About me

Foto saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Instagram: @dewikusumapratiwi Facebook: https://www.facebook.com/dewi.kusumapratiwi

Jumat, 03 November 2017

Menghapus Jejakmu, Mengikuti Langkahmu

Pacaran. Aku hampir tak pernah jomblo. Aku selalu butuh sosok lelaki yang bisa melindungiku. Antar jemput saat aku pergi. Menemani saat aku sepi. Bertanya saat aku tersesat. Berbagi saat aku ringkih. Saat putus, butuh waktu untuk aku move on. Lama untuk aku menyembuhkan luka. Panjang untuk aku melupakannya. Meski biasanya selalu aku yang mutusin mantan-mantan pacarku terlebih dahulu.

Yang paling terakhir, aku pacaran dengan sosok seorang aktivis dakwah. Bagaimana bisa ia jatuh ke dalam lubang maksiat bernama pacaran? Dengan aku yang begitu awam. Mungkin aku memang menarik? Atau akulah iblis penggoda yang jitu? Setahun lamanya aku menjalani hubungan dengannya. Dalam sebutan hubungan tanpa status.

Berbeda dengan mantan-mantanku yang lain. Pacaran dengannya hanya sebatas chatingan setiap hari. Isi chatingan kami kebanyakan hal-hal positif. Meski tetap ada sedikit gombal darinya yang membuatku klepek-klepek. Bahkan tak jarang ia menasehatiku dan memberikanku semangat. Pernah sesekali bertemu dan jalan berdua, namun dengan jarak, tanpa sentuhan. Aku merasa nyaman dengannya.

Satu tahun berlalu. Suatu hari, saat kami sedang jalan berdua, kami kepergok oleh guru ngajinya. Tak lama ia dipanggil dan dinasehati. Sejak itu, ia menghilang tanpa kabar. Saat itu aku menulis puisi, untuk menggambarkan isi hatiku.

Ada yang hilang dari jiwaku
Saat aku telah memiliki
Kini aku tersesat mencarimu
Di laut yang dalam
Saat melintasi langit biru
Kini aku hilang tanpamu
Di tengah hutan rimba
Saat melintasi awan hitam

Rasa ini tak dapat ditebak
Aku juga tak tahu datang dari mana
Dan mengapa pergi begitu saja?
Di mana salahku?
Aku tak tahu, sampai kapan aku harus menangis karenanya...

Hingga suatu hari, ia datang ke kosanku sembari membawakan sebuah kado. Tentu aku sangat senang. Namun ternyata ia tak lama. Hanya sekedar mengantar kado, lalu pergi, tanpa banyak ucap. Saat kubuka, isinya adalah sebuah surat dan sebuah buku tulisan Ustadz Salim A. Fillah yang berjudul Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan. Isi suratnya membuatku kembali banjir air mata.

"Putri, maafkan aku yang telah khilaf
Mendatangimu adalah hal yang salah
Di waktu yang belum tepat
Putri, berhentilah menangis
Jangan sia-siakan air matamu
Hanya demi aku yang tak pantas untuk kau tangisi
Karena yang pantas menguasai hatimu,
Hanyalah Allah semata
Putri, buatlah bidadari surga cemburu padamu"

Tiga bulan aku menangis. Meratapi ia yang telah pergi. Namun aku juga refleksi. Bahwa jika aku ingin mendapatkan yang terbaik, aku pun harus jadi yang terbaik. Ia telah jatuh di jalan kelam, namun kini ia telah bangkit menuju jalan terang. Dan jika aku menginginkannya, aku pun harus mengikuti jejaknya. Jika kami memang berjodoh, cinta pasti bertemu kembali, meski aku dan ia terpisah oleh ratusan pulau.

Kini hari-hariku tak lagi sepi, meski tanpanya dan tanpa pacar. Karena aku memiliki banyak teman solehah yang selalu membantuku untuk menjaga hati. Menemani saat aku pergi. Menjengukku saat aku sakit. Meminjamkan pundak saat aku ringkih. Menjadi petunjuk saat aku sesat. Kini, masjid menjadi tempat tongkronganku bersama Al Quran. Majelis ilmu menjadi tempat yang selalu kurindukan.

#day24 #30dayswritingchallenge #30dwcjilid9 #squad7 #fightersquad7 #tulisanbertema #temajatuh #jatuh #fiksi #cerpen
Seen by Dewi Kusuma Pratiwi at 6:27pm

Minggu, 13 Maret 2016

Dua Tahun untuk Dua Hati dari Gede-Pangrango

Tentang cinta,
Cinta yang tak mungkin?
Bagaimana tidak.
Dirinya terlihat terjaga, sedangkan diri ini pernah berkali-kali maksiat.
Namun, kuingin seperti Umar bin Khathab, yang mampu berhijrah 180 derajat.
Yang dulu paling terang2an membenci rasulullah saw, setelah bertaubat (masuk islam), menjadi yang paling terang2an membela rasulullah saw.
Yang dulu sangat keras dalam menentang ajaran islam, bahkan sering melakukan perbuatan kasar pada kaum muslim, setelah bertaubat, menjadi sahabat yang selalu setia menemani rasulullah dalam berdakwah hingga ia termasuk orang yang dijamin masuk syurga.

***

Tingkat II kuliah di kampus ini, saat kita tergabung dalam suatu forum. Kuingat percakapan pertama kita, "Arbi anak 78? Wah, sekolah kita tetanggan ya..." "Iya. Alhamdulillah ya, nambah saudara nih..." dilanjutkan dengan basa basi belaka di dalam forum tersebut.
Setahun, dua tahun, rasanya kita sering terlibat dalam amanah (kepanitiaan acara) yang sama. Namun, tak ada percakapan intens.


Aku tak begitu mengenal dirimu, meski kutahu engkau ada.
Banyak yang bilang kamu orangnya totalitas, bertanggung jawab, dan rela berkorban.
Namun itu semua belum begitu menarik perhatianku...
Tingkat IV kuliah di kampus ini, saat penat dengan dunia skripsi. Kuingat itu bulan Mei 2014, saat aku mengajak semua orang di dalam suatu grup untuk liburan bareng (backpacker ke Lampung Selatan). Dengan sopannya kamu meminta izin untuk tidak ikut karena sedang KP (Kerja Praktek). Aku pun hanya memberi kata semangat yang standar.
Belum ada rasa.

Juli 2014, adalah pendakian pertamaku, di gunung Merbabu. Tak ada dirimu di sana. Aku hanya bersyukur. Diriku yang lemah ini, yang dulunya sakit2an, yang pernah dijudge orang tak akan mampu, diberi kesempatan untuk menaklukkan puncak setinggi 3145 mdpl.
Dari sana, aku melihat puncak2 lain yang ingin kudaki...

Agustus 2014, aku hendak melanjutkan double summitku yang tertunda, menaklukkan puncak Merapi 2950 mdpl dan Sumbing 3371 mdpl. Tiba-tiba ada kamu di sana.
"Merapi adalah gunung dengan track tersulit dari yang pernah kudaki. Namun Merapi menjadi gunung paling favouriteku karena Merapi hangat dan entah mengapa aku mendapatkan suatu energi di sana. Ada hal yang tidak biasa yang aku rasakan, yang entah itu dimulai sejak kapan. Merapi mengubah banyak hal dalam kehidupanku. Aku menjadi berani untuk naik gunung manapun setelah naik Merapi." (http://dewikusumapratiwi.blogspot.co.id/2013/11/akhir-dari-sebuah-pencarian.html)
"Sumbing adalah gunung yang pertama kali aku black list karena cerita horor dan sulit tracknya. Namun setelah melewatinya, Sumbing menjadi gunung yang menggoreskan kesan yang paling dalam, dalam sekali. Sumbing yang mengajariku arti perjalanan hidup, tentang perjuangan cita dan cinta." (http://dewikusumapratiwi.blogspot.co.id/2013/11/akhir-dari-sebuah-pencarian.html)
ANTARA MERAPI, SUMBING DAN DIA, AKU JATUH CINTA PADA MEREKA BERTIGA.

Selanjutnya, aku melewati bulan-bulan yang berat, yang ternyata menjadi bulan yang berat pula bagi dirimu.
Nasehat sahabat, "ujian terberat bagi seorang penuntut ilmu adalah lawan jenis".
Ya, rasa itu datang lagi. Rasa yang pernah berkali2 membuatku terjerumus ke dalam jurang pacaran. Namun kali itu, aku tak ingin mengulanginya lagi.
Bukan hal yang mudah. Mencintai dalam diam. Mencintai tanpa kepastian.
Logika ini selalu berkata "tak mungkin!"
Namun entah mengapa, hati ini selalu mendo'a.

Oktober 2014, kamu mngajakku double summit Gede-Pangrango bersama 33 orang teman yang lain.
Tim kita harus terbagi menjadi 2, melalui Cibodas (jalur wisata) dan Salabintana (jalur hutan).
Kamu menempatkanku di tim yang kamu ketuai, Salabintana.
Sebuah perjalanan yang cukup mendebarkan. Kita harus melewati track yang sangat melelahkan dan mengancam. Medan yang berat, diguyur hujan, diserang pacet, diancam binatang buas, terpaksa perjalanan malam karena jadwal molor, laper, capek, sampai ada beberapa orang yang halusinasi dan sakit. Dan perjalananpun semakin terasa berat tanpa dirimu. Saat itu, kamu harus tracking terlambat 5 jam dari kami karena harus mengurus simaksi tim kita...
Medan yang berat kalah dengan perasaan khawatir. Khawatir akan keselamatan diri sendiri, tim, dan dirimu yang di belakang.
Mungkin, saat itu kita semua mengerahkan seluruh indera untuk bekerja. "... kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya, serta mulut yang akan selalu berdoa." (Donny Dhirgantoro - 5 cm).


Rasa syukur yang luar biasa adalah saat dirimu dan tim kecilmu mampu menyusul kami. Hingga kita semua selamat sampai padang luas dengan indahnya bunga edelweiss, alun-alun Surya Kancana.
"
Ada sesuatu yang berharga di alun-alun Surya Kancana, tempat yang seharusnya menjadi tempat bersejarah bagiku. Ada hati yang mau berkata di tempat indah itu. Namun sayangnya tertunda karena ia harus mengutamakan kepentingan bersama. Suatu tanggung jawab untuk membawa mereka semua selamat sampai di bawah lagi. Suara hati yang selama dua bulan sebelum itu, aku harapkan dalam setiap do’a-do’aku. Entahlah, inilah yang namanya Rahasia Tuhan. Surprise istimewa dari Tuhan yang datang jauh lebih cepat dari yang pernah aku harapakan. Yang hadir dengan cara yang lebih baik dari yang aku inginkan. Sebuah hati yang jauh lebih baik dari yang pernah aku impikan." (http://dewikusumapratiwi.blogspot.co.id/2014/04/dua-hati-dari-gede-pangrango.html)
"Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?" (QS. Ar Rahman)

Beratnya medan Salabintana, menghadiahkan alam Gede-Pangrango yang begitu indah. Begitu megahnya ciptaan Allah SWT. Sabana edelweiss (Surya Kancana), puncak Gede, Kandang Badak (area camp malam kedua), puncak Pangrango, Mandalawangi (padang edelweiss), sungai air panas, air terjun, goa, danau, dll. Seluruh kegalauan terkubur dalam di gunung itu. <3

***

Kini, dua tahun aku telah hidup bersamamu. Banyak suka dan duka. Banyak air mata dan tawa.
Dua tahun yang tidak mudah untuk dijalani.
Dua tahun yang penuh dengan ujian dan rintangan.
Namun, aku sangat mensyukuri dua tahun ini...
Hidup bersamamu,
Sang pangeran impian.

Bukan hanya karena kamu tampan di mataku,
Bukan juga karena aku telah menjadi pemenang hatimu yang banyak direbutkan.
Namun, kamu begitu sangat melengkapiku yang penuh dengan kekurangan ini.
Perhatianmu, tanggung jawabmu, kesetiaanmu, kasih sayangmu, kesabaranmu, pengorbananmu, keikhlasanmu dan banyak sekali detail mulai dari hal besar sampai hal sepele yang kamu lakukan untukku.
Aku rasa, aku tak akan pernah menemuinya pada laki-laki lain selain ayahku.

Aku tak akan berdusta pada dunia, kalau kamu bukan cowok yang perfect.
Ada banyak kekuranganmu,
Tak jarang juga kamu melakukan khilaf...
Namun, semua itu adalah bagianku...

Aku juga tak akan berdusta pada dunia, kalau sebenarnya kamu bukan cowok yang romantis...
Yang suka memuji dengan kata2 indah (ngegombal), ngasih surprise, selalu merayakan hari istimewa, suka ngajak dinner candle light, suka ngasih bunga, dll.
Gak jarang kamu suka ngebully2, nyuekin aku gara2 lagi main game, lama bales whatsapp, dan suka telat pulang.
Tapi dengan pedenya aku berani bilang pada dunia kalau KAMU SAYANG BANGET SAMA AKU.
Sayang yang bukan sekedar bualan,
Sayang yang sangat nyata.
Sayang yang bukan hanya aku rasakan, namun juga dirasakan oleh seluruh anggota keluargaku,
Tanpa terkecuali...

I praise Allah for sending me you, my lovely navy...
So did our lovely baby...
Happy 2nd anniversary,
Thanks so much for everything. <3
I love you so much, seems like begin.



Ditulis pada #9Maret2016 saat #solareclipse

Selasa, 02 Februari 2016

Aku Bukan

Aku bukan Khadijah,
Wanita sempurna yang pantas menjadi teladan bagi semua wanita dalam pengabdiannya kepada suami...
Aku bukan Aisyah,
Wanita cantik berpipi merona yang bukan hanya sedap dipandang suaminya namun  kecerdasan dan banyak ilmunya menjadi sumber manfaat bagi orang lain...
Aku bukan Fathimah,
Yang selalu zuhud dalam kehidupannya dan ikhlas hatinya...
Aku tak seperti mereka,
Para wanita soleha yang luar biasa bagi suami dan keluarganya...

Aku tak tahu, mengapa dulu kau memilihku...
Hingga sampai saat ini masih sangat menyayangiku...
Bahkan menyayangi keluargaku dengan begitu tulusnya...
Aku hanya bisa bersyukur...

Mungkin aku tak akan pernah bisa menjadi Khadijah, Aisyah, Fathimah, maupun wanita-wanita lain yang dijamin masuk syurga...
Namun aku berharap, kau selalu setia di sisiku...
Untuk menjadi pesaing sejati dalam urusan ibadah dan kebaikan,
Seorang navy dalam perjalanan,
Dan seorang sahabat dalam keistiqomahan...

Rabu, 02 September 2015

TA Berasa Tesis : Sebuah Catatan Kegagalan Seorang Mahasiswa

Calon Dokter yang Gagal

Dimulai dari cita-cita SMA. Pengen banget masuk FK, tapi maunya cuma FK di Universitas “Itu”. Semua ujian yang diikuti cuma yang ada pilihan Universitas “Itu”, mulai dari PMDK, UMB, Seleksi Masuk (ujian mandiri), dan SNM-PTN. Tapi semua gagal. Guru-guru udah mengarahkan untuk aku memilih universitas yang passing gradenya lebih di bawah tapi aku ngeyel karena cuma mau Universitas “Itu”. Kenapa sih? Namanya juga anak SMA, masih pendek pikirannya. Antara ambisi, gengsi, dan pemikirann yang kurang logis. Pengen banget jadi dokter spesialis penyakit dalam yang meneliti dan menemukan obat untuk penyakit-penyakit mematikan. Karena saat nenek dan kakekku sakit lalu akhirnya meninggal, aku tak bisa berbuat apa-apa. Selain itu, aku ngefans sama dokter, soalnya sejak bayi sampai usia 7 tahun ketemu dokter spesialis anak hampir setiap seminggu sekali karena aku pernah menderita asma akut. Pikiran saat itu, kalau mau lanjut sekolah yang lebih bagus lagi harus masuk sekolah yang bagus dulu. Dan FK Universitas “Itu” adalah FK terfavourite di Indonesia.

Mampir di FMIPA ITB

Pas SNMPTN galau pilihan keduanya apa, sampai daftar aja di hari terakhir, langsung ke panitia pusat, di FE UI, Salemba, Jakarta Pusat. Setelah konsultasi dengan banyak orang termasuk guru-guru, akhirnya milih FMIPA ITB. Suka FMIPA? Gak. Katanya ITB ada TPB (Tahap Persiapan Bersama), di mana wajib belajar Matematika, Fisika, dan Kimia dasar lagi selama setahun. Yah, mending di FMIPA ITB daripada nganggur, sambil nguatin lagi pelajaran basic sciencenya buat persiapan SNM-PTN tahun depan (istilahnya di FMIPA ITB cuma mau mampir). Apalagi ITB terkenal sebagai kampus terbaik (di Indonesia) di bidang science, technology, dan art nya.

Fisika ITB adalah Pilihan

Tahun depan pas mau ikut SNM-PTN, ayah meninggal. Gak jadi ikut deh. 2X ngisi koesioner penjurusan, pilih Kimia. Alasannya, di antara semua pelajaran science, yang paling bagus nilainya dan paling seneng adalah Kimia. Udah gitu kan Kimia paling nyambung sama FK, apalagi KK Biokimianya. Tapi pas ngisi koesioner ke-3 (terakhir) belok ke Fisika. Apa karena aku jago Fisika? Gak. Suka Fisika? Gak juga. Lebih suka Kimia sama Biologi lah. Terus kenapa masuk Fisika? Alasannya rada bodoh, karena Himafi (Himpunan Mahasiswa Fisika) terlihat paling keren saat itu. Kekekeke. Ah, maksudnya waktu itu Himafi ngadain workshop Kelompok Keahlian (KK) Fisika yang mendatangkan dosen-dosen Fisika untuk promosi KK dan jurusan. Sebenernya promosi jurusan udah ada di mata kuliah TPB, yaitu PK MIPA. Tapi di workshop Himafi, Fisika terlihat sangat menarik. Dosen-dosennya juga asik. Mereka “orang besar” tapi mau bergaul dengan mahasiswa.

Ditambah aku ketemu seorang profesor ahli nuklir. Beliau sempet bilang, dari Fisika bisa lanjut ke FK. Tapi FK yang di Jepang atau Amerika dan beliau bersedia untuk merekomendasikan siapapun yang berminat, tapi tentunya dengan sebuah pengaryaan selama kuliah S1 di ITB. Lah, kok bisa anak S1 Fisika lanjut S2 FK? Kata beliau, sistem pendidikan di Indonesia memang rada kacau. Kalau di Jepang sama Amerika, S1 tuh belum “dianggap”, masih belajar ilmu-ilmu dasar, bahkan untuk FK sekalipun. Tertariklah aku untuk mengobrol langsung dengan beliau. Setelah itu langsung manteb pilih “Fisika”.

Yah, semangat bom anak baru. Ambisi. Lama-lama terlena. Ternyata Fisika sulit dan effortku rendah banget saat itu. Aku lebih tertarik berorganisasi daripada kuliah Fisika. Jadi aktivis lebih seru daripada jadi akademisi. Alhasil kuliah cuma sekedar lulus dan yang penting IPK masih standar untuk bisa dapetin beasiswa, karena aku kuliah di ITB memang (butuh dan) pake beasiswa (BUMN). Bahkan saat masuk lewat SNM-PTN pun pake beasiswa (BMU dari pemerintah). Padahal syarat untuk bisa lanjut S2 FK dengan bantuan profesor tadi adalah IPK cumlaude dan ngambil minor di Farmasi / Biologi, serta membuat suatu pengaryaan yang bisa nganterin aku ke FK. Bukan hal yang mudah. Harus rajin banget lah. Ah entah, aku lupa dengan cita-cita itu. Susah banget dapet IPK cumlaude di Fisika. Cuma segelintir orang yang memang “pinter” doang yang berhasil dapetin IPK cumlaude di Fisika ITB. Da aku mah biasa aja (usahanya juga biasa aja pula).

Mengambil Tugas Akhir (TA) / Skripsi

Sejak semester VI (semester VI loh, masih tingkat III kuliah di ITB) udah mulai nyari topik TA (Tugas Akhir / Skripsi) sendiri. Balik lagi ke ingatan dahulu, “harus yang berhubungan dengan kedokteran dan penyakit mematikan”. Dapetlah Boron Neutron Capture Therapy, suatu teknologi pengobatan kanker pake radiasi nuklir. Langsung menghubungi profesor yang sebelumnya aku ceritain. Ah, meskipun gak jadi ke FK,  mungkin aku bisa belok ke Nuclear Medicine karena ternyata yang menemukan teknologi pengobatan gitu kebanyakan malah bukan dokter (apalagi dokter umum) tapi orang Medical Physics, Nuclear Physics, Biomedical Engineering (teknik elektro), atau jurusan science atau engineering yang lain.  Langsung ngincer dosen pembimbing (dosbing) profesor yang tadi aku ceritain karena beliau profesor yang ahli di bidang nuklir. Aku rasa berhubungan dengan topik yang aku pilih.

Aku menghubungi beliau saat semester VII karena semester sebelumnya aku mempelajari topik itu dulu secara umum biar bisa aku ceritain ke beliau. Beliau nanya, “anda lebih ingin ke kedokterannya atau reaktornya?” “Kedokterannya pak”. “Kalau gitu sama bu R*** aja”. “Memangnya kalau sama bapak gak bisa ya? Saya mau masuk bidang kedokteran nuklir pak. Kalau bu R*** kan lebih ke biofisika spesialis imaging ya pak?”. “Oh iya. Tapi sayangnya, di ITB KK nuklir lebih ke power plant (reaktor daya). Kalau mau medis, paling masuknya biofisika. Dan kalau memang anda mau topik itu dan lebih ke kedokteran, saya rekomendasikan ke bu R***”. Aku ditolak T_T

Tapi aku mengikuti saran beliau. Langsunglah aku menghubungi doktor R*** (yang pada akhirnya menjadi dosbingku). Pertama kali yang ditanya, “kamu mau dosennya atau topiknya?”. “Topiknya, bu”. “Baiklah, kalau begitu, bla bla bla”. Berjodohlah aku dengan beliau. Semester VIII baru ngambil SKS TA I karena saat itu aku masih berorganisasi dan sengaja mau lulus April 2014. Aku seneng / passion dengan topikku tapi masih aja nyantai buat ngurusin TA, padahal keinginan sangat ideal. Pengen perfect lah, pengen TAnya bisa dimanfaatin, dan pengen predikat TA terbaik. #ngek (cuma pengen)

Masalah TA

Karena merasa punya banyak waktu, aku masih fokus sama organisasi dan amanah-amanah luar akademikku saat itu. Selain itu, aku juga terlalu berani nyuci nilai suatu mata kuliah wajib. Maksudnya biar IPK nya rada tinggi lagi lah. Eh, tapi malah kecelakaan. Udah gitu, kena juga kurikulum baru (kurikulum lama berakhir untuk lulusan Oktober 2013). Mati gue, belum ngambil SKS TA II, progress juga belum signifikan, ngambil kuliah pula di semester baru periode 2013/2014. Kesempatan wisuda April 2014 gagal karena semester itu (semester II tahun 2013/2014) aku harus ngambil mata kuliah wajib ITB (lagi) karena peraturannya diganti (mata kuliah manajemen sama lingkungan yang pernah aku ambil gak berlaku lagi untuk kurikulum baru). Fokus pun pecah. Perkuliahan baru bisa aku selesaikan di tahun 2014. Harusnya bisa wisuda Oktober 2014 (telat setahun lah). Namun, kuliah kelar, TA pun bermasalah.

Saat itu aku udah nikah (sejak Maret 2014). Apa alesan TA bermasalah karena nikah? Sama sekali enggak. Gak ada hubungannya sama sekali. Malahan harusnya dengan udah nikah, semua jadi lebih mudah dan cepat. Tapi ini semua murni kesalahan pribadi. Mulai dari idealisme yang tidak dibarengi ikhtiar ekstra, sungkan ketemu dosbing saat stuck dan progress belum signifikan, kesulitan mencari data dan software yang diperlukan, sakit berkali-kali, terus masuk trimester I (Januari 2015) yang cukup berat, sampai laptop hilang beserta data-data yang belum diback up saat lagi deadline (Mei 2015). Akhirnya semua masalah itu baru bisa dikelarin Agustus 2015 ini.

“Aku tidak tahu ini rezeki atau musibah, aku hanya berharap Allah memberikan yang terbaik”. Hikmah yang bisa aku ambil banyak. Mungkin aku memang harus nunggu suami (http://dewikusumapratiwi.blogspot.com/2015/05/sekilas-tentang-arbi.html) buat lulus biar dia gak minder dan merasakan nikmat(dan pahit)nya  berjuang bareng. Mungkin biar aku berkaca kalau aku bukan siapa-siapa sehingga gak pantes buat berbangga diri. Mungkin biar aku belajar dari kegagalan dan kesalahan. Mungkin juga Allah ingin menegur atas dosa-dosaku yang begitu banyak. Tapi aku merasa bersyukur dengan semuanya. Aku jadi lebih merasa kalau pertolongan Allah itu sangat dekat dan bermakna. Apalagi saat menghadapi pekan-pekan sidang. Pas banget masuk trimester III. Berjuang bareng calon baby itu luar biasa banget. Bukan cuma ujian-ujian TA aja, tapi juga ujian-ujian administrasi yang cukup melelahkan untuk mengurusinya. Dan juga ujian hidup yang mungkin merupakan ujian paling berat. Namun berkat pertolongan dan kasih-sayang Allah, kami bisa melaluinya.

Akhir dari deriTA cinTA

Alhamdulillaah, 12 Agustus 2015 aku seminar (sidang TA I) dan 1 September 2015 aku sidang akhir (sidang TA II). Karena pertolongan Allah dan doa-doa tulus dari orang-orang yang sayang sama aku, termasuk calon baby, sidangnya lancar, sukses, dan hasilnya sangat memuaskan. Alhamdulillah gak perlu revisi. Mungkin karena calon baby udah sering diajak begadang jadi Allah ngasih waktu buat relaksasi sembari menunggunya lahir.

Perjuangan gak berhenti sampai di sini, perjuangan sesungguhnya baru akan dimulai. Amanah satu alhamdulillah udah selesai. Amanah-amanah yang mungkin lebih berat sedang menunggu. Semoga segala kegagalan ini menjadi pelajaran berharga buat aku ke depannya. Setelah ngerjain TA, jadi merasa cethek ilmu. Pengen lanjut sekolah lagi. Tapi nanti lah, gak mau memutuskan sesuatu karena ambisi lagi seperti dulu. Perlu persiapan dulu, belajar lagi, sambil mengerjakan amanah-amanah baru yang ada di depan dan menyelesaikan resolusiku sejak 2 tahun lalu yang gagal (http://dewikusumapratiwi.blogspot.com/2014/02/resolusi-di-usia-23.html). Aku tidak ingin masa-masa golden age anakku yang singkat dan hanya datang sekali terlewatkan. Mudah-mudahan Allah memampukan.

Pesan Sahabat

Saat aku sedang dalam masa-masa “kritis”, alhamdulillaah Allah mengirimkan sahabat-sahabat yang luar biasa. Mereka ada untuk mengamalkan Q.S. Al-Ashr. Ada beberapa nasehat yang sampai sekarang aku ingat, bahwa:
“Pemenang sejati bukan tentang siapa yang duluan, tapi tentang siapa yang bertahan”
“Parameter kesuksesan setiap orang berbeda-beda. Namun kesuksesan sejati hanyalah syurga firdaus”
“Orang yang beruntung adalah orang yang selalu menyertakan Allah dalam setiap langkah kehidupannya”

Tulisan ini bukan untuk klarifikasi. Aku hanya ingin aku dan siapapun mengambil hikmah dari kegagalanku ini. Supaya aku tidak seperti keledai yang jatuh ke lubang yang sama lagi, juga supaya orang-orang yang belum pernah merasakan tidak merasakan kegagalan ini, apalagi dengan sebab yang sama. Ah, terserah saja pada pandangan orang. Memang kenyataannya aku lulus telat dan “segala keburukan yang menimpaku memang murni karena kesalahanku sendiri. Datangnya pertolongan hanyalah dari Allah semata”. Bukan karena aku solehah, bukan karena aku rajin berdoa, apalagi amalan-amalan yaumiyah. Aku hanyalah manusia yang sering futur. Semua pencapaian ini murni karena Allah Maha Pengasih.

Hikmah yang Dapat Dipetik
 
Buat yang masih kuliah, jangan pernah menyerah!!! Jangan mengeluarkan kata-kata, “aku gak passion sama kuliah ini”. Kamu sudah memilihnya, kamu sudah memulainya, maka kamu harus bertanggung jawab untuk menyelesaikannya. Ini bukan soal penting atau gak penting. “Gak ada ilmu yang gak berguna". Kalau sekarang kamu gak tahu buat apa kamu harus belajar itu maka telen aja dulu. Mungkin suatu saat kamu akan membutuhkan atau sadar bahwa ilmu itu penting. "Penyesalan selalu terletak di belakang”. Ini bukan soal passion atau gak passion. Sekali lagi, ini semua soal TANGGUNG JAWAB.
Organisasi memang penting, tapi jangan terlalu over. Amanah kita bukan hanya di sana. Malahan amanah yang diberikan kepada kita pertama kali saat masuk kampus adalah menyelesaikan kuliah. Loyal dan total di amanah itu sangat baik, bahkan harus. Tapi jangan sampai ada yang dikorbankan meskipun fikih prioritas tetap berlaku.

Buat yang lagi skripsi / TA, jangan pernah sungkan sama dosbing. Percayalah, beliau gak akan ngomel-ngomel saat progressmu belum signifikan. Mereka gak akan marah saat kamu gak ngerti dan bertanya. Malahan mereka akan bingung ketika kamu “menghilang”. Mereka udah kamu pilih sebagai dosen pembimbing yang artinya kamu percaya untuk membimbingmu, maka jangan sia-siakan (manfaatkanlah) pilihanmu itu.
Jangan menunda-nunda pekerjaan kayak aku. Semakin kita menunda, tantangan dan ujian di depan akan semakin berat. Kita gak pernah bisa memprediksikan dengan akurat tentang apa yang akan terjadi di kemudian hari. “Ingat 5 perkara sebelum 5 perkara”.
Jangan juga terlalu idealis jika itu hanya akan menyusahkan dirimu sendiri. Santai lah, S1 memang belum ada apa-apanya. Ada tahapannya. Kalau mau lanjutin lagi bisa di S2, lalu S3. Tapi kalau mau kekeuh TAmu harus bisa diaplikasikan bahkan dipatenkan, ya usahanya harus ekstra banget. Sekali lagi, jangan pernah menunda-nunda. Waktu itu terasa sangat singkat dan cepat berlalu. Jangan sampai menyesal di akhir.
Buat semua yang punya cita-cita tinggi, ternyata "semakin tinggi cita-cita kita, semakin besar pengorbanan yang harus kita lakukan". Orang-orang besar itu (profesor, ahli / profesional, bisnisman, ulama, dll) tidak sempat “berpangku tangan”, mereka sedikit tidur, dan banyak sekali menghadapi masalah-masalah. Mereka bukan tidak pernah gagal, tapi mereka cepat move on dari kegagalan.
Allaahu ‘alam bi shawab.
Cukup sekian pesan-pesan dari seorang mahasiswa yang gagal, mudah-mudahan gak ada lagi yang menapaki jejak kegagalanku.

Jumat, 26 Juni 2015

Catatan untuk Wanita --> Peranmu, Surgamu

PERANMU, SURGAMU
Notulensi Kuliah Akademi Orangtua Parenting Nabawiyah
Waktu: Sabtu 20 Juni 2015
Pembicara: Ustz. Poppy Yuditya
Sumber: Grup Cerita Ibu dan Anak (Ceria 8) dengan sedikit editan tampilan dan ejaan kata

Peran muslimah
Berapa jumlah perempuan yang disebut di dalam Al Qur'an? Semua tercakup dari zaman Nabi Adam as sampai akhir zaman. Ternyata hanya 20 yang disebut secara dzahir. Dari 20 tersebut ternyata Allah hanya menyebut satu nama saja, yakni Maryam. 19 lainnya tak disebutkan. Mengapa? Karena akhlaknya paling sempurna dan bisa jadi hanya Maryam yang terbebas dari aib. Ini bukan berarti yang lain tidak mulia, namun Allah jaga aib mereka.

Perempuan dalam Al Qur'an
1⃣   Belum menikah: Maryam, Ratu Balqis, dua perempuan yang bertemu Nabi Musa, saudara perempuan Nabi Musa as. 
2⃣   Sudah menikah: Hawa, istri Nabi Nuh as, istri Nabi Luth as, Sarah, Hajar, Zulaikha, Asiyah, Istri Imron, istri Nabi Zakaria as, Hafsah, Aisyah, Zainab, istri Abu Lahab, Khaulah binti Tsa'labah.
3⃣   Ibu: Hawa, Sarah, ibunda musa, istri imron, istri Zakaria, Maryam.

Seringkali kita berpikir bahwa kita bisa mendapatkan surga karena mendidik anak. Bagaimana kalau kita belum punya anak? Hipotesis ini tidak selalu tepat. Lihat perbandingannya : dalam Al Qur'an yang terbanyak dibahas adalah peran istri, yakni sebanyak 54%. Muslimah sebagai pribadi 19% dan sebagai ibu 27%. Peran istri menempati porsi paling besar peran perempuan yang disebutkan Allah dalam Al Qur'an.

Maka kita tersadar kembali akan makna hadits ini... “Lihatlah di mana keberadaanmu dalam pergaulanmu dengan suamimu, karena suamimu adalah surga dan nerakamu.” (HR. Ahmad)

Kita berjuang keras untuk menjadi ibu terbaik bagi anak-anak... Namun, simak hadits ini.. " … dan aku melihat neraka maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penduduknya adalah kaum wanita. Para shahabat pun bertanya: “Wahai Rasulullah, Mengapa (demikian)?” Beliau menjawab: “Karena kekufuran mereka.” Kemudian mereka bertanya lagi: “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab: “Mereka kufur (durhaka) terhadap suami-suami mereka, kufur (ingkar) terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) niscaya dia akan berkata: ‘Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu.’ ” (HR. Bukhari dari Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma) 

Meski kita sering gondok dan kesal pada suami, tapi ingat bahwa ini semua untuk keridhoan Allah. Wanita surga tidak berpikir siapa yang salah. Ia hanya berkata seperti dalam hadits berikut, Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda: “Maukah kalian aku beritahu tentang istri-istri kalian di dalam surga?” Mereka menjawab: “Tentu saja wahai Rasulullaah!” Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Wanita yang penyayang lagi subur. Apabila ia marah, atau diperlakukan buruk atau suaminya marah kepadanya, ia berkata: “Ini tanganku di atas tanganmu, mataku tidak akan bisa terpejam hingga engkau ridha.” (HR. Ath Thabarani dalam Al Ausath dan Ash Shaghir. Lihat Ash Shahihah)

Sangat jarang malaikat melaknat manusia, kecuali untuk urusan "kasur". Beware.. (hati-hati)
Seberat apapun, setiap peran yang ditetapkan Allah adalah untuk kebaikan kita. Tidak ringan, tetapi ada kebaikan jangka panjang yang Allah berikan.

Jika anak-anak melawan pada kita, tidak menurut dan sebagainya, jangan berpikir "anak ini harus diapakan".
1. Tanya dulu pada diri sendiri, apakah sudah melakukan atau belum. Misal kita bingung bagaimana agar anak mau menghapal Al Qur'an. Sebelumnya, apakah kita sudah menghapal juga?
2. Cek, bagaimana ketaatan kita pada suami.
3. Periksa, bagaimana shalatmu? Bagaimana do'amu? Kesuksesan mendidik anak bukan karena teori parenting, tips-tips mendidik anak, dan sebagainya. Tapi karena Allah ridho. So, yang harus menjadi concern kita adalah bagaimana membuat Allah ridho. Karena jika Allah ridho, Ia memberi segala yang kita inginkan.

Standar perempuan shalihah itu seperti perempuan-perempuan shalihah yang tersebut dalam Al Qur'an.

Kerangka taat dan menunaikan kewajiban / kebaikan pada suami adalah untuk mendapatkan ridho Allah. Apakah setelahnya suami semakin sayang dan cinta, itu hanyalah bonusnya.

Penuhi inventory kepala kita dengan profil dan kisah-kisah istri shalihah.

Kisah dua perempuan yang bertemu dengan Nabi Musa as adalah kisah tentang perempuan yang bekerja. Mereka bekerja karena menggantikan ayahnya yg sedang sakit. Hikmahnya: wanita harus punya alasan untuk bekerja. Dan jika bekerja, ia tidak ikhtilat (misalnya dinas luar dengan rekan lawan jenis).

Ratu Balqis : pemimpin Negeri Saba'.
➡ meninggalkan kesombongan dan mudah menerima kebenaran.

Ibunda Musa : rela berkorban untuk keselamatan anaknya (Nabi Musa as).

Kisah saudara perempuan Nabi Musa as : mengikuti peti Nabi Musa as yang dihanyutkan di sungai Nil.
➡ menggambarkan sosok perempuan yg pintar, mampu bernegosiasi dan amanah.

Hawa : berkhianat karena membujuk suaminya makan buah khuldi. Namun Hawa masuk surga karena ia bertaubat.
➡ hati2 dengan bisik-bisik kita pada suami, karena bisa sangat mempengaruhinya.

Istri Nuh : tidak percaya pada suaminya saat ia membuat perahu, menjelekkan suami di depan anak-anaknya. Beware.

Istri Luth : melanggar amanah suami. Beware.

Sarah : wanita yang sangat berharap punya anak.
➡ jika ada keinginan dalam diri kita untuk tidak memiliki anak (lagi), jangan-jangan ada yg bermasalah dengan fitrah kita.

Hajar : ibu menyusui, tidak tahu mau ke mana saat bersama Nabi Ibrahim as, ditinggal sendirian entah dimana, dan sebagainya, namun tidak banyak bertanya.
➡ jangan jadi ibu-ibu rempong.
➡ Nabi Ibrahim as hanya menjawab singkat saat Hajar bertanya. Sebagai manusia biasa, mungkin Ibrahim mau menjelaskan, tapi beliau sendiri tidak tahu apa jawabannya. Para suami seringkali semakin bingung dengan pertanyaan-pertanyaan kita.
Yang dilakukan Khadijah saat Nabi Muhammad saw bingung adalah menenangkannya, membawanya ke tempat tidur dan menyelimutinya. Bukan memborbardirnya dengan pertanyaan-pertanyaan.
▶ Hajar berlari bolak-balik antara Shafa-Marwah, pada posisi yang masih bisa mengawasi bayi Ismail. Hikmahnya adalah jika ibu bekerja, pastikan pandangan mata tetap dapat terjaga pada anak-anak kita. Sepuluh tahun pertama adalah fase sangat penting dalam menumbuhkan tauhid anak.

Zulaikha : terpesona kerupawanan Nabi Yusuf dan menggodanya.
➡ jangan merasa aman dari fitnah selingkuh atau zina. Tetap jaga diri dan mohon perlindungan Allah.

Asiyah istri Fir'aun
➡ kita tidak menanggung dosa suami, namun suami bertanggung jawab atas kita. Maka permudahlah, permudahlah suami kita. Jika suami kita zhalim, kita tetap bisa masuk surga. Tapi mungkin saja suami terganjal masuk surga karena kita.

Istri Nabi Zakaria as : istri mandul yang dapat memiliki anak dengan seizin Allah SWT.

Aisyah : difitnah, lalu minta izin pada Nabi Muhammad saw untuk keluar ke rumah orang tuanya.
➡ saat mendapat fitnah, kita jangan terburu-buru mengklarifikasi karena bisa saja isunya menjadi bola panas. Tenangkan diri dulu.

Istri Abu Lahab : mengompori suami dlm kejahatan.
➡ dukunglah suami dalam kebaikan, bukan dalam kejahatan.

Zainab : bercerai karena suami tidak mampu menaikkan dirinya, dan istri tidak menurunkan dirinya, padahal keduanya adalah orang yang sholeh.
➡ pernikahan yang tidak bisa dipaksakan karena sudah diusahakan untuk setara tetap sulit sekali.
➡ tinggikan suami di hadapan anak-anak, jangan pernah menjelekkan.

Istri Imron : banyak berdo'a selama mengandung agar dikaruniai anak yang sholeh dan menazarkannya untuk Allah SWT.

Menarik, rupanya dari semua perempuan yang disebut dalam Qur'an, tidak ada tentang wanita yang sangat menginginkan punya suami. Tidak ada keyakinan bahwa letak kebahagiaan adalah dengan memiliki suami. Simak kisah Maryam, Balqis, dan lain lain. Mereka tetap bahagia meski tidak berpendamping.

Jangan habiskan waktu berlebihan untuk pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Memasak sampai 5 jam, menyetrika terlalu perfect, dan sebagainya. Karena kita juga punya kewajiban belajar dan berkarya (tilawah, baca kitab, baca buku, dan lain lain). Permudah pekerjaan, didik anak-anak untuk mandiri.

Tidak perlu iri sama suami. Berbuat saja yang Lillah, yg terbaik untuk Allah. Buatlah suami merasa tenteram (QS. Ar rum 21).
▶ note : cek lagi profil istri "setenang malam" dari kajian tafsir bersama ust. Herfi.

Kita tidak akan ditanya tentang berapa banyak uang kita untuk membantu suami, tapi ditanya tentang rumah suami kita. “Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya".

Allaahu 'alam bi shawab.

Minggu, 21 Juni 2015

Aku Sedang Iri

Aku sedang iri
Dengan siapa?
Dengan ia yang terlihat dekat dengan Allah
Yang menjadikan setiap langkah hidupnya bernafaskan Al-qur'an
Hidupnya terlihat indah
Jalannya terlihat lancar
Meski aku tahu cobaannya begitu banyak dan berat

Rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau
Itu yang membuat kita tidak pernah bersyukur dengan segala karunia-NYA
Padahal setiap dari ciptaan-NYA telah digariskan takdirnya
Semua memiliki kelebihan dan kekurangan
Semua pernah berhasil dan gagal
Semua pernah bahagia dan menderita

Namun kutahu takdir itu tidak mutlak
Karena Allah memerintahkan hamba-NYA untuk berusaha
Kutahu mereka yang berhasil meraih sesuatu,
Sebelumnya merasakan perjuangan yang berat
Menguras waktu, energi, materi, pikiran, bahkan perasaan

Cinta misalnya,
Tidak cuma-cuma Allah menganugerahkan pangeran atau putri impiannya
Sebelumnya ia tertatih-tatih untuk menjaga keistiqomahan
Dalam rangka untuk memantaskan diri
Hingga Allah percaya untuk mempersatukannya

Begitu juga dengan harta, tahta, dan kehormatan
Tidak instant ia dapatkan
Kecuali dengan cara yang bertentangan dengan ajaran-NYA

Semua orang pasti pernah berhasil dan gagal
Semua orang pasti pernah bahagia dan menderita
Namun orang yang paling beruntung adalah orang yang paling dekat dengan-NYA
Yang menjadikan-NYA satu-satunya tujuan
Yang menjadikan Al-qur'an sebagai pedoman
Bahkan selalu mengalir dalam saraf dan darahnya (hapalan dan amal)
Dan selalu istiqomah di jalan-NYA
Meski pahit dan perih
Karena kesuksesan sejati hanyalah Syurga Firdaus

Ramadhan oh ramadhan
Tarbiyahi aku, supaya aku semakin dekat dengan dia...
Dialah Al-qur'an
Untukku lebih mentauhidkan-NYA

Surat untuk Sahabat

Hai sahabat, apa kabarmu di sana?
Aku dan semesta tentunya berharap kamu selalu baik-baik saja
Semoga Allah selalu mencintaimu,
Hingga tak perlu aku khawatir dengan setiap keadaanmu

Sahabat, apakah kau ingat denganku?
Apakah kau berusaha menyapaku?
Jika iya, maafkan aku
Karena aku telah memblokir akses komunikasi kita

Bukannya aku ingin memutus tali silaturahmi
Tapi saat ini aku sedang minder
Aku lihat, semakin hari kau semakin berkembang
Kau sudah jauh melangkah mendahuluiku ke depan
Bahkan setiap hari kau berlari
Sedangkan aku, masih jalan di tempat
Di tempat ini, di mana kita memulai start bersama

Kini kau ada jauh di sana
Kini kita berbeda
Rasanya tidak pantas lagi aku untuk bersahabat denganmu

Sahabat, jika memang kau tidak mencariku
Tak apa
Mungkin itu lebih baik
Karena mungkin kau telah menemui sahabat baru yang selevel

Kini aku telah mengerti
Bahwa hidup begitu cepat berlalu
Semua datang dan pergi hanya untuk sementara
Yang abadi hanyalah DIA

Tak perlu aku merengek lagi
Untuk memintamu menjadikanku yang terbaik
Tak perlu aku kirim surat ini
Karena jika DIA berkehendak,
Hatimu akan tergerak untuk membacanya
Satu harapanku, semoga kau selalu dalam dekapan-NYA