About me

Foto saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Instagram: @dewikusumapratiwi Facebook: https://www.facebook.com/dewi.kusumapratiwi
Tampilkan postingan dengan label my story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my story. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Januari 2018

Perjuangkan ASI Eksklusif

Perjuangan ASI Eksklusif

Perjuangan seorang ibu tidak berhenti setelah ia melahirkan bayinya. Memberikan ASI eksklusif akan menjadi perjuangannya selama 6 bulan ke depan dan berlanjut hingga bayinya berusia 2 tahun. Kita ketahui bahwa ASI adalah makanan terbaik bagi seorang bayi. Allah sudah mendesainnya dengan gizi dan imun terlengkap dan terbaik. Allah memberikannya secara gratis. Allah juga memberikan perintah di dalam Al Quran mengenai pemberian ASI.

ASI yang keluar setelah bayi lahir yang berwarna kekunigan disebut kolostrum. Kolostrum ini jumlahnya memang tidak banyak dan sangat baik diberikan kepada bayi karena merupakan imun terbaiknya. Bayi baru lahir lambungnya masih sangat kecil dan kebutuhan ASInya belun terlalu banyak. Bahkan bayi yang baru saja lahir membawa cadangan makanan dari dalam janin untuk persediaan 3 hari ke depan. Jadi jisa dikatakan, bayi baru lahir tidak yerlalu membutuhkan asupan dari luar selama 3 hari ke depan.

Tidak semua pelayan kesehatan dan orang tua pro ASI eksklusif. Seperti yang aku rasakan pasca kelahiran 2 bayiku. ASIku masih belum banyak dan aku disuruh memberikan tambahan susu formula. Padahal yang kuketahui, semakin bayi menghisap, akan semakin memacu keluarnya ASI. Dan di 3 hari pertama ia hanya membutuhkan kolostrum dan sedikit saja ASI karena lambungnya pun masih kecil. Perlu dukungan suami untuk tetap memberikannya ASI eksklusif meskipun orang sekitar tidak mendukung. Hanya ASI, tidak ditambah susu formula, bahkan air putih sekalipun. Karena ASI lah asupan terbaik bagi bayi berusia di bawah 6 bulan.

#day7 #30DWC #30DWCjilid11 #gerakanASIeksklusif #mamapejuangASI

Jumat, 26 Januari 2018

Cerita Kelahiran Baby Adnan Part 4

(Sambungan dari tulisan: http://dewikusumapratiwi.blogspot.co.id/2018/01/cerita-kelahiran-baby-adnan-part-3.html)

Mungkin itu yang dinamakan cemburu. Abang Zahran yang secara tiba-tiba menangis tanpa sebab, diantar oleh mama mertua saya memasuki ruang persalinan. Dia seperti mencari saya, namun tahu kalau saya sedang tidak bisa memeluk dan menggendongnya. Saat itu saya sedang IMD bersama Baby Adnan. Abang Zahran digendong oleh papanya dan dikenalkan kepada adiknya. Butuh proses untuk itu.

Malam itu kami menginap di rumah persalinan. Abang Zahran cukup rewel. Meskipun jam 8 dia sudah tidur karena kecapekan, namun sebentar-sebentar bangun dan menangis. Saya tahu persis dia ingin tidur bersama saya. Akhirnya, yang tadinya dia tidur di sofa bersama mama mertua dan adik saya, pindah ikut saya ke ruang nifas. Di sana ada 2 kasur single dan 1 box baby. Kondisinya, Baby Adnan tidak mau ditaruh di baby box, dia menyusu terus. Saat itu saya juga sedang kepayahan karena menahan rasa sakit kontraksi nifas yang saya rasakan lebih sakit daripada pasca melahirkan Abang Zahran dulu. Sepanjang malam itu, saya dan suami sama-sama tidak bisa tidur.

Jam 2 dini hari, kami memutuskan untuk pulang ke rumah karena di sana tidak kondusif. Seharusnya saya dan Baby Adnan belum boleh pulang karena saya belum cek pendarahan dan Baby Adnan belum dimandikan. Namun Abang Zahran terlihat tidak nyaman tidur di sana. Kalaupun diajak pulang tanpa saya pasti tidak mau. Sehingga kami memutuskan untuk pulang semua dan meminta maaf kepada asisten bidan yang saat itu sedang sibuk membantu proses persalinan orang lain.

Sesampai di rumah, Abang Zahran mau tidur dengan pulas karena bisa 1 ranjang lagi dengan saya. Keesokan harinya pun eyang dan pamannya datang dari Jakarta. Rumah semakin ramai dan dia ada teman main baru. Saya pun sangat merasa terbantu karena ada yang masak, mengurus baby dan seluruh pekerjaan rumah. Saat itu kondisinya mereka semua sedang liburan akhir tahun. Saya jadi bisa fokus mengurus diri sendiri, ASI eksklusif dan Abang Zahran yang sedang manja (mandi dan makan harus sama saya).

#day4 #30DWC #30DWCjilid11 #writingchallenge #tantanganmenulis #menulis #menulisonline #StoryofAdnan #StoryofZahran #CeritaKelahiranBabyAdnan #part4

Cerita Kelahiran Baby Adnan Part 3

(Sambungan dari tulisan: http://dewikusumapratiwi.blogspot.co.id/2018/01/cerita-kelahiran-baby-adnan-part-2.html)

Setelah packing, saya memandikan Abang Zahran. Saat itu kontraksi yang saya rasakan sudah beritme menjadi 7 menit sekali. Rasanya memang sakit, namun entah mengapa saya merasa lebih kuat dari saat hamil pertama dulu. Dulu, saat kontraksi bukaan 2 saya sudah merasa tidak kuat, langsung minta masuk ruang nifas, tiduran, dan teriak-teriak. Namun di kehamilan kedua ini, saya malah terus berusaha bergerak dan lebih tenang meskipun tidak ada suami yang mendampingi. Saat jeda kontraksi saya juga memanfaatkan waktu untuk beberes. 

Pukul setengah 4 saya minta diantar oleh adik ke rumah persalinan. Abang Zahran pun ikut karena memang tidak ada yang menjaganya. Asisten bidan saya juga sudah stand by di sana dengan segala perlengkapannya karena sudah saya kabari sejak saya keluar flek. Beliau sendirian karena memang hari itu adalah Hari Minggu. Sesampai di sana, saya diperiksa. Kondisi saya sudah bukaan 3. Asisten bidan saya meminta segala perlengkapan yang harus saya bawa. Ternyata ada yang kurang. Adik saya pun disuruh untuk mengambilnya.

Saat itu hujan. Kondisinya, adik saya harus kembali ke rumah untuk mengambil perlengkapan yang kurang, Abang Zahran sendirian, saya sudah harus masuk ruang persalinan, dan asisten bidan saya hanya sendirian. Kondisi tersebut cukup membuat kami galau. Namun akhirnya asisten bidan saya bilang, Zahran sama beliau aja. Alhamdulilah, saat itu Zahran tidak rewel, bahkan cenderung ceria dan berusaha menghibur saya saat sakit. Kontraksi yang saya rasakan sudah beritme menjadi 5 menit sekali. Sesekali Abang Zahran mendekati dan mengelus-elus saya sambil berkata, "ayang, ayang (sayang, sayang)". Hal itu biasa dia lakukan  saat menghibur saya saat saya sakit atau meminta maaf setelah dia melakukan kesalahan.

Namun namanya juga anak 2 tahun. Terkadang Abang Zahran lari-larian keluar, teriak-teriak, dan memanjat ranjang persalinan. Hal itu membuat asisten bidan saya begitu kerepotan karena beliau harus mengurus Abang Zahran dan saya. Saat itu kontraksi yang saya rasakan bertambah sakit. Suami dan adik saya pun belum tiba. Asisten bidan saya sampai bertanya, "suaminya jadi datang gak ya bu? Terus aa' tadi bakal balik gak ya bu? Ibu udah merasa mau ee' (tanda bayi mau lahir) belum?" Asisten bidan saya terlihat panik.

Saat itu saya sudah bukaan 7. Tiba-tiba terdengar suara dari luar, "Assalamu'alaikum". Suami dan mama mertua saya tiba. Saya lega sekali. Suami saya menemani saya di ruang persalinan dan mama mertua saya menemani Abang Zahran. Saat itu kontraksi yang saya rasakan jauh semakin bertambah sakit. Saat bukaan 9-10, bidan saya datang. Beliau langsung memberikan instruksi untuk latihan mengejan. Kemudian dalam 1x tarikan nafas panjang, Baby Adnan lahir. Saat itu Abang Zahran yang berada di luar tiba-tiba menangis.


#day2 #30DWC #30DWCjilid11 #writingchallenge #tantanganmenulis #menulis #menulisonline #StoryofAdnan #StoryofZahran #CeritaKelahiranBabyAdnan #part3

Rabu, 24 Januari 2018

Cerita Kelahiran Baby Adnan Part 2

(Sambungan dari tulisan: http://dewikusumapratiwi.blogspot.co.id/2018/01/cerita-kelahiran-baby-adnan-part-1.html)

Selama sebulan terakhir itu suami saya stand by, tidak menerima jadwal ke luar kota. Padahal ke luar kota sudah menjadi pekerjaannya. Namun qadarullah, tanggal 17 Desember 2017 pagi, suami saya pergi ke Jakarta karena ada urusan. Saat itu saya merasa pegal, namun masih saya anggap wajar karena sehabis jalan-jalan. Selain itu, saya memang sudah terbiasa banyak keluhan di trimester akhir kehamilan kedua ini. Sering masuk angin, sering pegal di pinggang dan punggung, serta sakit di bagian perut bawah. Kata dokter sih wajar, di kehamilan kedua kan ototnya sudah tidak sekuat dulu.

Sepanjang pagi itu saya pun masih santai. Namun tetap meminta adik untuk tidak pergi ke mana-mana dulu supaya bisa stand by. Awalnya, suami berniat mau menginap di Jakarta semalam. Namun tiba-tiba saya merasa sakit yang saya rasakan beritme. Saya mengabari suami akan hal itu, namun masih tenang, bahkan cenderung menenangkannya yang biasanya lebih tenang dari saya. Saya masih sempat bilang kalau kemungkinan itu kontraksi palsu karena ciri-ciri melahirkan yang fix adalah keluar flek.

Sekitar pukul setengah 2 siang, saat saya pipis, saya melihat ada flek. Saya langsung mengabari suami. Saat itu beliau baru saja tiba di rumah mama mertua, baru saja mau makan siang. Beliau pun langsung membatalkan makan siangnya dan segera memesan travel ke Bandung. Alhamdulilah dapat kursi untuk keberangkatan pukul 2 siang. Saya tidak tahu persis bagaimana kehectican dan kepanikannya. Yang pasti, katanya beliau tidak nyaman sepanjang perjalanan Jakarta-Bandung.

Saya mulai packing perlengkapan melahirkan sambil menahan sakit kontraksi yang tiba-tiba terasa 15 menit sekali. Berbeda dengan kehamilan pertama yang tepat sesuai prediksi HPL, di hari H seluruh perlengkapan saya sudah siap, bahkan keluarga pun ikut stand by menunggu. Sedangkan saat itu, baju bayi saja belum saya cuci, bahkan masih ada tagnya. List perlengkapan melahirkan pun saya menebak-nebak sendiri dengan mengingat saat kelahiran anak pertama dulu.

Bersambung ke http://dewikusumapratiwi.blogspot.co.id/2018/01/cerita-kelahiran-baby-adnan-part-3.html


#day2 #30DWC #30DWCjilid11 #writingchallenge #tantanganmenulis #menulis #menulisonline #StoryofAdnan
#CeritaKelahiranBabyAdnan #part2

Selasa, 23 Januari 2018

Cerita Kelahiran Baby Adnan Part 1

Baby kedua saya lahir di luar prediksi. HPL tanggal 28 Desember 2017, lahir tanggal 17 Desember 2017. H-1 saya masih sempat hadir ke acara walimah teman di Kopo. Sepulang dari sana main di Paskal Hyper Square. Jajan dan jalan-jalan memasuki beberapa toko dari pukul 2 siang sampai 8 malam. Kebetulan di sana banyak baby shop sehingga saya sekalian cuci mata dan membeli perlengkapan baby yang masih belum dibeli. Saat itu saya benar-benar jalan sampai terasa pegal maksimal.

Saya dan suami memang memiliki hobi jalan-jalan. Minimal setiap week end kami pasti jalan-jalan, meskipun hanya ke mall atau sekedar kulineran. Di kehamilan muda pun saya masih suka jalan-jalan, bahkan travelling di trimester awal, baik saat hamil anak pertama maupun kedua. Saya pernah river tracking, berkuda, dan touring saat hamil. Tentunya dengan tetap memperhatikan diri. Kuncinya, saat terasa lelah ya istirahat. Jangan sampai terjadi kontraksi dini.

Kata para sesepuh, orang-orang jaman dahulu mampu melahirkan normal bahkan lancar hingga anak ke sekian karena mereka rajin. Mereka rajin jalan jauh, melakukan pekerjaan rumah tangga yang berat seperti mengangkut air, mengepel lantai dengan jongkok, mencuci baju dengan tangan, dan lain sebagainya. Tidak seperti saya "sang mahmud jaman now" yang mencuci baju saja pakai jasa laundry. Bahkan setelah melahirkan anak kedua ini, saya menyerah, meminta bantuan ART untuk mengerjakan sebagian pekerjaan rumah. 😬 Niatnya sih supaya fokus ASI eksklusif Baby Adnan (anak kedua) dan tetap bisa bermain dengan Abang Zahran (anak pertama). Sama boleh lah ya sambil perawatan dan tetap menjaga kewarasan. 😜



#day1 #30DWC #30DWCjilid11 #writingchallenge #tantanganmenulis #menulis #menulisonline #StoryofAdnan #CeritaKelahiranBabyAdnan #part1

Rabu, 02 September 2015

TA Berasa Tesis : Sebuah Catatan Kegagalan Seorang Mahasiswa

Calon Dokter yang Gagal

Dimulai dari cita-cita SMA. Pengen banget masuk FK, tapi maunya cuma FK di Universitas “Itu”. Semua ujian yang diikuti cuma yang ada pilihan Universitas “Itu”, mulai dari PMDK, UMB, Seleksi Masuk (ujian mandiri), dan SNM-PTN. Tapi semua gagal. Guru-guru udah mengarahkan untuk aku memilih universitas yang passing gradenya lebih di bawah tapi aku ngeyel karena cuma mau Universitas “Itu”. Kenapa sih? Namanya juga anak SMA, masih pendek pikirannya. Antara ambisi, gengsi, dan pemikirann yang kurang logis. Pengen banget jadi dokter spesialis penyakit dalam yang meneliti dan menemukan obat untuk penyakit-penyakit mematikan. Karena saat nenek dan kakekku sakit lalu akhirnya meninggal, aku tak bisa berbuat apa-apa. Selain itu, aku ngefans sama dokter, soalnya sejak bayi sampai usia 7 tahun ketemu dokter spesialis anak hampir setiap seminggu sekali karena aku pernah menderita asma akut. Pikiran saat itu, kalau mau lanjut sekolah yang lebih bagus lagi harus masuk sekolah yang bagus dulu. Dan FK Universitas “Itu” adalah FK terfavourite di Indonesia.

Mampir di FMIPA ITB

Pas SNMPTN galau pilihan keduanya apa, sampai daftar aja di hari terakhir, langsung ke panitia pusat, di FE UI, Salemba, Jakarta Pusat. Setelah konsultasi dengan banyak orang termasuk guru-guru, akhirnya milih FMIPA ITB. Suka FMIPA? Gak. Katanya ITB ada TPB (Tahap Persiapan Bersama), di mana wajib belajar Matematika, Fisika, dan Kimia dasar lagi selama setahun. Yah, mending di FMIPA ITB daripada nganggur, sambil nguatin lagi pelajaran basic sciencenya buat persiapan SNM-PTN tahun depan (istilahnya di FMIPA ITB cuma mau mampir). Apalagi ITB terkenal sebagai kampus terbaik (di Indonesia) di bidang science, technology, dan art nya.

Fisika ITB adalah Pilihan

Tahun depan pas mau ikut SNM-PTN, ayah meninggal. Gak jadi ikut deh. 2X ngisi koesioner penjurusan, pilih Kimia. Alasannya, di antara semua pelajaran science, yang paling bagus nilainya dan paling seneng adalah Kimia. Udah gitu kan Kimia paling nyambung sama FK, apalagi KK Biokimianya. Tapi pas ngisi koesioner ke-3 (terakhir) belok ke Fisika. Apa karena aku jago Fisika? Gak. Suka Fisika? Gak juga. Lebih suka Kimia sama Biologi lah. Terus kenapa masuk Fisika? Alasannya rada bodoh, karena Himafi (Himpunan Mahasiswa Fisika) terlihat paling keren saat itu. Kekekeke. Ah, maksudnya waktu itu Himafi ngadain workshop Kelompok Keahlian (KK) Fisika yang mendatangkan dosen-dosen Fisika untuk promosi KK dan jurusan. Sebenernya promosi jurusan udah ada di mata kuliah TPB, yaitu PK MIPA. Tapi di workshop Himafi, Fisika terlihat sangat menarik. Dosen-dosennya juga asik. Mereka “orang besar” tapi mau bergaul dengan mahasiswa.

Ditambah aku ketemu seorang profesor ahli nuklir. Beliau sempet bilang, dari Fisika bisa lanjut ke FK. Tapi FK yang di Jepang atau Amerika dan beliau bersedia untuk merekomendasikan siapapun yang berminat, tapi tentunya dengan sebuah pengaryaan selama kuliah S1 di ITB. Lah, kok bisa anak S1 Fisika lanjut S2 FK? Kata beliau, sistem pendidikan di Indonesia memang rada kacau. Kalau di Jepang sama Amerika, S1 tuh belum “dianggap”, masih belajar ilmu-ilmu dasar, bahkan untuk FK sekalipun. Tertariklah aku untuk mengobrol langsung dengan beliau. Setelah itu langsung manteb pilih “Fisika”.

Yah, semangat bom anak baru. Ambisi. Lama-lama terlena. Ternyata Fisika sulit dan effortku rendah banget saat itu. Aku lebih tertarik berorganisasi daripada kuliah Fisika. Jadi aktivis lebih seru daripada jadi akademisi. Alhasil kuliah cuma sekedar lulus dan yang penting IPK masih standar untuk bisa dapetin beasiswa, karena aku kuliah di ITB memang (butuh dan) pake beasiswa (BUMN). Bahkan saat masuk lewat SNM-PTN pun pake beasiswa (BMU dari pemerintah). Padahal syarat untuk bisa lanjut S2 FK dengan bantuan profesor tadi adalah IPK cumlaude dan ngambil minor di Farmasi / Biologi, serta membuat suatu pengaryaan yang bisa nganterin aku ke FK. Bukan hal yang mudah. Harus rajin banget lah. Ah entah, aku lupa dengan cita-cita itu. Susah banget dapet IPK cumlaude di Fisika. Cuma segelintir orang yang memang “pinter” doang yang berhasil dapetin IPK cumlaude di Fisika ITB. Da aku mah biasa aja (usahanya juga biasa aja pula).

Mengambil Tugas Akhir (TA) / Skripsi

Sejak semester VI (semester VI loh, masih tingkat III kuliah di ITB) udah mulai nyari topik TA (Tugas Akhir / Skripsi) sendiri. Balik lagi ke ingatan dahulu, “harus yang berhubungan dengan kedokteran dan penyakit mematikan”. Dapetlah Boron Neutron Capture Therapy, suatu teknologi pengobatan kanker pake radiasi nuklir. Langsung menghubungi profesor yang sebelumnya aku ceritain. Ah, meskipun gak jadi ke FK,  mungkin aku bisa belok ke Nuclear Medicine karena ternyata yang menemukan teknologi pengobatan gitu kebanyakan malah bukan dokter (apalagi dokter umum) tapi orang Medical Physics, Nuclear Physics, Biomedical Engineering (teknik elektro), atau jurusan science atau engineering yang lain.  Langsung ngincer dosen pembimbing (dosbing) profesor yang tadi aku ceritain karena beliau profesor yang ahli di bidang nuklir. Aku rasa berhubungan dengan topik yang aku pilih.

Aku menghubungi beliau saat semester VII karena semester sebelumnya aku mempelajari topik itu dulu secara umum biar bisa aku ceritain ke beliau. Beliau nanya, “anda lebih ingin ke kedokterannya atau reaktornya?” “Kedokterannya pak”. “Kalau gitu sama bu R*** aja”. “Memangnya kalau sama bapak gak bisa ya? Saya mau masuk bidang kedokteran nuklir pak. Kalau bu R*** kan lebih ke biofisika spesialis imaging ya pak?”. “Oh iya. Tapi sayangnya, di ITB KK nuklir lebih ke power plant (reaktor daya). Kalau mau medis, paling masuknya biofisika. Dan kalau memang anda mau topik itu dan lebih ke kedokteran, saya rekomendasikan ke bu R***”. Aku ditolak T_T

Tapi aku mengikuti saran beliau. Langsunglah aku menghubungi doktor R*** (yang pada akhirnya menjadi dosbingku). Pertama kali yang ditanya, “kamu mau dosennya atau topiknya?”. “Topiknya, bu”. “Baiklah, kalau begitu, bla bla bla”. Berjodohlah aku dengan beliau. Semester VIII baru ngambil SKS TA I karena saat itu aku masih berorganisasi dan sengaja mau lulus April 2014. Aku seneng / passion dengan topikku tapi masih aja nyantai buat ngurusin TA, padahal keinginan sangat ideal. Pengen perfect lah, pengen TAnya bisa dimanfaatin, dan pengen predikat TA terbaik. #ngek (cuma pengen)

Masalah TA

Karena merasa punya banyak waktu, aku masih fokus sama organisasi dan amanah-amanah luar akademikku saat itu. Selain itu, aku juga terlalu berani nyuci nilai suatu mata kuliah wajib. Maksudnya biar IPK nya rada tinggi lagi lah. Eh, tapi malah kecelakaan. Udah gitu, kena juga kurikulum baru (kurikulum lama berakhir untuk lulusan Oktober 2013). Mati gue, belum ngambil SKS TA II, progress juga belum signifikan, ngambil kuliah pula di semester baru periode 2013/2014. Kesempatan wisuda April 2014 gagal karena semester itu (semester II tahun 2013/2014) aku harus ngambil mata kuliah wajib ITB (lagi) karena peraturannya diganti (mata kuliah manajemen sama lingkungan yang pernah aku ambil gak berlaku lagi untuk kurikulum baru). Fokus pun pecah. Perkuliahan baru bisa aku selesaikan di tahun 2014. Harusnya bisa wisuda Oktober 2014 (telat setahun lah). Namun, kuliah kelar, TA pun bermasalah.

Saat itu aku udah nikah (sejak Maret 2014). Apa alesan TA bermasalah karena nikah? Sama sekali enggak. Gak ada hubungannya sama sekali. Malahan harusnya dengan udah nikah, semua jadi lebih mudah dan cepat. Tapi ini semua murni kesalahan pribadi. Mulai dari idealisme yang tidak dibarengi ikhtiar ekstra, sungkan ketemu dosbing saat stuck dan progress belum signifikan, kesulitan mencari data dan software yang diperlukan, sakit berkali-kali, terus masuk trimester I (Januari 2015) yang cukup berat, sampai laptop hilang beserta data-data yang belum diback up saat lagi deadline (Mei 2015). Akhirnya semua masalah itu baru bisa dikelarin Agustus 2015 ini.

“Aku tidak tahu ini rezeki atau musibah, aku hanya berharap Allah memberikan yang terbaik”. Hikmah yang bisa aku ambil banyak. Mungkin aku memang harus nunggu suami (http://dewikusumapratiwi.blogspot.com/2015/05/sekilas-tentang-arbi.html) buat lulus biar dia gak minder dan merasakan nikmat(dan pahit)nya  berjuang bareng. Mungkin biar aku berkaca kalau aku bukan siapa-siapa sehingga gak pantes buat berbangga diri. Mungkin biar aku belajar dari kegagalan dan kesalahan. Mungkin juga Allah ingin menegur atas dosa-dosaku yang begitu banyak. Tapi aku merasa bersyukur dengan semuanya. Aku jadi lebih merasa kalau pertolongan Allah itu sangat dekat dan bermakna. Apalagi saat menghadapi pekan-pekan sidang. Pas banget masuk trimester III. Berjuang bareng calon baby itu luar biasa banget. Bukan cuma ujian-ujian TA aja, tapi juga ujian-ujian administrasi yang cukup melelahkan untuk mengurusinya. Dan juga ujian hidup yang mungkin merupakan ujian paling berat. Namun berkat pertolongan dan kasih-sayang Allah, kami bisa melaluinya.

Akhir dari deriTA cinTA

Alhamdulillaah, 12 Agustus 2015 aku seminar (sidang TA I) dan 1 September 2015 aku sidang akhir (sidang TA II). Karena pertolongan Allah dan doa-doa tulus dari orang-orang yang sayang sama aku, termasuk calon baby, sidangnya lancar, sukses, dan hasilnya sangat memuaskan. Alhamdulillah gak perlu revisi. Mungkin karena calon baby udah sering diajak begadang jadi Allah ngasih waktu buat relaksasi sembari menunggunya lahir.

Perjuangan gak berhenti sampai di sini, perjuangan sesungguhnya baru akan dimulai. Amanah satu alhamdulillah udah selesai. Amanah-amanah yang mungkin lebih berat sedang menunggu. Semoga segala kegagalan ini menjadi pelajaran berharga buat aku ke depannya. Setelah ngerjain TA, jadi merasa cethek ilmu. Pengen lanjut sekolah lagi. Tapi nanti lah, gak mau memutuskan sesuatu karena ambisi lagi seperti dulu. Perlu persiapan dulu, belajar lagi, sambil mengerjakan amanah-amanah baru yang ada di depan dan menyelesaikan resolusiku sejak 2 tahun lalu yang gagal (http://dewikusumapratiwi.blogspot.com/2014/02/resolusi-di-usia-23.html). Aku tidak ingin masa-masa golden age anakku yang singkat dan hanya datang sekali terlewatkan. Mudah-mudahan Allah memampukan.

Pesan Sahabat

Saat aku sedang dalam masa-masa “kritis”, alhamdulillaah Allah mengirimkan sahabat-sahabat yang luar biasa. Mereka ada untuk mengamalkan Q.S. Al-Ashr. Ada beberapa nasehat yang sampai sekarang aku ingat, bahwa:
“Pemenang sejati bukan tentang siapa yang duluan, tapi tentang siapa yang bertahan”
“Parameter kesuksesan setiap orang berbeda-beda. Namun kesuksesan sejati hanyalah syurga firdaus”
“Orang yang beruntung adalah orang yang selalu menyertakan Allah dalam setiap langkah kehidupannya”

Tulisan ini bukan untuk klarifikasi. Aku hanya ingin aku dan siapapun mengambil hikmah dari kegagalanku ini. Supaya aku tidak seperti keledai yang jatuh ke lubang yang sama lagi, juga supaya orang-orang yang belum pernah merasakan tidak merasakan kegagalan ini, apalagi dengan sebab yang sama. Ah, terserah saja pada pandangan orang. Memang kenyataannya aku lulus telat dan “segala keburukan yang menimpaku memang murni karena kesalahanku sendiri. Datangnya pertolongan hanyalah dari Allah semata”. Bukan karena aku solehah, bukan karena aku rajin berdoa, apalagi amalan-amalan yaumiyah. Aku hanyalah manusia yang sering futur. Semua pencapaian ini murni karena Allah Maha Pengasih.

Hikmah yang Dapat Dipetik
 
Buat yang masih kuliah, jangan pernah menyerah!!! Jangan mengeluarkan kata-kata, “aku gak passion sama kuliah ini”. Kamu sudah memilihnya, kamu sudah memulainya, maka kamu harus bertanggung jawab untuk menyelesaikannya. Ini bukan soal penting atau gak penting. “Gak ada ilmu yang gak berguna". Kalau sekarang kamu gak tahu buat apa kamu harus belajar itu maka telen aja dulu. Mungkin suatu saat kamu akan membutuhkan atau sadar bahwa ilmu itu penting. "Penyesalan selalu terletak di belakang”. Ini bukan soal passion atau gak passion. Sekali lagi, ini semua soal TANGGUNG JAWAB.
Organisasi memang penting, tapi jangan terlalu over. Amanah kita bukan hanya di sana. Malahan amanah yang diberikan kepada kita pertama kali saat masuk kampus adalah menyelesaikan kuliah. Loyal dan total di amanah itu sangat baik, bahkan harus. Tapi jangan sampai ada yang dikorbankan meskipun fikih prioritas tetap berlaku.

Buat yang lagi skripsi / TA, jangan pernah sungkan sama dosbing. Percayalah, beliau gak akan ngomel-ngomel saat progressmu belum signifikan. Mereka gak akan marah saat kamu gak ngerti dan bertanya. Malahan mereka akan bingung ketika kamu “menghilang”. Mereka udah kamu pilih sebagai dosen pembimbing yang artinya kamu percaya untuk membimbingmu, maka jangan sia-siakan (manfaatkanlah) pilihanmu itu.
Jangan menunda-nunda pekerjaan kayak aku. Semakin kita menunda, tantangan dan ujian di depan akan semakin berat. Kita gak pernah bisa memprediksikan dengan akurat tentang apa yang akan terjadi di kemudian hari. “Ingat 5 perkara sebelum 5 perkara”.
Jangan juga terlalu idealis jika itu hanya akan menyusahkan dirimu sendiri. Santai lah, S1 memang belum ada apa-apanya. Ada tahapannya. Kalau mau lanjutin lagi bisa di S2, lalu S3. Tapi kalau mau kekeuh TAmu harus bisa diaplikasikan bahkan dipatenkan, ya usahanya harus ekstra banget. Sekali lagi, jangan pernah menunda-nunda. Waktu itu terasa sangat singkat dan cepat berlalu. Jangan sampai menyesal di akhir.
Buat semua yang punya cita-cita tinggi, ternyata "semakin tinggi cita-cita kita, semakin besar pengorbanan yang harus kita lakukan". Orang-orang besar itu (profesor, ahli / profesional, bisnisman, ulama, dll) tidak sempat “berpangku tangan”, mereka sedikit tidur, dan banyak sekali menghadapi masalah-masalah. Mereka bukan tidak pernah gagal, tapi mereka cepat move on dari kegagalan.
Allaahu ‘alam bi shawab.
Cukup sekian pesan-pesan dari seorang mahasiswa yang gagal, mudah-mudahan gak ada lagi yang menapaki jejak kegagalanku.

Minggu, 16 November 2014

LDR, Terpaksa atau Pilihan?

LDR, membuat orang kudet menjadi cupdate, membuat orang chupu menjadi gaul, membuat orang kalem menjadi terlihat show off. Tidak. Mereka bukan bermaksud show off atau pamer penderitaan, tapi mereka hanya butuh berekspresi sesaat. Karena pada hakikatnya wanita itu butuh didengar, setelah itu sudah. Bahkan kadang dia lupa apa yg telah diceritakannya. Mereka bukannya lemah, bahkan sebenarnya mereka itu kuat. Kuat banget malah.

Sebelum ini, aku sering sekali mendengar dan membaca curhatan wanita2 LDR. Termasuk teman-teman dekatku sendiri. Saat itu aku hanya simpati dan dengan gampangnya bilang, "sabar ya sob. Kamu kan kuat, udah pernah melalui kesulitan2 sebelumnya". Nasehat dan hiburan standar. Tapi kini aku dapet pelajaran untuk merasakan apa yang mereka rasakan. Jangankan 2-6 bulan, 2 minggu aja berat, 2 hari pun sebenarnya terasa berat...
"Karena waktu terasa lama bagi orang yg menunggu". (Makanya cowok2 jangan suka ngegantungin atau bikin cewek menunggumu terlalu lama. "Nikah itu simple kok, kalo lo bener2 niat". #eh #salahfokus)

Ibuku juga pernah LDR dan sangat menyarankanku untuk tidak LDR. Katanya, meskipun harus terpaksa LDR, tinggal aja di rumah ibu atau mertua, atau nanti pas udah punya anak aja karena rasanya akan beda, ada hiburan. Beliau udah merasakan LDR pra dan pasca punya anak, bahkan bertahun2. Tanteku juga. Mereka tetap berharap aku tidak mengalami hal seperti mereka. Kalau kata orang Jawa lebih baik “mangan ora mangan sing penting ngumpul” (makan atau tidak makan yang penting kumpul).

Aku respect banget sama wanita2 yg LDR, meski terpaksa ataupun pilihan. Tapi aku rasa hampir tidak ada yg memilih untuk sengaja LDR. Keadaan yg membuat orang harus memilih LDR. Karena memang berat. Apalagi bagi wanita yg sudah berpasangan. Mungkin, untuk orang yg belum merasakan, akan berkata "ya'elah, dulu kan lo juga sendiri. Bisa tuh". Mungkin akupun termasuk yg berkomentar seperti itu. Tapi, ternyata memang beda ketika kita sudah menikah. Coba aja kalau mau. :-P

Kebetulan suamiku ada di bidang electrical engineering. Meski belum lulus, tapi sejak TA, alhamdulillaah selalu dilibatkan dalam proyek dosennya yang lumayan produktif. Tapi selama ini kebanyakan kerjaannya ngoding di lab PLN. Ke lapangan cuma sesekali. Selama nikah, baru 3 kali ditinggal. Pertama ditinggal 4 hari ke Chevron di Duri, Riau, tapi waktu itu aku masih bisa pulang ke Jakarta jadi ga terlalu kesepian. Kedua ke PLN Pekanbaru, Sumatera. Cuma 2 hari sih, tapi itu perdana aku harus tetep stay di Bandung karena aku juga banyak urusan. Sedangkan aku type orang yang gak bisa tinggal sendirian malem2 sejak dulu sebelum nikah.

Sekarang ke Total, Balikpapan, Kalimantan Timur. Yang ini sih kemarin bilangnya seminggu, tapi ternyata ada kendala di sana sehingga harus nambah waktu lagi. Kali ini posisi beliau bukan lagi sebagai follower dosennya kemudian kerjaannya cuma ngoding seperti kemarin2, tapi beliau punya peran baru yang cukup berat, yaitu sebagai manager tim. Sebelum berangkat, nama beliau didaftarkan sebagai electrical engineer expert. Ternyata itu bukan jabatan untuk sekedar gaya2an. Tugasnya berat untuk porsi mahasiswa tingkat akhir. Di sana beliau ditinggal dosennya pulang ke Bandung, sehingga beliau diposisikan sebagai manager tim dalam proyek besama PT Total E&P Indonesie, yg harus tau banyak hal yang berkaitan dengan pekerjaan mereka, memimpin tim yang isinya orang2 yang lebih berumur dari beliau, bertanggung jawab atas timnya, menjadi pusat bertanya (baik timnya maupun orang2 dr PT Total sendiri), bahkan harus sering rapat bareng bos2 di PT Total, di sana disejajarkan dengan mereka sehingga jika beliau ditanya2 harus mampu menjawab layaknya seorang profesional di bidang electrical engineering. Juga banyak sekali pekerjaannya yang lain. Sampai2 hampir setiap hari tidur menjelang pagi karena harus banyak belajar setelah pulang kerja. Subuh bangun, persiapan dan kembali lagi bekerja.

Di satu sisi aku sedih karena harus LDR dan jarang dihubungi. Jarang ditelpon, komunikasi whatsapp juga sering searah karena saat beliau whatsapp, aku sudah tidur. Saat aku bales, paginya beliau udah sibuk lagi. Apalagi waktu di sana satu jam lebih cepat dari di sini. Tapi di sisi lain, rasa sedihku telah dikalahkan oleh semangat beliau yang luar biasa dan rasa syukurku karena suamiku dikasih kepercayaan yang besar. Apalagi orang Total sempet ga percaya kalau beliau masih mahasiswa tingkat akhir dan langsung menawarkan jabatan di PT Total E&P Indonesie pasca lulus dari ITB nanti.

Bulan lalu aku ikut seminar bertema "Women in Science, Engineering and Technology" (notulensi belum diposting) dan aku berkesimpulan: aku tidak ingin bekerja di bidang hard science/engineering (meski gatau jalan yang dikasih Allaah nanti gimana). Namun aku sangat salut dengan wanita2 luar biasa yang mengisi seminar tersebut. Mereka adalah para engineer terutama yang bekerja di bidang oil and gas, dan akademisi yang aktif proyek di lapangan / hard science. Mereka wanita2 strong (lahir-batin) yang bekerja seporsi dengan laki2, mereka LDR dengan suami serta keluarganya, bahkan mereka menjadi "bang toyib" yang jarang pulang menemui anak dan keluarganya. Sampai anak mereka diurus pembantu / baby sister. Gaji mereka memang sangat besar, fasilitas mereka memang terlihat wah, meskipun aku sangat salut dengan kestrongan mereka, tapi aku tidak ingin seperti mereka. Ini hanya soal pilihan.

Di hari yang sama, aku ikut kajian "Sistem Pendidikan Khilafah" dan "Peran Wanita dalam Islam". Tentang sistem pendidikan yang ideal, di mana sistem pendidikan tidak dapat dipisahkan dengan sistem lain. Tentang peran wanita. Bahwa wanita berperan penting dalam mencetak generasi2 terbaik dan negara yang madani. Dari wanita muncul pemimpin yang akan menjadi pemimpin dan mensejahterakan umat.
Pendidik. Bukankah 4 wanita terbaik yang dijamin masuk syurga (Khadijah istri Muhammad, Fathimah putri Muhammad, Asiyah istri Fir'aun, dan Maryam ummu Isa) itu adalah seorang ibu dan pendidik?

Peran wanita sangat penting dan tanggung jawabnya sudah cukup berat. Namun, materi "Woman in Science, Engineering and Technology" tidak juga langsung menguap. Jika digabungkan, maka aku berkesimpulan, "setiap dari kita memiliki peran pada setiap bidang keprofesian masing2". Ilmu science, engineering and technology itu hukumnya fardhu kifayah, maka bagi yang menuntut sebaiknya memberikan kontribusi untuk umat/masyarakat melalui keilmuannya. Namun, wanita jangan pernah melupakan hakikat dan peran utamanya.

Itu juga salah satu alasan aku dan suami memilih untuk tidak punya anak dulu dalam waktu dekat ini karena kami ingin ketika punya anak, saat itu aku sudah bisa fokus dengannya. Kalaupun saat nanti aku sibuk dan harus menggunakan baby sister, aku mau mereka selalu ada di bawah pengawasanku. Saat ini aku masih ingin banyak mencari pengalaman. Mumpung masih muda. :-D Lagi2 ini soal pilihan.

Kembali lagi tentang LDR, kalau disuruh milih, tentunya aku tidak ingin LDR. Aku yakin, suamiku pun demikian. Hidup bersamanya membuatku terbiasa untuk hidup sederhana. Jika ingin demikian, maka banyak jalan mudah. Salah satunya, jadi PNS, gaji cukup, aman. Tapi kami sevisi untuk tidak hidup "selalu mencari aman", untuk tidak hidup "biasa2 saja". Mungkin kami mampu hidup sederhana, tapi orang sekitar kita belum tentu. Banyak yang menanti uluran tangan kita. Yah, apapun itu, aku sudah mulai terbiasa menghadapi konsekuensi dari setiap yang kami pilih insyaa Allaah. Bismillaah.

Kemarin pas lagi galau2nya, baca tausiyah ini, rasanya pas sekali:
"Kehidupan seorang mu'min tidak akan sunyi dari ujian: rasa sakit, kegelisahan, kegagalan, fitnah, dan musibah lainnya. Tidak ada auliyâ' menjadi auliyâ' kecuali telah mengalami berbagai hantaman hidup yang berat sebab hanya dengan itulah hamba Allâh naik derajatnya menjadi mulia. Tetapi hati harus siaga untuk memahami rasa pahit sebagai manisnya ujian, kerasnya pukulan sebagai latihan, kerasnya hidup sebagai kelembutan dari Allâh. Kesiagaan hati itulah yang kita mintakan. Yâ hayyu yâ qayyûm...lâ ilâha illa anta".
~Ustd. Mohamad Ishaq

Senin, 07 April 2014

Dua Hati dari Gede-Pangrango

Perjalanan Double Summit Gunung Gede dan Pangrango:
http://dewikusumapratiwi.blogspot.com/2014/04/catatan-pendakian-double-four-summit.html

Ada sesuatu yang berharga di alun-alun Surya Kancana, tempat yang seharusnya menjadi tempat bersejarah bagiku. Ada hati yang mau berkata di tempat indah itu. Namun sayangnya tertunda karena ia harus mengutamakan kepentingan bersama. Suatu tanggung jawab untuk membawa mereka semua selamat sampai di bawah lagi. Suara hati yang selama dua bulan sebelum itu, aku harapkan dalam setiap do’a-do’aku. Entahlah, inilah yang namanya Rahasia Tuhan. Surprise istimewa dari Tuhan yang datang jauh lebih cepat dari yang pernah aku harapakan. Yang hadir dengan cara yang lebih baik dari yang aku inginkan. Sebuah hati yang jauh lebih baik dari yang pernah aku impikan.
Bagi hati tersebut, perjalanan Salabintana adalah perjalanan yang paling mengesankan. Saat itu kami terpisah. Ada perasaan khawatir yang mendalam dalam perpisahan itu, ada harapan yang besar untuk menyusul dengan selamat, ada ungkapan serius yang ingin segera diucapkan. Salabintana adalah sebuah medan perjuangan cinta, di mana alun-alun Surya Kancana adalah hadiahnya.
Hati tersebut berkata, “ibarat perjalanan Salabintana, aku ingin kamu menungguku di Surya Kancana. Biarkan aku berjuang di Salabintana, berlelah-lelah dan berdarah-darah untuk menjemputmu. Aku ingin kamu menungguku di tempat yang tenang dan jauh dari bahaya”. Dan aku menjawab, “aku bukan type orang yang bisa menunggu sesuatu di tempat yang tenang, sedangkan saat itu aku tahu yang aku tunggu sedang berjuang sendirian di tempat yang berbahaya. Aku bukanlah seseorang yang hanya ingin berdiam diri menunggu seseorang di puncak gunung, melainkan aku ingin menemani seseorang itu mendaki gunung dengan jerih payahnya, hingga kita sampai di puncak dan menikmati keindahan alamnya bersama”.
Ya, menurutku, sesuatu yang diperjuangkan bersama akan terasa lebih nikmat hasilnya, meski penuh dengan lika-liku dan kepahitan prosesnya. Menurutku, sesuatu yang kita dapatkan terlalu mudah akan mudah pula hilang nikmatnya. Dan menurutku, akan ada banyak pelajaran berharga dalam hidup ini ketika sesuatu dijalani penuh dengan perjuangan. “Aku ingin menemaninya melewati medan hutan berbahaya itu, Salabintana, hingga kita sampai di tempat yang tenang dan indah bersama, Surya Kancana”; “aku ingin menemaninya memperjuangkan cita-citanya hingga cita-cita kita raih bersama”, “aku ingin menemaninya memperjuangkan visi-misi hidupnya hingga ridha Allaah kita capai bersama, hingga kita sama-sama menginjakkan kaki di tanah syurga-Nya”. Insyaa Allaah.

Tentang Dua Hati itu
Tingkat dua kuliah di kampus Ganesha, aku telah mengenalnya. Hanya sebatas teman kerja secara profesional. Memang dia cukup menginspirasi dua hal, kepemimpinan dan ketulusannya. Namun, ada puluhan teman yang mampu menginspirasiku. Nothing special about him in my heart dan aku memang tidak pernah akrab dengannya selama itu.
Agustus 2013, di summit attack ke-dua ku, aku mulai mengenalnya. Mengenal dia yang pernah ku kenal. Dua summit, dua malam, dan dua sunrise cukup membuatku merasakan hal yang belum pernah ku rasakan sebelumnya terhadapnya. Aku tidak pernah berani mengungkapkan kepadanya, tidak pernah berani. Aku juga tidak punya kepercayaan diri bahwa apa yang aku inginkan itu pantas aku raih, namun aku berani memasukkan namanya dalam setiap do’aku.
Dua bulan lamanya, aku tidak mendapatkan kode sama sekali darinya. Hingga Oktober 2013, setelah melewati dua summit berikutnya (Gede-Pangrango), ia menghadiriku di depan dua orang saksi. Dia menyatakan rasa yang serius. Maha suci Allah yang telah menjawab do’aku selama dua bulan itu. Ia hadir di saat yang jauh lebih cepat dari yang pernah aku harapkan. Ia hadir dengan cara yang lebih baik dari yang aku inginkan. Dan ternyata ia adalah seseorang yang jauh lebih baik dari yang pernah aku impikan. Dialah anugerah terindah dari-Nya yang menyempurnakan kekuranganku dengan segala kelebihannya.
Ternyata, sejak dua bulan sebelum itu, ia juga mulai merasakan hal yang sama dengan yang aku rasakan. Ternyata, apa yang aku rasakan dan apa yang ia rasakan tidak pernah bertepuk sebelah tangan. Namun ia tidak pernah bermain api yang dapat mencelakakannya maupun mencelakanku. Dua bulan itu ia gunakan untuk mengenalku melalui orang-orang terdekatku tanpa aku tahu. Bahkan ia ke rumah orang tuaku tanpa sepengetahuanku. Dua bulan itu juga ia gunakan untuk istikharah untuk memantabkan hatinya bahwa aku memanglah pilihan pertama dan terakhirnya. Ia menyatakan perasaannya setelah mengetahui sekian banyak kekuranganku dan setelah memantabkan hatinya. Bahkan saat itu ia berkata, ia tidak perlu mengenalku lagi.
Dua bulan setelah ungkapan itu, ia berencana untuk menyegerakan hal yang memang harus disegerakan. Desember 2013 ia datang ke rumah untuk bertemu denganku dan orang tuaku. Ia meminta izin untuk menyegerakan menyempurnakan separuh agama denganku. Namun, ternyata perjalanan hidup tidak semulus jalan tol. Perjalanan hidup ini memang seperti Salabintana, banyak binatang berbahaya, banyak ancaman, banyak kondisi yang membuat kita harus selalu berhati-hati. Namun, kami tidak pernah menyerah. Proses untuk menyegerakan tetap kami lalui meski dengan lika-liku.
Hingga dua bulan setelahnya, pekan terakhir Februari 2014, rintangan-rintangan itu berhasil kami lalui. Dua bulan yang terasa panjang, dua bulan yang berat dan penuh perjuangan, serta dua bulan yang akan terus menjadi sejarah dan pelajaran berharga bagi kami. Alhamdulillaah, cita-cita kami tercapai. 22 Februari 2014, keluarga besarnya mendatangi keluargaku untuk menyampaikan khitbah secara resmi. Dengan proses selama dua minggu, insyaa Allaah kami telah menyempurnakan separuh agama kami pada tanggal 9 Maret 2014. Dua hati yang telah menyatu, semoga sekali untuk selamanya. Menjadi harapan besar, dua hati yang saling mencintai karena-Nya dan saling menguatkan untuk selalu istiqomah berjuang di jalan-Nya, hingga kami bersama menginjakkan kaki di syurga-Nya. Aamiin.
Meski kami tahu, kami telah membuat kecewa banyak orang karena kami tidak langsung menyi’arkannya. Bukan karena sensasi, namun ada hal lain. Tentang kondisi di sekitar kami, tentang syarat-syarat yang diajukan kepada kami, hingga kami harus menyelesaikan studi kami terlebih dahulu. Mohon maaf kepada seluruh teman dekat kami yang pernah merasa kami kecewakan. Semoga kalian mengerti. Jazakumullaahu ahsanul jazaa’ untuk nasehat, do’a serta dukungannya selama ini, juga yang telah hadir untuk menyaksikan akad serta janji suci kami meski dengan pemberitahuan yang sangat mendadak (H minus dua). J

Telah Menikah:
Achmad Arbi
(SMPN 75 Jakarta aka 2006, SMAN 78 Jakarta aka 2009, Elektro Power ITB aka 2009)
dengan
Dewi Kusuma Pratiwi
(SMPN 1 Bdn, Boyolali aka 2006, SMAN 65 Jakarta aka 2009, Fisika ITB aka 2009)
Pada tanggal 9 Maret 2014, pukul 09.30-10.30 WIB
Di Masjid Jami’ Al-Anshar, Jl. Budhi Swadaya I Rt. 002 / Rw. 004 Kebon Jeruk, Jakarta Barat
Akad nikah
Pasca akad nikah
Yang turut menyaksikan akad nikah kami:
Keluarga besar (foto belum lengkap)
Keluarga "BIUS 2009"
Sahabat "Gang IV"
Sahabat "Geng Gong"
Sahabat "Tazzam"
Komunitas "Tamasya Ganesha"
Komunitas "Bujang Gaul"
Komunitas "Bidadari-Bidadari Syurga"
HME ITB
Himafi ITB
Gamais ITB
MILIS ITB
BRT OSKM 2012
Aktivis Kampus
Alumni SMAN 78 Jakarta
Alumni SMAN 65 Jakarta
Beasiswa ITB Untuk Semua

Rabu, 12 Februari 2014

Resolusi di Usia 23

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Tahun lalu mungkin saya gagal.
Namun, saya yakin bahwa kegagalan hanyalah kesuksesan yang tertunda.
Kegagalan hanyalah kesempatan untuk saya lebih memantaskan diri untuk mendapatkannya.
Kegagalan hanyalah jalan untuk saya memperkuat diri.
Mimpi adalah sesuatu yang membuat kita menjadi hidup.
Tanpa mimpi, kita tidak akan pernah bergerak.
Padahal gerak adalah tanda kehidupan.
Dan mimpi adalah sesuatu yang harus diperjuangkan, saya sangat sadari itu.
Meskipun tahun lalu saya adalah seorang tukang wacana, namun tahun ini saya masih berani berwacana.
Dengan wacana ini, saya memberanikan diri untuk mengambil sebuah tanggung jawab yang besar.
Dengan menyebut nama Allaah, berikut resolusi di usia 23 yang saya tulis pada tanggal 12 Februari 2014 dan ingin saya gapai:
1. Hapal minimal 10 juz Al-qur'an
2. Menyempurnakan setengah agama
3. Wisuda bulan Juli
4. Poto bareng PW yang udah halal
5. Mandiri finansial
6. Nabung untuk umroh
7. Khatam buku-buku: Al Wafi, Sirah Nabawiyah, Sirah Sahabat, Sirah Sahabiyah, Kado Pernikahan untuk Istriku, Pilar-Pilar Pengokohan Nafsiyah, Tazkiyatun Nafs (Penyucian Jiwa), Fikih Wanita, Panduan Lengkap Ibadah Muslimah, Meneladani Istri Para Khalifah.
8. Istiqomah berada di komunitas Aktivis Dakwah Islam
9. Istiqomah membina dan dibina
10. Belajar bahasa arab untuk menukil ayat atau memahami tafsir Al-qur'an
11. Dapat berkomunikasi dengan bahasa inggris
12. Mengerti dasar-dasar bahasa Jerman
13. Summit attack 3-6 gunung yang belum pernah didaki
14. Lancar bermain apergio menggunakan keyboard
Laa khaula walaa quwataa ila billaahil 'alliyil adzhiim.
Semoga Allaah ridha :-)

Kamis, 11 Juli 2013

Sakit Karena Kesalahan Sendiri

Dulu aku sering sakit2an dan kalau lagi sakit, aku manja banget.
Hingga suatu saat aku sakit infeksi saluran usus selama sebulan karena kesalahanku sendiri yang sering males2an makan, bahkan seringkali makan nasi hanya 2 hari sekali, seringkali tersugesti kenyang dari jajanan yang kurang sehat, seperti gorengan. Biasa, sok2an sibuk, sok2an jadi aktivis. :-D
Pada saat aku sakit tersebut, di sisiku masih ada 'orang', namun dia cukup keras sama aku. Saat itu aku malah dicuekin. Kalau aku protes, aku malah dimarahin. Aku sering diomelin: "rasain tuh akibat dari perbuatan kamu sendiri!". Sedih banget waktu itu. Namun aku tau, maksud dia baik. Maksud dia adalah mendidik aku supaya aku tidak mengulangi kembali kesalahanku. Dan beberapa hari setelahnya, dia pergi sangaaaaattttt jauh dan takkan pernah kembali lagi. Rasanya seperti jatuh kemudian tertimpa tangga, namun ini semua berhikmah bagiku. Saat itu juga aku taubat dg segala kesalahanku selama ini, yaitu dzholim terhadap tubuh sendiri. Setelah itu aku jadi rajin ke pasar dan masak. Aku lebih disiplin dalam makan meskipun aku masih sulit makan 3x sehari seperti pesan dia. Minimal, aku makan berat 2x sehari lah, seperti orang shaum kan? Gak kurang dan gak lebih. :-P
Aku teringat kata2 guru aku waktu SMP: "Sakit itu disebabkan oleh kesalahan sendiri. Rasulullah saja jarang sakit, karena beliau selalu menjaga kesehatan. Coba instropeksi, kalau kalian sakit perut, itu karena apa? Pasti karena kalian salah makan kan? Berarti kalian sendiri lah yg menyebabkan diri kalian sakit".
Aku mau nambahin, rasulullah pun pernah sakit tapi setauku memang jarang. Sakit beliau juga adalah tanda kalau beliau manusia biasa. Dan ada juga hadits, bahwa sakit akan menjadi penggugur dosa bagi seseorang. Sakit bisa jadi merupakan bentuk musibah / cobaan sehingga jika kita sabar dan ikhlas maka insya Allah akan menjadi penggugur dosa bagi kita, seperti kisah nabi Ayyub A.S. Namun jika kita sering sakit seperti aku dulu, bisa jadi itu karena kesalahan kita sendiri atau memang karena kita banyak dosa makanya sering dikasih sakit. :'(
Sakit fisik, menurutku juga berasal dari pikiran. Beberapa hari ini, setelah aku pulang dari naik gunung, badanku terasa gak enak, sering kedinginan, dan ketika aku pegang leherku cukup panas. Mungkin aku demam. Tapi aku menyadarinya setelah ada yang bilang barusan: "teteh sehat? Kok kemarin saya lihat mukanya pucat?". Tadi pagi aku ketiduran dan kedinginan padahal biasanya aku paling anti tidur pagi, apalagi ba'da subuh. Dan setelah bangun, kepalaku memang terasa pusing. Setelah itu, dapet sms dari adhik tingkat, sehingga aku sadar: Oh, aku sakit ya? Aku pikir beberapa hari ini badanku terasa berat cuma karena aku malas sehingga aku harus memaksakan diri untuk tetap mengerjakan pekerjaan2ku dan bolak-balik ke kampus.
Tapi alhamdulillah, aku gak sadar kalau aku sakit karena kalau aku sadar, sifat manjaku bisa keluar, sedangkan pekerjaanku saat ini cukup banyak.
Aku percaya, kalau rasa sakit berasal dari sugesti / pikiran.
Seperti saat naik gunung kemarin, kekuatan itu berasa dari sugesti positif (mutlaknya dr Allah tentunya).
Karena pikiran dan jiwa yg sehat akan menghasilkan fisik yang sehat. :-D
Seeeemaaanggaaaaatttttt >_<
#RamadhanSehat

Rabu, 10 Juli 2013

What's My Childish Anyway?

Aku akui aku terlalu childish, bahkan di depan adhik2 tingkatku atau bahkan adhikku sendiri. Mereka jauh lebih dewasa sehingga melankolisku sering muncul dan mengeluhkan segala kekuranganku dan berkata, "aku childish, kapan aku dewasa?" Dan mereka bilang:
"ngeluh itu tanda gak bersyukur";
"perlu proses, Dew, gak ada yg instant. Yg instant jadinya akan instant pula perginya";
"what's childish anyway? Yang penting diilangin ngeluhnya".
That's right, I know I must be study and don't sigh anyway. Hingga aku pasang besar2 di benakku "KUNCI DARI SEMUA MASALAH ADALAH JANGAN PERNAH MENGELUH" karena mengeluh hanya akan memfokuskan kita pada masalah, padahal seharusnya kita fokus pada solusi.
Yup, until now it still very difficult for me but I must be always try and never ever surrender.
I praise Allah for sending me a much of best friends who care, understanding, and patient to teach me. :'-)

Minggu, 12 Mei 2013

7 Aktivis Kampus di 'zamanku' yang Menginspirasi

Ada 7 orang aktivis kampus yang aku kagumi di 'zamanku' berada di kampus. :-)

Pertama adalah kak Ridwansyah Yusuf Achmad (Planologi ITB 2005), aku rasa gak perlu mendeskripsikan beliau karena terlalu panjang mungkin. Aku rasa semua aktivis di seluruh Indonesia mengenal beliau yang pernah menjadi kepala Gamais 2006/2007, Ketua BP Himpunan Mahasiswa Planologi 2007/2008, dan Ketua Kabinet KM ITB 2008/2009, dll. Bahkan ketika aku menghadiri acara forum nasional Rohis MIPA di Unila, Lampung, Sumatera Selatan, mewakili MILIS ITB, banyak temen-temen yang menanyakan soal beliau. Saat ini beliau sedang S2 di Belanda. Langsung aja kalau mau kenalan ke https://www.facebook.com/ridwansyah.yusuf.achmad?ref=ts&fref=ts atau via twitter @udayusuf

Kedua adalah kak Wintang Haryokusuma (Fisika ITB 2006), beliau adalah mantan Ketua BP Himafi (kahim himpunanku) tahun 2008/2009. Meskipun aku gak pernah ngerasain di bawah kepemimpinan beliau sama sekali, tapi aku cukup mendengar profil beliau dari kakak-kakak tingkat dan temen-temen. Selama yang aku tau di himpunanku, kak Wintang adalah kahim yang berprestasi. IP beliau di atas 3,5 (sekitar 3,8 atau 3,9). Yang aku tahu dan aku rasakan, IP di atas 3,5 tuh kalau di Fisika langka banget. Selain berprestasi dalam bidang akademik, di organisasi pun beliau berprestasi. (Eh dalam definisiku, prestasi itu adalah ketika kita dapat memberikan manfaat bagi orang lain. :-) Tapi emang gini ceritanya: . . . ) Kak Wintang pengertian banget sama anggota BP  dan masa himpunannya. Kata kakak 2007, beliau pernah pulang paling malam dan dateng ke himpunan paling pagi buat bangunin temen-temen yang nginep di himpunan buat subuhan saat himpunan sedang hetic. Udah gitu, katanya saat itu beliau juga punya 'ciwi' saat itu (cie, cie kak... :-P #eh bukan masalah itunya tapi) kebayang kan gimana cara beliau bagi waktu buat akademiknya, himpunan dan masa himpunannya, sama #ehm 'ciwi'nya. Wah, kak Wintang tuh inspiring banget dan aktivis Himafi berprestasi pertama yang membuat aku juga pengen jadi aktivis bahkan jadi kahim atau minimal sekretaris kahim saat itu #upz , hehe (latar belakangku: dulu pas TPB kerjaanku main, gak berorganisasi sama sekali selain Gamais, itu juga di Gamais cuma jadi anggota dan hanya tinggal menikmati --> pembinaan OASIS. haha. Pas tingkat 2 aku gak jadi pengurus Gamais, aku memilih himpunan untuk menjadi ladanga aktivitasku). Udah gitu, setelah lulus kak Wintang ini mengabdi di Indonesia Mengajar. Kalau kata anak himpunan, "mulia banget jalan hidupnya".

Ketiga adalah kak Ratna Nataliani (Teknik Fisika ITB 2008), beliau tuh "super muslimah" banget. Bukan karena beliau menulis buku itu tapi dalam pandanganku, beliau memang super muslimah. (Eh, jujur, malahan aku belum pernah baca buku beliau loh. "Hehe, peace kak." ^_^v)
Beliau mengajarkan banyak hal kepadaku.
Beliau ini seorang aktivis pergerakan kampus, periode kemarin menjadi wakil menko eksternal Kabinet KM ITB. Tentang amanahnya di sana, mungkin hanya teman-teman seperjuangannya yang mengetahui (saya bukan anak eksternal). Namun yang saya kenal, kak Ratna itu wawasannya luas, rajin baca buku (bahkan beliau membuat muwashoffat membaca buku, dalam 1 hari ada 5 jenis target buku yang harus beliau baca @minimal 5 halaman --> buku kuliah, buku agama, artikel / media-media yang memuat berita terkini, buku politik dan ekonomi, dan satu lagi (kalau gak salah) buku filosofi / tentang pemikiran), supel, open mind, suka bagi-bagi ilmu, pendengar dan penasehat yang bijak (biasanya kalau aku curhat, beliau responsif dan berusaha menggali lalu menurunkan solusi). Kak Ratna itu aktivis banget, sampai dosennya saja mencap beliau sebagai "aktivis", wanita orator, suka banget sama energi dan TA nya memang tentang energi. Selain itu, beliau juga rajin tilawah (denger2, pernah 5 juz per hari nih kak, subhanallah) dan kajian islam, belajar bahasa arab juga (ehm), dan saat ini beliau juga sedang berusaha menghafal Al-qur'an. Barakallah kak, semoga lancar dan segera menjadi hafidzah. B-)
Makin sukses ya kakak "hajah hafidzah super aktivis muslimah"... :-) Aamiin (do'a nih kak).
Kalau mau kenalan sama kak Ratna, bisa ke http://www.facebook.com/amaihisa?ref=ts&fref=ts atau via twitter @rnataliani

Keempat adalah Zetra Iez Zaputra (Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB 2009), dia suka disebut 'artis kampus'. Sebenernya aku belum kenal dia banget sampai dalem2nya, aku baru kenal dia di tim #melukisindonesia. Tapi 1,5 bulan berinteraksi di tim #melukisindonesia cukup buat aku kepo tentang dia. hehe. Yang aku tau, dia suka banget sama gundam, pemegang salah satu akun terkenal di kampus, supel banget (temennya banyak banget, fans nya juga --> itu aja yang kulihat), cute boy, alumni prematur (loh? Baru 20 tahun udah lulus sarjana euy), dia baik sama semua orang termasuk sama orang yang kurang dia sukai pemikiran / kelakuannya, dia mampu membaur ke banyak kalangan dari 'hitam' sampai 'putih'. Sama Zetra, aku belajar banget tentang pergaulan yang mendekati sempurna.
Dan dalam kacamata pribadiku, Zetra tuh hanif banget (cenderung kepada kebaikan dan suka mengajak kepada kebaikan). Selalu ada kebaikan yang ia sisipkan dalam setiap interaksinya dan aku pernah melihat bahkan merasakan itu.
Zetra yang aku kenal juga rendah hati. Dia gak pernah berkata kalau dirinya orang baik namun kalau sudah mengenalnya kalau dia adalah orang baik. Saat pertama kenalan sama dia, dia bilang hanyalah mahasiswa biasa yang suka main dan suka gundam, gak suka kajian dan pergerakan mahasiswa gitu. Tapi ternyata dia aktivis juga, bahkan dari tingkat I (Gamais, OSKM, Kenmi (?), dll gatau semua). >_<
Dalam pandanganku, Zetra itu 'wah'. Mau kepo twitter dan tumblr nya? @zetra_iz dan http://zetra006.tumblr.com

Kelima adalah Fajar Cipta Yudha Perkasa (Teknik Kimia ITB 2009), dia tuh sering banget disebut sebagai "Fajar Wacana" karena memang suka kajian dan kajian-kajiannya tingkat 'dewa' (lebay deng ini. hehe). Fajar tuh seakan-akan hobinya adalah mikirin bangsa Indonesia. Fajar rajin membaca, mengkaji, dan menulis. Tulisan-tulisan dia bisa dikepoin di profil dia nih https://www.facebook.com/fajarciptayudha.perkasa?ref=ts&fref=ts
Kalau dari segi kepribadiannya yang aku kenal, dia tuh type "bapak". haha. Terlihat dewasa, dia kalem-kalem-ngalah gitu kalau sama cewek. Dia rajin mencari uang, namun tetap rajin memikirkan bangsa ini, juga pastinya tetep belajar, secara dia anak Teknik Kimia ITB, jurusan yang terkenal 'sulit'. Kata Akrim (temen SMA nya), dulu Fajar sering jadi juara olimpiade. Orang seperti dia tuh:-)
Dua kata buat Fajar, "cerdas dan peduli". Tapi aku lebih suka memanggilnya 'Fajar Sabi' atau 'Fajar Wacana'.

Keenam adalah Nyoman Anjani (Teknik mesin ITB 2009). Sejujurnya aku belum pernah kenalan sama dia tapi dia cukup eksis dan aku banyak mengenal ke-nice-an dia dari temenku, Irma MRI09. "Halo Nyoman, salam kenal" :-D
Nyoman itu gadis tangguh, pecinta alam, suka banget naik gunung dan melukis, cantik, pinter, dan (kata Irma) religius & baik hati. Belum pernah sih nemu cewek kayak gini sebelumnya. Dan saat ini dia sedang mencalonkan diri sebagai ketua Kabiner KM ITB 2013/2014. Meskipun aku simpatisan dan pendukung gagasan #melukisindonesia (lawannya Nyoman), tapi aku punya pesan buat Nyoman, "Kalau kamu terpilih, jadilah the next Camilla Vallejo atau lebih baik dari dia, Nyom. hehe. Semangat ya cantik. Mudah-mudahan terus menginspirasi. Aku share ya kontak kamu biar makin bermanfaat dan banyak menginspirasi orang lain". ;-)
https://www.facebook.com/nyoman.anjani?ref=ts&fref=ts

Ketujuh adalah Muhammad Yorga Permana (Manajemen Rekayasa Industri ITB 2009). Seingetku, aku kenal Yorga ketika di sekre kabinet. Dia tuh ramah banget, dia suka nyapa duluan. Dan semakin ke sini, dia punya gaya unik tersendiri dalam menyapa orang, termasuk menyapaku. Dengan nada sunda dia selalu bilang "Assalamu'alaykum Dewi..." saat bertemu.
Yorga yang aku kenal juga religius. Dia selalu menebarkan kata-kata positif dan banyak hal tentang kebaikan. Yorga sering menebarkan semangat kepada teman-temannya meskipun saat itu dia sendiri sedang membutuhkan semangat. Dalam kepemimpinannya, Yorga adalah type konseptor (tingkat tinggi lah), namun dia juga type eksekutor (jadi bukan Yorga Wacana lagi, hehe, peace Jar ^_^v). Dia seakan-akan hidup untuk orang lain. Kalau mengingat 3 kriteria kepemimpinan --> pemimpin itu bagaikan burung elang: tajam pandangannya (visioner), kuat, dan setia pada tuannya (insan robbani / hidup untuk kepentingan umat) maka aku mau bilang, Yorga punya itu.
Kehidupan Yorga yang aku pandang tuh seakan-akan selalu oke-oke saja meskipun tempaan dalam hidup dia berat. Aku pikir, itu karena dia laki-laki tegar, sabar, pandai bersyukur, dan dekat engan Tuhannya. Kalau aku mengistilahkan, "Dia tuh mau digebhukin, disakitin, atau dicela, bakalan tetep lempeng-lempeng aja". Sejak kecil, Yorga selalu menjadi juara di sekolahnya. Waktu SMA, dia juga aktivis (ketua OSIS). Sejak masuk ITB juga udah menjadi aktivis, baik di organisasi terpusat, maupun wilayah, intra kampus, maupun ekstra kampus. Yorga tuh type aktivis pergerakan (sama kayak kak Ratna), seakan-akan gak pernah galau dalam kehidupan dan urusan-urusan internalnya karena ia selalu berpikir eksternal, update isu-isu nasional meski saat dia sudah tidak memegang jabatan sebagai menteri Kebijakan Nasional Kabinet KM ITB lagi (pernah, di kepengurusan kabinet kemarin bareng kak Ratna dia udah jadi menteri), dan meskipun dia seorang aktivis oke yang bertanggung jawab terhadap amanahnya, amanah akademik juga tidak dia abaikan (IPK nya cumlaude boo).
Dari Yorga, aku belajar sekali banyak hal yang seringkali aku rasakan saat berinteraksi dengannya, baik dari kepribadiannya maupun kepemimpinannya. Dan hal-hal itu cukup berpengaruh dalam kehidupanku secara pribadi maupun organisasi. (Ini murni dari hati, bukan karena sekarang lagi masa kampanye).
Yorga juga calon ketua Kabinet KM ITB 2013/2014 dengan gagasannya #melukisindonesia
Kalau mau kepo @kuaskita #melukisindonesia #MelukisIndonesiaReborn http://melukisindonesia.com/ http://www.facebook.com/groups/melukis.indonesia/?ref=ts&fref=ts
Dan profil, tulisan (dia juga suka membaca, nulis, dan kajian kayak Fajar), serta kontak Yorga di http://www.facebook.com/muhammadyorga.permana?fref=ts atau via twitter @yorgaperm

Nb: maaf ya, ngepost tulisan ini tanpa minta izin dulu ke kalian. Semoga kalian ridho untuk menjadi sumber inspirasi buat semua yang membacanya dab terus berkarya dan menginspirasi. :-)
Terima kasih kak Ucup, kak Wintang, kak Ratna, Zetra, Fajar, Nyoman, dan Yorga udah jadi inspiratorku & banyak orang dan terima kasih udah jadi orang-orang yang keren bangeeeettttt. >_<

Minggu, 14 April 2013

Setapak Jejak Kesuksesan

Menjelang SNM-PTN, setelah UN dan UAS, aku memilih tempat belajar untuk persiapan SNM-PTN.
Ada tempat bimbel yang terkenal se Indonesia tapi karena kelasnya banyakan, aku tidak memilihnya karena memang aku agak susah belajar rame-rame. Ada sih program intensifnya, tapi bayarnya 12 juta. haha. Gak mungkin lah aku 'nyekik' orang tuaku.
Ada suatu bimbel baru yang unik, tempatnya unik dan belajarnya intensif dan bisa privat 24 jam. Itulah yang aku cari. Apalagi, lulusannya pasti dapetin PTN (ya iyalah, siswa-siswi nya emang dasar pinter, dari SMA favourite sebelah semua). Nah, saat itu aku mupeng banget pengen les di sana, apalagi temennya sama anak sekolah itu semua. Namun ternyata, Tuhan tidak mengizinkanku les di sana, jadwalnya gak cocok dan kelas yang jadwalnya cocok udah penuh. Emang 1 kelas cuma dibatesi maksimal 8 orang.
Akhirnya ada 1 pilihan lagi di suatu bimbel yang lumayan unik juga, yang saat itu visinya menggambarkan target menuju Universitas yang aku impikan. Aku ngambil paket intensif SNM-PTN, cuma sebulan belajar di sana.
Yup, di sana aku bayar tidak terlalu mahal namun dengan fasilitas maksimal. Ada perlakuan spesial untuk siswa spesial. Haha, narsis. (^_^)v
Karena udah gak sekolah lagi, kami belajar intens dari jam 8.30-11.00 setiap hari Senin-Kamis. Namun aku selalu stand bay di sana dari jam 7 pagi (saat bimbel dibuka) sampai maghrib. Bahkan di hari Jum'at dan Sabtu pun. Di sana aku memanfaatkan fasilitas yang ada, hunting kakak2 yang kosong yang ada di sana saat itu buat ngajarin aku. Di sana aku juga belajar mandiri. Aku banyak ngobrol sama kakak2nya, ngobrolin soal pengalaman kuliah, pengalaman di kampus, bahkan ngobrolin soal sistem dari bisnis bimbel itu sendiri. Haha. Dengan kurang dari 1 juta, aku mendapatkan banyak ilmu yang luar biasa. Ditambah lagi, aku sering ditraktir makan siang, berapa kali ya makan pizza hut dalam sebulan itu? :-P Selain itu, aku juga mendapatkan banyak wawasan tentang islam, tentang tarbiyah (pendidikan) islam. Di sana, selalu dibiasakan untuk shalat tepat waktu, banyak dikasih nasehat dan tausiyah. Selain itu, aku bisa make pakaian kayak sekarang karena something yang aku dapet dari sana. Subhanallah banget lah kakak-kakaknya. :-)
Les di sana kayaknya aku dapet cash back lebih dari yang aku bayar deh. :-P
Wah, promosiin gak ya nama bimbelnya apa? :-P
Masuk ke cerita inti:
Kelasku isinya anak-anak gaul sekolahku dan sekolah sebelah (anak internasional semua lah, sedangkan aku hanyalah siswi biasa dari SMA yang lebih biasa. hehe).
Ada seorang temen yang sangat menginspirasiku. Dia ganteng, tinggi, putih, pinter dan dia adalah seorang model. Dia sangat bercita-cita untuk menjadi pilot. Saat yang lain masih sibuk persiapan UN dan UAS, dia udah berjuang buat dapetin suatu akademi pilot terkenal di Indonesia. Kayaknya gak cuma satu tapi yang paling heboh tuh yang di sana itu, yang tesnya panjang banget. Dia mengikuti rangkaian tesnya yang sangat banyak dan panjang itu dengan penuh perjuangan dan pengorbanan, membagi waktu antara sekolah, karir, dan perjuangannya untuk mendapatkan akademi tersebut. Sampai dia berhasil lolos tingkat provinsi. Kecerdasan otak, fisik, mental, dan waktu, semuanya diuji. Sempet masuk asrama juga kayaknya. Sampai pada saat (setelah UN juga kayaknya, pokoknya mah dia berbulan-bulan mengikuti rangkaian tes masuk akademi tersebut), dia mengikuti ujian terakhir kedua, yaitu tes tertulis. Dia berhasil meraih prestasi hasil tes "terbaik di seluruh Indonesia". Sangat optimis masuk. Kami pun sebagai teman turut mendo'a dan ikutan optimis kalau dia bakal diterima.
Karena kehecticannya mengikuti rangkaian tes tersebut, dia agak mengabaikan persiapan SNM-PTN. Hingga H - sekian pendaftaran SNM PTN, dia dinyatakan gagal dari tes masuk akademi perpilotan tersebut. Karena apa? Karena saat tes jongkok, dia gak bisa. Iya, gara-gara gak bisa jongkok, dia gagal. :'-(
Semua pun ikut bersedih...
Namun hebatnya dia, dia sangat tegar dan tetap ceria. Aaaaaa, ****.... >_< Pengen banget nyebut namanya tapi belum izin sama orangnya. hehe. Di saat temen-temannya yang gagal menangis, dia tetap tegar. Ya, bayangin aja berbulan2, membagi fokus juga buat UN dan UAS, belum juga dia tetep rajin les buat persiapan SNM-PTN meski dia nampak tidak maksimal waktu itu (wajar, skala prioritas).
Entah apa yang dia rasakan sebenarnya tapi kalau aku jadi dia, kayaknya bakal speechless banget. Hingga hari H terakhir pendaftaran SNM-PTN. Saat itu pun aku daftar SNM PTN di hari terakhir pagi karena selama ini galau milih jurusan selain FK **. Itupun, pas di UI Salemba (tempat daftarnya di sana), aku masih sempet nelpon kakak mentor buat minta pertimbangan fix. Akhirnya kupilihlah pilihan keduaku, FMIPA ITB dengan maksud dan tujuan, kalau aku diterima di pilihan kedua, aku mau belajar basic science di sini (kan di ITB ada TPBnya di tingkat I --> belum masuk jurusan, masih di Fakultas buat nguatin basic science) supaya tahun depan bisa ikutan ujian masuk FK ** lagi. :-) (masih gak nyerah saat itu)
Siangnya, pulang dari Salemba, temen aku tadi nelpon, minta pertimbangan ikutan SNM-PTN atau enggak. Dia galau karena persiapan SNM PTN nya gak maksimal. Yaaaaaahhhhh, ****... -_- Dengan sangat pasti, aku sangat mensupport dia untuk nerjang aja (ikutan). Aku ngasih semangat (aku lupa sih kata2nya) tapi intinya, dia kan cukup pinter di sekolah, udah belajar juga, udah ikutan les juga, meski gak maksimal tapi coba aja kali. Masalah hasil mah, Tuhan yang menentukan. Dan akhirnya dia ikutan. :-)

Temen aku yang satu lagi dari kelas internasional suatu SMA sebelah. Dia punya cita-cita yang tinggi juga.
Pilihannya: 1. Kedokteran **; 2. Manajemen **; 3. Manajemen ***** (salah satu kampus besar juga)
(kalau gak salah bener, haha, lupa lupa ingat)
Ada hal-hal yang nyambung kalau ngobrol sama dia karena ada cita-cita yang sama: "kuliah di kedokteran ** --> jadi dokter --> bangun rumah sakit". Kenapa harus di **? Ada lah alasannya.
Bedanya kalau aku pengen jadi dokter spesialis penyakit dalam, sedangkan dia pengen jadi dokter jantung.
Dia anaknya lucu dan unik.
Kan idealnya dengan cita2nya yang tinggi itu, dia harus berjuang keras juga. Namun (dunia memang tidak ideal, haha), di tempat les, dia terkenal sangat malas. Sampai mentornya pada stress nasehatin dia buat belajar. Aku gatau sih dia kalau di rumah belajar atau gak tapi saat itu emang terkesan 'males' dan kalau ujicoba hasilnya bukan yang paling tinggi juga kok. (hehe, peace sob. ^_^v)
Namun, dia punya keyakinan yang luar biasa. "Nothing impossible and impossible is nothing". Kata-kata itu seperti melekat erat dalam jiwanya, seakan-akan menjadi suatu kekuatan utamanya.
Ketika dinasehatin kakak mentor, ketika 'diomelin' seorang kk mentor yang agak 'cerewet' karena sayang (siapa ya? :-P), dia selalu menjawab dengan jurus itu. Dan seakan-akan dia berani jamin kalau dirinya bisa membuktikan kata-kata "Nothing impossible and impossible is nothing".
Suatu hari, ketika pengumuman hasil SNM-PTN, masing-masing update status tentang diterimanya di kampus mana. Temenku yang pertama tadi akhirnya diterima di suatu kampus besar juga di Bogor. #upz, disebut.
Lumayan kan, dengan usaha dia yang minim dia dapet di sana, sama kayak seorang juara kelas kita di sekolah lah, meski beda jurusan. :-)
Dan, temenku yang satunya lagi, update status gini, "gue bangga diterima di manajemen *****, tapi gue lebih bangga nolak manajemen *****".
Yah, dia berhasil diterima di Manajemen ***** namun dia memutuskan untuk tidak mengambilnya. Dia lebih memilih suatu Universitas Bisnis & Manajemen swasta di Jakarta yang katanya lebih bagus dan kayaknya sih emang lebih mahal. (Tapi kayaknya masih bagusan SBM ITB deh :-P (arogansi kampus) Haha, peace ^_^v)
Iya, kayaknya memang lebih bagus jurusan manajemen di kampus itu daripada manajemen *****. Katanya sih sistem dan linknya yang membedakan.
Hari berikutnya setelah pengumuman, kami kumpul-kumpul, ceritanya acara perpisahan pribadi (karena di bimbel pun ada acara perpisahannya). Waktu itu kami mau makan-makan di Taman Anggrek, namun sebelumnya kami mampir dulu ke bimbel buat sungkem sama kakak2 mentornya. :-)
Sangat wajar, kami sangat disambut dengan bangga oleh kakak-kakaknya. :-D
Dan dia bilang, "tuh kan kak bener apa kata saya, nothing impossible and imposssible is nothing". Yah, kali ini kakaknya 'kalah' dengan bangga karena adhiknya berhasil dapetin jurusan oke di  PTN besar. :-)

Dari temenku yang pertama, aku belajar tentang kerja keras. Dari temenku yang kedua, aku belajar tentang kekuatan keyakinan (optimisme). Meski aku pun dulu melakukannya, namun di tengah2 kehectican banyak hal yang ingin aku kejar saat ini, mereka mengingatkanku tentang itu.
"Kunci keberhasilan adalah kerja keras dan keyakinan", ditambah kunci kesuksesan yang aku alami saat itu: USAHA + DO'A = BERHASIL. Yup, banyak cara untuk sukses, namun kunci dari kesuksesan itu sendiri sudah ada dan tinggal dilaksanakan.

Dalam kondisi saat ini, aku diingatkan oleh seorang kakak mentor. Beberapa waktu yang lalu pas pulang ke Jakarta, aku main ke tempat les sekalian nganter adhikku (kebetulan adhikku sekarang sedang les di sana) dan ketemu salah beberapa kakak. Nostalgia, berbagi cerita. Kakak2nya udah pada nikah bahkan ada yang anaknya udah mau TK. :-) Kondisi ruangan, desain dan jargon di sana telah banyak berubah. Cukup inovatif kok.
Saat itu aku bercerita, "kak, aku habis naik gunung loh bareng temen2 kampus. Terus pas di tengah jalan kami kehujanan. Saat itu lemes banget. kedinginan, dan aku sering jatuh, tapi karena aku merasa temen2ku juga susah, aku mencoba kuat dan bertahan. Alhamdulillah pulang dengan selamat. :-) "
Seriusan, saat itu lagi murni cerita tentang itu. Tentang pengalaman di kampus tapi kakaknya nanggepin gini, "Dewi dari dulu gak berubah ya? Kuat dan selalu optimis". Cukup seperti mendengarkan sesuatu yang baru, "ah, masa sih kak?"
"Iya, Dewi tuh kalau punya keinginan, selalu berusaha keras untuk mencapainya, pantang menyerah meski orang sekitar bilang gak mungkin. Waktu dulu gak bisa ini-itu, Dewi paling bawel buat nanya dan selalu berusaha keras untuk bisa. Dewi juga paling kekeuh buat dapetin apa yang dimau". (Eh, jadi inget, kenapa sekarang aku masih juga di ITB dan saat tahun kedua memutuskan untuk tidak mengikuti ujian masuk FK ** lagi karena alasan yang besar, semoga next bisa sharing cerita)
Masih juga merasa baru, "ah, masa sih kak?"
Lalu berpikir, oh iya ya dulu aku gitu? Tapi kenapa sekarang kayak gini? "Nothing impossible and impossible is nothing Dewi, selama kita berusaha maksimal dan berdo'a!" >_<
Hmmm, aku sangat bersyukur aku telah diingatkan Allah melalui itu dan memang harusnya saat ini aku seperti dulu yang selalu optimis, kerja keras dan berazzam kuat.
Pas banget, reminder itu ada saat aku sedang sangat membutuhkannya. Saat itu aku sedang banyak masalah banget. Juga untuk saat2 ini. Alhamdulillah. :-)
Makasih kak...

Makasih juga buat 2 orang temenku yang sabi ini karena telah menginspirasi. Juga buat temen2 seperjuanganku yang lainnya, secara gak langsung, kalian menginspirasiku banyak hal. :-)
Serta untuk kakak-kakak yang selalu sabar dalam mengajari ilmu dan berbagi motivasi serta menginspirasi. Aku kangen banget sama kalian :-3
Saat ini, kalian pasti juga sedang berjuang. Ayo kita kerja keras dan saling mendo'akan,,, Semoga Tuhan menyertai langkah kita. Sampai jumpa di gerbang kesuksesan. :-D

In memory:
Perpisahan di PH, Taman Anggrek, Jakarta Barat
Dari kiri: Dewi, Hafish, Dhani, Azkya, Yodi
(Alhamdulillah, kami semua lulus PTN ^_^v)

Dari kiri belakang: Adis (65), Anis (78), Muti (78), Dewi (65), kak Yati, Gita (85), Vita (65), kak Penny, Tita (78), Dhani (78)
Dari kiri bawah: Aji (65), Yodi (65), (lupa seriusan, anak 85 kan), Iqbal (65), Pungky (65), Hafish (78)
Mereka semua kuliah di kampus2 oke loh :-P
Selamat dan sukses, teman2 :-D