About me

Foto saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Instagram: @dewikusumapratiwi Facebook: https://www.facebook.com/dewi.kusumapratiwi

Jumat, 04 April 2014

Catatan Pendakian Double (Four) Summit Gunung Gede (2958 mdpl) - Pangrango (3019 mdpl)

Sekilas tentang jejak summit attack ku:
http://dewikusumapratiwi.blogspot.com/2013/11/akhir-dari-sebuah-pencarian.html

Sulit memberikan quotes untuk perjalanan ini. Kompleks sekali. Perjalanan yang membuat aku semangat, takut, bahagia, tertantang, takjub, kecewa, dan banyak lagi. Perjalanan termenakutkan namun membuat kegalauan selama ini terkubur dalam-dalam di dalam gunung itu.

Persiapan di Sanggar Pramuka ITB
Kondisi sanggar Pramuka ITB saat kami packing bersama
(Jumat, 11 Oktober 2013, pukul 15.00-19.00 WIB)

Super “tim Salabintana”
Salabintana, merupakan sebuah track hutan yang masih asli. Jalannya nanjak konstan, semakin ke atas, semakin terjal. Hanya ada jalan setapak dengan tepi jurang. Banyak pacet yang sering menyerang kami yang melewatinya, menyedot darah-darah kami, dan membuat sebagian dari kami berteriak histeris karenanya (karena jijik, haha). Di sana juga masih ada harimau, ular, kera, dan hewan-hewan lainnya yang membuat kami selalu harus waspada, terutama ketika malam tiba. Ini bukan karangan, namun itulah kondisi track yang kami ber-18 lalui.
Rasa lelah, rasa takut, was-was, kekhawatiran kami hadapai bersama dengan hujan-hujanan. Hal itu yang membuat kami menjadi dekat. Saling menjaga, saling mengerti, saling peka, saling menyemangati, saling menunggu, saling bersabar, saling berdo’a dan yang paling penting adalah saling menurunkan ego-ego kami. Kami adalah tim yang solid dan kompak.
Perjalanan double summit Gede-Pangrango oleh Tamasya Ganesha beranggotakan 35 orang. 18 orang melalui jalur Salabintana, 17 orang melalui jalur Cibodas. Tim Salabintana terbagi lagi menjadi 2 tim karena ketuanya harus mengurus simaksi terlebih dahulu di Cibodas. “Tim depan” berjumlah 14 orang: Kak Doni, Nia, Ucup, Anik, Hafizh, Lily, Galih, Sofi, Yoga, Yazid, aku, Ugun, kak Syifa, Pras, yang mulai tracking sejak sekitar pukul 11 siang. “Tim belakang” berjumlah 4 orang: Arbi (ketua tim), Widi, Kamil, dan Verry yang mulai menyusul tracking sekitar pukul 3 sore.
Sebelum naik, kami mendapatkan peringatan dari bapak penjaga basecamp Salabintana tentang kondisi track tersebut, juga bahaya-bahaya yang mungkin mengancam kami. Pesan yang beliau sampaikan adalah kami tidak boleh berpisah, selain itu kami disuruh menghentikan perjalanan ketika matahari tenggelam karena saat itulah harimau-harimau di sana berkeliaran. Namun dengan do’a kami, keberanian serta tanggung jawab PJ pengganti tim (kak Doni dan Pras), dan ketsiqahan kami sebagai anggota tim, kami terus melanjutkan perjalanan hingga tiba di "bukit teletabies" yang luas dan penuh dengan bunga edelweiss, yaitu alun-alun Surya Kancana.
Tempat istirahat, shalat subuh berjama'ah dan sarapan pagi (Pondok Halimun --> basecamp Salabintana)
(Sabtu, 12 Oktober 2013, pukul 02.00-06.00 WIB)
di Basecamp Salabintana
Rapat khusus pada saat kondisi genting
main werewolf
Persiapan tracking
Kegiatan di Pondok Halimun (basecamp jalur salabintana), sambil menanti hasil simaksi (nomor surat izin masuk) dari ketua tim yang berada di basecamp Cibodas
(sabtu, 12 Oktober 2013, pukul 06.00-11.00 WIB) 
Super "Tim Salabintana"
(dari kiri belakang: Kamil, Pras, Lily, Sofi, Galih, Ucup, aku, Very, Ugun, Anik, kak Syifa, Yazid, Hafizh.
dari kiri depan: kak Doni, Yoga, Nia)
Super "Tim Salabintana"
Yang penuh perjuangan mengurus simaksi, luntang-lantung di Cibodas selama 2 hari 1 malam (Widi dan Arbi)

Kenangan Salabintana
Tracking pun kami lalui dengan meninggalkan notes di spot-spot tertentu untuk memberikan pesan kepada “tim belakang”. Kami semua berharap, sampai di alun-alun Surya Kancana pada saat maghrib tiba untuk menghindari bahaya binatang buas di malam hari. Dengan beban yang cukup berat (perbekalan double summit selama 3 hari - malam), kami memunculkan strong way kami dan menumbuhkan sikap anti menyerah. Target kami sampai di alun-alun Surya Kancana dengan selamat dan kami berharap “tim belakang” pun mampu segera mengejar kami di tengah perjalanan.
Pada saat dzuhur tiba, kami mencari spot untuk shalat. Pacet-pacet sudah mulai menyerang kami saat itu. Semua yang menjadi korban pacet mengeluarkan ekspresi takut dan jijiknya dengan gaya masing-masing. Ada yang cool, ada yang teriak-teriak, ada juga yang berteriak histeris, termasuk aku, hehe. Kami saling memeriksa seluruh anggota tubuh kami apakah ada pacetnya atau tidak. Setelah shalat dzuhur, kami makan siang sandwich isi sosis, tomat dan keju dengan olesan saos tomat dan mayonaise. Oiya, pagi harinya kami hanya sarapan seadanya (mie instant dan potongan browniez mocaf). Pagi itu kami memang tidak terlalu memperhatikan asupan energi kami karena hectic dengan urusan nomor simaksi yang cukup membuat kami heboh pada pagi itu. Tanpa simaksi kami tidak bisa memulai tracking, padahal target kami bisa tracking pagi supaya kami tiba di alun-alun Surya Kancana sebelum maghrib tiba. Namun di Cibodas, ketua tim kami mengalami banyak kendala. 
Perjalanan kami lanjutkan, hingga sekitar pukul 2 siang kami melewati track yang tepinya jurang. Suara-suara binatang kami dengar sehingga sulit membedakan antara suara binatang dengan suara peluit (yang kami gunakan untuk saling memberi kode). Karena saat itu “tim depan” pun terbagi menjadi 2 tim lagi yang kami sebut sebagai “tim kuat” (tim pendahulu yang bertugas memasang notes-notes) dan ‘tim lemah” (tim sweeper yang siap mengkeep orang-orang sakit). “Tim lemah” berjumlah 5 orang, dan aku berada di dalamnya. Kami berjalan lebih lambat daripada “tim kuat”. Namun sesekali “tim kuat’ menunggui kami untuk beristirahat bersama di spot-spot tertentu untuk mengisi energi dan mengevakuasi pacet yang menggigit kami, kemudian jalan lagi mendahului kami.
Sebelum meninggalkan sumber air, kami memenuhi botol-botol kami dengan air suangi di sana
(Sabtu, 12 Oktober 2013, pukul 11.00 WIB)
Kondisi awal track Salabintana
Spot istirahat di beberapa tempat
Makan siang dan shalat dzuhur berjama'ah
(Sabtu, 12 oktober 2013, sekitar pukul 13.30 WIB kami baru menemukan spot untuk shalat dan makan siang)
Pacet
Sekitar pukul 3 sore, hujan mulai turun, kami semua mengeluarkan ponco dan raincoat. Keadaan semakin gelap dan mencekat. Harapan semakin menguat untuk segera sampai di alun-alun Surya Kancana. Pada pukul 4 sore, aku membaca plang penunjuk arah bertuliskan 6.5 KM, yang artinya kami sudah berjalan sejauh 6.5 KM secara vertikal (vertikal bukan merupakan panjang track). Saat itulah aku mulai takut karena dalam waktu 2 jam rasanya impossible untuk sampai di alun-alun Surya Kancana yang jaraknya 11 KM secara vertikal, sedangkan semakin ke atas, track nya semakin berat (terjal). Kami sudah tidak lagi mempedulikan pacet-pacet yang menyerang kami, setelah banyak yang menjadi korban. Banyak yang luka karenanya. Ada yang luka di tangannya, di lehernya, bahkan ada yang luka di pusarnya. Haha. Saat itu, yang paling terkenal menjadi dokter bedah pacet adalah Yazid, namun Yazid sendiri terserang pacet dalam keadan tidak sadar hingga pacetnya meletus sehingga darahnya membanjiri tangan Yazid karena lama tidak dievakuasi.
Kondisi hutan mulai lebat dan track semakin terjal
(Sabtu, 12 Oktober 2013, pukul 15.00-16.00 WIB)
Kami terus fokus pada perjalanan dan tujuan. Gigitan pacet dan basah karena hujan yang 'mematikan' gaya kami, sesaat kami lupakan. Kami sudah mulai terbiasa olehnya. Pada saat menjelang maghrib, “tim kuat” menunggui kami. Setelah bertemu, di sana kami disatukan. Tidak ada lagi tim kuat dan tim lemah. Kami menjadi satu tim kembali. Jika ada yang jalannya lambat karena kelelahan maka semua ikutan jalan lambat. Saat itu kami mengabaikan pesan dari bapak di basecamp. Meski matahari telah tenggelam, kami tetap bertekad untuk melanjutkan perjalanan karena keadaan di sana lebih terlihat rawan. Menurut kedua PJ, lebih baik kami terus berjalan daripada mendirikan tenda di tempat berbahaya tersebut. Para anggota saat itu menjadi anggota-anggota yang tsiqah (penurut). Tidak ada yang membantah, termasuk aku yang sebenarnya takut jika harus melanggar pesan bapak di basecamp, namun aku juga tau kalau tempat itu memang tidak aman untuk kami beristirahat.

Bersatu di "Spot Macan"
Dengan inputan energi yang minim namun dengan kekuatan do’a, kami melanjutkan perjalanan. Saat itu kami tidak shalat maghrib dan meniatkan men-jama’ takhir dengan isya di alun-alun Surya kancana karena tidak ada spot datar lagi di sana. Tracknya sangat terjal, licin, dan banyak ancaman bahaya binatang buas. Hingga pada plang 8.5 KM, saat itu sekitar pukul setengah 8 malam, kami menemukan sumber air di tempat yang bernama Cileutik. Katanya, di sana merupakan tempat harimau menggunakan sumber air, namun saat itu di antara anggota tim tidak ada yang sadar. Alhamdulillaah, kami semua aman. Kami di sana untuk sekedar istirahat dan memanfaatkan sumber air tersebut, yang berupa semacam genangan air hujan, untuk membuat minuman hangat. Beberapa menit setelah kami sampai di sana, “tim belakang” (ketua tim, dkk) menyusul kami. Kami semua bersorak dengan penuh rasa syukur. Orang-orang yang kami nantikan dan kami harapkan selamat tiba. Mereka pun juga mengkhawatirkan kami. Saat itu, kami sudah lengkap ber-18 menjadi satu tim. Sungguh, saat itu, rasa syukur yang sangat luar biasa kami ungkapkan karena Allaah telah mempertemukan kami kembali dengan keadaan selamat di tempat itu, meskipun kami masih harus menempuh perjalanan 2,5 KM vertikal lagi menuju alun-alun Surya Kancana.
Di Cileutik
(Sabtu, 12 Oktober 2013, sekitar pukul setengah delapan malam)
Arbi, Kamil, Verry, dan Pras mendahului kami untuk membangun tenda dan memasak nasi, supaya ketika sampai di alun-alun Surya Kancana, kami bisa segera makan dan tidur. Sweeper paling belakang digantikan oleh Widi yang merupakan porter level IV seperti Pras juga. :-D Mulai pukul 9, kami sudah menemui batas vegetasi alam, di mana kami dapat melihat langit setelah sekitar 10 jam kami berjalan di dalam hutan yang lebat dan cukup gelap. Namun ternyata batas vegetasi itu PHP. Setiap kami melihat langit, tiba-tiba tertutup lagi, padahal jalan yang kami lewati selalu nanjak.

Tiba di Alun-alun Surya Kancana dengan Selamat
Hingga akhirnya sebagian dari kami sampai di alun-alun Surya Kancana pukul 11 malam dan sebagian kecil sampai pada pukul 12 malam karena ada yang sakit. Setelah sujud syukur dan beribadah shalat maghrib dan shalat isya, kami bergabung dengan “tim advance” untuk memasak. Menu makan pada malam itu adalah nasi, martabak mie-telur, dan tempe goreng. Pukul setengah 2 dini hari, makanan baru tersaji dan kami melakukan makan malam bersama. Setelah makan, sebagian langsung masuk tenda dan tidur, sebagian beres-beres. Yang paling terakhir masuk tenda adalah aku, Kamil, dan Arbi, pukul setengah 4 pagi. Perjanjiannya, pukul 4 pagi kami harus bangun untuk melaksanakan shalat subuh dan pukul setengah 5 pagi kami harus sudah summit attack bersama (puncak Gede dari Surya Kancana, selambat-lambatnya dapat ditempuh dengan waktu setengah jam sampai satu jam). Kami punya janji dengan tim cibodas untuk menikmati sunrise bersama full team Tamasya Ganesha di puncak Gede. 
Makan malam di alun-alun surya Kancana
(Minggu, 13 Oktober 2013, sekitar pukul 2 dini hari)

Summit Attack Puncak Gede
Pukul 4 pagi aku membangunkan mereka, namun mereka tidak segera bangun. Wajar, kami sangat kelelahan. Hingga pukul 5 pagi, semuanya baru selesai shalat subuh, itu juga dilakukan di tenda masing-masing karena kondisi di sana cukup dingin. Sebagian membuat minuman hangat berenergi. Setelah minum bersama, kami mulai summit attack. Sunrise memang sudah lewat tapi seenggaknya kami memenuhi janji untuk bertemu full team dengan tim Cibodas di puncak Gede.
Ternyata tim Cibodas sudah standbay di puncak Gede dari pukul setengah 5 pagi. Mereka sampai di Kandang Badak (nama tempat camp mereka) pukul 4 sore dan mulai summit attack pukul 2 dini hari. Namun sayang, mereka juga tidak dapat menikmati sunrise karena puncak Gede tertutup oleh kabut.
Summit attack puncak Gunung Gede
(Minggu, 13 Oktober 2013, pukul 05.30-06.30 WIB)
Ngemil di Puncak Gede
"Tamasya Ganesha"
"Tazzam" at Puncak Gunung Gede 
"Sahabat Sanggar" ITB
Ketemu "tim mata angin HIMAFI" di puncak Gede
aku dan kak Syifa
aku dan Lily
di Puncak Gunung Gede 2958 mdpl
Setelah berpoto-poto di puncak Gede, kami (tim Salabintana) mengajak tim Cibodas untuk mampir di alun-alun Surya Kancana dan makan pagi bersama kami. Kami memasak menu nasi, tumis brokoli-wortel, dan tempe kecap. Sebagian memasak, sebagain packing. Hingga sekitar pukul 10 siang, hujan mulai turun, kami segera makan dalam keadaan hujan-hujanan.
Tempat camp pertama tim Salabintana (Alun-alun Surya kancana)
kegiatan memasak
(Minggu, 13 Oktober 2013, pukul 08.30-10.00 WIB)
Kegiatan makan
(Minggu, 13 Oktober 2013, pukul 10.00-11.00 WIB)
Kabut di Alun-alun Surya Kancana

Menuju Kandang Badak bersama “Tim Cibodas”
Setelah makan, semua menuju area camp, Kandang Badak, melalui puncak Gede lagi. Sebagian sampai di Kandang Badak pukul 1 siang, sebagian sampai pukul 2 siang, sebagain sampai pukul 5 sore karena ada yang sakit (kram perut) dari malam harinya saat di Salabintana. Track turun ke puncak Gede memang relatif mudah. Sebagian besar dari kami melaluinya dengan berlari, termasuk aku.
Kondisi kandang badak sangat ramai. Kami agak kesulitan mencari tempat camp sehingga tenda kami agak terpisah-pisah. Ketiga tenda tim Salabintana pun dapat berdiri sekitar pukul 4 sore sejak pencarian spot dari pukul 1 siang. Saat sebagian mendirikan tenda, sebagian membuat makan siang. Jadwal makan kami saat itu memang kacau, padahal menu-menu yang kami bawa cukup hedon. Hehe. Kalau kata mereka, saat itu adalah naik gunung termewah dengan makanan yang banyak dan anti mainstream dari spek yang biasa dibawa oleh Tamasya Ganesha. Makanan-makanan yang kami bawa seperti bekal piknik. Hehe. Menu makan siang seharusnya adalah coco crunch dan susu, namun spek tersebut dibawa oleh tim yang mendampingi teman kami yang sakit. Kami mengganti menunya dengan nasi kocek mie goreng-telur. Pukul 5 sore kami baru mulai makan (pengganti makan siang).
Kondisi Kandang Badak lebih dingin daripada alun-alun Suya Kancana. Entah mengapa, padahal alun-alun Surya Kancana jauh lebih sepi dan jauh lebih luas. Sebagian dari kami tidur, sebagian lagi main-main, dan sebagian beres-beres. Saat itu aku mencoba untuk mandi dan mengganti baju setalah masak. Aku mandi ala gunung, yaitu menggunakan tissue basah. Haha. Itu pertama kalinya aku mandi di gunung. Perjalanan Gede-Pangrango memang perjalanan terbersih karena kondisnya sejuk dan banyak sumber mata air meskipun tidak ada yang mandi di sana selain bermain air di air terjun Cibodas esok harinya. Itu juga sebagian saja dari tim karena mereka tidak mengikuti summit attack ke Puncak Gunung Pangrango.
Track menuju Kandang Badak dari puncak Gede
(Minggu, 13 Oktober 2013, pukul 12.00-14.00 WIB)
Kondisi tempat camp di Kandang Badak

Bermalam di Kandang Badak dan Pembagian tim Summit Attack Puncak Pangrango
Setelah shalat maghrib (masing-masing shalat di tenda karena kondisi di sana sulit digunakan untuk shalat berjama’ah, saat itu karena tempatnya terbatas), sebagian dari kami main werewolf di tenda porter. Saat itu kami menamakannya sebagai “rumah hijau” karena tendanya berwarna hijau. Kami melanjutkan permainan werewolf yang tertunda di basecamp Salabintana saat menunggu ketua tim mengurus simaksi. Sementara itu, tim Cibodas membuat makan malam untuk kami semua (ceritanya gantian menjamu karena saat di alun-alun suya Kancana, kami yang menjamu mereka). Sekitar pukul 8 malam, kami diundang makan malam oleh tim Cibodas. Menu makan saat itu terasa nikmat, yaitu nasi, mie goreng, sosis, telur, dan sarden.
Pada saat makan malam, kami sambil briefing untuk summit attack ke puncak Pangrango. Melihat kondisi tim Salabintana, ketua tim Cibodas yang juga seorang CEO sekaligus ketua komunitas "Tamasya Ganesha" (Bibit) memberikan opsi kepada semua anggota tim untuk memilih opsi: “mau banget” summit attack puncak Pangrango; “mau aja”; atau “gak mau”. Kami akan dikelompokkan berdasarkan opsi karena waktu kami terbatas. Waktu yang dibutuhkan untuk sampai di puncak Pangrango sekitar 4 jam menurut perkiraannya. Bibit membuat target summit attack pukul 2 malam sehingga kami dapat menikmati sunrise di puncak Pangrango. Kemudian turun ke lembah Mandalawangi sebentar, setelah itu naik lagi ke puncak Pangrango untuk kembali lagi ke kandang Badak. Targetnya sampai di kandang badak lagi pukul 8 pagi. Tim yang tidak ikut summit attack Pangrango diharapkan membuat sarapan supaya kami semua segera sarapan pukul 8 pagi kemudian packing. Target kami pukul 10 pagi sudah turun dari Kandang Badak sehingga pukul 2 siang kami sudah keluar basecamp untuk menuju ke Bandung. Target akhirnya, maksimal waktu maghrib sudah sampai di Bandung. Kami mengejar target waktu tersebut karena malamnya adalah malam takbir Idul Adha sehingga kami semua berharap dapat takbiran di tempat tujuan masing-masing.
Karena itu dan karena kondisi fisik, banyak yang tidak ikut summit attack ke puncak Pangrango, terutama mereka yang malas dan sakit. Tidak ada kata kelelahan karena saat itu semuanya lelah. Hanya ada kata “mau” atau “tidak”; “Malas” atau “semangat”. Haha. Setelah didata, ternyata yang “mau banget” dan “mau aja” dapat dibagi menjadi beberapa tim kecil yang terdiri dari 3 orang. 1 tim harus berisi minimal 1 perempuan dan 2 laki-laki. Jumlah laki-laki dibandingkan perempuan yang mengikuti double summit Gede-Pangrango Tamasya Ganesha saat itu memang kebetulan pas 3:1. Saat itu aku ingin di tim kecilku minimal ada 2 orang perempuan sehingga aku mencari gabungan, hingga aku mendapatkan tim gabungan. Aku satu tim dengan Lily, Arbi, Hafizh, dan Kamil. Intermezzo dikit: Kamil itu cowok yang strong. Kecil, tinggi dan kuat. Dia jalannya cepet banget. Kekhasan dia adalah selalu starching sebelum jalan. Sedangkan kami pada umumnya, starching saat di basecamp saja. Kamil juga kuat berpuasa sunnah meskipun ikutan summit attack ke Gunung Pangrango. Sedangkan Hafizh adalah salah satu cowok favourite di tim salabintana karena dia sangat care. Hafizh orangnya gak banyak ngomong tapi dia sangat baik, setia dan perhatian. Kalau Lily memang sudah kukenal sejak summit attack pertamaku (di Merbabu), dia nice, lucu, dan menyenangkan. Lily juga baik dan setia. Dia adalah teman terdekatku saat perjalanan double summit Gede-Pangrango. Sedangkan Arbi adalah ketua tim yang sangat baik dan rajin.

Summit Attack Puncak Pangrango
Perjalanan menuju puncak Pangrango cukup asyik, dimulai pada pukul setenagh 4 pagi karena kami terlambat bangun. Saat itu aku mulai membangunkan tim salabintana pukul 3 pagi karena pada saat bangun pukul 2 pagi, aku tidak merasa tim Cibodas membangunkan kami.  Saat itu aku juga masih malas bangun karena yang lain masih tertidur pulas. Hingga pukul 3 pagi kurang, aku mulai terusik karena dengan kekhawatiran semua batal summit attack attack ke puncak Pangrango, padahal Lembah Mandalawangi menjadi impian kami. Mandalawangi adalah tempat shooting film Gie, tempat di mana Soe Hoe Gie berkunjung ke sana sebelum ke Gunung Semeru.
Aku membangunkan Lily dan mengajaknya membangunkan yang lain. Setelah membangunkan orang-orang di tendaku, aku membangunkan tenda-tenda cowok Salabintana bersama Lily. Kami kesulitan membangunkan mereka karena mereka tidur sangat nyenyak sehingga aku mengajak Lily menuju tenda tim Cibodas yang terpisah dengan kami. Ternyata sebagian dari mereka sudah menunggu kami sejak pukul 2 dini hari. Sepertinya mereka sengaja tidak membangunkan kami karena khawatir mengganggu nyenyaknya istirahat kami. Mereka tahu kalau kami, tim salabintana, lebih capek dari mereka.
Setelah aku mengajak tim Cibodas merapat ke tenda tim Salabintana, tim sebagian Salabinta pun berhasil kami bangunkan. Kemudian Bibit memimpin tim summit attack untuk membaginya ke dalam tim-tim kecil seperti yang direncakan sebelum tidur dan menyuruh kami mengambil air di sumber air sebagai perbekalan masing-masing tim. Tidak lupa kami membawa makanan, biskuit, crackers, sereal, dan minuman berenergi. Akhirnya kami summit attack tidak lebih dari setengah keseluruhan tim. Bahkan orang yang malamnya daftar ikutan summit attack tidak jadi ikut karena malas bangun. Haha.
Mereka yang tidak ikut summit attack, sebagian besar berpuasa sunnah arafah. Setelah mereka makan sahur dan shalat subuh, mereka jalan-jalan ke air terjun dan gua. Gede-Pangrango via Cibodas memang memiliki banyak sekali spot keindahan alamnya, seperti air terjun, sumber air panas, padang edelweiss seperti alun-alun Surya Kancana dan lembah Mandalawangi, jembatan kayu panjang, dll di gunung tersebut.
Kami yang summit attack melewati track yang banyak pohon tumbangnya sampai membuatku sering sekali menyingkap rok. Saat itu juga dingin sekali sehingga perlengkapan yang aku pakai cukup lengkap seperti jaket double, syal, kaos tangan dan topi hangat aku pakai. Terkadang kami melewati tebing sehingga kami harus saling tolong-menolong, tarik-menarik. Tim-tim kecil yang kami bentuk pada malam harinya tidak terlalu kaku karena pada akhirnya kami summit attack bersama. Kami semua summit attack dengan semangat. Hingga subuh menjelang, kami shalat subuh berjama’ah di tengah-tengah summit attack.
Shalat subuh berjama'ah di daerah summit attack
(Senin, 14 Oktober 2013, waktu subuh)
Sunrise di daerah summit attack --> Puncak Gunung Gede yang terlihat dari daerah summit attack ke Puncak Gunung Pangrango
Track summit attack ke Puncak Gunung Pangrango

Puncak Pangrango dan Lembah Mandalawangi
Kami gagal sunrise di puncak. Namun kami bisa sampai puncak sekitar pukul setengah 7 pagi. Alhamdulillaah, kami semua sampai di Puncak Pangrango dengan selamat. Puncak Pangrango tidak terlalu bagus, sehingga kami tidak lama-lama di sana. Kami turun ke Lembah Mandalawangi. Perjalanan ke sana sekitar 5-10 menit. Di sana lah kami berekspresi. Ada yang poto dengan gaya pre wedding, poto gaya loncat2, poto bersama, dan poto-poto lain yang lebih jayus. Kami berada di sana cukup lama karena memang tempatnya asyik dan romantis.
Puncak Gunung Pangrango 3019 mdpl
"Happy Sunrise" at Summit of Pangrango (aku, Very, Lily, Ugun, Arbi, Bibit)
Lembah Mandalawangi
aku dan Lily
Atraksi di Lembah Mandalawangi
"Tim Kecil Bahagia" (aku, Arbi, Hafiz, Lily, Kamil)
"Happy Sunrise" (Arbi, aku, Bibit, Lily, Very)
"Tamasya Ganesha"
(Senin, 13 Oktober 2013, pukul 06.30-07.30.00 WIB)
Sementara itu, tim yang tidak mengikuti summit attack ke Puncak pangrango, jalan-jalan ke air terjun Pancaweleuh dan sekitarnya.
Tim jalan-jalan yang ke air terjun Pancaweleuh

Mereka bertemu dengan tim "Si Bolang" yang baru saja shooting
Sekitar pukul setengah 8 pagi, kami yang di Lembah Mandalawangi naik lagi ke Puncak Pangrango, kemudian turun ke Kandang Badak. Karena itulah kami menamakannya sebagai “Four Summit Gede-Pangrango” (naik puncak Gede, turun ke Surya kancana, naik lagi ke Gede, turun ke Kandang Badak, kemudian naik ke Pangrango, turun ke mandalawangi, naik lagi ke Pangrango, kemudian turun lagi ke Kandang Badak).

Tracking dengan berlari saat turun dari puncak Pangrango karena mengejar target waktu

Menyempatkan diri berpoto di persimpangan Gunung Gede dan Gunung Pangrango sambil menunggu tim yang masih tertinggal
Sampai di Kandang Badak pukul 9 pagi. Kami membantu “tim jalan-jalan” (tim yang tidak mengikuti summit attack Puncak Pangrango dan memiliki cerita indah tersendiri dengan jalan-jalannya) membuat sarapan karena mereka juga keasyikan jalan-jalan. Sekitar pukul setengah 11 kami sarapan bersama dengan menu nasi goreng sosis-telur, sarden, roti tawar, energen, dan lain-lain. Sisa bahan makanan di sana hampir semuanya kami masak, sebagian kami berikan kepada tim pendaki lain karena kami kelebihan bahan makanan. Selesai sarapan sekitar pukul 11 pagi. Kemudian kami beres-beres, shalat berjama’ah dzuhur-ashar di tempat bekas kami mendirikan tenda. Hingga kami mulai turun sekitar pukul setengah 2 siang, melebihi target yang kami buat pada malam harinya.
masak
menu makan siang
tenda-tenda tim Salabintana
Dua orang porter level IV (Widi dan Pras)
Menurut dewan syuro Tamasya Ganesha, porter level IV adalah orang yang mampu membawa sebagian logistik cewek, logistik umat, tenda, dan mampu menjaga 'kaewong' orang lain selama tracking. Kekekekeke
Packing
(Senin, 13 Oktober 2013, pukul 10.00-13.00 WIB)

Pengalaman Pribadi saat turun ke Basecamp
Kami turun dengan langkah yang cepat. Kami semua mengejar waktu secepat-cepatnya. Tidak ada target waktu, namun kami semua ingin segera sampai di bawah karena kami semua sudah terlambat dari target. Sebelum turun, aku sempat bertanya kepada yang lain, kira-kira berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk sampai di bawah. Kata tim Cibodas, tracknya mudah, jadi tidak akan terlalu lama. Dengan info tersebut, meski kita semua mengejar waktu, namun kami, terutama tim Salabintana sempat meikmati beberapa keindahan alam di sepanjang track Cibodas.
Dari Kandang Badak, aku sengaja mengambil carier Bibit yang padat dengan sampah dan rangka besi tenda. Aku membawanya turun ke basecamp. Entah saat itu aku lagi pengen sok-sokan. Aku ingin latihan menaikkan levelku dengan membawa carier berat. Lagian, saat itu aku sudah mampu menuruni track dengan berlari (sejak dari Gunung Sumbing). Saat membawa carier Bibit, banyak yang mengkhawatirkanku, namun aku tetap berusaha kelihatan kuat meskipun jujur aku keberatan hingga kedua telapak kakiku luka. Haha, chupu emang. :-P
Saat itu tim dibagi menjadi empat, yaitu: tim advance, tim porter, tim pertengahan, dan tim sweeper. Para porter yang membawa barang-barang berat membutuhkan jalan cepat sehingga mereka berjalan satu tim dengan ritme jalan yang sama, kecuali porter level IV yang sanggup berjalan bersama cewek-cewek untuk menjaga kami. Aku berada di dalam tim pertengahan. Di belakangku masih ada tim sweeper (Adam, Angga, Arbi, dan Bibit).
Sampai di suatu spot, timku mulai pecah. Mereka banyak melakukan istirahat, terutama cewek-cewek tim cobodas. Sedagkan aku type yang tidak bisa istirahat terlalu sering, namun ritme jalanku lama. Apalagi saat itu aku membawa beban berat yang semakin memperlama ritme jalanku. Aku mendahului mereka supaya tidak terlalu merepotkan mereka dengan memperlambat jalan mereka karena keleletan jalanku. Ternyata tim Salabintana yang berada di timku juga terpisah dari tim Cibodas cewek. Tim Cibodas cewek diiringi oleh ketua II tim Cibodas, yaitu Ririn. Ririn adalah cewek strong yang care dan sabar menemani teman-temannya.
Pada saat turun menuju Kandang Batu, tiba-tiba aku disusul oleh Angga. Aku tidak sendirian lagi, melainkan berjalan bersama Angga. Angga adalah salah satu sahabat terbaik yang sudah aku anggap sebagai adhik, teman summit attack pertamaku yang sangat care, sabar, dan setia. Saat itu Angga setia menemaniku yang jalannya sangat lamban, padahal aku tahu kalau dia bisa jalan cepat dan aku tahu kalau orang yang membawa carier berat membutuhkan jalan cepat. Di Kandang Batu kami mendahului tim porter yang baru selesai melakukan shalat (karena mereka jalan duluan, jadi mereka belum sempat shalat saat di Kandang Badak). Setelah itu aku menemui sungai air panas. Aku ditemani Angga mampir di sana. Semakin ke atas, air tersebut semakin panas dan aku menikmatinya sesaat.
Setelah itu aku melalui jembatan tebing air panas. Di sana kami disarankan untuk berhati-hati dan berjalan satu per satu. Ingin sekali poto di sana namun tempatnya cukup sempit, licin dan berbahaya sehingga para pendaki yang melewati jembatan itu harus mengantri. Saat itu tim poter mendahuluiku lagi. Namun Angga masih setia menemaniku. Aku sudah sangat akrab dengannya sehingga dengan banyak ngobrol, aku tidak terlalu merasakan jauhnya jarak track tersebut. Hingga pada saat beristirahat di suatu spot, Arbi dan Bibit menyusul kami. Entah pada saat itu aku merasa terusik karena yang aku tahu, mereka adalah tim sweeper yang jalannya sangat cepat sehingga aku tidak ingin membuat mereka menungguku. Aku langsung cabut dari tempat itu namun Angga bilang, “santai aja mbak”. Angga ingin berjalan bersama mereka sehingga aku duluan. Aku jalan sendiri lagi.
Hingga sampai di pertigaan antara jalan menuju air terjun dan jalan menuju basecamp, aku bingung. Aku bertanya pada pendaki lain. Ternyata jalan ke basecamp ke kanan. Aku terus berjalan sendiri hingga aku bertemu dengan tim porter yang sudah menunggu kami semua di suatu jembatan kayu yang panjang. Kami semua memang sudah bersepakat bahwa meeting poin kami di jembatan tersebut karena kami ingin poto bersama di sana. Kulihat, yang lain banyak yang belum sampai di sana, bahkan tim advance. Ternyata tim advance mampir di air terjun. Kami beristirahat di sana sambil menunggu tim advance, tim pertengahan dan tim sweeper. Setelah mereka sampai di sana, kami poto bersama.
Setelah poto bersama, gerimis mulai turun lagi. Semua memakai peralatan anti hujannya dengan lengkap. Aku masih tidak menyerah membawa cariernya Bibit meskipun yang lain melarangku. Aku pikir, sebentar lagi sampai di basecamp jadi nanggung. Mereka semua jalan cepat, kecuali tim sweeper. Gerimis mampu membuatku belari dengan membawa beban yang berat. Namun ketika sampai di track turunan lagi, aku merasa tidak kuat sehingga aku terpisah lagi dengan mereka. Saat itu Angga juga sudah mendahuluiku bersama yang lain. Aku berjalan pelan sendirian lagi, hingga tim sweeper kecuali Bibit menyusulku. Saat hujan mulai turun, aku diajak mereka mampir di suatu gubuk untuk berteduh. Aku disuruh minum. Saat itu mukaku merah, badan dan mukaku penuh dengan keringat. Hingga Bibit menyusul, aku disuruh tukar carier lagi. Setelah itu kami turun lagi dengan hujan-hujanan. Beberapa menit kemudian, kami sampai di basecamp. Mereka semua telah menanti kami berempat sambil beristirahat.
Kaderisasi beban oleh carier Bibit ^_^ --> kini aku menjadi porter level 1,5 (soalnya cuma bawa rangka tendanya aja plus sampah-sampah). Kekekeke.
Menurut dewan syuro Tamasya Ganesha, porter level I adalah orang yang mampu membawa sebagian logistik cewek dan atau logistik umat; porter level II adalah orang yang mampu membawa sebagian logistik cewek dan atau logistik umat, dan tenda; porter level III adalah orang yang mampu membawa sebagian logistik cewek, logistik umat, tenda, dan mampu menjaga cewek-cewek. Haha.
Mampir di sungai air panas 
Air Terjun Cibeureum
Jembatan Maut --> jembatan jurang batu air panas. Saat melewati track ini, kita harus berhati-hati karena jalanan licin dan samping kanan jurang air panas yang cukup dalam, samping kanannya adalah aliran air (terjun) panas
Anik, kak syifa, Widi, Pras, Ivan di Jembatan Kayu Panjang
Jembatan kayu panjang --> tempat cek point tim Tamasya Ganesha

Pulang
Di depan basecamp Cibodas
Sebagian menu makan malam di warung Padang pertigaan Cibodas
Di pertigaan Cibodas
Saat itu sekitar pukul 5 sore. Setelah full team bergabung, kami menuju pintu keluar Gunung Gede Pangrango. Kami berpoto bersama di sana, kemudian kami turun ke pertigaan Cibodas hingga sampai di sana beberapa menit setelah maghrib. Mereka yang berpuasa buka puasa di angkot. Setelah sampai di pertigaan Cibodas, kami diperkenankan untuk berpencar mencari makan di tempat yang disukai masing-masing. Aku mendapatkan tim yang makan di warung Padang belakang kami menempatkan carier-carier kami. Setelah makan dan shalat maghrib-isya’, kami berkumpul kembali untuk menunggu keputusan cara pulang ke Bandung karena transportasi menuju Bandung saat itu agak sulit. Bus-bus yang melewati pertigaan Cibodas penuh, mungkin karena banyak yang mudik lebaran Idul Adha. Hingga sekitar pukul 8 malam, diputuskan bahwa yang pulang ke Bandung semuanya naik angkot menuju terminal. Sedangkan empat orang dari kami pulang ke rumah masing-masing.
Alhamdulillaah, perjalanan Double (Four) Summit Gede-Pangrango berjalan dengan lancar dan mengesankan. Kami semua selamat meskipun hampir semua jadwal ngaret. Dan perjalanan ini memiliki banyak kisah dan kesan-kesan yang begitu mendalam bagi setiap anggotanya, termasuk aku. Yang pasti, kegalauan yang berkepanjangan telah terkubur di dalam gunung itu. ^_^ Setelah itu kami juga menjadi akrab dan dekat, menjadi sahabat, dan saling bersikap seperti saudara.

Keindahan Alam Gunung Gede-Pangrango
di alun-alun Surya Kancana
di kawasan Puncak Gunung Gede
di puncak Gunung Pangrango
di Lembah Mandalawangi
di kawasan Gunung Pangrango

Dua Hati dari Gede Pangrango

Rabu, 05 Maret 2014

Sabar dan Ikhlas itulah ISLAM

(Ditulis pada 16 Februari 2014 di https://www.facebook.com/dewi.kusumapratiwi?hc_location=timeline)

Hidup memang tidak selalu menjadi apa yang aku inginkan.
Namun hidup mengajariku bahwa aku di sini bukan karena kehendakku.
Kehidupan sudah ada yang mengatur.
Sebagai hamba, aku tidak punya pilihan lain jika ingin mendapatkan kebahagiaan yang hakiki, yaitu mengikuti segala ketentuan-Nya.

Syurga itu memang mahal, mahal sekali.
Jalan menuju ke sana itu memang sulit, bahkan sangat sulit.
Ujian2nya memang menyakitkan.

Sabar dan ikhlas adalah hal yang pahit.
Namun sabar dan ikhlas adalah keselamatan.
Sabar dan ikhlas itulah #islam.

Dengan IMAN, Kita #bisabanget Menghadapi Segala Ujian Hidup

(Ditulis pada 14 Februari 2014 di https://www.facebook.com/dewi.kusumapratiwi?hc_location=timeline)

Di saat ujian satu belum selesai, ujian lain berdatangan,
Di saat fokus menyita ujian2 itu, ujian lain yang lebih sulit ikut berdatangan,
Seakan2 semua ini terasa sangat membebani pundak,
Bahkan terkadang merasa sangat tidak sanggup lagi menghadapi itu semua.
Belum lagi soal ujian perasaan, tentang prasangka orang2 terhadap kita. Tuduhan2 dan justifikasi yang menekan. Padahal di saat kondisi seperti ini, kita butuh prasangka positif dari mereka, kita butuh motivasi dari mereka, yang mungkin akan membuat beban-beban kita terasa lebih ringan.

Tapi, ternyata Allaah masih sayang dan cinta.
Di samping beban masalah2 yang sangat besar, Allaah juga mengkaruniakan iman yang besar.
Iman.
Ya, iman. Itu jauh lebih penting dari segalanya.
Karena imanlah yang membuat kita mampu bersabar menghadapi ini semua dan bertahan untuk terus berada di jalan yang benar.
Di samping kejamnya prasangka2, ternyata masih ada malaikat-malaikat yang baik, yang selalu mendukung dan mendo'akan kita.
Allaah memang Maha Adil. :')

Tidak dapat dipungkiri, terkadang terpikir untuk mengambil jalan pintas untuk melepas semua beban ini. Juga menyerang balik para prasangka yang menguras perasaan itu.
Namun iman membantu kita untuk bertahan. Para malaikat itu juga membantu kita untuk terus terjaga.

Para malaikat itu adalah sahabat2 terbaik kita, yang Allaah kirimkan untuk menjaga kita.
Sedangkan iman adalah percaya. Percaya bahwa semua yang terjadi adalah kehendak Allaah. Dan "kehendak Allaah untuk setiap muslim adalah kebaikan".
Percaya bahwa masalah-masalah itu hanyalah jalan supaya kita bisa lebih dekat lagi dengan-Nya, mendekat dan terus mendekat.
Percaya bahwa ujian-ujian ini adalah cara Allaah untuk meningkatkan derajat kita di mata-Nya.
Insyaa Allaah.

Masih banyak orang di luar sana yang jauh lebih menderita, mereka yang imannya jauh lebih tebal sehingga ujiannya lebih berat.
Juga saudara2 kita yang sedang tertimpa musibah.
Semoga musibah2 ini lah yang membuat kita menjadi lebih mulia di mata-Nya, dengan kesabaran dan keikhlasan kita.

Rabu, 12 Februari 2014

Resolusi di Usia 23

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Tahun lalu mungkin saya gagal.
Namun, saya yakin bahwa kegagalan hanyalah kesuksesan yang tertunda.
Kegagalan hanyalah kesempatan untuk saya lebih memantaskan diri untuk mendapatkannya.
Kegagalan hanyalah jalan untuk saya memperkuat diri.
Mimpi adalah sesuatu yang membuat kita menjadi hidup.
Tanpa mimpi, kita tidak akan pernah bergerak.
Padahal gerak adalah tanda kehidupan.
Dan mimpi adalah sesuatu yang harus diperjuangkan, saya sangat sadari itu.
Meskipun tahun lalu saya adalah seorang tukang wacana, namun tahun ini saya masih berani berwacana.
Dengan wacana ini, saya memberanikan diri untuk mengambil sebuah tanggung jawab yang besar.
Dengan menyebut nama Allaah, berikut resolusi di usia 23 yang saya tulis pada tanggal 12 Februari 2014 dan ingin saya gapai:
1. Hapal minimal 10 juz Al-qur'an
2. Menyempurnakan setengah agama
3. Wisuda bulan Juli
4. Poto bareng PW yang udah halal
5. Mandiri finansial
6. Nabung untuk umroh
7. Khatam buku-buku: Al Wafi, Sirah Nabawiyah, Sirah Sahabat, Sirah Sahabiyah, Kado Pernikahan untuk Istriku, Pilar-Pilar Pengokohan Nafsiyah, Tazkiyatun Nafs (Penyucian Jiwa), Fikih Wanita, Panduan Lengkap Ibadah Muslimah, Meneladani Istri Para Khalifah.
8. Istiqomah berada di komunitas Aktivis Dakwah Islam
9. Istiqomah membina dan dibina
10. Belajar bahasa arab untuk menukil ayat atau memahami tafsir Al-qur'an
11. Dapat berkomunikasi dengan bahasa inggris
12. Mengerti dasar-dasar bahasa Jerman
13. Summit attack 3-6 gunung yang belum pernah didaki
14. Lancar bermain apergio menggunakan keyboard
Laa khaula walaa quwataa ila billaahil 'alliyil adzhiim.
Semoga Allaah ridha :-)

Kamis, 21 November 2013

Dengarlah Suara Hatiku

Aku adalah penikmat jalan kelam
Namun aku adalah perindu jalan terang
Aku selalu meminta yang kurindukan
Meski aku berjalan di arah sebaliknya

Dia yang kuminta selalu memberikan semuanya
Meskipun jalanku seringkali berlawanan arah dengannya

Aku adalah anak nakal
Yang tidak konsisten dengan apa yang kuinginkan dan apa yang kujalani
Namun Dia sangat baik

Kini Dia mendorongku ke jalan yang aku inginkan
Meskipun aku ‘tidak suka’ dengan ‘paksaan’ ini
Jalan ini begitu ‘menyakitkan’
Tapi, aku tahu ini yang terbaik untukku
Dan alasan bahwa Dia sayang sekali denganku

Kata ‘tidak suka’, ‘paksaan’, dan ‘sakit’ itu hanyalah sebuah kedzholiman
Kedzholiman atas dirku sendiri
Betapa aku tidak ridha mendapatkan yang terbaik untukku sendiri
Ini sebuah kesalahan besar

Ternyata Dia lebih tahu apa yang aku butuhkan dan apa yang aku inginkan
Dia lebih mengerti akan diriku
Dia lebih menjagaku
Dan Dia lebih sayang sama aku
Daripada diriku sendiri

Dia Maha Baik
Dia Maha Pemurah
Dia Maha Pengasih
Dia Maha Penyayang
Dialah Allah, Tuhanku, Tuhanmu, dan Tuhan kita semua

Wahai penghuni jalan kelam,
Janganlah kau memanggilku lagi untuk menuju ke sana
Jika kamu merindukanku dan ingin memanggilku,
Panggillah aku dari jalan yang terang

Aku ingin terbiasa berada di jalan ini
Dan aku ingin tetap menjadi intan
Yang akan semakin bersinar dengan tempaan-tempaan

Senin, 11 November 2013

Akhir dari Sebuah Pencarian

Mengingat kembali memori, mengapa aku bisa hobi naik gunung? http://dewikusumapratiwi.blogspot.com/2013/07/catatan-pendakian-gunung-merbabu-part-1.html
Padahal dulu aku lemah dan malas, naik Tangkuban Perahu saja minta ditarik dan dibawain tasnya. Namun, ketika mengenal Bibit dan Tamasya Ganesha, aku merasa banyak mengalami perubahan. Banyak sekali pelajaran yang mereka berikan, sangat berarti dan bermakna.

Awalnya, aku hanya ingin naik 1 gunung saja, yaitu Semeru, karena efek nonton film 5 cm. Namun, gara-gara banyak yang bilang sebelum naik Semeru harus naik gunung-gunung yang lebih pendek dulu maka aku naik gunung-gunung yang lain. Alhamdulillaah, aku sangat bersyukur karena teman pertamaku naik gunung adalah Bibit dan Tamasya Ganesha. Tidak ada penyesalan naik gunung bersama mereka dan mereka lah yang membuatku bisa sampai di puncak, serta puncak-puncak berikutnya. ^_^

Summit Attack I
Merbabu menyimpan kenangan yang sangat dalam. Ketika aku pulang kampung, aku bisa melihat Gunung Merapi dan Merbabu dengan jelas. Terkadang terharu sampai bisa meneteskan air mata. Summit attack Merbabu menjadi summit attack yang paling berkesan karena mungkin adalah pengalaman pertamaku. Selain itu, summit attack merbabu adalah summit attack tersoleh dari yang pernah kulewati karena isinya mayoritas anak-anak Salman. Dan kapten terbaik dari semua dan selama ini yang aku rasakan adalah kapten di Merbabu (baiknya objektif loh). Dia lah yang membuatku banyak belajar dan berazzam untuk menjadi lebih kuat & lebih peka setelahnya.
Quotes untuk Merbabu : terdingin, terindah, terkenang.

Summit Attack II
Merapi adalah gunung dengan track tersulit dari yang pernah kudaki. Namun Merapi menjadi gunung paling favouriteku karena Merapi hangat dan entah mengapa aku mendapatkan suatu energi di sana. Ada hal yang tidak biasa yang aku rasakan, yang entah itu dimulai sejak kapan. Merapi mengubah banyak hal dalam kehidupanku. Aku menjadi berani untuk naik gunung manapun setelah naik Merapi.
Quotes untuk Merapi : terkeren.

Summit Attack III
Sumbing adalah gunung yang pertama kali aku black list karena cerita horor dan tracknya. Namun setelah melewatinya, Sumbing menjadi gunung yang menggoreskan kesan yang paling dalam, dalam sekali. Sumbing yang mengajariku arti perjalanan hidup, tentang perjuangan cita dan cinta.
Quotes untuk Sumbing : LUAR BIASA, terlelah, terdalam.

Summit Attack IV
Gunung Manglayang 1818 mdpl : (belum ada tulisan) 
Manglayang yang mengajariku pertama kali menjadi manajer perjalanan. Entah mengapa saat itu merasa ribet, namun banyak sekali pelajaran yang aku dapatkan. Orang yang paling berjasa, tentunya adalah Bibit, Pras, dan Ugun, meski kami semua gak naik bareng. Saat itu aku salah memenej jumlah cewek dan cowok. Saat itu cewek : cowok = 3 : 1, padahal seharusnya terbalik. Namun alhamdulillah perjalanan lancar karena mereka (segenap tim Manglayang) yang luar biasa. ^_^
Quotes untuk Manglayang : terribet.

Summit Attack V & VI
Aku masih belum bisa menceritakan tentang perjalanan ini karena terlalu banyak cerita dan keindahan-keindahan yang aku temukan di sana, terutama keindahan alamnya. Namun seperti tesimoni salah satu anggota tim Double Summit Gede-Pangrango, bahwa "segala kegalauan berakhir dan terkubur di dalam gunung itu". Sebenarnya tidak ada hal yang kurasa terlalu spesial selama di sana karena Sumbing masih menjadi pemenang. Namun entah, aku merasa cukup sampai di sini pencarian dan latihanku naik gunung.

Akhir dari Sebuah Pencarian
Kini aku telah menjadi seorang 'wanita strong', meski kata mereka staminaku masih payah. Aku merasa, aku telah menjadi pemenang. Dan ini mungkin menjadi gunung terakhirku untuk latihan. Setelah ini, aku ingin menaiki gunung yang sebenarnya sangat ingin aku naiki di saat yang paling tepat, yaitu Semeru dan Rinjani. Semeru dan Rinjani adalah gunung tujuan utamaku. Dan seperti visi Tamasya Ganesha : Survey tempat, situasi, dan kondisi untuk perjalanan berikutnya yang lebih baik bersama orang yang sangat ingin diajak. (Sumber: http://www.facebook.com/groups/tamasyaganesha/666027866752200/?ref=notif&notif_t=group_comment_reply), maka aku berharap, aku menjadi 'orang yang sangat ingin diajak' oleh seseorang untuk summit attack ke Gunung Semeru dan Rinjani. :-)

Sahabat-sahabat Tasha (Tamasya Ganesha)
Semua yang pernah naik gunung bareng aku, aku namakan Happy Sunrise B-). Kami memiliki grup whatsapp, di mana kami dapat ngobrol dan semakin dekat. Selain HS, aku juga menjadi sahabat sanggar, di mana hampir setiap hari aku makan dan hang out bareng mereka. Aku juga sering mangkal di sanggar mereka, sanggar Pramuka ITB, di mana seperti menjadi rumah keduaku setelah kosan. Mereka lah yang mengisi dan mewarnai kehidupanku akhir-akhir ini, di saat aku sedang hectic TA dan urusan-urusanku di tingkat akhir. Mereka sudah kuanggap seperti saudara. Mereka adalah sahabat-sahabat yang baik.
Di antara mereka, ada sahabat yang paling baik menurutku, yang pantas untuk aku sebut sebagai best friend. Namanya Bibit. Selain itu, ada beberapa yang juga kuanggap seperti keluarga sendiri. Mungkin aku ingin sedikit mendeskripsikan tentang mereka.
  • Bibit Musnaini (Bibit)
Bibit itu nyebelin, suka mendemotivasi, suka ngebully2, banyak back up nya, alay, suka modus, suka tidur di kelas, gak tinggi :-P kekekeke, dan sinis. Ketika di lapangan, Bibit tidak sering terlihat (gelap kali ya bit, kamu? :-P Kekekeke), namun dialah yang memastikan semuanya aman, semua orang dan semua keadaan. Ketika summit attack, mungkin dia jarang mem-back-up-i atau memotivasi orang namun dia selalu memastikan kalau setiap orang ter-back-up-i, aman dan termotivasi. Bibit muncul ke permukaan ketika memang dibutuhkan, ketika memang tidak ada lagi yang bisa melakukannya. Kayak Bima Satria Garuda dong ya? haha. Itulah alasan mengapa aku sangat trust dengan Bibit dan setiap summitku selama ini harus ada Bibit.
Setelah 6 kali summit bersamanya selama ini, aku mengakui bahwa dia adalah porter level V. Kalau kata mereka, porter level I adalah orang yang mampu membawa logistik bersama seperti kompor, misting, makanan dan air; porter level II adalah orang yang mampu membawa tenda dan logistik bersama; porter level III adalah orang yang mampu membawa tenda & logistik bersama dan mampu mem-back-up-i (menjaga dan memotivasi) orang lain; porter level IV adalah orang yang mampu membawa tenda & logistik bersama dan mampu mem-back-up-i 'kaewong' orang lain. hahahaha. Sedangkan Bibit adalah porter level V, di mana selama ini tidak ada yang mampu menandinginya, baik di lapangan maupun di kehidupan nyata. Dia mampu mem-back-up-i dan memfasilitasi semua orang, bahkan menyerahkan back up nya kepada orang lain. Kekekeke. (semoga pada roaming).
Di kehidupan nyata, Bibit itu SUPER BAIK. Meski nyebelin tapi dia sering bikin seneng banyak orang; meski suka mendemotivasi, sebenernya itu cara dia untuk memotivasi; meski suka ngebully2, tapi dia sering membantu dan mensolusikan masalah-masalah orang; Bibit itu solutif dan tempat sampah (baca: tempat curhat) banyak orang; meski (keliatan) banyak back up, tapi setauku dia itu setia, bahkan sangat setia; meski alay, tapi emang dia alay, haha; meski suka modus, tapi sebenernya itu emang hobi dia, kekekeke; meski suka tidur di kelas, tapi dia fast track dan double degree ITB-Belanda, yang lulus tepat waktu dan saat ini udah S2 sendiri di antara semua anggota Tasha, bentar lagi berangkat ke Groningen, Belanda; meski gak tinggi, tapi diem2 banyak fansnya (namun sayang, fansnya aja gak mau sama dia. Kekeke); dan meski sinis, tapi kesan pertamanya ramah kok (berarti dia gak ramah dong sebebernya? haha. Makanya, silakan kenalan dulu sama makhluk yang namanya Bibit ini, maka kalian pun akan menyesal :-P Ini nih alamat fb nya: http://www.facebook.com/bibitmusnaini?fref=ts)
Dua kata yang pantas aku berikan untuk Bibit, SUPER TULUS.
FYI: hampir setiap perjalananku ada Bibit nya.
  • Angga Prabowo (Angga)
Angga itu, meski saat itu adalah orang yang paling muda tapi yang paling berpengalaman dan paling gak polos. Angga itu kaewong aku loh. Haha. Kaewong, di mana aku merusak definisi kaewong dan membuat kata kaewong gak sakral lagi. Entah dia itu sebenernya apa, kalau kata Bibit sih dia LO aku. Haha. Angga adalah temen summit pertama yang mendadak aku anggep udah kayak adhek sendiri. Tapi karena definsi di kalimat pertama, maka tentunya dia lebih dewasa dari aku dan dia yang sering jadi tempat sampahku. Angga itu peka dan pengertian, dia type observer, banyak fansnya, banyak back up nya, pendengar yang baik, dan setia. Meski baru 2x summit attack bareng Angga tapi aku sangat mengenal Angga. :-)
  • Syifaturahmah Nurfalah (Syifa)
Aku suka menyebutnya kk Cipa. Beliau angkatan 2008. Kk Cipa itu kayak primadonanya Tasha. Kata mereka, kk Cipa adalah kaewong semua orang. Haha (jangan GR kak). Kk Cipa hampir setype sama Bibit dalam hal kedewasaan dan kesolutifan. Kayaknya mereka cocok tuh. Cocok menjadi ayah dan ibunya Tamasya Ganesha. Kekeke. Kk Cipa juga type pendengar dan pemberi solusi yang baik, dewasa, keibuan, namun penurut. Kk Cipa itu manis, supel, dan populer. ;-)
Aku baru sekali summit attack bareng kk Cipa, Gede via Salabintana.
  • Mutiara Annisa M (Icha)
Icha itu salah satu cewek Tasha yang aku fans di awal. Dia yang banyak diceritain anak2 pas summit pertamaku. Katanya Icha itu strong dan lincah. Dia pernah menuruni jurang. Pas udah kenal dia, ternyata dia emang strong. Icha itu simple, kalau naik gunung suka dadakan dan persiapannya minimal, tapi tenaganya maksimal. Dia akhwat sporty. Dia unyu dan cengeng. Huuu, icha cengeng huuu. :-P Pokoknya sayang Icha deh. <3
Aku baru 2x summit attack bareng Icha, Sumbing dan Manglayang. Tapi sering ketemu di sanggar, belanja bareng dan makan bareng.
  • Nur Laily (Lily)
Lily kalau lagi sama Icha, kayak anak kembar. Sama-sama anak Farmasi dan sama-sama unyu. Aku sayang banget sama Lily. Panggilan sayangku buat dia adalah Lilymon. Dia itu lucu, baik, manis, setia, dan ngangenin. Dia punya kemampuan khusus yang membuat dia mampu melihat hal lebih banyak daripada orang lain. Dia aktivis Salman dan anak asrama putri Salman.
Aku udah 4x summit attack bareng Lily : Merbabu, Sumbing, Gede via Salabintana, dan Pangrango.
  • Yuniarti Karina Pumpun (Nia)
Nia itu cewek sabi. Dia tahan dingin daripada orang lain. Dia termasuk yang menurunkan derajat cowok2 Salabintana pas di alun-alun Surya Kencana karena dalam keadaan dingin, dia pake pakaian serba pendek. Nia baik banget dan sangat toleransi. Nia kadang-kadang juga lucu, dia supel, ramah dan menyenangkan. Nia jarang muncul di whatsapp tapi sekalinya muncul banyak yang nyambut. Mereka punya lagu tersendiri buat Nia, lagunya The Pandal. Lagu itu sesuatu banget, katanya sih buat motivasi Nia pas summit attack Semeru. Aku udah 3 kali summit attack bareng Nia: Sumbing, Manglayang, dan Gede via Salabintana.
  • Athia Nur Aziza (Athia)
Athia itu adhek gue banget. Beneran kalau ini karena satu2nya orang yang gak lebih dewasa dari aku cuma Athia. Kekeke. Tapi sebenernya tetep dewasaan dia sih, soalnya dia lebih kalem. Haha. Pertama kali kenal Athia, lucu banget ceritanya, tapi aku gamau nyeritain di sini. Dan setelah kejadian yang lucu itu maka membuat kami dekat dan saling curhat2an. Athia sekarang udah sidang dan dia lagi semangat banget buat bisnis.
"Athia, semoga deklarasi Angga dan Bibit pada saat pertama kali kita kenal menjadi nyata ya? Semoga suatu saat kita menjadi semakin dekat. Hehe" #kode
Aku belum pernah Summit attack bareng Athia tapi udah sangat deket sih. Haha.
  • Septian Dwi Prasetyo (Pras)
Pertama kali kenal Pras di grup Tasha. Kesan pertama saat itu juga, Pras itu ganteng, objektif, dan polos. Tapi setelah kenal beneran? Menipu. Hahahaha. Pras kalau di lapangan keren banget, cariernya yang paling berat (100 liter) dan biasanya paling padat. Dia juga pernah naik gunung sendirian dengan beban yang sangat berat (bawa beras dan baju bekas pulang kampung). Pras emang kurang peka tapi dia selalu mencoba untuk peka. Pras emang suka garing tapi dia selalu berusaha untuk menghibur orang lain. Pras adalah salah satu kapten perjalanan yang baik. Dia kritis namun realistis. Kadang dewasa, kadang childish. Overall, Pras baik hati, manis, tulus dan perhatian. Pras adalah porter level IV yang katanya sudah tidak objektif lagi. Pras juga aktivis, aktivis banget malahan. Seringkali dia punya agenda bentrok, dia juga pelayan umat (sering nganterin orang yang butuh).
  • Widi Arfianto (Widi)
Kesan pertama kali kenal Widi adalah karismatik. Sebelumnnya udah kenal Widi pas gathering2 Tasha. Tapi pertama kali kenal Widi beneran pas naik Gede-Pangrango kemarin. Ternyata Widi itu koplak. Haha. Kalau ada Widi, pasti suasana jadi berwarna dan gak pernah ngebosenin. Widi jago banget main gitar. Kalau Widi main gitar, bikin melting. Widi itu ex senatornya HMM loh. Dia kalau main werewolf jago banget, jago menguasai masa. Efek senator kali ya? Haha. Widi kalau di lapangan juga termasuk orang yang peka dan pengertian. Ternyata kalau di kehidupan nyata juga. Dia itu baik, peka, dan pengertian. Dia porter level IV. Pokoknya Widi itu menyenangkan dan aku adalah salah satu anggota WFC (Widi Fans Club).
  • Achmad Arbi (Arbi)
Arbi itu kecil-kecil tapi strong. Arbi itu baik banget. Dia type motivator. Dia supel, peka dan gampang memahami orang lain. Kadang-kadang dia cool. Gak heran kalau Arbi banyak yang suka. Tapi kalau dia lagi hectic atau fokus ngerjain sesuatu, jangan sesekali gangguin dia. "Senggol dikit, bacok". Haha, gak deng bercanda. Tapi sepertinya dia type monotasking. Kalau lagi sibuk (terutama di lapangan), dia gak bisa digangguin. Arbi itu kapten yang baik.
Kalau di kehidupan nyata, aku pernah beberapa kali seamanah sama dia. Dia itu amanah banget, totalitas, dan suka mementingkan orang lain di atas kepentingannya sendiri. Overall, dia itu low profile sehingga aku tidak bisa mendefinisikannya lebih.
  • Hasti Asfarina (Hasti)
Hasti itu super ramah dan super baik. Dia type pencerita dan menyenangkan. Rumah Hasti sering menjadi homebase saat Tasha naik Sindoro atau Sumbing dan jalan-jalan ke Dataran Tinggi Dieng. Keluarga Hasti baik banget. Rumahnya bikin betah buat kita main.
  • Adam Wicaksono (Adam)
Adam itu sesuatu banget. Dia cool. Pendiem tapi supel. Dia juga peka dan ulet saat di lapangan. Dia baik dan pengertian. Rumahnya sering jadi homebase saat Tasha naik Merapi-Merbabu. Ayah dan ibunya super baik. Suasana rumahnya ngangenin banget. Ibu dan ayahnya juga ngangenin banget. Adam tuh udah kayak saudara juga. Dia anak asrama Salman dan aktivis Salman. Bacaan Al-Qur'annya bagus. Pokoknya dia favourite banget lah.
  • Fakhri Abdul Mu'iz (Fakhri)
Fakhri itu kalem, dewasa, dan baik. Dia peka dan pengertian. Pokoknya do'a buat fakhri, semoga mendapatkan jodoh terbaik sesuai dengan yang dia inginkan dan segera tercapai target2nya. ^_^ (entah kenapa pengen do'ain Fakhri gitu).
  • Guntur Gunawan (Ugun)
Entah kenapa, Merapi tuh bikin aku jadi deket banget sama timnya meskipun awalnya gak kenal sama sekali. Dialah Ugun, yang baru kenal tapi udah dengerin curhatanku. Dia yang selalu setia menemani di setiap langkahku, terutama saat turun Merapi. Dia cowok dengan carier teringan, tapi dia tetep baik dan peka. Dia pendengar yang setia. Dia yang pertama kali jadi kapten di Tasha saat di Sumbing, dan keduanya di Manglayang. Aku cukup trust sama Ugun. Kata anak-anak, dia tuh bocah, gak keliatan kalau dia angkatan 2009. Ugun tuh sunda pisan, klopannya kak Doni. Haha. Dia juga agak ribet karena makannya harus teratur, padahal kalau di gunung susah untuk teratur. Haha. Overall, Ugun itu teman yang baik dan aku cukup akrab dengannya. Aku udah 5x summit attack bareng Ugun.
  • Ririn ariani Dewi (Ririn)
Ririn adalah salah satu cewek Tasha yang aku fansnin karena kestrongannya. Lagi-lagi berawal dari cerita mereka hingga aku mulai mengenalnya saat summit attack Gede-Pangrango meskipun aku terpisah tim darinya (dia via Cibodas, sedangkan aku via Salabintana). Pas udah kenal, kesanku buat Ririn adalah dia itu polos, periang, strong, baik dan pengertian. Dia aktivis dan akademisi yang berprestasi.

Karena udah low, jadi aku mau memisahkan sisa dari mereka yang belum sempet ketulis per tim.

Tim Merbabu


Tim Manglayang
  • Ustica Riastuti (Ica)
Kak Ica, meskipun baru kenal tapi entah kenapa saat itu aku langsung bisa curhat dan trust sama beliau. Kak Ica itu dewasa, keibuan, pendengar yang baik tapi lucu dan menyenangkan. Kak Ica itu kakak banget dan favourite banget. Aktivitasnya di dunia nyata jugta luar biasa. Kak Ica sedang thesis dan ingin naik gunung lagi. Semangat kakak sayang ;-)
  • Nida Asma Amaniy (Nida)
Nida itu polos dan pasrah. :-P Dia baik, soleha, terjaga, dan perfeksionis. Nida itu silent reader dan open mind. Di dunia nyata, aku bersahabat dengannya. Namun kalau summit attack, baru pertama kali bareng dia. Dia suka jalan-jalan tapi kalau naik gunung agak susah dapet izin. Semoga Nida dapetin suami soleh yang biasa naik gunung biar bisa naik gunung lagi ke gunung2 yang lebih indah. ^_^
  • Mirra Novyanti (Mirnov)
Meskipun udah 2x travelling bareng dia tapi hanya satu kata yang bisa aku kasih buat dia: terdewasa. ^_^
Dia juga aktivis dan soleha. Dia baik, tulus dan ramah.
  • Wendy
Anak Betawi tapi entah kenapa punya rumah di Bandung. Dia ngefans banget sama Gaby JKT48. Masih belum bisa mengenal dan mengerti Wendy meski udah pernah summit attack Manglayang bareng, makan bareng dan nonton bareng.

Tim Salabintana Double Summit Gede-Pangrango
  • Verry Anggara Musriana (Verry)
Verry itu temen sejurusan yang hampir gak pernah sekelas. Dia temen sehimpunan tapi beraktivitasnya jarang seperiode. Saat aku aktif banget di himpunan, dia lebih aktif di luar. Saat dia aktif banget di himpunan, aku lebih aktif di luar sehingga aku bisa akrab sama Verry pas double summit kemarin. Verry tuh sering banget ke luar negeri. Dia aktivis banget dan pinter. Pas di gunung, dia porter level IV. Pas turun Pangrango kemarin, aku ditemenin sama dia. Hehe. Terus beberapa kali lari bareng dia. Bareng yang lain juga tapi. :-P
  • Doni Herlambang (Doni)
Senior di Fisika pas jaman tingkat II dulu. Salah satu aktivis BP Himafi yang deket sama aku. Dan tiba2 ketemu lagi pas double summit Gede-Pangrango. Kak Doni porter level berapa ya? Atau sudah bukan porter lagi? :-P
  • Yoga Febriano (Yoga)
Yoga juga kecil-kecil tapi strong. Gak nyangka, kemarin bisa bawa air 5 botol x 1,5 liter, padahal di dalem cariernya ada SBku, bajuku 2 stel lengkap, matrasku dan semua perlengkapan dia sendiri. Dia juga masih sempet jagain orang lain. Yoga porter level I aja lah ya. Kekekeke. Yoga itu baik banget, meskipun suka usil. Dia peka dan pengertian. Yoga juga low profile.
  • Galih Rakasiwi (Galih)
Galih tuh baik banget. Dia juga rajin, mau bantuin kerjaan cewek, peka, proven, termasuk favourite juga pas summit attack Gede via Salabintana. Aku baru kenal Galih. Galih porter level III kayaknya.
  • Muhammad Hafizan (Hafiz)
Hafiz termasuk cowok favourite di Salabintana. Dia baik, proven, peka dan pengertian. Aku juga baru kenal Hafiz. Dia tim kecilku pas summit attack Pangrango. Dia juga yang nemenin aku turun Gede pas bawa carier dengan sabar bareng Arbi. Hafiz porter level berapa ya? Tapi dia juga selalu jagain orang lain.
  • Ahmad Kamil (Kamil)
Kamil itu strong banget dan jalannya cepet. Dia selalu straching sebelum gerak (long march, summit ataupun turun). Dia juga peka dan rajin kalau di lapangan. Dia kemarin summit attack Pangrango dalam keadaan shaum (puasa). Kamil porter level II tapi kayaknya lebih deh. Aku belum terlalu kenal Kamil, tapi dia type2 kapten juga kayaknya. Keliatan berpengalaman.
  • Anik Marianik (Anik)
Ini anak sesuatu banget. Dia heboh, lucu, baik hati dan strong. Dia juga rajin dan menyenangkan.
  • Yazid Ridla (Yazid)
Aku lebih banyak kenal Yazid di dunia nyata dan profesional daripada di gunung. Baru sekali summit attack bareng Yazid via salabintana dan dia yang selalu jagain aku. Dia emang proven di manapun dan cukup the best lah. Dia adalah salah satu temen baikku.
  • Shaffiati Faiziah (Sofi)
Sofi itu type orang perfeksionis. Dia juga type yang serba ingin cepat. Menurutku dia type pengatur atau manajer yang baik.
  • Yusuf Bachtiar
Ucup adalah porter level II. Dia cool-cool gimana gitu. Ucup punya fans club loh. Pas di Gede-Pangrango lumayan heboh. Haha.

Tim Cibodas Double Summit Gede-Pangrango
  • Doni Widodo (Doni)
  • Hylda Damayanti (Hylda)
  • Musa Mujaddid (Musa)
  • Ayu Winarni Lanjani (Ayu)
  • Iman Sulaiman (Iman)
  • Kartika Trianita (Tika)
  • Nisa Fadlilah
  • Muhamad Rivani (rivani)
  • Amiril Pratomo
  • Yohanes Rian Setianto
  • Aldi Aliyandi (Aldi)
  • Ivan Stupak (Ivan)

Maaf ya belum bisa mendeskripsikan kalian satu per satu. Semoga video testimoni kalian segera menyusul.

Alhamdulillaah. Thanks for all.
Mereka lah orang-orang yang menemaniku summit attack selama ini. :-)

Jumat, 20 September 2013

Rahasia Perjalanan Sumbing (3371 mdpl), 17-18 Agustus 2013


Satu frasa yang paling pantas untuk perjalanan Sumbing adalah LUAR BIASA
Perjalanan yang menyimpan banyak makna dan arti yang begitu dalam
Sulit untuk diceritakan dengan kata-kata namun begitu dalam untuk dirasa
Perjalanan yang paling menguras energi, perasaan, dan emosi

Kurasa, track Sumbing bukan yang paling indah
Namun juga bukan yang paling sulit dan menantang
Di antara semua gunung yang pernah kudaki, Sumbing yang paling aku ‘black list’
Namun, Sumbing akan menjadi kenangan yang paling indah

Sumbing mendidikku banyak hal
Tentang persahabatan dan kepemimpinan
Tentang arti sebuah perjuangan
Tentang makna cinta, cita, dan harapan :-)



Tim MERAhPI menuju homebase sumbing


Full team Sumbing di depan homebase, sebelum pendakian


Happy Sunrise B-) team
(Harusnya ada Adam, Azka, dan Hasti yang memakai baju kuning juga, oleh-oleh dari seseorang)


Full team di Puncak Sumbing