About me

Foto saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Instagram: @dewikusumapratiwi Facebook: https://www.facebook.com/dewi.kusumapratiwi
Tampilkan postingan dengan label Goresan untuk Kita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Goresan untuk Kita. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Januari 2018

Mempertahankan Pernikahan

Dapet ilmu baru dari grup ITBMH. Tentang pernikahan.

5 tahun pertama pernikahan adalah masa-masa "riskan" dalam pernikahan...
Meski 5 tahun 5 tahun berikutnya juga memiliki peluang untuk collaps. Karena ujian hidup memang berlaku seumur hidup. Jadi kita gak pernah bisa menebak kapan ujian itu akan datang.

Ada banyak hal yang bisa "mengganggu" pernikahan kita, di antaranya: 
- Kondisi ekonomi (baik kekurangan maupun kelebihan, karena yang lebih tapi tidak dimanage dengan semestinya juga akan menimbulkan konflik)
- Dari diri masing2 pasangan (merasa tidak puas, tidak menerima kekurangan, membandingkan dengan yang lain, dll)
- Dan yang paling banyak adalah ORANG KETIGA yang memicu konflik.
Ini paling banyak dishare di trith tersebut. Mereka bercerita tentang kisah nyata, bahkan ada yang kisahnya sendiri. 😰
Banyak pasangan yang konflik kemudian bercerai hanya karena orang ketiga dan atau campur tangan orang ketiga.
Orang ketiga di sini bisa siapapun,
bisa perempuan atau laki2 lain (selingkuhan),
bisa keluarga besar,
bisa orang tua,
bisa mertua,
bisa saudara ipar,
bisa tetangga,
bahkan bisa orang lain yang sekedar komentar lewat...

Maka dibutuhkan KOMUNIKASI yang SEHAT antar pasangan. Betapa pentingnya membangun komunikasi yang baik dengan pasangan, hingga menjamurnya seminar-seminar dan buku-buku tentang komunikasi.
Karena kunci pernikahan kuat adalah: suami dan istri KOMPAK. Karena kalau udah kompak, sekeras apapaun hantaman badai dari luar insya Allah lewat.
Namun yang paling penting adalah BERTAQWA KEPADA ALLAH. Karena kalau hubungan kita dengan Allah baik, insya Allah hubungan dengan manusia juga baik, termasuk dalam hal pernikahan.

Dan ada satu pesan seorang teteh yang sangat "ngena":
Hati2! Kita bisa dengan sangat tidak sadar "menjerumuskan" orang lain dalam perceraian. Na'udzubillaahi 'in min dzalik. Ust. Bendri sering mengingatkan, perceraian terjadi ketika salah satu atau kedua belah pihak melakukan maksiat. Dan orang yang menyebabkan terjadinya perceraian adalah temannya iblis.
Makanya JAGA LISAN. Hati2 kalau kita berkomentar / berbicara, entah kita sebagai pasangan itu sendiri, teman, saudara, ipar, tetangga, dan kelak sebagai orang tua maupun mertua. 

Sekian resume versi saya yang saya buat dari trith tentang pernikahan.
Mudah2an ada pelajaran yang bisa diambil, terutama buat diri saya sendiri dan pasangan saya. :)

#day8 #30DWC #30DWCjilid11 #notesformyself #notesformyhusband #pernikahankamimasihmuda #barumau4tahun

Sabtu, 27 Januari 2018

Mendidik Anak dengan Mendidik Diri Sendiri

Pagi ini saya mengikuti Kajian Sabtu Dhuha di Masjid Salman ITB. Pematerinya kali ini dari Yayasan Al Fatih Peradaban, sekolah yang saya impikan untuk anak saya nanti. Mengapa saya menginginkan sekolah tersebut? Karena kurikulumnya sesuai dengan parenting kenabian, iman dan Al Quran. Saya tahu bahwa kita sedang berada di akhir zaman. Tanda-tandanya pun sudah jelas. Maka PR bagi saya dan suami sebagai orang tua untuk mendidik anak-anak kami menjadi generasi terbaik akhir zaman, generasi Al Fatih akhir zaman.

Tema kajian kali ini adalah "Tahapan Mendidik Anak Agar Otak Brilian". Hal terpenting yang saya tangkap dari isi kajian tersebut adalah "dasar dari parenting adalah takwa". Tentang keinginan agar anak kita menjadi sesuatu seperti dokter, insinyur, dan lain sebagainya, bukanlah hal utama. Pelajaran-pelajaran seperti IPA, matematika, dan bahasa bisa dipelajari dengan cepat. Namun mendidiknya untuk bertakwa itu yang paling berat.

Salah satu ayat di dalam Al Quran, "Bertakwalah kepada Allah maka Allah akan mengajarimu" menunjukkan bahwa dengan bertakwa maka Allah akan mengajari kita apa saja yang kita mau. Rasulullah SAW yang tidak kita ragukan ketakwaannya, pernah belajar bahasa asing (bahasa orang yahudi) selama 17 hari. Sultan Muhammad Al Fatih mampu memindahkan kapal perang melalui bukit sejauh 5 mil karena petunjuk dari Allah. Beliau dan pasukannya memiliki iman yang kuat. Mereka rajin beribadah, tilawah, sholat tahajud, dan lain sebagainya. Merekalah pasukan terpilih yang berhasil menaklukkan Konstantinopel. Umar bin Abdul Aziz menjadi pemimpin selama 2 tahun 5 bulan. Saat itu rakyatnya sangat makmur, bahkan tidak ada orang yang berhak menerima zakat. Di masa kepemimpinannya, ia membayar semua hutang rakyatnya hingga rakyatnya hidup makmur. Beliau dan generasinya adalah orang-orang yang bertakwa. Orang yang paling lemah imannya saja melakukan tilawah sebanyak 1 juz per hari.

Generasi terbaik itu dididik oleh guru terbaik. Jika kita mendidik anak, yang paling utama adalah didiklah diri sendiri terlebih dahulu. Jika kita ingin anak kita menghafal Al Quran, maka berusahalah juga untuk menghafal Al Quran. Jika kita ingin anak kita bertakwa kepada Allah, maka bertakwalah juga kepada Allah. Itulah garis besar materi yang saya tangkap pagi ini. Semoga bermanfaat untuk kita.

#day6 #30DWC #30DWCjilid11 #writingchallenge #tantanganmenulis #menulis #menulisonline #parenting

Jumat, 08 Mei 2015

Stop Vandalisme, Cintai Alam Kita!!!

Kalau film-film semacam *cm dan R*m** R*nj*n* menambah pecinta alam di Indonesia sih fine-fine aja...
Tapi kalau cuma nambah vandalisme dan alayers di alam, mungkin aku setuju dengan pernyataan beberapa orang temenku yang pecinta alam, bahwa "film-film itu menurunkan derajat para pecinta alam".
Tidak edukatif, namun malah merusak.
Mulai dari hal pribadi saja sudah tidak sesuai. Pakaian misalnya.
Kemudian melihat beberapa efek yang terjadi pada alam kita:
Setelah film *cm, salah satu gunung yang diusung dalam film itu sekarang jadi ramai banget. Apakah ramai itu salah? Tentu tidak. Malahan menurutku bagus, kalau memang semakin banyak anak muda yang mencintai alam. Tapi yang salah adalah gunung itu jadi kotor banget.
Juga gunung-gunung yang lain. Banyak corat coret tulisan alay, sampah berserakan, dan bunga langka yang dipetik sembarangan. Apakah mereka yang menyebabkan itu layak disebut mencintai alam?
Lalu, bagaimana nasib gunung yang sedang diusung dalam film terbaru saat ini, R*m** R*nj*n*?

Aku akui, aku pun adalah salah satu korban film sebelumnya.
Aku bukan anak pecinta alam (sispala, mapala, wanadri) yang melalui kaderisasi pecinta alam secara formal.
Aku belum sestrong mereka. Staminaku masih payah.
Aku pun hiking tidak setulus mereka yang benar-benar ingin menikmati dan mencintai alam. Buktinya sepulang dari hiking, aku selalu membawa banyak poto gambar diriku selama di alam. Aku masih narsis, mungkin gak beda sama anak-anak alay itu.

Namun, aku menghargai para pecinta alam.
Sedikit-sedikit aku belajar kode etik pecinta alam dari mereka. Aku memperhatikan spek standar yang harus aku bawa dan aku pakai.
Aku tidak melakukan aksi vandalisme dengan main corat-coret, metik bunga, atau buang sampah sembarangan.
Dan aku menjaga sikap selama di alam...

Aku memang bukan anak pecinta alam, seperti mereka yang aku kagumi...
Namun, aku mulai mencintai alam...
Dan mencoba satu jiwa dengan mereka...

Sebaiknya para produser film Indonesia membuat film-film yang lebih edukatif.
Sebaiknya generasi muda mulai mencintai tanah airnya dan menjaga anugerah indah yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

#savenature #lovenature #stopvandalisme #perhatikankodeetik #hargaiparapecintaalam #JagaAlamIndonesia #CintaiAlamIndonesia


Rabu, 05 Maret 2014

Sabar dan Ikhlas itulah ISLAM

(Ditulis pada 16 Februari 2014 di https://www.facebook.com/dewi.kusumapratiwi?hc_location=timeline)

Hidup memang tidak selalu menjadi apa yang aku inginkan.
Namun hidup mengajariku bahwa aku di sini bukan karena kehendakku.
Kehidupan sudah ada yang mengatur.
Sebagai hamba, aku tidak punya pilihan lain jika ingin mendapatkan kebahagiaan yang hakiki, yaitu mengikuti segala ketentuan-Nya.

Syurga itu memang mahal, mahal sekali.
Jalan menuju ke sana itu memang sulit, bahkan sangat sulit.
Ujian2nya memang menyakitkan.

Sabar dan ikhlas adalah hal yang pahit.
Namun sabar dan ikhlas adalah keselamatan.
Sabar dan ikhlas itulah #islam.

Dengan IMAN, Kita #bisabanget Menghadapi Segala Ujian Hidup

(Ditulis pada 14 Februari 2014 di https://www.facebook.com/dewi.kusumapratiwi?hc_location=timeline)

Di saat ujian satu belum selesai, ujian lain berdatangan,
Di saat fokus menyita ujian2 itu, ujian lain yang lebih sulit ikut berdatangan,
Seakan2 semua ini terasa sangat membebani pundak,
Bahkan terkadang merasa sangat tidak sanggup lagi menghadapi itu semua.
Belum lagi soal ujian perasaan, tentang prasangka orang2 terhadap kita. Tuduhan2 dan justifikasi yang menekan. Padahal di saat kondisi seperti ini, kita butuh prasangka positif dari mereka, kita butuh motivasi dari mereka, yang mungkin akan membuat beban-beban kita terasa lebih ringan.

Tapi, ternyata Allaah masih sayang dan cinta.
Di samping beban masalah2 yang sangat besar, Allaah juga mengkaruniakan iman yang besar.
Iman.
Ya, iman. Itu jauh lebih penting dari segalanya.
Karena imanlah yang membuat kita mampu bersabar menghadapi ini semua dan bertahan untuk terus berada di jalan yang benar.
Di samping kejamnya prasangka2, ternyata masih ada malaikat-malaikat yang baik, yang selalu mendukung dan mendo'akan kita.
Allaah memang Maha Adil. :')

Tidak dapat dipungkiri, terkadang terpikir untuk mengambil jalan pintas untuk melepas semua beban ini. Juga menyerang balik para prasangka yang menguras perasaan itu.
Namun iman membantu kita untuk bertahan. Para malaikat itu juga membantu kita untuk terus terjaga.

Para malaikat itu adalah sahabat2 terbaik kita, yang Allaah kirimkan untuk menjaga kita.
Sedangkan iman adalah percaya. Percaya bahwa semua yang terjadi adalah kehendak Allaah. Dan "kehendak Allaah untuk setiap muslim adalah kebaikan".
Percaya bahwa masalah-masalah itu hanyalah jalan supaya kita bisa lebih dekat lagi dengan-Nya, mendekat dan terus mendekat.
Percaya bahwa ujian-ujian ini adalah cara Allaah untuk meningkatkan derajat kita di mata-Nya.
Insyaa Allaah.

Masih banyak orang di luar sana yang jauh lebih menderita, mereka yang imannya jauh lebih tebal sehingga ujiannya lebih berat.
Juga saudara2 kita yang sedang tertimpa musibah.
Semoga musibah2 ini lah yang membuat kita menjadi lebih mulia di mata-Nya, dengan kesabaran dan keikhlasan kita.

Kamis, 22 Agustus 2013

Gaul Menyerang Virus Merah Jambu

Hei anak2 muda!
Galau (baca kacau) karena virus merah jambu?
Masih jaman ya?
Simak quotes (yg udah kurasakan bener) berikut ini deh:
"Ujian terberat bagi seorang penuntut ilmu adalah lawan jenis"
Kalau kita suka sama orang tapi belum siap nikah (Eh, ini buat yg berprinsip "Single itu prinsip, jomblo itu nasib ya..." :-D ), yaudah kasih deadline ajah, jangan kelamaan dan berlarut2, buang2 waktu! Dan perasaan "karenanya aku semangat belajar" atau karenanya aku lebih semangat beribadah" itu bo'ong banget, itu gak akan bertahan lama, ciyus deh.
"Kalau kita masih dipusingkan dg masalah 'cinta', berarti kita adalah 'pengangguran' (hayo loooo)"
Karena kalau kita jadi aktivis (sejati), masalah kayak gituan harusnya mah lewat... :-D
Sibukkan diri dg aktivitas2 BERMANFAAT (ini kalau gak bermanfaat soalnya malah bikin kacau. Haha) dan tentunya sesuai dg passion kalian. ;-)
Kalau perasaan itu sudah terlanjur berat, kurangi secara perlahan dengan cara menghindari forum (pertemuan) bersama dia. Kalaupun harus terpaksa berforum dengan dia (misalnya tuntutan amanah), yaudah ngobrol seperlunya aja. Terus ya gausah banyak memuji2 kelebihan dia dan terlalu lebay mengingat2 kebaikan dia karena banyak kok orang yang kayak dia dan bisa sebaik dia, atau malah yg lebih baik dr dia yang akan Allah pertemukan dengan kalian suatu saat nanti kalau kalian udah siap. :-D
Percaya deh... ;-)
"Percayalah, yang terbaik hanya akan datang dengan cara terbaik, di waktu terbaik, dan dalam keadaan terbaik" dan tentunya saat itu kita juga sudah pantas buat dia. :-D
Yang harus kita lakukan saat ini adalah terus belajar menjadi pribadi yg lebih baik untuk menjemput takdir terbaik. Okay? ^_^b
Kan sekarang masih sekolah / kuliah nih, perjalanan kita masih panjang. Tujuan besar itu belum tercapai.
So, semangat belajarnya, semangat ngejar cita2nya, semoga sukses :-D
*pelajaran dr seseorang yg pernah gagal*

Sabtu, 29 Desember 2012

Istiqomahlah yang Sedang Belajar, Belajar tentang Kebenaran

Sahabat, ketika aku mulai belajar islam, pelan dan perlahan, aku merasakan kenikmatan-kenikmatan di dalamnya. Indahnya islam dengan segala aturan / syari'at dan ukhuwah(persaudaraan)nya, yang tidak sebanding dengan apapun. Aku sangat bersyukur ketika aku diberikan hidayah untuk menjalankan syari'at islam, satu per satu, karena belum tentu semua orang merasakannya. Aku juga bersyukur ditempatkan di tempat yang "cukup kondusif" seperti di sini. Hingga sekarang pun, aku masih dalam proses belajar dan aku merasa aku belum kaffah (menyeluruh) dalam berislam sehingga aku harus belajar lebih banyak lagi dan beramal lebih giat lagi. Mungkin, ini adalah alasan mengapa rasulullah saw dulu mengajarkan ilmu akidah saja sampai puluhan tahun kepada para sahabatnya, itu saja untuk level para sahabat rasul. Lalu untuk aku dengan segala keterbatasan & kekuranganku, butuh berapa puluh / ratus tahun lagi? Entah, aku hanya bisa berusaha semampuku.

Menuntut ilmu itu aku ibaratkan dengan mendaki puncak gunung. Kita tidak bisa melakukannya dengan sendiri. Kita butuh teman. Kita memiliki cita2 besar, yaitu mencapai puncak. Pada saat mendaki, kita akan menemukan banyak rintangan yang "memaksa" kita untuk survive (bertahan) dan kitapun harus tetap memperhatikan teman-teman kita. Kita akan saling menjaga dan saling menolong. Rintangan dan cobaan itu bentuknya bermacam-macam: batu-batuan terjal, jalanan yang licin, binatang buas di sekitar, hujan, badai angin, dan lain-lain.
Ketika sudah sampai di pertengahan pendakian, sangat wajar jika kita merasakan kelelahan. Di sanalah keistiqomahan kita akan diuji. Apakah kita akan melanjutkan pendakian, atau akan kembali turun ke bawah. Dan mungkin saja akan ada rintangan atau cobaan yang melanda, misalnya kita kepeleset, digigit ular, kejatuhan batu dari atas, atau yang lainnya sehingga kita dapat terjatuh atau menggelinding ke bawah. Di sanalah peran teman kita atau peran kita sebagai teman.
Mengutip dari film 5 cm, ketika Genta mengingatkan teman-temannya bahwa kalau merasa lelah, bilang saja, satu lelah semuanya berhenti & istirahat. "Pendaki gunung itu gak boleh gengsian. Banyak pendaki yang berguguran di tengah jalan karena gengsi". (mungkin redaksinya gak sama persis, tapi inti yang ingin aku ambil seperti itu).

Begitu juga dalam menuntut ilmu, ada kalanya kita merasa jenuh atau kecewa, maka godaan-godaan akan berdatangan. Jika rasa lelah atau rasa kecewa itu kita pendam sendiri sehingga membuat kita mencari pelarian yang dapat melanggar syari'at islam, maka ibarat kita digigit ular namun diam saja, atau kita ditimpa batu namun kita tidak teriak mengadu sehingga teman-teman kita tidak akan mengetahui kalau kita saat itu sedang membutuhkan bantuan. Jika luka itu kita diamkan berlama-lama, maka akan terjadi infeksi /penyakit dan kita tidak akan kuat lagi melanjutkan perjalanan, bahkan mungkin kita bisa mati (gugur). Pun kalau kita hanya jatuh, maka akan sulit untuk bangun kembali, tanpa teman.

Akan terasa berbeda jika kita baru memulai langkah untuk mendaki gunung, kita akan bersemangat menuju puncak karena kita belum melewati rintangan-rintangan dan cobaan-cobaannya. Maka, perbaikilah, perkokohlah dan luruskanlah niatmu dari sekarang. Kuatkanlah prinsipmu dari sekarang. 

"Istiqomahlah kamu yang sedang belajar, belajar tentang kebenaran".

Istiqomahlah kamu yang sedang berjuang, memperjuangkan kebenaran.
Karena pengalaman perdana naik itu terasa lebih mudah daripada ketika harus naik lagi setelah terjatuh.
Walaupun, dengan sering jatuh, kita akan merasa lebih kuat. Itu juga jika kita sanggup untuk bangun kembali. Tidak mustahil jika kita tidak akan pernah bisa bangun kembali atau saat itu kita telah mati (gugur).

Pada dasarnya, jika seseorang yang berada di ketinggian yang telah dilaluinya dalam waktu yg tidak singkat dengan penuh perjuangan, lalu ia terjatuh, maka akan sangat sulit untuk ia naik kembali bahkan untuk bangkit sekalipun. Ia harus memiliki mental yang kuat dan jiwa yang tegar. Seandainya ia mampu naik kembali, ia akan melalui beberapa proses yg sangat berat: bangun dari jatuhnya, mengobati luka-lukanya, belajar berdiri dan berjalan, menunggu lukanya hingga sembuh atau minimal merasa telah baikan, baru ia bisa memulai melanjutkan perjalanannya kembali. Penuh perjuangan dan air mata. Berat.

Bersyukurlah yang sedang belajar dalam kebaikan. Istiqomahlah dan teruslah berusaha naik, jangan sampai terlena dan terjatuh karena keindahan sekitar.

Istiqomahlah kamu yang sedang belajar memakai kerudung (QS. An Nur:31),

istiqomahlah kamu yang sedang belajar memakai jilbab (QS. Al-Ahzab:59),
karena banyak yang melepasnya.
Dan ketika sudah lepas, sulit sekali untuk memakainya kembali.
Istiqomahlah kamu yang sedang belajar tentang arti dari "hijab" (hijab dalam arti sesungguhnya, yang bukan hanya sekedar batasan pakaian, namun juga meliputi hati dan jiwa),

istiqomahlah kamu yg sedang belajar tentang "tazkiyatun nafs" (penyucian jiwa),
karena sekalinya terjerumus, sangaaaaaaattttttttttt sulit untuk menatanya kembali.

Menyatukan kembali piring kaca yg telah pecah itu jauh lebih sulit daripada berhati-hati dan menjaganya supaya tidak pecah atau dipecahkan orang lain. Karena sekalipun piring pecah itu dapat disatukan kembali dengan lem termahal sekalipun, maka tidak akan pernah bisa sesempurna sebelumnya. Akan ada bekas yang sulit dihapuskan.

Istiqomahlah sahabat...


Karena aku di sini berbagi pengalaman, aku di sini mencintaimu, maka aku tidak ingin kamu terjatuh di lubang yang pernah aku rasakan.

Luruskan kembali niatmu, sahabat; kuatkanlah prinsipmu; lalu istiqomahlah, meski jalan ini berat...beraaaaatttttttt sekali bahkan.
Yakinlah, di depan sana ada puncak indah yang menantimu. :-)

note: ilmu di sini bisa diluas-artikan dengan dakwah atau jihad di jalan Allah.

Allaahu 'alam bish shawab.

Minggu, 09 Desember 2012

Jika Kau Ingin Menjadi Bagian dari Solusi

Ini kisah nyata. Pelajaran ini aku peroleh dari suatu forum, kemarin, sabtu, 8 Desember 2012.
Entah, jalan ini berkah atau tidak. Allahu 'alam. Aku hanya berusaha melakukannya karena Allah. Aku berharap, jalan ini diberkahi dan semua yang berada di jalan ini selalu diridhai Allah dan dimusahkan segala urusannya.
Amanahku memang tidak sebanyak mereka yg amanahnya lebih banyak dariku. Kapasitasku juga masih kecil dibandingkan mereka yg berkapasitas lebih besar. Bahkan jika aku dibandingkan dengan sahabat2ku yang berada di sini hari ini, aku seperti buih yg tidak berarti. Aku sangat ketinggalan jauh dari mereka. Mereka berwawasan sosial-politik yang luas, mereka memikirkan umat setiap hari dan selalu berusaha menjadi bagian dari solusi. Mereka mengkaji masalah untuk menghasilkan solusi setiap malam, di mana pada waktu2 tersebut, saya sedang tidur lelap. Mereka juga dituntut oleh tuntutan akademik, akademik mereka tidak semuanya oke, namun semua itu tidak pernah membuat mereka mundur dari jalan ini. Belum lagi ada yg harus bertanggungjawab terhadap finansial dirinya sendiri dan atau keluarganya, namun semuanya tidak membuatnya mundur dr jalan ini. Tenaga dan pikiran mereka diperas untuk dakwah ini.
Betapa lemahnya saya hingga cobaan sekecil ini pun, saya belum bisa lolos (ikhlas).
Ketika semuanya sedang menimpa secara bersamaan dan bertubi2 yang saya anggap masalah2 yg datang dr berbagai arah, saya masih mengeluh, "ya Allah, kenapa harus aku lg yg mengemban amanah ini? Sedangkan akademikku masih butuh perhatian khusus, TA ku belum kesentuh sama sekali, sedangkan ini sudah akhir semester. Banyak deadline tugas besar. Sebentar lagi juga UAS, dan aku belum belajar. Sedangkan si A, si B, si C dan yg lainnya bisa fokus dg urusan akademik. Kenapa harus aku lagi ya Allah? Padahal dg amanah2 ini gak menjanjikan kalau TA ku bisa beres dengan sendirinya, akademikku membaik dg tiba2, dan bahkan kalau ada apa2, gak ada yg bertanggung jawab atasnya. Belum lagi masalah2ku yang lain. Masalah keluarga, masalah pribadi, ditambah amanah2ku yg lain. Kenapa harus aku lagi ya Allah?"
Ah, ternyata semua keluhanku tadi sangat tidak berarti. Banyak orang2 hebat dan kuat di sekitarku. Mereka ditempa banyak problematika kehidupan yang SANGAT KOMPLEKS. Alangkah tidak dewasanya aku, dasar childish! Lemah! Gitu aja ngeluh! Lihat mereka! Mungkin masalah mereka lebih besar!
Tapi ternyata, gak ada alasan untuk mundur dari sini, dari jalan ini.
Kata salah seorang sahabat (satu di antara mereka), "Bahkan salah satu dari dosa besar adalah ketika kita mundur dari jalan perang tanpa alasan yg syar'i. Alasan akademik tuh gak ada di Al-qur'an sob!"
Bahkan salah seorang sahabat yg lainnya (hari ini beliau sangat menginspirasi saya) berkata, "dakwah ini bukan mengorbankan seseorang. Kita di sini berjama'ah. Kami butuh dukungan dari kalian, yg gak hanya sekedar do'a dan kata "semangat". Namun, kenapa masih ada yg mementingkan URUSAN DUNIAWI? IPK saya juga masih rendah, saya PMDK (Persatuan Mahasiswa Dua Koma) dan saya harus memperbaikinya, saya juga punya target buat lulus tahun depan. Tapi, apakah lalu saya akan meninggalkan mereka? Tidak, saya akan membantu semaksimal kapasitas yg saya punya, sembari saya memperbaiki akademik saya tsb".
:'(
Subhanallah.
Kata sahabat yg lain lagi, "jangan hanya berpikir "ini masalah gue". Kita semua punya masalah pribadi. Dan kitapun punya masalah bersama. Lihat Indonesia sekarang! Setiap dari kita harus menjadi bagian dari perubahan bangsa ini. Setiap dari kita harus mengkaji masalah bangsa ini lalu menghasilkan solusi2. Jangan apatis, yg hanya mementingkan diri sendiri! Ini masalah kita bersama!"
- Dari mereka, aku diajarkan bahwa masalahku ini tidak ada apa2nya, bahkan hanya seperti buih jika dibandingkan dengan masalah bangsa ini, bahkan mungkin bangsa2 lain di belahan bumi bagian sana.
- Dari mereka, aku diajarkan untuk tidak apatis. Kajilah masalah umat ini di manapun dan kapanpun, lalu jadilah bagian dari solusi. Oh, ternyata untuk mengkaji, aku harus berwawasan sosial politik sedangkan update berita aja jarang. Ah, itu bukan alasan! Bilang aja males buka berita (tv, radio, koran, internet)!
- Selama ini, saya termasuk org yg chupu masalah sos-pol. Lalu dari mana saya haru memulai ketertinggalan saya yg sudah sangat jauh ini? Kata temen, "Dimulai dari baca buku!" Ah, saya tuh males banget baca buku, saya gak suka baca! Kata kakak tingkat yang saat ini aktif bergerak di bidang sos-pol kampus, "dulu gue juga gak suka baca, bahkam gue gak suka berada di ranah2 kayak gini. Dulu gue anti kemahasiswaan, namun ada kakak tingkat yg ngejebak gue di sini. Dan mau gak mau gue ngikutin alur di sini. Dari sana gue banyak ingin tau dan ingin berwawasan luas, shg ada 5 macam buku/tulisan yg "wajib" buat  gue baca setiap harinya: 1. Buku ttg agama; 2. Buku ttg keprofesian saat ini (jurusan masing2); 3. Berita2 terkini (berupa artikel, dll); 4. Buku yg gak paling kita sukai: sosial-politik-ekonomi; 5. Buku ttg filsafat atau pemikiran.
Dan semua itu harus gue baca tiap harinya meski cuma beberapa lembar, lalu gue buat tumpukan list buku yg belum gue selesaiin. Jadi gue ngerasa punya tugas buat baca buku2 itu."
Saya sadar, dakwah itu selain untuk meng-Esa-kan Allah, juga untuk melayani umat (adil dan sejahtera terhadap umat). Intinya, kita dituntut untuk memikirkan permasalahan umat dan menjadi bagian dari solusi permasalahan2 umat. "Bagaimana kita akan menjadi bagian dari solusi jika kita tidak paham masalahnya?"
#update sosial politik boss.
Karena islam juga mengatur ke sana.
Semoga tulisan ini selalu menjadi reminder bagi saya dan bermanfaat untuk yg membacanya. :-)

@yang kata2nya saya kutip di tulisan ini: maaf sob, kak, jika kutipan kalimatnya tidak sama persis.
Semoga tidak mengurangi aliran pahala kebermanfaatannya untuk kalian. Aamiin. :-D

Jumat, 16 Desember 2011

Belajar Mencintai dan Memperhatikan

Beberapa hari yang lalu, aku membaca email dari salah seorang temanku. Isinya mp3 berjudul "Jessica".
Pada suatu malam, Budi, seorang eksekutif sukses seperti bisanya sibuk memperhatikan berkas-berkas pekerjaan kantor yang ia bawa pulang ke rumah karena keesokan harinya ada rapat umum yang sangat penting dengan para pemegang saham. Ketika sedang asik menyeleksi dokumen kantor tersebut, Putrinya, Jessica, datang mendekati, berdiri, tepat di sampingnya sambil memegang buku cerita baru. Buku itu bergambar seorang peri kecil yang sangat menarik perhatian Jessica.
"Pa, lihat, Jessi punya buku baru bagus deh." Jessica berusaha menarik perhatian ayahnya. Budi menengok ke arahnya sambil menurunkan kacamatanya. Kalimat yang keluar hanyalah kalimat basa basi, "wah, bagus ya Jes?" "Iya..." Jessica merasa senang karena ada tanggapan dari ayahnya. "Bacain Jessi dong, pa." pinta Jessica dengan lembut. "wah, papa sedang sibuk sekali nih, jangan sekarang deh." sanggah Budi dengan cepat, lalu ia segera mengalihkan perhatiannya pada kertas-kertas yang berserakan di depannnya. Jessica diam, tapi ia belum menyerah. dengan suara yang sedikit manja dan lembut, ia kembali merayu ayahnya. "Pa, mama bilang, papa mau baca untuk Jessi". "Lain kali Jessica, sana papa lagi banyak kerjaan nih!" Budi berusaha memusatkan perhatiannya  pada lembar-lembar kertas tadi. Menit demi menit berlalu. Jessica menarik nafas panjang dan tetap di situ. Berdiri di tempat dengan penuh harap dan tiba-tiba ia memulai percakapan lagi. "Pa, gambarnya bagus-bagus deh. Papa pasti suka." "Jessica! papa bilang lain kali!" Budi membentaknya dengan keras.
Kali ini Budi berhasil membuat Jessica mundur. Matanya berkaca-kaca dan ia bergeser menjauhi ayahnya. "Ia pa, lain kalia aja ya pa?" Ia masih sempat mendekati ayahnya dan sambil menyentuh lembut tangan ayahnya. Ia menaruh buku cerita si pangkuan sang ayah. "Pa, kalo papa ada waktu, papa baca keras-keras ya pa supaya Jessi bisa denger."
Hari demi hari berlalu, tanpa terasa dua pekan berlalu, namun permintaan Jessica kecil tidak pernah terpenuhi. Buku cerita peri kecil, belum pernah dibacakan bagi dirinya. Hingga suatu sore terdengar suara hentakan keras. Beberapa tetangga melaporkan dengan histeris bahwa Jessica kecil terlindas kendaraan seorang pemuda mabuk yang melajukan kendaraan dengab kecang di depan rumah Budi. Tubuh Jessica mungil terlempar beberapa meter. Dalam keadaan yang begitu panik, ambulance didatangkan secepatnya. Selama perjalanan menuju rumah sakit, Jessica kecil sempat berkata dengan begitu lirih, "papa, mama, Jessi takut. Jessi sayang papa dan mama." Darah segar terus mengalir dari mulutnya hingga ia tidak tertolong lagi ketika sampai di rumah sakit terdekat.
Kejadian hari itu begitu mengguncang hati nurani budi. Tidak ada lagi waktu tersisa untuk memenuhi sebuah janji. Kini yang ada hanyalah penyesalan. Permintaan sang buah hati yang sangat sederhana pun tidak ia penuhi. Masih segar terbayang dalam ingatan budi, tangan kecil anaknya yang memohon kepadanya untuk membacakan sebuah cerita. Kini, sentuhan itupun terasa sangat berarti sekali. Sore itu setelah segalanya berlalu, yang tersisa hanyalah keheningan dan kesunyian hati. Canda dan riang Jessica kecil, tidak akan terdengar lagi. Budi mulai membuka buku cerita peri kecil yang diambilnya perlahan dari onggokan mainan jessica di pojok ruangan. bukuya sudah tidak baru lagi, sampulnya sudah usang dan terkoyak. Beberapa coretan tak berbentuk menghiasi lembar-lembar halamannya seperti sebuah kenangan indah dari Jessica kecil. Budi menguatkan hati dengan mata yang berkaca-kaca. Ia membuka halaman pertama dan membacanya dengan suara keras. tampak sekali ia berusaha untuk membacanya dengan keras. Ia terus membacanya dengan suara keras-keras, halaman demi halaman, dengan berlinang air mata. "Jessi, dengar! Papa baca buatmu, nak." Selang beberapa kata, hatinya memohon lagi, "Jessi, papa mohon ampun nak, papa sayang sama Jessi." Seakan setiap kata dalam bacaan itu begitu menggores lubuk hatinya.
Tak kuasa menahan sakit, budi bersujud dan menangis, memohon kepada Tuhan untuk diberi satu kesempatan lagi untuk BELAJAR MENCINTAI.

Teringat ketika dulu aku mengabaikan panggilan orang tua karena padatnya amanah di kampus sehingga aku tidak sempat bertemu dengan ayahku di nafas terakhirnya. T_T

Ibroh yang bisa kita ambil dari kisah ini:
1. Perhatikanlah keluarga kita!
--> sesibuk apapun urusan kita, sempatkan setiap hari untuk menghubungi keluarga, minimal sms untuk sekedar menanyakan kabar atau meminta do'a kepada orang tua. Dan perhatikanlah keluarga kita!
 “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim: 6)

2. Perhatikan orang-orang terdekat kita dan orang-orang di sekitar kita!
--> lihatlah walau hanya dengan "melirik" tentang kondisi orang-orang terdekat kita, maupun orang-orang di sekitar kita, minimal mengetahui keadaan fisiknya (apakah dia sehat?) walaupun tidak selalu kita bisa menyimpulkan dengan benar apakah orang yang kita perhatikan tersebut sedang sehat atau tidak, sedang bermasalah atau tidak, dan sedang membutuhkan bantuan kita atau tidak.
"...maka bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu; dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman”. (QS. Al-Anfal:1)
"Sesungguhnya mukmin itu bersaudara" [QS. Al-Hujuraat (49:10)]
"Tidak beriman seorang muslim itu sehingga dia mencintai saudaranya
sepertimana dia mencintai buat dirinya"
(HR Al-Bukhari)
"Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. At-Taubat:71)

3. Perhatikan amanah dan amalan yaumiyah kita!
--> sekecil apapun amanah yang kita ambil, kelak akan dipertanggungjawabkan. Dan sebanyak apapun amanah kita, perhatikanlah, terutama amanah yang diprioritaskan di paling terakhir.
 ”Dan (sungguh beruntung) orang-orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya, serta orang yang memelihara sholatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” [QS. Al-Mu'minun (23:8-11)]
--> Perhatikan amalan yaumiyah kita! Kalau perlu, catat dalam buku / kertas muwashoffat.
"Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan" (QS. Al-Hasyr: 18)

4. Perhatikan pemimpin kita! (dimulai dari pemimpin dalam amanah-amanah)
--> “Setiap kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya” 
(H.R. Bukhari dan Muslim). Pemimpin2 kita juga manusia, mereka juga saudara kita. Mereka juga terkadang membutuhkan bantuan kita. Mereka terkadang butuh kita untuk mengingatkannya. Mereka terkadang juga butuh kepekaan dari kita untuk membantu menyelesaikan tugas2 dengan sebaik-baiknya.
Perhatikan posisi kita. Ketika kita menjadi staff, bayangkanlah,  bagaimana jika kita berada di posisinya (pemimpin kita)? apakah kita siap ditinggalkan staff2 kita untuk menanggung beban sendirian? Berusahalah untuk meringankan bebannya, semampu kita. Bantulah ia dengan apa yang bisa kita bantu.
"Barangsiapa melepakan kesusahan seorang mukmin di dunia, niscaya Allah akan melepaskan kesusahannya di akhirat. Barangsiapa memudahkan urusan orang yang dilanda kesusahan, niscaya Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan di akhirat. Barangsiapa menutup cela seorang muslim, niscaya Allah akan menutup celanya di dunia dan di akhirat. Dan Allah senantiasa memberikan pertolongan kepada hamba-Nya selama ia memberikan pertolongan kepada saudaranya." (HR. Muslim)
Dan ingatkanlah dengan cara yang baik ketika ia bersalah.
"Serulah (manusia) kepada jalan Robb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik…" [QS. an-Nahl (16: 125)]
"Mengatakan kebenaran kepada pemimpin yang bersalah merupakan sebuah kesetiaan dan menyembunyikannya merupakan sebuah pengkhianatan" (Abu Bakar Ash Shidiq) 

5. Perhatikanlah orang-orang yang kita cintai!
--> Lakukan yang terbaik apa yang bisa kita lakukan untuknya, seminimal-minimalnya adalah selalu menyertakannya dalam do'a2 kita. Bukankah salah satu do'a yang dikabulkan adalah do'a yang tidak diketahui oleh orang yang kita do'akan?
"Cinta itu memberi, bukan menerima", seperti yang dilakukan ibu dan ayah. Selalu lakukan yang terbaik untuk orang-orang yang kita cintai karena bisa jadi hari ini adalah kebaikan terakhir kita untuknya, bisa jadi hari esok kita sudah tidak dapat berjumpa lagi dengannya, tidak lagi mendengar suaranya, tidak lagi melihat senyumnya dan tidak lagi merasakan cintanya.
Tak ada yang abadi kecuali ALLAH.


Wallaahu 'alam bi showab.