About me

Foto saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Instagram: @dewikusumapratiwi Facebook: https://www.facebook.com/dewi.kusumapratiwi

Kamis, 13 Oktober 2011

BERUBAH atau MATI

Kemarin, 12 Oktober 2011, sekitar pukul 11 malam aku selesai mengerjakan TP EkFis 1. Setelahnya aku berniat untuk mengerjakan Laporan Fiskom Modul 3. Tapi tangan jahil ini membuka blog karena memang aku sedang belajar mengoprek blog. Aku ingin memfollow teman2ku. Hingga mungkin sekitar pukul 12 malam aku menemukan blog salah satu temanku. Aku membaca judul postingan teratasnya "Berbagi Cinta Berbagi Cerita".

Aku membaca awal tulisannya "Sembilan bulan berada di rahim ibu, Allah telah menyempurnakan bentuk tubuhku. . .". Aku pikir ini postan tentang "ibu", sehingga aku pun melanjutkan membacanya karena aku sangat senang membaca tulisan2 tentang "ibu" dan “ayah”.
Sampai di tulisan bawah gambar peta daerahnya, aku mulai sadar kalau tulisan itu adalah biografi tentangnya. Aku ingin mencukupkan sampai di situ saja bacanya, tapi saat itu terbaca tulisan "Sebenarnya ibuku sangat berat melepas putra tercintanya yang masih kecil ini untuk hidup mandiri" dan aku merasa d'javu karena ini pernah dialami ibuku ketika melepas kepergian adikku untuk belajar di pesantren. Aku pun melanjutkan membacanya lagi. Sampai pada kalimat "Setiap hari aku harus mengayuh sepedaku menelusuri jalan berbatu dari rumah ke sekolah sejauh 12 km", aku semakin tertarik untuk membaca lanjutannya karena ini juga pernah aku alami ketika aku menempuh perjuangan hidupku masa SMP.

Aku pun membaca lanjutannya. Aku menyimak kisah perjuangan dalam perjalanan hidupnya. Tak terasa, air mataku menetes. Tapi aku terus melanjutkan membaca dan menyimak dan air mataku pun terus berderai. Hm, mungkin ini terkesan lebay. Tapi aku menghayatinya.
SUBHANALLAAH, , , 
INI SUNGGUH SANGAT LUAR BIASA.

Dia adalah seseorang yang berasal dari daerah yang mungkin tidak semua orang mengenalnya, bahkan aku sendiri juga tidak begitu tahu tepat lokasi daerahnya di sebelah mana padahal aku juga berasal dari provinsi yang sama, Jawa tengah (atau aku aja yang buta daerah ya?). Dia adalah seseorang yang berjuang keras sejak dia masih kecil. Ketika masih SD dia harus berpisah dengan orang tuanya karena harus menuntut ilmu di pesantren di luar daerahnya, menuntut ilmu dunia dan ilmu akhirat dalam usianya yang masih sangat dini. Ketika SMP dan SMA pun dia memilih sekolah yang jauh dari tempat tinggal orang tuanya tetapi sekolah yg dia pilih memanglah sekolah yg bermutu bahkan SMA nya adalah SMA asrama terbaik di Indonesia Dia selalu mendapatkan prestasi terbaik di sekolahnya. Dia selalu mendapatkan yang terbaik dalam usaha terbaiknya. Walaupun dia pernah gagal, tapi dia selalu optimis dan memperjuangkan untuk keberhasilannya. Dan dia selalu segera bangun dalam jatuhnya. Sampai sekaranng pun insya Allah dia selalu berada dalam kebaikan dan selalu menebarkan kebaikan. Semoga Allah selalu meridhoi perjuangannya dan selalu melimpahkan keberkahan untuknya.

Jika aku menganalogikan dengan kisah perjalanan hidupku, sebenarnya aku adalah seseorang yang seharusnya tetap berjuang sepertinya. Karena aku hidup dalam perjuangan dan cinta. Next, insya Allah aku akan menuliskan juga kisah perjalanan hidupku. Tapi kini, aku ingin menuliskan apa yang aku rasakan tadi malam. Tulisannya menyadarkan diriku untuk berkaca dan berbalik ke belakang untuk melihat siapa diriku yang dulu dan bagaimana aku yang sekarang?

Dulu, hampir semua orang di sekitarku selalu memandang aku hebat karena prestasi-prestasi yang aku raih. Mungkin kinipun sebagian orang2 di sekitarku juga masih memandang seperti itu karena aku berada di sini, di kampus yang mereka pandang sebagai kampus terbaik bangsa. Tapi, sebenarnya aku yang sekarang bukanlah sepenuhnya seperti apa yang mereka pikir. Di sini, aku bukan siapa-siapa. Aku bukanlah sang juara lagi. Aku tidak seperti teman yang aku  ceritakan di atas, yang mungkin membuat semua orang bangga karena berada di fakultas teratas kampus ini, pernah meraih medali,  dan mendapatkan beasiswa full serta prestasi2 lainnya yang tidak sedikit. Aku tidak pula seperti mereka yang membawa piala emas, perak, maupun perunggu untuk mengharumkan nama kampus tercinta ini. Aku juga belum pernah mendapatkan kesempatan untuk keliling dunia seperti mereka yag mendapatkan beasiswa tour, short visit, student exchange maupun beasiswa S2, S3, riset, dan lainnya. Aku juga belum memiliki sertifikat kejuaraan terbaru di sini.

Perjuanganku sekarang memang tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan perjuangan hidupnya. Jika dibandingkan dengannya, dia bersekolah di sekolah asrama terbaik di Indonesia dan aku berada di sekolah unggulan Jakarta barat. Tapi di sana dia serius belajar, serius menuntut ilmu, dan serius menggapai semua keinginannya. Dia juga bukan hanya belajar ilmu duniawi tapi juga ilmu akhirat. Dia tetap mempertahankan beasiswa2nya dalam jatuh bangunnya. Dia meraih prestasi-prestasi dalam perjuangan kerasnya, bukan hanya di sekolahnya, tapi dia juga membawa pulang medali olmpiade nasional, meraih beasiswa full S1, dan mendapatkan fakultas terbaik di kampus terbaik. Di sini pun, dia terus berusaha menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, KARENA ALLAH.
Tapi aku? Prestasiku menurun dan terus menurun sejak kelas 2 SMA. Updatenya pergaulan yang harus terus aku ikuti membuatku terlena sehingga aku pernah terjatuh dan terjatuh dalam jurang yang sangat dalam. Dalam jatuhku, aku tidak segera membangunkan diri, tapi aku terus meratapinya hingga aku membuang waktu dan  kesempatanku selama +- 1 tahun. Seharusnya aku berjuang untuk mendapatkan apa yang aku inginkan dulu, FK UI. Aku ditolak berkali-kali dalam usaha tidak maksimalku melalui PMDK, SIMAK, dan UMB.
Memang, dengan segala kemurahan Allah, aku berkesempatan belajar di kampus ini, kampus yang menjadi tempat belajar kebanggaan bagi mahasiswa2 di dalamnya. Tapi, mungkin aku telah kelamaan diam dalam jatuhku dan membiarkan lukaku. Di sini, aku tidak memiliki semangat yang seluar biasa ketika aku masih kecil dulu, ketika aku masih duduk di bangku TK, SD dan SMP yang selalu berjiwa koleris, harus selalu menang, harus selalu menjadi yang terbaik dan harus selalu menjadi juara. Di sini, aku lebih plegmatis, pasrah dan LEMAH dengan keadaan sekitar yang aku lihat. Aku melihat banyak orang hebat di sini dan aku merasa tidak mungkin menyaingi mereka karena aku merasa sangat jauh dari mereka. Hal ini terus aku biarkan bertubi-tubi hingga aku tidak cemerlang lagi.

Tapi dari ceritanya, hati, jiwa, dan perasaanku tersentak bahwa aku hanya punya 2 pilihan, BERUBAH atau MATI?!!!

Jika aku memilih berubah, maka aku harus melakukan poin-poin berikut:

1.      Usahaku harus tetap sebanding dengan keinginanku.“Man jadda wa jada”, sebuah hadits Rosululloh yang artinya "Barang siapa yang bersungguh-sungguh akan mendapatkannya".

2.      Aku harus berusaha mencinta pekerjaanku. Walaupun aku masih belum menyukai Fisika tapi aku harus berusaha menyukainya dengan sering berinteraksi dengannya (rajin mempelajarinya). “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah:216)

3.      Aku harus mengejar ketertinggalan ini walaupun semua terasa tak mungkin. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka” (QS Ar-Ra’ad:11)

4.      Aku harus senantiasa mensyukuri apa yang telah aku dapatkan selama ini. “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim:7)

Dengan mengucap BISMILLAAHIRROHMAANIRROHIIM, aku akan BERUBAH.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar