing.
Karena itu dan karena kondisi fisik, banyak yang tidak ikut summit attack ke puncak Pangrango, terutama mereka yang malas dan sakit. Tidak ada kata kelelahan karena saat itu semuanya lelah. Hanya ada kata “mau” atau “tidak”; “Malas” atau “semangat”. Haha. Setelah didata, ternyata yang “mau banget” dan “mau aja” dapat dibagi menjadi beberapa tim kecil yang terdiri dari 3 orang. 1 tim harus berisi minimal 1 perempuan dan 2 laki-laki. Jumlah laki-laki dibandingkan perempuan yang mengikuti double summit Gede-Pangrango Tamasya Ganesha saat itu memang kebetulan pas 3:1. Saat itu aku ingin di tim kecilku minimal ada 2 orang perempuan sehingga aku mencari gabungan, hingga aku mendapatkan tim gabungan. Aku satu tim dengan Lily, Arbi, Hafizh, dan Kamil. Intermezzo dikit: Kamil itu cowok yang strong. Kecil, tinggi dan kuat. Dia jalannya cepet banget. Kekhasan dia adalah selalu starching sebelum jalan. Sedangkan kami pada umumnya, starching saat di basecamp saja. Kamil juga kuat berpuasa sunnah meskipun ikutan summit attack ke Gunung Pangrango. Sedangkan Hafizh adalah salah satu cowok favourite di tim salabintana karena dia sangat care. Hafizh orangnya gak banyak ngomong tapi dia sangat baik, setia dan perhatian. Kalau Lily memang sudah kukenal sejak summit attack pertamaku (di Merbabu), dia nice, lucu, dan menyenangkan. Lily juga baik dan setia. Dia adalah teman terdekatku saat perjalanan double summit Gede-Pangrango. Sedangkan Arbi adalah ketua tim yang sangat baik dan rajin.

Summit Attack Puncak Pangrango
Perjalanan menuju puncak Pangrango cukup asyik, dimulai pada pukul setenagh 4 pagi karena kami terlambat bangun. Saat itu aku mulai membangunkan tim salabintana pukul 3 pagi karena pada saat bangun pukul 2 pagi, aku tidak merasa tim Cibodas membangunkan kami.  Saat itu aku juga masih malas bangun karena yang lain masih tertidur pulas. Hingga pukul 3 pagi kurang, aku mulai terusik karena dengan kekhawatiran semua batal summit attack attack ke puncak Pangrango, padahal Lembah Mandalawangi menjadi impian kami. Mandalawangi adalah tempat shooting film Gie, tempat di mana Soe Hoe Gie berkunjung ke sana sebelum ke Gunung Semeru.
Aku membangunkan Lily dan mengajaknya membangunkan yang lain. Setelah membangunkan orang-orang di tendaku, aku membangunkan tenda-tenda cowok Salabintana bersama Lily. Kami kesulitan membangunkan mereka karena mereka tidur sangat nyenyak sehingga aku mengajak Lily menuju tenda tim Cibodas yang terpisah dengan kami. Ternyata sebagian dari mereka sudah menunggu kami sejak pukul 2 dini hari. Sepertinya mereka sengaja tidak membangunkan kami karena khawatir mengganggu nyenyaknya istirahat kami. Mereka tahu kalau kami, tim salabintana, lebih capek dari mereka.
Setelah aku mengajak tim Cibodas merapat ke tenda tim Salabintana, tim sebagian Salabinta pun berhasil kami bangunkan. Kemudian Bibit memimpin tim summit attack untuk membaginya ke dalam tim-tim kecil seperti yang direncakan sebelum tidur dan menyuruh kami mengambil air di sumber air sebagai perbekalan masing-masing tim. Tidak lupa kami membawa makanan, biskuit, crackers, sereal, dan minuman berenergi. Akhirnya kami summit attack tidak lebih dari setengah keseluruhan tim. Bahkan orang yang malamnya daftar ikutan summit attack tidak jadi ikut karena malas bangun. Haha.
Mereka yang tidak ikut summit attack, sebagian besar berpuasa sunnah arafah. Setelah mereka makan sahur dan shalat subuh, mereka jalan-jalan ke air terjun dan gua. Gede-Pangrango via Cibodas memang memiliki banyak sekali spot keindahan alamnya, seperti air terjun, sumber air panas, padang edelweiss seperti alun-alun Surya Kancana dan lembah Mandalawangi, jembatan kayu panjang, dll di gunung tersebut.
Kami yang summit attack melewati track yang banyak pohon tumbangnya sampai membuatku sering sekali menyingkap rok. Saat itu juga dingin sekali sehingga perlengkapan yang aku pakai cukup lengkap seperti jaket double, syal, kaos tangan dan topi hangat aku pakai. Terkadang kami melewati tebing sehingga kami harus saling tolong-menolong, tarik-menarik. Tim-tim kecil yang kami bentuk pada malam harinya tidak terlalu kaku karena pada akhirnya kami summit attack bersama. Kami semua summit attack dengan semangat. Hingga subuh menjelang, kami shalat subuh berjama’ah di tengah-tengah summit attack.
Shalat subuh berjama'ah di daerah summit attack
(Senin, 14 Oktober 2013, waktu subuh)
Sunrise di daerah summit attack --> Puncak Gunung Gede yang terlihat dari daerah summit attack ke Puncak Gunung Pangrango
Track summit attack ke Puncak Gunung Pangrango

Puncak Pangrango dan Lembah Mandalawangi
Kami gagal sunrise di puncak. Namun kami bisa sampai puncak sekitar pukul setengah 7 pagi. Alhamdulillaah, kami semua sampai di Puncak Pangrango dengan selamat. Puncak Pangrango tidak terlalu bagus, sehingga kami tidak lama-lama di sana. Kami turun ke Lembah Mandalawangi. Perjalanan ke sana sekitar 5-10 menit. Di sana lah kami berekspresi. Ada yang poto dengan gaya pre wedding, poto gaya loncat2, poto bersama, dan poto-poto lain yang lebih jayus. Kami berada di sana cukup lama karena memang tempatnya asyik dan romantis.
Puncak Gunung Pangrango 3019 mdpl
"Happy Sunrise" at Summit of Pangrango (aku, Very, Lily, Ugun, Arbi, Bibit)
Lembah Mandalawangi
aku dan Lily
Atraksi di Lembah Mandalawangi
"Tim Kecil Bahagia" (aku, Arbi, Hafiz, Lily, Kamil)
"Happy Sunrise" (Arbi, aku, Bibit, Lily, Very)
"Tamasya Ganesha"
(Senin, 13 Oktober 2013, pukul 06.30-07.30.00 WIB)
Sementara itu, tim yang tidak mengikuti summit attack ke Puncak pangrango, jalan-jalan ke air terjun Pancaweleuh dan sekitarnya.
Tim jalan-jalan yang ke air terjun Pancaweleuh

Mereka bertemu dengan tim "Si Bolang" yang baru saja shooting
Sekitar pukul setengah 8 pagi, kami yang di Lembah Mandalawangi naik lagi ke Puncak Pangrango, kemudian turun ke Kandang Badak. Karena itulah kami menamakannya sebagai “Four Summit Gede-Pangrango” (naik puncak Gede, turun ke Surya kancana, naik lagi ke Gede, turun ke Kandang Badak, kemudian naik ke Pangrango, turun ke mandalawangi, naik lagi ke Pangrango, kemudian turun lagi ke Kandang Badak).

Tracking dengan berlari saat turun dari puncak Pangrango karena mengejar target waktu

Menyempatkan diri berpoto di persimpangan Gunung Gede dan Gunung Pangrango sambil menunggu tim yang masih tertinggal
Sampai di Kandang Badak pukul 9 pagi. Kami membantu “tim jalan-jalan” (tim yang tidak mengikuti summit attack Puncak Pangrango dan memiliki cerita indah tersendiri dengan jalan-jalannya) membuat sarapan karena mereka juga keasyikan jalan-jalan. Sekitar pukul setengah 11 kami sarapan bersama dengan menu nasi goreng sosis-telur, sarden, roti tawar, energen, dan lain-lain. Sisa bahan makanan di sana hampir semuanya kami masak, sebagian kami berikan kepada tim pendaki lain karena kami kelebihan bahan makanan. Selesai sarapan sekitar pukul 11 pagi. Kemudian kami beres-beres, shalat berjama’ah dzuhur-ashar di tempat bekas kami mendirikan tenda. Hingga kami mulai turun sekitar pukul setengah 2 siang, melebihi target yang kami buat pada malam harinya.
masak
menu makan siang
tenda-tenda tim Salabintana
Dua orang porter level IV (Widi dan Pras)
Menurut dewan syuro Tamasya Ganesha, porter level IV adalah orang yang mampu membawa sebagian logistik cewek, logistik umat, tenda, dan mampu menjaga 'kaewong' orang lain selama tracking. Kekekekeke
Packing
(Senin, 13 Oktober 2013, pukul 10.00-13.00 WIB)

Pengalaman Pribadi saat turun ke Basecamp
Kami turun dengan langkah yang cepat. Kami semua mengejar waktu secepat-cepatnya. Tidak ada target waktu, namun kami semua ingin segera sampai di bawah karena kami semua sudah terlambat dari target. Sebelum turun, aku sempat bertanya kepada yang lain, kira-kira berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk sampai di bawah. Kata tim Cibodas, tracknya mudah, jadi tidak akan terlalu lama. Dengan info tersebut, meski kita semua mengejar waktu, namun kami, terutama tim Salabintana sempat meikmati beberapa keindahan alam di sepanjang track Cibodas.
Dari Kandang Badak, aku sengaja mengambil carier Bibit yang padat dengan sampah dan rangka besi tenda. Aku membawanya turun ke basecamp. Entah saat itu aku lagi pengen sok-sokan. Aku ingin latihan menaikkan levelku dengan membawa carier berat. Lagian, saat itu aku sudah mampu menuruni track dengan berlari (sejak dari Gunung Sumbing). Saat membawa carier Bibit, banyak yang mengkhawatirkanku, namun aku tetap berusaha kelihatan kuat meskipun jujur aku keberatan hingga kedua telapak kakiku luka. Haha, chupu emang. :-P
Saat itu tim dibagi menjadi empat, yaitu: tim advance, tim porter, tim pertengahan, dan tim sweeper. Para porter yang membawa barang-barang berat membutuhkan jalan cepat sehingga mereka berjalan satu tim dengan ritme jalan yang sama, kecuali porter level IV yang sanggup berjalan bersama cewek-cewek untuk menjaga kami. Aku berada di dalam tim pertengahan. Di belakangku masih ada tim sweeper (Adam, Angga, Arbi, dan Bibit).
Sampai di suatu spot, timku mulai pecah. Mereka banyak melakukan istirahat, terutama cewek-cewek tim cobodas. Sedagkan aku type yang tidak bisa istirahat terlalu sering, namun ritme jalanku lama. Apalagi saat itu aku membawa beban berat yang semakin memperlama ritme jalanku. Aku mendahului mereka supaya tidak terlalu merepotkan mereka dengan memperlambat jalan mereka karena keleletan jalanku. Ternyata tim Salabintana yang berada di timku juga terpisah dari tim Cibodas cewek. Tim Cibodas cewek diiringi oleh ketua II tim Cibodas, yaitu Ririn. Ririn adalah cewek strong yang care dan sabar menemani teman-temannya.
Pada saat turun menuju Kandang Batu, tiba-tiba aku disusul oleh Angga. Aku tidak sendirian lagi, melainkan berjalan bersama Angga. Angga adalah salah satu sahabat terbaik yang sudah aku anggap sebagai adhik, teman summit attack pertamaku yang sangat care, sabar, dan setia. Saat itu Angga setia menemaniku yang jalannya sangat lamban, padahal aku tahu kalau dia bisa jalan cepat dan aku tahu kalau orang yang membawa carier berat membutuhkan jalan cepat. Di Kandang Batu kami mendahului tim porter yang baru selesai melakukan shalat (karena mereka jalan duluan, jadi mereka belum sempat shalat saat di Kandang Badak). Setelah itu aku menemui sungai air panas. Aku ditemani Angga mampir di sana. Semakin ke atas, air tersebut semakin panas dan aku menikmatinya sesaat.
Setelah itu aku melalui jembatan tebing air panas. Di sana kami disarankan untuk berhati-hati dan berjalan satu per satu. Ingin sekali poto di sana namun tempatnya cukup sempit, licin dan berbahaya sehingga para pendaki yang melewati jembatan itu harus mengantri. Saat itu tim poter mendahuluiku lagi. Namun Angga masih setia menemaniku. Aku sudah sangat akrab dengannya sehingga dengan banyak ngobrol, aku tidak terlalu merasakan jauhnya jarak track tersebut. Hingga pada saat beristirahat di suatu spot, Arbi dan Bibit menyusul kami. Entah pada saat itu aku merasa terusik karena yang aku tahu, mereka adalah tim sweeper yang jalannya sangat cepat sehingga aku tidak ingin membuat mereka menungguku. Aku langsung cabut dari tempat itu namun Angga bilang, “santai aja mbak”. Angga ingin berjalan bersama mereka sehingga aku duluan. Aku jalan sendiri lagi.
Hingga sampai di pertigaan antara jalan menuju air terjun dan jalan menuju basecamp, aku bingung. Aku bertanya pada pendaki lain. Ternyata jalan ke basecamp ke kanan. Aku terus berjalan sendiri hingga aku bertemu dengan tim porter yang sudah menunggu kami semua di suatu jembatan kayu yang panjang. Kami semua memang sudah bersepakat bahwa meeting poin kami di jembatan tersebut karena kami ingin poto bersama di sana. Kulihat, yang lain banyak yang belum sampai di sana, bahkan tim advance. Ternyata tim advance mampir di air terjun. Kami beristirahat di sana sambil menunggu tim advance, tim pertengahan dan tim sweeper. Setelah mereka sampai di sana, kami poto bersama.
Setelah poto bersama, gerimis mulai turun lagi. Semua memakai peralatan anti hujannya dengan lengkap. Aku masih tidak menyerah membawa cariernya Bibit meskipun yang lain melarangku. Aku pikir, sebentar lagi sampai di basecamp jadi nanggung. Mereka semua jalan cepat, kecuali tim sweeper. Gerimis mampu membuatku belari dengan membawa beban yang berat. Namun ketika sampai di track turunan lagi, aku merasa tidak kuat sehingga aku terpisah lagi dengan mereka. Saat itu Angga juga sudah mendahuluiku bersama yang lain. Aku berjalan pelan sendirian lagi, hingga tim sweeper kecuali Bibit menyusulku. Saat hujan mulai turun, aku diajak mereka mampir di suatu gubuk untuk berteduh. Aku disuruh minum. Saat itu mukaku merah, badan dan mukaku penuh dengan keringat. Hingga Bibit menyusul, aku disuruh tukar carier lagi. Setelah itu kami turun lagi dengan hujan-hujanan. Beberapa menit kemudian, kami sampai di basecamp. Mereka semua telah menanti kami berempat sambil beristirahat.
Kaderisasi beban oleh carier Bibit ^_^ --> kini aku menjadi porter level 1,5 (soalnya cuma bawa rangka tendanya aja plus sampah-sampah). Kekekeke.
Menurut dewan syuro Tamasya Ganesha, porter level I adalah orang yang mampu membawa sebagian logistik cewek dan atau logistik umat; porter level II adalah orang yang mampu membawa sebagian logistik cewek dan atau logistik umat, dan tenda; porter level III adalah orang yang mampu membawa sebagian logistik cewek, logistik umat, tenda, dan mampu menjaga cewek-cewek. Haha.
Mampir di sungai air panas 
Air Terjun Cibeureum
Jembatan Maut --> jembatan jurang batu air panas. Saat melewati track ini, kita harus berhati-hati karena jalanan licin dan samping kanan jurang air panas yang cukup dalam, samping kanannya adalah aliran air (terjun) panas
Anik, kak syifa, Widi, Pras, Ivan di Jembatan Kayu Panjang
Jembatan kayu panjang --> tempat cek point tim Tamasya Ganesha

Pulang
Di depan basecamp Cibodas
Sebagian menu makan malam di warung Padang pertigaan Cibodas
Di pertigaan Cibodas
Saat itu sekitar pukul 5 sore. Setelah full team bergabung, kami menuju pintu keluar Gunung Gede Pangrango. Kami berpoto bersama di sana, kemudian kami turun ke pertigaan Cibodas hingga sampai di sana beberapa menit setelah maghrib. Mereka yang berpuasa buka puasa di angkot. Setelah sampai di pertigaan Cibodas, kami diperkenankan untuk berpencar mencari makan di tempat yang disukai masing-masing. Aku mendapatkan tim yang makan di warung Padang belakang kami menempatkan carier-carier kami. Setelah makan dan shalat maghrib-isya’, kami berkumpul kembali untuk menunggu keputusan cara pulang ke Bandung karena transportasi menuju Bandung saat itu agak sulit. Bus-bus yang melewati pertigaan Cibodas penuh, mungkin karena banyak yang mudik lebaran Idul Adha. Hingga sekitar pukul 8 malam, diputuskan bahwa yang pulang ke Bandung semuanya naik angkot menuju terminal. Sedangkan empat orang dari kami pulang ke rumah masing-masing.
Alhamdulillaah, perjalanan Double (Four) Summit Gede-Pangrango berjalan dengan lancar dan mengesankan. Kami semua selamat meskipun hampir semua jadwal ngaret. Dan perjalanan ini memiliki banyak kisah dan kesan-kesan yang begitu mendalam bagi setiap anggotanya, termasuk aku. Yang pasti, kegalauan yang berkepanjangan telah terkubur di dalam gunung itu. ^_^ Setelah itu kami juga menjadi akrab dan dekat, menjadi sahabat, dan saling bersikap seperti saudara.

Keindahan Alam Gunung Gede-Pangrango
di alun-alun Surya Kancana
di kawasan Puncak Gunung Gede
di puncak Gunung Pangrango
di Lembah Mandalawangi
di kawasan Gunung Pangrango

Dua Hati dari Gede Pangrango