About me

Foto saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Instagram: @dewikusumapratiwi Facebook: https://www.facebook.com/dewi.kusumapratiwi
Tampilkan postingan dengan label Tausiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tausiyah. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Januari 2018

Mempertahankan Pernikahan

Dapet ilmu baru dari grup ITBMH. Tentang pernikahan.

5 tahun pertama pernikahan adalah masa-masa "riskan" dalam pernikahan...
Meski 5 tahun 5 tahun berikutnya juga memiliki peluang untuk collaps. Karena ujian hidup memang berlaku seumur hidup. Jadi kita gak pernah bisa menebak kapan ujian itu akan datang.

Ada banyak hal yang bisa "mengganggu" pernikahan kita, di antaranya: 
- Kondisi ekonomi (baik kekurangan maupun kelebihan, karena yang lebih tapi tidak dimanage dengan semestinya juga akan menimbulkan konflik)
- Dari diri masing2 pasangan (merasa tidak puas, tidak menerima kekurangan, membandingkan dengan yang lain, dll)
- Dan yang paling banyak adalah ORANG KETIGA yang memicu konflik.
Ini paling banyak dishare di trith tersebut. Mereka bercerita tentang kisah nyata, bahkan ada yang kisahnya sendiri. 😰
Banyak pasangan yang konflik kemudian bercerai hanya karena orang ketiga dan atau campur tangan orang ketiga.
Orang ketiga di sini bisa siapapun,
bisa perempuan atau laki2 lain (selingkuhan),
bisa keluarga besar,
bisa orang tua,
bisa mertua,
bisa saudara ipar,
bisa tetangga,
bahkan bisa orang lain yang sekedar komentar lewat...

Maka dibutuhkan KOMUNIKASI yang SEHAT antar pasangan. Betapa pentingnya membangun komunikasi yang baik dengan pasangan, hingga menjamurnya seminar-seminar dan buku-buku tentang komunikasi.
Karena kunci pernikahan kuat adalah: suami dan istri KOMPAK. Karena kalau udah kompak, sekeras apapaun hantaman badai dari luar insya Allah lewat.
Namun yang paling penting adalah BERTAQWA KEPADA ALLAH. Karena kalau hubungan kita dengan Allah baik, insya Allah hubungan dengan manusia juga baik, termasuk dalam hal pernikahan.

Dan ada satu pesan seorang teteh yang sangat "ngena":
Hati2! Kita bisa dengan sangat tidak sadar "menjerumuskan" orang lain dalam perceraian. Na'udzubillaahi 'in min dzalik. Ust. Bendri sering mengingatkan, perceraian terjadi ketika salah satu atau kedua belah pihak melakukan maksiat. Dan orang yang menyebabkan terjadinya perceraian adalah temannya iblis.
Makanya JAGA LISAN. Hati2 kalau kita berkomentar / berbicara, entah kita sebagai pasangan itu sendiri, teman, saudara, ipar, tetangga, dan kelak sebagai orang tua maupun mertua. 

Sekian resume versi saya yang saya buat dari trith tentang pernikahan.
Mudah2an ada pelajaran yang bisa diambil, terutama buat diri saya sendiri dan pasangan saya. :)

#day8 #30DWC #30DWCjilid11 #notesformyself #notesformyhusband #pernikahankamimasihmuda #barumau4tahun

Sabtu, 27 Januari 2018

Mendidik Anak dengan Mendidik Diri Sendiri

Pagi ini saya mengikuti Kajian Sabtu Dhuha di Masjid Salman ITB. Pematerinya kali ini dari Yayasan Al Fatih Peradaban, sekolah yang saya impikan untuk anak saya nanti. Mengapa saya menginginkan sekolah tersebut? Karena kurikulumnya sesuai dengan parenting kenabian, iman dan Al Quran. Saya tahu bahwa kita sedang berada di akhir zaman. Tanda-tandanya pun sudah jelas. Maka PR bagi saya dan suami sebagai orang tua untuk mendidik anak-anak kami menjadi generasi terbaik akhir zaman, generasi Al Fatih akhir zaman.

Tema kajian kali ini adalah "Tahapan Mendidik Anak Agar Otak Brilian". Hal terpenting yang saya tangkap dari isi kajian tersebut adalah "dasar dari parenting adalah takwa". Tentang keinginan agar anak kita menjadi sesuatu seperti dokter, insinyur, dan lain sebagainya, bukanlah hal utama. Pelajaran-pelajaran seperti IPA, matematika, dan bahasa bisa dipelajari dengan cepat. Namun mendidiknya untuk bertakwa itu yang paling berat.

Salah satu ayat di dalam Al Quran, "Bertakwalah kepada Allah maka Allah akan mengajarimu" menunjukkan bahwa dengan bertakwa maka Allah akan mengajari kita apa saja yang kita mau. Rasulullah SAW yang tidak kita ragukan ketakwaannya, pernah belajar bahasa asing (bahasa orang yahudi) selama 17 hari. Sultan Muhammad Al Fatih mampu memindahkan kapal perang melalui bukit sejauh 5 mil karena petunjuk dari Allah. Beliau dan pasukannya memiliki iman yang kuat. Mereka rajin beribadah, tilawah, sholat tahajud, dan lain sebagainya. Merekalah pasukan terpilih yang berhasil menaklukkan Konstantinopel. Umar bin Abdul Aziz menjadi pemimpin selama 2 tahun 5 bulan. Saat itu rakyatnya sangat makmur, bahkan tidak ada orang yang berhak menerima zakat. Di masa kepemimpinannya, ia membayar semua hutang rakyatnya hingga rakyatnya hidup makmur. Beliau dan generasinya adalah orang-orang yang bertakwa. Orang yang paling lemah imannya saja melakukan tilawah sebanyak 1 juz per hari.

Generasi terbaik itu dididik oleh guru terbaik. Jika kita mendidik anak, yang paling utama adalah didiklah diri sendiri terlebih dahulu. Jika kita ingin anak kita menghafal Al Quran, maka berusahalah juga untuk menghafal Al Quran. Jika kita ingin anak kita bertakwa kepada Allah, maka bertakwalah juga kepada Allah. Itulah garis besar materi yang saya tangkap pagi ini. Semoga bermanfaat untuk kita.

#day6 #30DWC #30DWCjilid11 #writingchallenge #tantanganmenulis #menulis #menulisonline #parenting

Jumat, 26 Juni 2015

Catatan untuk Wanita --> Peranmu, Surgamu

PERANMU, SURGAMU
Notulensi Kuliah Akademi Orangtua Parenting Nabawiyah
Waktu: Sabtu 20 Juni 2015
Pembicara: Ustz. Poppy Yuditya
Sumber: Grup Cerita Ibu dan Anak (Ceria 8) dengan sedikit editan tampilan dan ejaan kata

Peran muslimah
Berapa jumlah perempuan yang disebut di dalam Al Qur'an? Semua tercakup dari zaman Nabi Adam as sampai akhir zaman. Ternyata hanya 20 yang disebut secara dzahir. Dari 20 tersebut ternyata Allah hanya menyebut satu nama saja, yakni Maryam. 19 lainnya tak disebutkan. Mengapa? Karena akhlaknya paling sempurna dan bisa jadi hanya Maryam yang terbebas dari aib. Ini bukan berarti yang lain tidak mulia, namun Allah jaga aib mereka.

Perempuan dalam Al Qur'an
1⃣   Belum menikah: Maryam, Ratu Balqis, dua perempuan yang bertemu Nabi Musa, saudara perempuan Nabi Musa as. 
2⃣   Sudah menikah: Hawa, istri Nabi Nuh as, istri Nabi Luth as, Sarah, Hajar, Zulaikha, Asiyah, Istri Imron, istri Nabi Zakaria as, Hafsah, Aisyah, Zainab, istri Abu Lahab, Khaulah binti Tsa'labah.
3⃣   Ibu: Hawa, Sarah, ibunda musa, istri imron, istri Zakaria, Maryam.

Seringkali kita berpikir bahwa kita bisa mendapatkan surga karena mendidik anak. Bagaimana kalau kita belum punya anak? Hipotesis ini tidak selalu tepat. Lihat perbandingannya : dalam Al Qur'an yang terbanyak dibahas adalah peran istri, yakni sebanyak 54%. Muslimah sebagai pribadi 19% dan sebagai ibu 27%. Peran istri menempati porsi paling besar peran perempuan yang disebutkan Allah dalam Al Qur'an.

Maka kita tersadar kembali akan makna hadits ini... “Lihatlah di mana keberadaanmu dalam pergaulanmu dengan suamimu, karena suamimu adalah surga dan nerakamu.” (HR. Ahmad)

Kita berjuang keras untuk menjadi ibu terbaik bagi anak-anak... Namun, simak hadits ini.. " … dan aku melihat neraka maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penduduknya adalah kaum wanita. Para shahabat pun bertanya: “Wahai Rasulullah, Mengapa (demikian)?” Beliau menjawab: “Karena kekufuran mereka.” Kemudian mereka bertanya lagi: “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab: “Mereka kufur (durhaka) terhadap suami-suami mereka, kufur (ingkar) terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) niscaya dia akan berkata: ‘Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu.’ ” (HR. Bukhari dari Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma) 

Meski kita sering gondok dan kesal pada suami, tapi ingat bahwa ini semua untuk keridhoan Allah. Wanita surga tidak berpikir siapa yang salah. Ia hanya berkata seperti dalam hadits berikut, Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda: “Maukah kalian aku beritahu tentang istri-istri kalian di dalam surga?” Mereka menjawab: “Tentu saja wahai Rasulullaah!” Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Wanita yang penyayang lagi subur. Apabila ia marah, atau diperlakukan buruk atau suaminya marah kepadanya, ia berkata: “Ini tanganku di atas tanganmu, mataku tidak akan bisa terpejam hingga engkau ridha.” (HR. Ath Thabarani dalam Al Ausath dan Ash Shaghir. Lihat Ash Shahihah)

Sangat jarang malaikat melaknat manusia, kecuali untuk urusan "kasur". Beware.. (hati-hati)
Seberat apapun, setiap peran yang ditetapkan Allah adalah untuk kebaikan kita. Tidak ringan, tetapi ada kebaikan jangka panjang yang Allah berikan.

Jika anak-anak melawan pada kita, tidak menurut dan sebagainya, jangan berpikir "anak ini harus diapakan".
1. Tanya dulu pada diri sendiri, apakah sudah melakukan atau belum. Misal kita bingung bagaimana agar anak mau menghapal Al Qur'an. Sebelumnya, apakah kita sudah menghapal juga?
2. Cek, bagaimana ketaatan kita pada suami.
3. Periksa, bagaimana shalatmu? Bagaimana do'amu? Kesuksesan mendidik anak bukan karena teori parenting, tips-tips mendidik anak, dan sebagainya. Tapi karena Allah ridho. So, yang harus menjadi concern kita adalah bagaimana membuat Allah ridho. Karena jika Allah ridho, Ia memberi segala yang kita inginkan.

Standar perempuan shalihah itu seperti perempuan-perempuan shalihah yang tersebut dalam Al Qur'an.

Kerangka taat dan menunaikan kewajiban / kebaikan pada suami adalah untuk mendapatkan ridho Allah. Apakah setelahnya suami semakin sayang dan cinta, itu hanyalah bonusnya.

Penuhi inventory kepala kita dengan profil dan kisah-kisah istri shalihah.

Kisah dua perempuan yang bertemu dengan Nabi Musa as adalah kisah tentang perempuan yang bekerja. Mereka bekerja karena menggantikan ayahnya yg sedang sakit. Hikmahnya: wanita harus punya alasan untuk bekerja. Dan jika bekerja, ia tidak ikhtilat (misalnya dinas luar dengan rekan lawan jenis).

Ratu Balqis : pemimpin Negeri Saba'.
➡ meninggalkan kesombongan dan mudah menerima kebenaran.

Ibunda Musa : rela berkorban untuk keselamatan anaknya (Nabi Musa as).

Kisah saudara perempuan Nabi Musa as : mengikuti peti Nabi Musa as yang dihanyutkan di sungai Nil.
➡ menggambarkan sosok perempuan yg pintar, mampu bernegosiasi dan amanah.

Hawa : berkhianat karena membujuk suaminya makan buah khuldi. Namun Hawa masuk surga karena ia bertaubat.
➡ hati2 dengan bisik-bisik kita pada suami, karena bisa sangat mempengaruhinya.

Istri Nuh : tidak percaya pada suaminya saat ia membuat perahu, menjelekkan suami di depan anak-anaknya. Beware.

Istri Luth : melanggar amanah suami. Beware.

Sarah : wanita yang sangat berharap punya anak.
➡ jika ada keinginan dalam diri kita untuk tidak memiliki anak (lagi), jangan-jangan ada yg bermasalah dengan fitrah kita.

Hajar : ibu menyusui, tidak tahu mau ke mana saat bersama Nabi Ibrahim as, ditinggal sendirian entah dimana, dan sebagainya, namun tidak banyak bertanya.
➡ jangan jadi ibu-ibu rempong.
➡ Nabi Ibrahim as hanya menjawab singkat saat Hajar bertanya. Sebagai manusia biasa, mungkin Ibrahim mau menjelaskan, tapi beliau sendiri tidak tahu apa jawabannya. Para suami seringkali semakin bingung dengan pertanyaan-pertanyaan kita.
Yang dilakukan Khadijah saat Nabi Muhammad saw bingung adalah menenangkannya, membawanya ke tempat tidur dan menyelimutinya. Bukan memborbardirnya dengan pertanyaan-pertanyaan.
▶ Hajar berlari bolak-balik antara Shafa-Marwah, pada posisi yang masih bisa mengawasi bayi Ismail. Hikmahnya adalah jika ibu bekerja, pastikan pandangan mata tetap dapat terjaga pada anak-anak kita. Sepuluh tahun pertama adalah fase sangat penting dalam menumbuhkan tauhid anak.

Zulaikha : terpesona kerupawanan Nabi Yusuf dan menggodanya.
➡ jangan merasa aman dari fitnah selingkuh atau zina. Tetap jaga diri dan mohon perlindungan Allah.

Asiyah istri Fir'aun
➡ kita tidak menanggung dosa suami, namun suami bertanggung jawab atas kita. Maka permudahlah, permudahlah suami kita. Jika suami kita zhalim, kita tetap bisa masuk surga. Tapi mungkin saja suami terganjal masuk surga karena kita.

Istri Nabi Zakaria as : istri mandul yang dapat memiliki anak dengan seizin Allah SWT.

Aisyah : difitnah, lalu minta izin pada Nabi Muhammad saw untuk keluar ke rumah orang tuanya.
➡ saat mendapat fitnah, kita jangan terburu-buru mengklarifikasi karena bisa saja isunya menjadi bola panas. Tenangkan diri dulu.

Istri Abu Lahab : mengompori suami dlm kejahatan.
➡ dukunglah suami dalam kebaikan, bukan dalam kejahatan.

Zainab : bercerai karena suami tidak mampu menaikkan dirinya, dan istri tidak menurunkan dirinya, padahal keduanya adalah orang yang sholeh.
➡ pernikahan yang tidak bisa dipaksakan karena sudah diusahakan untuk setara tetap sulit sekali.
➡ tinggikan suami di hadapan anak-anak, jangan pernah menjelekkan.

Istri Imron : banyak berdo'a selama mengandung agar dikaruniai anak yang sholeh dan menazarkannya untuk Allah SWT.

Menarik, rupanya dari semua perempuan yang disebut dalam Qur'an, tidak ada tentang wanita yang sangat menginginkan punya suami. Tidak ada keyakinan bahwa letak kebahagiaan adalah dengan memiliki suami. Simak kisah Maryam, Balqis, dan lain lain. Mereka tetap bahagia meski tidak berpendamping.

Jangan habiskan waktu berlebihan untuk pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Memasak sampai 5 jam, menyetrika terlalu perfect, dan sebagainya. Karena kita juga punya kewajiban belajar dan berkarya (tilawah, baca kitab, baca buku, dan lain lain). Permudah pekerjaan, didik anak-anak untuk mandiri.

Tidak perlu iri sama suami. Berbuat saja yang Lillah, yg terbaik untuk Allah. Buatlah suami merasa tenteram (QS. Ar rum 21).
▶ note : cek lagi profil istri "setenang malam" dari kajian tafsir bersama ust. Herfi.

Kita tidak akan ditanya tentang berapa banyak uang kita untuk membantu suami, tapi ditanya tentang rumah suami kita. “Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya".

Allaahu 'alam bi shawab.

Kamis, 11 Juli 2013

Ramadhan Efektif part 1

"Pada bulan ramadhan, setiap amal kebaikan akan dibalas dengan 10x kebaikan, kemudian dilipatgandakan sebanyak 700x kebaikan. Kecuali puasa. Sesungguhnya, puasa itu untuk Allah dan Allah sendirilah yang akan membalasnya" (redaksi asli, lihat di hadits)

"Banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa2 kecuali lapar dan dahaga" (redaksi asli, lihat di hadits)
Karena puasa tidak sekedar menahan lapar dan dahaga, melainkan menahan diri dari yang haram, makruh, bahkan yang mubah saja sebaiknya ditinggalkan. Meninggalkan ucapan2 yg sia2, meninggalkan hal2 yg sia2 didengar, dan meninggalkan hal2 yg tidak berguna untuk dilakukan meskipun hukumnya mubah dan makruh.
[Isi ceramah kemarin malam]
Terus mikir, terkadang masih sering melakukan perbuatan sia2 seperti ngobrol di whatsapp, twitter, message, sms. Sering juga mengerjakan sesuatu tidak cekatan, padahal kerjaan sangat banyak. Tidur juga masih banyak, bahkan terkadang lebih dari 4 jam. Padahal, setiap detik di bulan ramadhan ini sangat berharga. Segala kebaikan akan dilipatgandakan sangat banyak. Namun diri ini masih sering menyia2kannya. :'(
#muhasabbahdiri
Namun, ternyata kebaikan bukan hanya ibadah shalat-tilawah-shadaqah, berinteraksi dg saudara2 kita jika kita niatkan untuk silaturahmi insya Allah bernilai ibadah, membaca buku jika kita niatkan untuk menuntut ilmu karena ingin lebih mendekatkan diri kepada Allah insya Allah bernilai ibadah, mengerjakan TA jika kita niatkan untuk jihad (baca: menuntut ilmu) insya Allah juga akan bernilai ibadah, membaca,mendengarkan & melihat media jika kita niatkan untuk memperluas tsaqafah insya Allah akan bernilai ibadah. Banyak sekali hal2 positif dan kebaikan yang bisa bernilai ibadah. Semua tergantung niat.
Jadi intinya, "selalu luruskan niat, semuanya karena Allah"
^_^
Allaahu 'alam
#RamadhanEfektif

Rabu, 29 Februari 2012

Semua Urusan Kita Akan menjadi Mudah, jika....

Jika hanya satu surat dalam Al-qur’an yang turun, cukuplah QS. Al-Ashr. “Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beramal soleh. Dan saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran”
Secara umum, taqwa adalah menjalankan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya.
Secara harfiah, taqwa berarti takut dengan kesadaran yang tinggi. Dapat dianalogikan dengan takutnya seorang anak terhadap orang tuanya namun tetap ingin dikasihi.
Dalam QS. Al-Baqarah:1-5
Surat yang didahului dengan ayat Alif Laaaaaammiim berarti mengundang perhatian dengan sangat.
Al-qur’an diturunkan dengan kebenaran yang nyata.
Kitab itu adalah bimbingan bagi orang-orang yang bertaqwa, yaitu:
-          Yakin kepada yang ghaib
-          Mengerjakan sholat
-          Mementingkan kepedulian dengan berinfaq
-          Yakin kepada seluruh kitab Allah, khususnya Al-qur’an
-          Yakin kepada hari kiamat
Orang-orang yang bertaqwa akan mendapatkan hidayah dan kesuksesan, berupa:
-          Allah selalu membuka jalan keluar untuk setiap masalahnya à QS. Ath-Thalaq (65:2),
Allah akan mencukupkan keperluannya, memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka à QS. 65:3, Barangsiapa yang bertaqwa kepada ALLOH niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rejeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya”
Rezeki adalah pemberian Allah, sesuatu yang dimakan dan diminum, sesuatu yang dipakai, dan sesuatu yang diinfakkan (ini meruoakan rezeki abadi)
-          Memudahkannya dalam semua urusannya à QS. 65:4 “...Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. 65:4)
Contoh urusan: rezeki, amanah2 (akademik, amanah dakwah, amanah sebagai orang tua, anak atau suami), jodoh, dll.
Allah menghapus kesalahan2nya dan akan melipatgandakan pahala baginya à QS. 65:5,
“….Dan Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya”
Tidak ada beban yang lebih berat daripada dosa. Dosa membuat urusan2 menjadi sulit.
-          Mendapatkan furqan (pembeda), mana yang benar dan mana yang salah, mana yang harus disikapi dan mana yang tidak.
Salah satu dalam do’a pada al-Matsurat, penyakit2 taqwa yang kita berdo’a untuk dihindarkan daripadanya adalah:
-          Kebingungan (kegelisahan)
-          Kesedihan (frustasi, futur, bete)
-          Kelemahan (tenaga, akal, ruhiyah)
-          Kemalasan
-          Sikap pengecut (takut resiko dalah berbagai hal: ibadah, berjuang, belajar, dll)
-          Pelit
-          Hutang (hutang uang, hutang urusan yang tertunda seperti: belajar yang ditunda2 sehingga materinya menumpuk, gak dateng pembinaan beberapa kali sehingga akhirnya jadi sungkan untuk dateng lagi karena ‘hutang’ (gak dateng pembinaan) yang menumpuk, hafalan yang ditunda2, pengerjaan tugas dan amanah yang tertunda2 sehingga menumpuk)
-          Kesewenangan orang lain
Unsur-unsur atau elemen-elemen taqwa dari segi pengalaman:
1.       Mu’ahadah (merasa / yakin terikat janji dengan Allah)
Sesungguhnya kita telah terikat janji dengan Allah, yaitu: Dalam bacaan Al-Fatihah kita “Hanya kepada-Mu lah aku menyembah dan hanya kepada-Mu lah aku memohon pertolongan”. Selain itu, dalam do’a kita di Al-Ma’tsurat yaitu sayyidul istighfar yang isinya muhasabbah.
2.        Muraqabah (merasa diawasi (direkam) oleh Allah SWT)
Muraqabah adalah puncak ibadah, yaitu ihsan : beribadah kepada Allah hingga melihat Allah atau minimal merasa bahwa Allah melihatnya. Perhatikan diri kita ketika sholat, apakah kita sudah bermuroqobah?
3.       Muhasabbah (menghisab diri)
Tiga hal yang perlu dihisab: lahir, batin, dan akal.
Cara bermuhasabbah: merenung dan berdzikir setelah sholat, curhat tentang amalnya yang gak naik-naik, merenungi diakhiri dengan istighfar (dalam al-ma’tsurat, “Yaa Allah, malam sudah datang lagi, siang sudah pergi lagi, banyak dari hamba2-Mu yang memohon kepadamu. Maafkan aku yang tidak optimal hari ini, yaa Alla”, muhasabbah secara runtut menghisab dirinya tentang kebaikan dan keburukan yang telah banyak dilakukan.
4.       Mu’aqabah (mengiqab diri)
Umar bin Khathab pernah ketinggalan sholat ashar berjama’ah karena sibuk menggarap kebunnya di Madinah. Beliau melihat rombongan kaum muslimin. “Dari mana kalian berombongan?” “Loh, kok kamu bertanya seperti itu, Umar” “Aku kan berhak bertanya kepada kalian” “Kami dari masjid, sholat ashar berjama’ah”. Seketika itu Umar meminta ampun kepada allah karena telah lalai gara2 perkebunannya sehingga beliau menginfakkan seluruh kebunnya yang telah membuatnya lalai sholat ashar. Bagaimana dengan kita?
5.       Mujahadah (berjihad = bersungguh-sungguh)
Ciri-ciri mujahadah:
-          Istimror,  mau damwan (rutin, kontinu)
Contoh: mau meluangkan waktu antar maghrib-isya untuk hafalan al-qur’an, mau meluangkan waktu setelah shubuh dan asharnya untuk membaca Al-Ma’tsurat, dll.
-          Marhaliah, mau bertahap
Contoh: belum menjadi kader inti, mau mengikuti tahapan atau proses pembelajaran untuk mengejar ketertinggalan dari teman2nya dan terus berusaha menjadi lebih baik.
-          Mau berkorban

Tentang hadits arba’in ke-18: Dari Abu Dzar, Jundub bin Junadah dan Abu ‘Abdurrahman, Mu’adz bin Jabal radhiyallahu 'anhuma, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau bersabda : “Bertaqwalah kepada Allah di mana saja engkau berada dan susullah sesuatu perbuatan dosa dengan kebaikan, pasti akan menghapuskannya dan bergaullah sesama manusia dengan akhlaq yang baik”. 
(HR. Tirmidzi, ia telah berkata : Hadits ini hasan, pada lafazh lain derajatnya hasan shahih) [Tirmidzi no. 1987]
-          Bertaqwa kepada Allah di manapun dan dalam keadaan apapun
-          Mengikuti keburukan dengan kebaikan
-          Memperlakukan manusia dengan ihsan
Ketaqwaan belum lengkap kalau belum memperhatikan kebersamaan. Dalam hadits arba’in ke-35: Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, ia berkata : “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda : “Kamu sekalian, satu sama lain Janganlah saling mendengki, saling menipu, saling membenci, saling menjauhi dan janganlah membeli barang yang sedang ditawar orang lain. Dan jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lain, maka tidak boleh menzhaliminya, menelantarkannya, mendustainya dan menghinakannya. Taqwa itu ada di sini (seraya menunjuk dada beliau tiga kali). Seseorang telah dikatakan berbuat jahat jika ia menghina saudaranya sesama muslim. Setiap muslim haram darahnya bagi muslim yang lain, demikian juga harta dan kehormatannya”. [Muslim no. 2564]
-          Jangan hasad
-          Jangan saling menipu
-          Jangan saling membenci
-          Jangan saling membelakangi / menjauhi
-          Jangan membeli sesuatu yang sudah dibeli orang lain (termasuk mengkhitbah seseorang yang telah dikhitbah oleh saudaranya)
-          Jadilah hamba Allah yang bersaudara
Taqwa tidak lepas dari kebersamaan dengan manusia lain, bukan hanya beribadah saja, tidak terpengaruh dengan apapun (tidak perlu membenci politik karena taqwa letaknya di dalam qalbu).

Dalam QS. Ali Imran:133-135, "Dan bersegeralah Kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa." (QS. Ali Imran: 133)
"(yaitu) orang yang berinfaq baik di waktu lapang atau sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan." (QS. Ali Imran: 134)
"dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau mendholimi diri sendiri, mereka bersegera mengingat Allah lalu, memohon ampunan atas dosa-dosanya dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedangkan Mereka mengetahui." (QS. Ali Imran: 135)
-          Segera mencari ampunan
-          Raih syurga yang seluas langit dan bumi
Dengan cara:
-          Berinfak di waktu yang lapang dan sempit
-          Menahan amarah
-          Mema’afkan kesalahan orang lain
-          Sadar diri akan perbuatan kejinya lalu memohon ampunan
Harta, rizki, jodoh, kemenangan adalah hal DUNIAWI. Tapi kalo kita tidak mendapatkannya atau sulit untuk mendapatkannya, ketaqwaan kita dipertanyakan karena Allah telah berjanji memberikan kemudahan dan pertolongan dalam setiap urusan-urusan bagi orang2 yang bertaqwa.
Kapan batas sabar itu? Dalam QS. Al-Baqarah:214. “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, pada-hal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh mala-petaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.”
 Jadi batas kesabaran adalah ketika pertolongan Allah tiba. ^^
Wallahu ‘alam bo showab
[Notulensi Kajian tentang Taqwa bersama ustadz Asep Rodhi]

Kamis, 24 November 2011

Islam adalah Pedoman segala aspek kehidupan

Catatan yang pernah diajarkan guru agama saya.
” Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.......” (Ali Imran: 19)
Islam sebagai pedoman hidup:
1. Konsep keyakinan 
"Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya." (QS.Al-Baqarah:255)

2. Moral
"Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi." (QS. 7:99)
Jika kita sudah yakin dengan adanya Allah sebagai Sang Pencipta alam semesta ini, langit dan bumi beserta isisnya; Allah yang terus menerus mengurus makhluk-Nya; Allah yang tidak mengantuk dan tidak tidur; Allah yang Maha Mengetahui sedangkan kita tidak tau apa2 selain yg DIA kehendaki, maka kita akan senantiasa menjaga moral kita di manapun kita berada.
Misalnya, moral sebagai mahasiswa (tidak mencontek ketika ujian), moral sebagai pemerintah negara (tidak korupsi), dll karena kita tidah akan pernah merasa aman (takut) dengan pengawasan Allah yang tidak pernah mengantuk dan tidur.

3. Tingkah laku
"Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya daripada Allah? Dan hanya kepada-Nyalah kami menyembah." (QS. 2:138) 
Shibghah Allah (Celupan Allah):
    Untuk mengobati luka umumnya digunakan kapas dan cairan pembersih untuk mengobatinya. Bila seseorang yang terluka tersebut dihadapkan pada tiga buah cairan yang terdiri atas cairan limun (sirop), Alkohol/ zat antiseptic, dan baygon/ pembasmi hama, tentunya orang tersebut akan memilih cairan alkohol/ zat antiseptic, dikarenakan dalam kondisi tersebut zat itulah yang dibutuhkan.
    Bila kapas itu diibaratkan manusia, maka Alkohol lah yang bisa diumpamakan sebagai celupan Allah. Hal ini disebabkan karena celupan Allahlah yang paling ampuh untuk membimbing kehidupan manusia. Seorang muslim memilih celupan Allah tersebut sebagai pewarna kehidupannya, dan (celupan Allah) ini tentunya dipilih muslim atas dasar kecintaan keridhaan serta keyakinan akan arahan-arahan Allah selama hidup didunia –sesuai dengan ikrar Syahadat yang diucapkannya. [1]
   Bagaimanakah shibghah itu akan tampak dalam kehidupan individu yang mencelupkan diri ke dalamnya? Individu itu akan bersifat seperti ayat berikut ini : "Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji (Allah), yang melawat, yang ruku`, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma`ruf dan mencegah berbuat mungkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mu'min itu." (At-taubah : 112)

* At-Taibun (bertaubat)
"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa." (Ali Imran : 133).
"Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah ? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui." (Ali Imran : 133)  lihat Qs.3:135

* Al-‘Abidun (beribadah) yakni menimbang segala sesuatunya dengan al-Islam.
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku." (Adz Dzariat : 162).
Katakanlah: "Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam." (Al An’am : 162) 
"Sesungguhnya jawaban orang-orang mu'min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan, “Kami mendengar dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (An Nuur : 51)
*Al Hamidun (selalu memuji Allah) yakni memperhatikan dan memfungsikan alam.
"Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat ? Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita ? Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita ? kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu (daripadanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya." (Nuh : 15-18)
lihat Qs. Al An’am:95-99, Al Baqarah : 152, Ibrahim :7

*As Saa’ihun (penjelajahan dengan menggunakan nalar dan hati untuk memahami alam dan sejarah kehidupan)
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (Ali Imran :190-191)
lihat Qs.An Nahl : 36, Fatir 28

*Ar Raki’un As Sajidun (ruku’ dan sujud untuk mengokohkan  hubungan dan memperbaikinya)
"Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdo`a kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka." (As sajadah : 16)
lihat Qs. An Nuur 37, Adz Dzariat 17-18

*Al Aamiruna bil ma’ruf wan nahuna ‘anil munkar (bersifat sebagai hudwah)
"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung." ( Ali Imran : 104)
lihat Qs. At Taubah 122

* Al Hafizhuna lihududilah (menjaga ketentuan-ketentuan Allah dalam diri, rumah tangga dan masyarakat)
"Sesungguhnya jawaban orang-orang mu'min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan, "Kami mendengar dan kami patuh." Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung."(An Nuur : 51)
lihat Qs.An Nisa 65 
[2]

4. Perasaan
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.(Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS. 30:30)

(bersambung)

next time:
5. Pendidikan
6. Sosial
7. Politik
8. Ekonomi
9. Militer
10. Hukum

Referensi:
 Disalin dari majalah al muslimun No.272

Sabtu, 15 Oktober 2011

Ketika Da'i Menjadi Pengusaha


Notulensi Ta'lim entrepreneur by kak Rendy Saputra, Kamis, 13 Oktober 2011 @masjid Salman ITB pukul 16.00-17.30 WIB dengan tema "Ketika Da'i Menjadi Pengusaha"


(maaf berantakan tapi semoga bermanfaat. Selamat membaca ^,^)


- Islam telah mengatur semua aspek kehidupan dalam syariat Islam.

- Dakwah bukan proyek sederhana, perlu materi, perlu banyak waktu, dan perlu energi yang besar.

- Apapun yang kita lakukan sebaiknya 100%
       Jangan melakukan sesuatu dengan setengah-setengah walaupun awalnya niatnya bukan  untuk melakukan pekerjaan itu tetapi ketika kita telah memilih untuk melakukannya maka sebaiknya100%.

- Kelebihan menjadi seorang entrepreneur:
1. Entrepreneur memiliki kendali waktu yang baik
       Ia bisa membagi waktu kapan untuk Allah, kapan untuk keluarga, kapan untuk umat, kapan untuk karyawan. Seorang BOS tidak banyak bekerja karena BOS = By Operating System. Yang bekerja adalah sistem2nya.
       DAKWAH TIDAK DAPAT DIJALANKAN DENGAN WAKTU SISA.
       Menyayangi anak tidak dapat dilakukan dengan sisa waktu, memperhatikan istri ga bisa dilakukan dengan sisa waktu dan sisa energi, melayani umat tidak dapat dilakukan dengan sisa waktu.
2. Entrepreneur punya kendali berpikir
       Setiap masalah ada solusi yang efektif. Seorang entrepreneur jika gak bisa jualan akan mencari orang yg bisa jualin seperti taktik Stiff J (pemilik APPLE). Entrepreneur luas berpikir, memikirkan apa yg tidak biasa dipikirkan org lain. Enterpreneur da'i juga memikirkan umat, memberi dan berbagi tanpa takut miskin karen kaya dan miskin adalah hak Allah.

- Da'i itu harus kaya karena dakwah membutuhkan uang banyak
     Dakwah membutuhkan uang. Misalkan kita akan mengadakan dauroh. kita perlu uang 5 juta. Misalnya kita punya omset 100 juta aja, kita bisa bikin 20 cara dauroh yg sama.
     Orang arab kalo makan 1 kambing buat 2 orang. Karena mereka kaya. Kita di sini, kadang mau ngadain acara, nyari mobil pinjeman aja susah.
     Untuk mencapai kualitas baik membutuhkan uang yang banyak. Misalnya anak yg akan sekolah di SDIT. SDIT pendidikannya memang bagus, disiplin, mencetak anak2 yg sholeh tapi mahal banget dan gak semua orang tua mampu menyekolahkan anaknya di sana. Pendidikan itu mahal, jadi kalau kita ingin berpendidikan baik, kita harus punya banyak materi/finansial yg dapat menunjangnya.
     Abdurrahman bin auf mndengar berita dari Aisyah bahwa ia akan masuk syurga dengan merangkak krn ia adl seorang ahli infak, ia menginfakkan untanya sebanyak 700 ekor. kira2 apa yg dipikirlkan abdurrahman bin auf ketika menginfakkan unta2nya? Kalo tabungan bertahun2 kita, harus diinfakkan saat itu juga, apa yg akan kita pikirkan? Apakah kita bisa seikhlas Abdurrahman bin auf?
Hal itu hanya bisa dilakukan jika kita menjadi seorang entrepreneur. Kalo kita hanya karyawan biasa, kita akan lebih sulit berkata "jika aku infakkan semua hartaku hari ini, besok juga ada lagi" dari mana? beda dengan seorang entrepreneur,setiap hari uangnya bisa ngalir terus tanpa harus nunggu waktu2 tertentu dalam 1 pekan atau 1 bulan.
      Peluang bisnis itu besar. Bandung ini luas dan penduduknya banyak. berapa uang yg muter setiap hari dalam penjualan nasi? belum produk2 yg lain. Saudara kita, seorang pengusaha keripik pedas di bandung, mahasiswa juga, omsetnya mencapai 6 M dalam sebulan. Beliau juga da'i. Uang itu terus muter, triliyunan uang terus muter, tapi kemanakah ia berputar? kira2 uang yg banyak itu ada di tangan orang soleh atau bukan?
        Kita akan lebih mudah berdakwah jika kita jadi bos. misalnya" kita lagi mimpin rapat terus kita bilang, ". . . maka omset kita akan bertambah sekian jika kita berhasil, makanya rajin2 sholat sunnah ya? dhuhanya yg rajin, QL  nya jangan bolong."
          Kalo kita punya materi yg luas kita bisa bermimpi punya rumah 1000m, lantai 1 bisa dibuat 2 kolam renang, 1muntuk ikhwan, 1 untuk akhwat. Selain itu juga bisa dimanfaatkan untuk madrasah umum (TPA, liqo, pengajian, dll), lantai 2 dipakai untuk ruang keluarga dan kamar anak2 (walaupun anaknya banyak tapi tetep bisa punya kamar sendiri2 karena luasnya rumah kita), lantai 3 dimanfaatkan untuk tempat beribadah kpd Allah , tempat belajar, dll. Degan materi yg banyak kita juga tetap bisa beraktivitas dengan baik dan konsentrasi, berdakwah dengan konsentrasi karena pekerjaan rumah kita dapat terselesaikan dengan fasilitas, kita punya sopir, tukang kebun, baby sitter, pembantu rumah tangga sehingga kita tetap dapat beraktifitas dengan lancar dan berdakwah dengan total.
           Beda jika kita miskin. Ada cerita, seorang aktivis da'i yg mengajak saudara ipar (yg menafkahi keluarganya) untuk sholat, tetapi saudara iparnya bilang, "kamu kasih makan dulu anak istrimu baru saya sholat. Jangan kerjaannya dakwah mulu tapi anak isteri gak diurusin!" Nyesek gak tuh? Seorang da'i harus punya harga diri.

Selasa, 11 Oktober 2011

Ikhwan Sejati vs Akhwat Sejati

Ikhwan Sejati
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari bahunya yang kekar, tetapi dari kasih sayangnya pada orang disekitarnya…

Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang lantang, tetapi dari kelembutannya mengatakan kebenaran…
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari jumlah sahabat disekitarnya, tetapi dari sikap persahabatannya pada generasi muda bangsa…
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari bagaimana dia dihormati di tempat bekerja, tetapi bagaimana dia dihormati di dalam rumah…
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari kerasnya pukulan, tetapi dari sikap bijaknya memahami persoalan…
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari dadanya yang bidang, tetapi dari hati yang ada di balik itu…
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari banyaknya akhwat yang memuja, tetapi komitmennya terhadap akhwat yang dicintainya (ketika cinta itu hanya pada satu tujuan, Allah Ya Rabbul Izzati)…
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari jumlah barbell yang dibebankan, tetapi dari tabahnya dia menghadapi liku-liku kehidupan…
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari kerasnya memebaca Al Quran, tetapi dari konsistennya dia menjalankan apa yang ia baca…



Akhwat Sejati
Seorang gadis kecil bertanya pada ayahnya, “Abi ceritakan padaku tentang Akhwat sejati?”. Sang ayah pun menoleh sambil kemudian tersenyum:
Anakku … Seorang akhwat sejati bukanlah dilihat dari kecantikan paras wajahnya, tetapi dilihat dari kecantikan hati yang ada di baliknya.
Akhwat sejati bukan dilihat dari bentuk tubuhnya yang memesona, tetapi dilihat dari sejauh mana ia menutupi bentuk tubuhnya.
Akhwat sejati bukan dilihat dari begitu banyaknya kebaikan yang ia berikan tetapi dari keikhlasan ia memberikan kebaikan itu.
Akhwat sejati bukan dilihat dari seberapa indah lantunan suaranya, tetapi dilihat dari apa yang sering mulutnya bicarakan.
Akhwat sejati bukan dilihat dari keahliannya berbahasa, tetapi dilihat dari bagaimana caranya ia berbicara.
Sang ayah diam sejenak sembari melihat ke arah putrinya.
“Lantas apa lagi Abi?”, sahut putrinya.
Ketahuilah putriku …
Akhwat sejati bukan dilihat dari keberaniannya dalam berpakaian tetapi dilihat dari sejauh mana ia berani mempertahankan kehormatannya.
Akhwat sejati bukan dilihat dari kekhawatirannya digoda orang di jalan tetapi dilihat dari Kekhawatiran dirinyalah yang mengundang orang jadi tergoda.
Akhwat sejati bukanlah dilihat dari seberapa banyak dan besarnya ujian yang ia jalani tetapi dilihat dari sejauhmana ia menghadapi ujian itu dengan penuh rasa syukur. Dan ingatlah …
Akhwat sejati bukan dilihat dari sifat supelnya dalam bergaul, tetapi dilihat dari sejauh mana ia bisa menjaga kehormatan dirinya dalam bergaul.

Setelah itu sang anak kembali bertanya,
“Siapakah yang dapat menjadi kriteria seperti itu, Abi?”
Sang ayah memberikannya sebuah buku dan berkata,”Pelajarilah mereka!”
Sang anak pun mengambil buku itu dan terlihatlah sebuah tulisan “Istri Rasulullah”

DOSA MENINGGALKAN SHOLAT LEBIH BESAR DARIPADA BERZINA

Pada suatu senja yang lenggang, terlihat seorang wanita berjalan terhuyung-huyung. Pakaiannya yang serba hitam menandakan bahwa IA berada dalam duka cita yang mencekam. Kerudungnya menangkup rapat hampir seluruh wajahnya. Tanpa rias muka atau perhiasan menempel di tubuhnya. Kulit yang bersih, badan yang ramping Dan roman mukanya yang ayu, tidak dapat menghapus kesan kepedihan yang tengah meruyak hidupnya. Ia melangkah terseret-seret mendekati kediaman rumah Nabi Musa a.s.

Diketuknya pintu pelan-pelan sambil mengucapkan salam. Maka terdengarlah ucapan dari dalam “Silakan masuk”. Perempuan cantik itu lalu berjalan masuk sambil kepalanya terus merunduk. Air matanya berderai tatkala IA berkata, “Wahai Nabi Allah. Tolonglah saya, Doakan saya agar Tuhan berkenan mengampuni dosa keji saya.” “Apakah dosamu wahai wanita ayu?” tanya Nabi Musa as terkejut. “Saya takut mengatakannya.” jawab wanita cantik. “Katakanlah jangan ragu-ragu!” desak Nabi Musa. Maka perempuan itu pun terpatah bercerita, “Saya ……telah berzina.” Kepala Nabi Musa terangkat, hatinya tersentak.

Perempuan itu meneruskan, “Dari perzinaan itu saya pun……lantas hamil. Setelah anak itu lahir, langsung saya……. Cekik lehernya sampai……tewas”, ucap wanita itu seraya menagis sejadi-jadinya. Nabi musa berapi-api matanya. Dengan muka berang IA menghardik,” Perempuan bejad, enyah kamu dari sini! Agar siksa Allah tidak jatuh ke dalam rumahku karena perbuatanmu. Pergi!”…teriak Nabi Musa sambil memalingkan Mata karena jijik.

Perempuan berwajah ayu dengan hati bagaikan kaca membentur batu, hancur luluh segera bangkit Dan melangkah surut. Dia terantuk-antuk ke luar dari dalam rumah Nabi Musa. Ratap tangisnya amat memilukan. Ia tak tahu harus kemana lagi hendak mengadu. Bahkan IA tak tahu mau di bawa kemana lagi kaki-kakinya. Bila seorang Nabi saja sudah menolaknya, bagaimana pula manusia lain bakal menerimanya? Terbayang olehnya betapa besar dosanya, betapa jahat perbuatannya. Ia tidak tahu bahwa sepeninggalnya, Malaikat Jibril turun mendatangi Nabi Musa. Sang Ruhul Amin Jibril lalu bertanya, “Mengapa engkau menolak seorang wanita yang hendak bertobat dari dosanya? Tidakkah engkau tahu dosa yang lebih besar daripadanya?” Nabi Musa terperanjat. “Dosa apakah yang lebih besar dari kekejian wanita pezina Dan pembunuh itu?” Maka Nabi Musa dengan penuh rasa ingin tahu bertanya kepada Jibril.

“Betulkah Ada dosa yang lebih besar dari pada perempuan yang nista itu?” “Ada!” jawab Jibril dengan tegas. “Dosa apakah itu?” tanya Musa kian penasaran. “Orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja Dan tanpa menyesal. Orang itu dosanya lebih besar dari pada seribu kali berzina. Mendengar penjelasan ini Nabi Musa kemudian memanggil wanita tadi untuk menghadap kembali kepadanya. Ia mengangkat tangan dengan khusuk untuk memohonkan ampunan kepada Allah untuk perempuan tersebut.

Nabi Musa menyadari, orang yang meninggalkan sembahyang dengan sengaja Dan tanpa penyesalan adalah sama saja seperti berpendapat bahwa sembahyang itu tidak wajib Dan tidak perlu atas dirinya. Berarti IA seakan-akan menganggap remeh perintah Tuhan, bahkan seolah-olah menganggap Tuhan tidak punya hak untuk mengatur Dan memerintah hamba-Nya. Sedang orang yang bertobat Dan menyesali dosanya dengan sungguh-sungguh berarti masih mempunyai iman didadanya Dan yakin bahwa Allah itu berada di jalan ketaatan kepada-Nya. Itulah sebabnya Tuhan pasti mau menerima kedatangannya.

Dikutip dari buku 30 kisah teladan - KH Abdurrahman Arroisy)

Dalam hadist Nabi SAW disebutkan :
1. Orang yang meninggalkan sholat lebih besar dosanya dibanding dengan orang yang membakar 70 buah Al-Qur’an
2. Membunuh 70 nabi
3. Bersetubuh dengan ibunya di dalam Ka’bah.
4. Dalam hadist yang lain disebutkan bahwa orang yang meninggalkan sholat sehingga terlewat waktu, kemudian IA mengqadanya, maka IA akan disiksa dalam neraka selama satu huqub. Satu huqub adalah delapan puluh tahun. Satu tahun terdiri dari 360 Hari, sedangkan satu Hari di akherat perbandingannya adalah seribu tahun di dunia.

Demikianlah kisah Nabi Musa Dan wanita pezina Dan dua hadist Nabi, mudah-mudahan menjadi pelajaran bagi Kita Dan timbul niat untuk melaksanakan kewajiban sholat dengan istiqomah. [1]

Dalam Al-qur'an telah banyak dan jelas ayat tentang perintah shalat.
Dalam pembahasan hadis-hadis tentang apakah orang yang meninggalkan sholat itu kafir, disimpulkan:
Al Qur’an, hadits dan perkataan sahabat bahkan ini adalah ijma’’ (kesepakatan) mereka serta perkataan beberapa ulama tabi’in dan sesudahnya menyatakan bahwa "orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja adalah kafir (keluar dari Islam)."

Ibnul Qayyim dalam Ash Sholah, hal. 56, mengatakan:
”Tidakkah seseorang itu malu dengan mengingkari pendapat bahwa orang yang meninggalkan shalat adalah kafir, padahal hal ini telah dipersaksikan oleh Al Kitab (Al Qur’an), As Sunnah dan kesepakatan sahabat. Wallahul Muwaffiq (Hanya Allah-lah yang dapat memberi taufik).” [2]
Mengapa memilih Islam sebagai agama? Mengapa menuliskan "Islam" sebagai agama di KTP? Apakah telah dan sedang menjalankan rukun-rukun Islam? Padalah rukun adalah sesuatu yang harus dipenuhi untuk sahnya suatu pekerjaan, dalam hal ini sah sebagai pemeluk Islam.
Dari Abu Abdurrahman, Abdullah bin Umar bin Al-Khottob radiallahuanhuma dia berkata : Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Islam dibangun diatas lima perkara; Bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa nabi Muhammad utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji dan puasa Ramadhan. (Riwayat Turmuzi dan Muslim) [3]
Abu Hurairah berkata" Aku mendengar Rasullullah SAW bersabda:

"Sesungguhnya yang pertama kali dihisab pada hari kiamat dari amalan manusia adalah solatnya, jika amalan solatnya baik maka dia akan bahagia dan beruntung, Jika amalan solatnya buruk maka dia termasuk orang-orang yang rugi. Jika terdapat kekurangan sedikit pada amalan solat fardhunya, maka Allah Azza Wajalla Berfirman:

" Lihatllah ( hai para malaikat ) apakah hambaku mengerjakan solat sunat untuk menyempurnakan solat fardhunya?'

Kemudian jika hambaku menyempurnakan solat sunat, maka solat sunat itu untuk menyempurnakan solat fardu yang kurang, kemudian seluruh amalannya diperlakukan seperti itu "

( Sahih Tirmidzi, Ibnu Majah no 193, 1425,1426) [4]
Setelah ini, apakah kita masih akan meninggalkan sholat di dalam Islam? Hidup adalah pilihan dan setiap pilihan terdapat konsekuensinya.
Wallahu 'alam bi shawab 
 
Daftar Pustaka:  
[1] copas dari http://kisahpenyejukhati.blogspot.com/2011/06/dosa-yang-lebih-hebat-dari-berzina.html dengan sebelumnya membaca di Bundel Soal GAMAIS2009 "Fisika" halaman 23 dan 33.
[2] http://rumaysho.wordpress.com/2009/04/22/apakah-orang-yang-meninggalkan-shalat-itu-kafir-alias-bukan-muslim/
[3] copas dari http://haditsarbain.wordpress.com/2007/06/09/hadits-3-rukun-islam/  
dengan sebelumnya membaca dalam buku KEAKHWATAN 1 "Bersama Tarbiyah Ukhti Muslimah Tunaikan Amanah" karangan  Cahyadi Takariawan, dkk
[4] copas dari hhttp://hadith2u.blogspot.com/2011/05/amalan-pertama-yang-dihisab.html dengan sebelumnya membaca dalam buku KEAKHWATAN 1 "Bersama Tarbiyah Ukhti Muslimah Tunaikan Amanah" karangan  Cahyadi Takariawan, dkk

Senin, 10 Oktober 2011

Use 5 matter before 5 matter!


بِِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Dengan Nama Allah, Maha Pengasih, Maha Penyayang.

وَالْعَصْرِ
1. Demi waktu,
1. By Al-'Asr (the time).

إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ
2. Sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi.
2. Verily! Man is in loss,

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
3. Kecuali orang-orang yang beriman dan berbuat kebaikan, dan saling menasihati untuk kebenaran, dan saling menasihati untuk kesabaran.
3. Except those who believe (in Islamic Monotheism) and do righteous good deeds, and recommend one another to the truth (i.e. order one another to perform all kinds of good deeds (Al-Ma'ruf)which Allah has ordained, and abstain from all kinds of sins and evil deeds (Al-Munkar)which Allah has forbidden), and recommend one another to patience (for the sufferings, harms, and injuries which one may encounter in Allah's Cause during preaching His religion of Islamic Monotheism or Jihad, etc.).
[QS. al-Ashr (103:1-3)]



"Gunakan kesempatan yang masih diberi moga kita takkan menyesal
Masa usia kita jangan disiakan kerna ia takkan kembali
Ingat lima perkara sebelum lima perkara
Sihat sebelum sakit
Muda sebelum tua
Kaya sebelum miskin
Lapang sebelum sempit
Hidup sebelum mati "
(Reihan - Demi Masa)

"Kewajiban itu lebih banyak dari waktu yang anda miliki. Maka bantulah orang lain supaya memanfaatkan waktunya. kalau anda berurusan, persingkatlah pelaksanaannya"
(Imam Hasan Al-Banna)