About me

Foto saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Instagram: @dewikusumapratiwi Facebook: https://www.facebook.com/dewi.kusumapratiwi

Rabu, 07 Maret 2012

SESEORANG TERHEBAT SEPANJANG HIDUPKU

Aku menuliskannya ketika rindu ini memuncak. Ketika aku tidak bersamanya, terpisah beratus-ratus kilometer jarak. Beliau sedang di luar Jakarta dan aku sedang sakit di sini. Bukan karena beliau meninggalkanku dalam keadaan seperti ini tapi karena memang ada keperluan yang harus beliau selesaikan di luar kota selama 3 hari ini. Aku sangat merindukannya dan aku berharap Allah memberikan kesempatan untukku dapat bertemu dengannya lagi karena belum ada yang aku lakukan untuknya selama ini kecuali segunung dosa, kesalahan, dan kekecewaan. T_T
Katanya ibu sampai Jakarta besok pagi dan aku berharap aku bisa memeluk dan menciumnya kembali sama seperti sebelum beliau berangkat. T_T

Ibu pernah menyanyikanku sebuah lagu (aku tak apal liriknya tapi coba aku search dulu).


kau mau apa, pasti kan ku beri
kau minta apa, akan aku turuti
walau harus aku terlelah dan letih
ini demi kamu sayang

aku tak akan berhenti
menemani dan menyayangimu
hingga matahari tak terbit lagi
bahkan bila aku mati
ku kan berdoa pada Illahi
tuk satukan kami disurga nanti

taukah kamu apa yang ku pinta
disetiap doa sepanjang hariku
Tuhan tolong aku, tolong jaga dia
Tuhan aku sayang dia

aku tak akan berhenti
menemani dan menyayangimu
hingga matahari tak terbit lagi
bahkan bila aku mati
ku kan berdoa pada ilahi
tuk satukan kami disurga nanti

(Tuhan tolong aku juga jaga dia, Tuhan akupun sayang dia)
aku tak akan berhenti
menemani dan menyayangimu
hingga matahari tak terbit lagi
bahkan bila aku mati
ku kan berdoa pada ilahi
tuk satukan kami disurga nanti

(Lirik Lagu Wali - Doaku Untukmu Sayang)

Dan ibu gak hanya menyanyi tapi selama ini beliau selalu membuktikannya. Selama aku hidup bahkan mungkin sebelum aku ada.
Ibu, yang selama ini berjuang keras untuk anak-anaknya. Berjuang mati-matian untuk aku, Ridwan, dan Dikky. Ibu seorang single parent. Sejak ayah meninggal, ibu melakukan perannya sebagai ibu, juga merangkap sebagai ayah. Bekerja keras membanting tulang untuk mencari nafkah keluarga sendirian, berkuat hati untuk mendidik kami bertiga sendirian,  berkuat diri melindungi kami sendirian, menghadapi kejamnya fitnah dunia sendirian, dan menghadapi kerasnya cobaan hidup ini sendirian.

Ibu setiap hari harus mencari nafkah sendirian, mengerjakan proyek bersama teman-temannya bahkan hingga pulang malam. Padahal sangat bahaya bagi ia seorang wanita, apalagi ibuku cantik. Aku saja di Bandung selalu diingatkan teman2ku "jangan pulang malam, tidak baik untuk akhwat, bahaya!" dan nasehat2 tentang sebaiknya akhwat tidak pulang malam. Jika aku terpaksa pulang malam karena sesuatu yang mendesak, aku selalu diantarkan pulang oleh beberapa teman ikhwan. Sedangkan ibuku? Siapa yang mengantarnya? Kalaupun diantar temannya, ah, temannya laki-laki, nanti bisa jadi fitnah. Tapi kalau pulang malam sendirian, bahaya mengancamnya. T_T Tapi aku selalu berdo'a, supaya Allah selalu melindungi dan menaunginya.
Aku pernah ikut ibu ke tempat proyeknya, hm, memang kebanyakan temannya laki-laki karena memang proyek seperti itu biasa dilakukan oleh laki-laki. Dan memang membutuhkan waktu yang sangat lama dan tetap di sana hingga malam karena harus memantau pekerja-pekerjanya. Jika tidak beres, kerugiannya pun bisa dihitung dengan angka jutaan rupiah, lumayan untuk biaya kehidupan kami. Adikku belum cukup dewasa dan mengerti soal ini. Ridwan, walaupun dia sudah kelas 1 SMA, mengurusi dirinya sendiri aja terkadang masih perlu pantauan ibu, apalagi sampai ikut mengurusi urusan ibu. Sampai saat ini, dia belum bisa dikasih pengertian. Apalagi Dikky yang masih kecil dan manja (karena memang dia anak bungsu). Kuat tidak kuat, ibu harus melakukannya sendiri.

Ibu mendidik kami bertiga sendirian, mendidik kami yang masih kanak-kanak dan belum mandiri padahal usia kami sudah beranjak remaja bahkan dewasa. Terutama Ridwan dan Dikky, mendidik anak laki-laki pastinya tidak mudah. Ibu harus menyiapkan adik-adikku untuk menjadi seorang pemimpin, pemimpin bagi dirinya sendiri, bagi keluarganya sekarang, bagi keluarganya nanti, dan bagi umat. Yang semua itu seharusnya dilakukan bersama ayah karena pastinya ayah lebih berpengalaman. Tapi bisa tidak bisa, ibu harus melakukannya sendiri

Ibu harus berjiwa besar dan pemberani, untuk melindungi kami, untuk menghadapi cobaan-cobaan hidup, dan untuk menghadapi fitnah sendirian. Ketika kami takut, ketika kami sedih, ketika kami khawatir akan perjalanan hidup ini, ibu harus bisa melindungi, menenangkan, dan menghibur kami. Ibu selalu memberikan semangat untuk kami tetap bertahan, untuk tetap bertahan hidup dan untuk tetap bisa sekolah/ kuliah. Ibu juga menghadapi cobaan-cobaan dalam hidup ini sendirian, cobaan untuk keluarga, juga untuk dirinya sendiri. Ketika harus membiayai hidup dan sekolah kami bertiga, ibu memutar otak dan membanting tulang sendirian. Namun ibu selalu bilang, "pokoknya kalian harus tetap sekolah setinggi-tingginya!" Ketika kesulitan dalam mendidik anak-anaknya, ibu harus berkuat hati untuk tetap melakukannya dengan sabar sendirian. Ibu ingin anak-anaknya menjadi disiplin dan cekatan dalam segala hal. Dan terkadang kami bertiga masih sering bandel dalam hal ini. Ketika ada masalah-masalah lain yang menyangkut pribadinya yang terkadang bahkan sering ia menyembunyikan setumpuk masalahnya dan semua itu ditanggung sendirian. Bahkan ketika muncul fitnah-fitnah dari sekitar, fitnah bagi seorang single parent, ibu selalu menghadapinya dengan hati yang lapang, sabar dan ikhlas.

Ibu pernah mengeluh dalam tetesan tangisnya, mungkin ketika itu beliau merasakan puncak-puncaknya cobaan karena sangat jarang ibu mengeluh seperti itu, "coba ada ayah ya nak, mungkin gak akan seberat ini" T_T Aku hanya terdiam membisu karena aku merasa tidak solutif dan apa yang bisa aku lakukan untuknya? untuk sedikit meringankan bebannya? TIDAK ADA. Cobaan ibu terlalu berat dalam pandanganku, namun ibu selalu tampak kuat dan tegar. Ibu selalu menyembunyikan guratan kesedihan dalam wajahnya, ibu selalu menyembunyikan tetesan tangisnya. Beberapa kali aku memergoki ibu sedang menangis merintih mengadu ke Allah. Ternyata itu yang ibu lakukan setiap malam. Tapi di siangnya ibu selalu tampak seperti tidak ada beban sama sekali bahkan selalu tampak ceria.

Lalu apa yang sudah aku lakukan untuknya selama 21 tahun ini? BELUM ADA. T_T
Ibu yang selalu berusaha membahagiakanku, selalu bahagia ketika mendengar aku bahagia, ketika aku bercerita memiliki teman-teman yang dapat membahagiakanku, ketika aku mendapatkan sesuatu yang membuatku senang walaupun tidak pernah terbagi untuknya, dan ibu selalu ikut menangis ketika aku sedih dan terluka. T_T
Aku yang selama ini banyak memperhatikan sekitar tapi aku tidak tau persis apa yang ibu alami hari itu. Aku yang sering berbagi hadiah, tapi jarang aku memberikannya pada ibu, bahkan ketika miladnya pada tanggal 14 Februari kemarin, tidak ada sesuatu yang aku kirimkan untuknya kecuali do'a seperti yang biasa aku lantunkan setiap hari. Memang tidak ada budaya milad dalam islam, ibu dan ayahpun selalu mengajarkan itu selama ini. Tapi saat milad, bukankah biasanya ukhuwah meningkat? Yang putus menjadi tersambung kembali, yang renggang jadi erat kembali, yang biasa menjadi lebih dari biasa, yang sudah dekat menjadi lebih dekat lagi. Bahkan keesokan harinya ibu ke Bandung dan mentraktirku dan beberapa teman-temanku, untuk apa? Ternyata bukan dalam rangka miladnya tapi malah miladku yang padahal 2 hari sebelum miladnya. Aku pun belum menyiapkan kado untuknya saat itu padahal tepat pada tanggal 12 ibu memeberikan sebuah kado besar berisis sesuatu yang memang aku butuhkan saat itu. T_T Hingga pemberian kado untuk ibu aku tunda dan aku tunda lagi. Apakah ini juga yang diberikan ibu kepadaku? Menunda memberikan sesuatu yang sebenarnya tidak penting dan mungkin hanya akan membuatnya terharu sesaat. Ibu tidak melakukan ini padaku, bahkan hampir setiap hari ibu berusaha membuatku bahagia. Hingga baru beberapa hari yang lalu, aku pulang dan mengajaknya belanja dari hasil usaha kecil-kecilanku yang memang masih kecil juga hasilnya, aku sengaja menyisihkannya untuk membelikan ibu baju dan sendal. Dengan begitu saja aku sudah merasa bangga padahal mungkin itu tidak ada artinya untuk ibu.

Ibu, kasihnya tulus dan tidak pernah tergantikan, dengan apapun, sekalipun seluruh emas, intan, dan permata di dunia ini aku beli dan aku persembahkan untuknya, rasanya tidak cukup untuk mengganti apa yang telah beliau berikan padaku.
Sungguh, di sini aku ingin menceritakan tentang ibuku lebih banyak lagi, tentang detail penderitaannya, tentang detail perjuangannya, tentang detail pengorbanannya, tentang detail kasih sayang dan cintanya, tapi aku tidak akan sanggup. Selain panjang, aku juga tidak akan kuat hati menahan luapan rasa sedih dan perasaaan bersalahku. Begitu banyak dosa yang aku lakukan untuknya. Tapi begitu banyak kebaikan yang beliau berikan padaku. Semua ini tidak imbang, dan aku tidak adil. T_T

Namun dalam lubuk hatiku, tertulis namanya besar-besar setelah Allah dan Rasul-NYA. Dan aku ingin memberikan kado spesial untuknya dan ayah, yaitu syurga. Aku ingin tetap bertahan hidup dan menjadi sebaik-baiknya manusia, menjadi hafidzhah supaya aku dapat memberikan mahkota dan jubah terindah untuknya di syurga nanti. T_T
Bismillaah, ibu, ayah, nantikanku di batas waktu. T_T

Tentang Jodoh dan tentang Cinta

“Maha suci Allah yang telah menciptakan semuanya berpasang-pasangan, baik dari mereka yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka sendiri, maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.” (QS Yasin (36) :36)
Jodoh, adalah sesuatu yang rumit untuk dibahas karena memang HANYA ALLAH yang MENGETAHUI. Jodoh adalah Rahasia Allah. Aku pernah mendengar, "Jodoh memang di Tangan Tuhan, tapi kalo kita gak mengejarnya, maka akan selamanya di Tangan Tuhan". Mungkin ada benarnya juga, kita harus tetap berikhtiar (berusaha). Dengan apa? Dengan mengejar 'ribuan' wanita kemudian memilihnya beberapa untuk menjadi pacar atau 'pacaran' dengan kedok ta'aruf? Dengan mendekati 'ribuan' wanita kemudian merayunya dengan kata-kata gombal atau kata-kata indah bernuansa islami supaya terkesan 'ikhwan (laki-laki) soleh'? Dengan menyentuh hati 'ribuan' wanita dengan puisi atau lagu?
Hati wanita memang lemah, hm,,,, bukan lemah deng tapi LEMBUT. Mudah sekali wahai para kaum adam untuk kau bisa mendapatkan wanita yang kau mau, untuk menyentuh hatinya dan membuatnya jatuh cinta kepadamu. Sangat mudah sekali jika kau cerdas. ^^ Namun, apakah itu caramu mencari jodoh?
Padahal jodoh tidak akan pernah tertukar. Jodohmu (wanita) tercipta dari tulang rusukmu, dan tulang rusuk itu tidak akan pernah tertukar. Allah telah menuliskan namanya di dalam kitab-NYA (kitab Lauh Mahfudz) dan suatu saat pasti akan mempertemukanya denganmu di waktu yang tepat. “Dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi di langit dan di bumi, melainkan (tercatat) dalam Kitab yang jelas (Lauhul Mahfuz)” (QS: An-Naml (27) :75)
Keberkahan pertemuan itu, bergantung pada caramu sendiri. Ada yang bertemu karena 'kecelakaan' dulu akibat zina (naudzubillaah), ada yang bertemu karena pacaran (Allah suka gak ya kira-kira?), dan ada yang bertemu karena melalui proses yang sesuai dengan syariat Islam (apa saja ya? Ah, aku sendiri masih terlalu bodoh dalam hal ini, aku pun masih belajar dan belum terlalu dalam, mungkin bisa kau tanya pada guru agamamu, ustadz, atau ustadzahmu).
Aku pernah mendengar cerita kisah nyata dari saudaranya salah seorang sahabatku:
"Ada salah seorang akhwat (perempuan) aktivis dakwah dan seorang ikhwan (laki-laki) aktivis dakwah yang kuliah di suatu kampus. Mereka sering berkoordinasi di amanah-amanahnya hingga akhirnya menjadi dekat. Bukan hanya dekat secara fisik, ah, mungkin tidak semua orang tau kalau mereka dekat secara fisik, tapi mereka dekat secara hati. Mereka saling bergantung satu sama lain hingga kata temenku ini, "mereka udah kaya pasangan gitu deh". Suatu hari, ikhwan tersebut menjanjikan akan mengkhitbahnya (melamarnya), kalo gak salah di sekitar hari kelulusan mereka. Si akhwat pun merasa senang dan melapor kepada orang tuanya bahwa pada tanggal X seorang ikhwan yang 'disayangi'nya selama ini akan datang untuk mengkhitbahnya. Hingga H-2 yang dinanti sang akhwat, ikhwan tersebut mengabarkan bahwa ia tidak jadi datang ke rumahnya untuk mengkhitbahnya. Ia dijodohkan dengan gadis pilihan orang tuanya yang berasal dari daerahnya. Dan kata sahabatku, alasannya kurang syar'i. Orang tuanya bilang kalau ia harus mendapatkan istri yang berasal dari daerah yang sama yi: daerah asalnya karena budayany sama (ikhwan ini berasal dari suatu pulau di luar pulau Jawa) dan orang tuanya bilang kalau beliau tidak suka dengan orang jakarta (kebetulan akhwat ini berasal dari jakarta) *red: eh, kenapa gitu dengan orang jakarta??? T_T Hingga akhirnya ikhwan tersebut menikah dengan gadis pilihan ibunya. Akhwat pun PASTINYA mengalami kesedihan yang mendalam hingga suatu hari datanglah seorang 'laki-laki' yang selama ini menaruh harapan padanya, yang diam-diam ia mengetahui kisah akhwat tersebut. 'Laki-laki' ini, mungkin bukan tipe seperti 'ikhwan' tadi. Tapi kiarena si akhwat sedang terpuruk dalam kesedihan maka akwat tersebut menerimanya. Dan setelah menikah, banyak perubahan yang terjadi pada sang akhwat. Yang dulunya memakai rok, sekarang memakai celana jins. Yang dulunya memakai jilbab lebar, sekarang memakai kerudung seadanya. Yang dulu memakai baju yang menyembunyikan lekukan tubuhnya, sekarang memakai baju ketat. Dan kata sahabatku, anak-anaknya pun tidak dididik dengan didikan Al-qur'an."
(kata sahabatku cerita ini boleh dishare untuk pelajaran tanpa penyebutan nama pelaku)
T_T Miris, sedih, dan jahat kedengarannya! Ini cukup menjadi pelajaran berharga untukku. Memang, untuk apa menunggu sesuatu yang tidak pasti? Padahal yang pasti nanti akan tiba. Namun, menurutku semua itu tetap harus diusahakan bukan hanya dinanti dalam penantian kosong, karena kata Allah:
“Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan dari belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan seuatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar-ra’d(13):11)
Yang bisa kita lakukan saat ini, khususnya sebagai seorang wanita adalah berikhtiar memperbaiki internal, memperbaiki diri, membina diri, dan menjadi sebaik-baiknya diri. Karena kata Allah:
”Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).” (QS. An-Nur:26)

<3 <3 <3 <3 <3 <3 <3 <3 <3 <3 <3 <3 <3 <3 <3 <3 <3 <3 <3 <3 <3 <3 <3 <3 <3 <3 <3 <3 <3 <3 <3

Cinta, ribuan pepatah membuat ungkapan tentangnya, ribuan pujangga membuat puisi tentangnya, ribuan musisi membuat lagu tentangnya, dan ribuan penyair membuat bait tentangnya.
Tapi menurutku, untuk menceritakan cinta tidak cukup dituliskan dalam satu buku karena semua perasaan ada di sana, SEMUANYA. Sangat sering aku menangis karena cinta, sangat sering aku tersenyum karena cinta, sangat sering aku bahagia karena cinta, sangat sering aku sedih karena cinta. Menurutku cinta adalah karunia dari Allah. "Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Allah memberikan karuniaNya kepada siapa yang dikehendakiNya; dan Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui". (QS. Ali Imran:73).
Aku bersyukur karena Allah masih memberikan cinta untukku karena dengan cinta aku menjadi kuat, dengan cinta aku menjadi bersemangat, dengan cinta aku mempunyai tujuan besar, dengan cinta aku memiliki mimpi, DENGAN CINTA AKU AKAN RAIH DUNIA!
“Dijadikan indah dalam pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (syurga).” (QS. Ali Imron:14)
Allah memberikan Cinta-NYA untukku melalui nikmat2nya yang sangat banyak dan sempurna, melalui orang-orang di sekitarku yang mencintaiku, dan melalui semua yang ada pada diriku.

Menurutku, benar sekali jika ada yang bilang "CINTA itu PENGORBANAN", lihat saja seorang ibu dan ayah yang berjuang untuk anak-anaknya, seorang suami yang berjuang untuk keluarganya, seorang sahabat yang berjuang untuk sahabatnya, dan aku merasakan itu semua. Seorang Rasulullah tercinta, Muhammad saw yang berkorban untuk umat-umatnya, untuk kita, untuk memurnikan al-qur'an dan menyampaikan kabar gembira dari Allah untuk kita, beliau berkorban dengan harta, jiwa, dan raganya untuk kita.Bahkan di nafas terakhirnya, beliau menyebut nama kita karena kekhawatirannya kepada kita, apakah kita akan selamat atau tidak? "ummatiy, ummatiy, ummatiy" T_T
"CINTA itu MEMBERI, BUKAN MENERIMA", seperti orang tua yang tidak pernah menuntut balasan dari setiap apa yang mereka korbankan untuk kita yang sekalipun seluruh intan dan permata di seluruh dunia ini digali maka tidak akan sanggup membayar kasih-sayang dan semua yang telah mereka korbankan untuk kita. Seperti Allah yang tidak pernah meminta bayaran untuk oksigen yang kita gunakan untuk bernapas setiap harinya, untuk aliran darah yang belum berhenti hingga saat ini, untuk jantung yang terus memompa dengan semestinya, untuk indra yang lengkap dan sempurna fungsinya, untuk nikmat sehat yang dapat kita gunakan untuk melakukan banyak hal, untuk nikmatnya kasih sayang orang tua, keluarga, dan semua orang yang menyayangi kita, untuk nikmatnya berukhuwah, nikmat iman, islam dan ihsan yang tidak semua orang memilikinya dan untuk SEMUANYA yang tidak akan pernah terhitung nikmat gratisnya yang diberikan kepada kita sekalipun pohon di seluruh dunia dijadikan pena dan seluruh isi lautan di seluruh dunia dijadikan tinta kemudian ditambahkan lagi sebanyak 7 kali. (kata-kata dalam Al-qur'an).
"CINTA itu MENERIMA APA ADANYA, BUKAN MENUNTUT", seperti orang tua kita yang menerima kita meskipun kita tidak sempurna, meskipun kita tidak secantik bidadari atau tidak setampan pangeran, meski kita tidak secerdas Einstein, meski IP kita tidak selalu 4, meski penghasilan bulanan kita terkadang tidak sempat dirasakannya karena sudah habis untuk memenuhi kebutuhan kita sendiri. Dan Allah yang selalu memberikan ampunan kepada kita meski setiap hari kita melakukan segunung dosa. T_T
Yah, cinta yang paling abadi hanyalah CINTA ALLAH karena Allah Yang Memilikinya, Allah Yang Membuatnya, Allah Yang Mendatangkannya, dan Allah pula Yang akan Mengambilnya kembali. Dan semua itu tertulis banyak di dalam Al-qur'an jika kita menyadari dan mau memikirkannya.

Dan aku ingin mendapatkan jodoh seseorang yang aku cintai. (^,^)v
Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah ia menciptakan untukmu dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS Ar Rum : 21)
“Sesungguhnya orang-orang beriman dan beramal sholeh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam hati mereka kasih sayang” (QS Maryam : 96)
Dalam diam dan do'a, dalam penantian yang produktif, dan dalam harapan suci penuh syukur, aku percaya, rencana Allah itu indah(.^,^.)

wallaahu 'alam bi showab.

Rabu, 29 Februari 2012

Muslim Family of Mathematics and Natural Science (MILIS) Institut Teknologi Bandung

UKHUWAH itu INDAH
Tak mengenal jarak dan waktu
Selalu ada untuk saling memberi
Selalu ada untuk saling berbagi
Saling menyemangati, saling mengingatkan, dan saling menguatkan
Walaupun kini amanah kita berbeda-beda,
Walaupun kini ranah kita berbeda-beda,
walaupun kini prodi (program studi) kita berbeda-beda,
namun UKHUWAH selalu jadi NOMOR SATU
 Ana uhibbukun fillaah, MILIS ITB 2009 ^_^


 

Memories of MILIS ITB 2009,by Sarah Ismi Kamilah Fi09

Pesan dari seseorang:
Dewi, kita tuh bersahabat bukan karena kita satu organisasi, bukan karena kita satu fakultas, dan bukan karena kita satu amanah, namun KITA BERSAHABAT KARENA ALLAH, dan semoga selamanya akan seperti itu. ^^

Semua Urusan Kita Akan menjadi Mudah, jika....

Jika hanya satu surat dalam Al-qur’an yang turun, cukuplah QS. Al-Ashr. “Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beramal soleh. Dan saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran”
Secara umum, taqwa adalah menjalankan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya.
Secara harfiah, taqwa berarti takut dengan kesadaran yang tinggi. Dapat dianalogikan dengan takutnya seorang anak terhadap orang tuanya namun tetap ingin dikasihi.
Dalam QS. Al-Baqarah:1-5
Surat yang didahului dengan ayat Alif Laaaaaammiim berarti mengundang perhatian dengan sangat.
Al-qur’an diturunkan dengan kebenaran yang nyata.
Kitab itu adalah bimbingan bagi orang-orang yang bertaqwa, yaitu:
-          Yakin kepada yang ghaib
-          Mengerjakan sholat
-          Mementingkan kepedulian dengan berinfaq
-          Yakin kepada seluruh kitab Allah, khususnya Al-qur’an
-          Yakin kepada hari kiamat
Orang-orang yang bertaqwa akan mendapatkan hidayah dan kesuksesan, berupa:
-          Allah selalu membuka jalan keluar untuk setiap masalahnya à QS. Ath-Thalaq (65:2),
Allah akan mencukupkan keperluannya, memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka à QS. 65:3, Barangsiapa yang bertaqwa kepada ALLOH niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rejeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya”
Rezeki adalah pemberian Allah, sesuatu yang dimakan dan diminum, sesuatu yang dipakai, dan sesuatu yang diinfakkan (ini meruoakan rezeki abadi)
-          Memudahkannya dalam semua urusannya à QS. 65:4 “...Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. 65:4)
Contoh urusan: rezeki, amanah2 (akademik, amanah dakwah, amanah sebagai orang tua, anak atau suami), jodoh, dll.
Allah menghapus kesalahan2nya dan akan melipatgandakan pahala baginya à QS. 65:5,
“….Dan Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya”
Tidak ada beban yang lebih berat daripada dosa. Dosa membuat urusan2 menjadi sulit.
-          Mendapatkan furqan (pembeda), mana yang benar dan mana yang salah, mana yang harus disikapi dan mana yang tidak.
Salah satu dalam do’a pada al-Matsurat, penyakit2 taqwa yang kita berdo’a untuk dihindarkan daripadanya adalah:
-          Kebingungan (kegelisahan)
-          Kesedihan (frustasi, futur, bete)
-          Kelemahan (tenaga, akal, ruhiyah)
-          Kemalasan
-          Sikap pengecut (takut resiko dalah berbagai hal: ibadah, berjuang, belajar, dll)
-          Pelit
-          Hutang (hutang uang, hutang urusan yang tertunda seperti: belajar yang ditunda2 sehingga materinya menumpuk, gak dateng pembinaan beberapa kali sehingga akhirnya jadi sungkan untuk dateng lagi karena ‘hutang’ (gak dateng pembinaan) yang menumpuk, hafalan yang ditunda2, pengerjaan tugas dan amanah yang tertunda2 sehingga menumpuk)
-          Kesewenangan orang lain
Unsur-unsur atau elemen-elemen taqwa dari segi pengalaman:
1.       Mu’ahadah (merasa / yakin terikat janji dengan Allah)
Sesungguhnya kita telah terikat janji dengan Allah, yaitu: Dalam bacaan Al-Fatihah kita “Hanya kepada-Mu lah aku menyembah dan hanya kepada-Mu lah aku memohon pertolongan”. Selain itu, dalam do’a kita di Al-Ma’tsurat yaitu sayyidul istighfar yang isinya muhasabbah.
2.        Muraqabah (merasa diawasi (direkam) oleh Allah SWT)
Muraqabah adalah puncak ibadah, yaitu ihsan : beribadah kepada Allah hingga melihat Allah atau minimal merasa bahwa Allah melihatnya. Perhatikan diri kita ketika sholat, apakah kita sudah bermuroqobah?
3.       Muhasabbah (menghisab diri)
Tiga hal yang perlu dihisab: lahir, batin, dan akal.
Cara bermuhasabbah: merenung dan berdzikir setelah sholat, curhat tentang amalnya yang gak naik-naik, merenungi diakhiri dengan istighfar (dalam al-ma’tsurat, “Yaa Allah, malam sudah datang lagi, siang sudah pergi lagi, banyak dari hamba2-Mu yang memohon kepadamu. Maafkan aku yang tidak optimal hari ini, yaa Alla”, muhasabbah secara runtut menghisab dirinya tentang kebaikan dan keburukan yang telah banyak dilakukan.
4.       Mu’aqabah (mengiqab diri)
Umar bin Khathab pernah ketinggalan sholat ashar berjama’ah karena sibuk menggarap kebunnya di Madinah. Beliau melihat rombongan kaum muslimin. “Dari mana kalian berombongan?” “Loh, kok kamu bertanya seperti itu, Umar” “Aku kan berhak bertanya kepada kalian” “Kami dari masjid, sholat ashar berjama’ah”. Seketika itu Umar meminta ampun kepada allah karena telah lalai gara2 perkebunannya sehingga beliau menginfakkan seluruh kebunnya yang telah membuatnya lalai sholat ashar. Bagaimana dengan kita?
5.       Mujahadah (berjihad = bersungguh-sungguh)
Ciri-ciri mujahadah:
-          Istimror,  mau damwan (rutin, kontinu)
Contoh: mau meluangkan waktu antar maghrib-isya untuk hafalan al-qur’an, mau meluangkan waktu setelah shubuh dan asharnya untuk membaca Al-Ma’tsurat, dll.
-          Marhaliah, mau bertahap
Contoh: belum menjadi kader inti, mau mengikuti tahapan atau proses pembelajaran untuk mengejar ketertinggalan dari teman2nya dan terus berusaha menjadi lebih baik.
-          Mau berkorban

Tentang hadits arba’in ke-18: Dari Abu Dzar, Jundub bin Junadah dan Abu ‘Abdurrahman, Mu’adz bin Jabal radhiyallahu 'anhuma, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau bersabda : “Bertaqwalah kepada Allah di mana saja engkau berada dan susullah sesuatu perbuatan dosa dengan kebaikan, pasti akan menghapuskannya dan bergaullah sesama manusia dengan akhlaq yang baik”. 
(HR. Tirmidzi, ia telah berkata : Hadits ini hasan, pada lafazh lain derajatnya hasan shahih) [Tirmidzi no. 1987]
-          Bertaqwa kepada Allah di manapun dan dalam keadaan apapun
-          Mengikuti keburukan dengan kebaikan
-          Memperlakukan manusia dengan ihsan
Ketaqwaan belum lengkap kalau belum memperhatikan kebersamaan. Dalam hadits arba’in ke-35: Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, ia berkata : “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda : “Kamu sekalian, satu sama lain Janganlah saling mendengki, saling menipu, saling membenci, saling menjauhi dan janganlah membeli barang yang sedang ditawar orang lain. Dan jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lain, maka tidak boleh menzhaliminya, menelantarkannya, mendustainya dan menghinakannya. Taqwa itu ada di sini (seraya menunjuk dada beliau tiga kali). Seseorang telah dikatakan berbuat jahat jika ia menghina saudaranya sesama muslim. Setiap muslim haram darahnya bagi muslim yang lain, demikian juga harta dan kehormatannya”. [Muslim no. 2564]
-          Jangan hasad
-          Jangan saling menipu
-          Jangan saling membenci
-          Jangan saling membelakangi / menjauhi
-          Jangan membeli sesuatu yang sudah dibeli orang lain (termasuk mengkhitbah seseorang yang telah dikhitbah oleh saudaranya)
-          Jadilah hamba Allah yang bersaudara
Taqwa tidak lepas dari kebersamaan dengan manusia lain, bukan hanya beribadah saja, tidak terpengaruh dengan apapun (tidak perlu membenci politik karena taqwa letaknya di dalam qalbu).

Dalam QS. Ali Imran:133-135, "Dan bersegeralah Kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa." (QS. Ali Imran: 133)
"(yaitu) orang yang berinfaq baik di waktu lapang atau sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan." (QS. Ali Imran: 134)
"dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau mendholimi diri sendiri, mereka bersegera mengingat Allah lalu, memohon ampunan atas dosa-dosanya dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedangkan Mereka mengetahui." (QS. Ali Imran: 135)
-          Segera mencari ampunan
-          Raih syurga yang seluas langit dan bumi
Dengan cara:
-          Berinfak di waktu yang lapang dan sempit
-          Menahan amarah
-          Mema’afkan kesalahan orang lain
-          Sadar diri akan perbuatan kejinya lalu memohon ampunan
Harta, rizki, jodoh, kemenangan adalah hal DUNIAWI. Tapi kalo kita tidak mendapatkannya atau sulit untuk mendapatkannya, ketaqwaan kita dipertanyakan karena Allah telah berjanji memberikan kemudahan dan pertolongan dalam setiap urusan-urusan bagi orang2 yang bertaqwa.
Kapan batas sabar itu? Dalam QS. Al-Baqarah:214. “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, pada-hal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh mala-petaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.”
 Jadi batas kesabaran adalah ketika pertolongan Allah tiba. ^^
Wallahu ‘alam bo showab
[Notulensi Kajian tentang Taqwa bersama ustadz Asep Rodhi]

Minggu, 22 Januari 2012

Rindu (part I)

Hijaunya dedaunan tak nampak
Semilirnya angin tak terasa
Percikan air tak terdengar
Sunyi,
Sesunyi hati ini...
Allah, mengapa hati ini membeku?
Tak ada tetesan embun cinta
tanpa percikan air kisah suci
tanpa sentuhan angin rindu
keras, beku, hampa
Astaghfirullah al adziim,
mungkin aku bersalah dan berdosa
Selama ini aku mengkhianati-Mu, Allah
Selama ini aku tak setia kepada-Mu
Aku telah menduakan-Mu
dengan kepentingan dunia ini
yang indahnya fatamorgana,
membutakan mata batinku,
dan janjinya tak pernah tepat
Kini, ketika dunia menerlantarkanku, aku kembali pada-Mu
Aku kembali di saat aku butuh Engkau
Aku kembali dengan segunung dosaku
Apakah pantas aku kembali pada-Mu, Allah?
Mampukah aku berjanji pada-Mu untuk selalu setia pada-Mu?
Dan tidak akan pernah lagi mengkhianati-Mu?
Sepertinya aku tidak akan pernah mampu, Allah
Tapi aku sangat membutuhkan-Mu!
Membutuhkan cahaya kasih dan cinta-Mu
Aku ingin bersimpuh dan bersujud di hadapan-Mu, Allah
Aku ingin merasakan belaian kasih dan cinta-Mu
Lalu tetap begini, dan tetap di sini, bersama-Mu

Senin, 19 Desember 2011

Be your self and remember QS. Al-Baqarah (2:138)

Aku adalah seseorang yang berkepribadian Dominant-Infuencer-Complain. Kepribadian koleris membuatku menjadi seseorang yang selalu ingin berada di garda terdepan, menjadi sesuatu yang ada di depan, memulai, memaksa dan keras kepala. Karena kepribadian Influencer, aku adalah seseorang yang senang mengajak walaupun terkadang aku merasa lelah dengan orang2 yang susah diajak. Aku juga seseorang yang sangat ceria, namun terkadang aku bisa menjadi seseorang yang mudah menangis, mudah terbawa suasana dan mudah ditebak (ekspresif). Dan karena kepribadian melankolis (complain) itu, aku adalah seseorang yang sensitif dan mudah tersinggung. Ketika ada seseorang yang mengingatkanku, aku sangat senang dan bersyukur, tapi tanpa dusta, terkadang aku merasa "sakit hati". Sakit hati di sini lebih karena sensitifnya aku.

Beberapa waktu yang lalu aku diingatkan oleh seseorang yang sangat baik orangnya, sangat perhatian padaku dan tentunya sayang padaku karena ia adalah teman baikku dan juga saudariku. Pesannya berisi tentang sesuatu yang menyangkut tentang karakter diriku. Saat itu, respon spontanku adalah, "Oh, aku salah. Dia kan lebih tinggi ilmunya menurutku, mungkin memang dia benar" dan ketika itu aku langsung melakukan suatu perubahan yang membuat banyak teman2ku bingung. Ah, kata mereka aku malah jadi aneh, bukan seperti itu yang mereka inginkan dariku, dan aku sempat meninggalkan sesuatu yang yang seharusnya aku tetap di sana untuk melakukan banyak hal, untuk memberi banyak manfaat dan untuk mencapai visi misi yang selama ini aku tanam dan ingin aku raih.
Aku juga merasa, perubahan ini membatasi ruang gerakku, membatasi karyaku, dan membatasi kesempatan untukku mencapai tujuanku di semua ranah.
Aku, beberapa hari ini banyak mengurung diri dan merenungi, tapi ternyata memang aku tidak banyak gerak dan tidak banyak melakukan hal. Padahal seharusnya banyak yang harus aku lakukan dan bisa aku lakukan melalui potensiku itu.
Hari ini aku disadarakan oleh seorang kakak tingkat yang beliau insya Allah sevisi dan setujuan, hampir sepemahaman dan karakternya hampir sama denganku. Sepenglihatanku, beliau sangat hebat di bidangnya, sangat profesional di ranahnya dan beliau banyak memberikan manfaatnya, salah satunya dengan karakternya itu, "kesupelannya terhadap siapapun". Beliau adalah salah satu kakak yang aku kagumi selama ini, "akhwat super keren".
Beliau sangat menginspirasiku untuk lebih banyak belajar lagi tentang banyak ilmu, tentang hal yang seharusnya banyak kita pelajari mulai sekarang! Karena masa hidup kita di kampus ini sangat singkat. Banyak hal yang bisa kita lakukan di sini, "berkarya dan banyak memberikan manfaat; mengajak dan menginspirasi orang lain; belajar dan mencari pengalaman seluas-luasnya; dan memikirkan orang lain".
Menyangkut karakter, hari ini, aku menemukan tulisan dalam buku "Agar Bidadari Cemburu Padamu" karya Salim A. Fillah (yah, buku lama baru baca ya? iya, soalnya sejujurnya aku gak terlalu suka baca tapi aku sedang berusaha untuk cinta baca):
"Alangkah sunyi dunia jika semuanya seragam. Biarkan semuanya sesuai karunia karakter yang Allah letakkan pada diri kita. Maka akan tetap ada akhwat jago karate seperti Nusaibah binti Ka'ab yang melindungi Rasulullaah ke manapun beliau bergerak dalam perang. Akan tetap ada yang berkepribadian kuat dan pemberani seperti Ummu Hani' binti abu Thalib. akan tetap ada yang suka bermanja dan ceria seperti 'Aisyah. Ada yang tetap bisa membentak dan tertawa terbahak seperti Hafshah. Akan tetap ada yang lembut dan keibuan seperti Khadijah."

Namun dalam buku tsb menjelaskan bahwa  karakter2 itu sebaiknya memang perlu kita "celup" dengan "celupan Allah" yang membingkainya menjadi sesuatu yang indah. Ia menjaganya untuk tetap menjadi kemuliaan di manapun, kapanpun sehingga memang perlu beberapa penyesuaian tertentu.
"Celupan warna Allah. Dan siapakah yang lebih baik celupan warnanya daripada Allah. Dan pada-Nya sajalah kami beribadah." [QS. Al-Baqarah (2:138)]

Yah,  aku memang masih dalam proses belajar dan sampai saat ini pun aku masih belajar dan harus lebih banyak lagi porsi belajarnya karena aku banyak tertinggal dari teman-temanku yang lain dan aku cukup bisa dibilang "lemot" dan "keras kepala" dalam materi2 aplikatif seperti ini.
Aku sangat bersyukur karena aku merasa Allah masih menyayangiku melalui teguran ini, peringatan ini, inspirasi ini, melalui mereka, sahabat2ku, kakak2 tingkatku, dan semua orang-orang di sekitarku. ^,^
Dan semoga Allah tetap dan selalu tetap menyayangiku, menyayangi mereka dan menyayangi semua orang-orang yang aku sayangi. aamiin. :-)

Jumat, 16 Desember 2011

Belajar Mencintai dan Memperhatikan

Beberapa hari yang lalu, aku membaca email dari salah seorang temanku. Isinya mp3 berjudul "Jessica".
Pada suatu malam, Budi, seorang eksekutif sukses seperti bisanya sibuk memperhatikan berkas-berkas pekerjaan kantor yang ia bawa pulang ke rumah karena keesokan harinya ada rapat umum yang sangat penting dengan para pemegang saham. Ketika sedang asik menyeleksi dokumen kantor tersebut, Putrinya, Jessica, datang mendekati, berdiri, tepat di sampingnya sambil memegang buku cerita baru. Buku itu bergambar seorang peri kecil yang sangat menarik perhatian Jessica.
"Pa, lihat, Jessi punya buku baru bagus deh." Jessica berusaha menarik perhatian ayahnya. Budi menengok ke arahnya sambil menurunkan kacamatanya. Kalimat yang keluar hanyalah kalimat basa basi, "wah, bagus ya Jes?" "Iya..." Jessica merasa senang karena ada tanggapan dari ayahnya. "Bacain Jessi dong, pa." pinta Jessica dengan lembut. "wah, papa sedang sibuk sekali nih, jangan sekarang deh." sanggah Budi dengan cepat, lalu ia segera mengalihkan perhatiannya pada kertas-kertas yang berserakan di depannnya. Jessica diam, tapi ia belum menyerah. dengan suara yang sedikit manja dan lembut, ia kembali merayu ayahnya. "Pa, mama bilang, papa mau baca untuk Jessi". "Lain kali Jessica, sana papa lagi banyak kerjaan nih!" Budi berusaha memusatkan perhatiannya  pada lembar-lembar kertas tadi. Menit demi menit berlalu. Jessica menarik nafas panjang dan tetap di situ. Berdiri di tempat dengan penuh harap dan tiba-tiba ia memulai percakapan lagi. "Pa, gambarnya bagus-bagus deh. Papa pasti suka." "Jessica! papa bilang lain kali!" Budi membentaknya dengan keras.
Kali ini Budi berhasil membuat Jessica mundur. Matanya berkaca-kaca dan ia bergeser menjauhi ayahnya. "Ia pa, lain kalia aja ya pa?" Ia masih sempat mendekati ayahnya dan sambil menyentuh lembut tangan ayahnya. Ia menaruh buku cerita si pangkuan sang ayah. "Pa, kalo papa ada waktu, papa baca keras-keras ya pa supaya Jessi bisa denger."
Hari demi hari berlalu, tanpa terasa dua pekan berlalu, namun permintaan Jessica kecil tidak pernah terpenuhi. Buku cerita peri kecil, belum pernah dibacakan bagi dirinya. Hingga suatu sore terdengar suara hentakan keras. Beberapa tetangga melaporkan dengan histeris bahwa Jessica kecil terlindas kendaraan seorang pemuda mabuk yang melajukan kendaraan dengab kecang di depan rumah Budi. Tubuh Jessica mungil terlempar beberapa meter. Dalam keadaan yang begitu panik, ambulance didatangkan secepatnya. Selama perjalanan menuju rumah sakit, Jessica kecil sempat berkata dengan begitu lirih, "papa, mama, Jessi takut. Jessi sayang papa dan mama." Darah segar terus mengalir dari mulutnya hingga ia tidak tertolong lagi ketika sampai di rumah sakit terdekat.
Kejadian hari itu begitu mengguncang hati nurani budi. Tidak ada lagi waktu tersisa untuk memenuhi sebuah janji. Kini yang ada hanyalah penyesalan. Permintaan sang buah hati yang sangat sederhana pun tidak ia penuhi. Masih segar terbayang dalam ingatan budi, tangan kecil anaknya yang memohon kepadanya untuk membacakan sebuah cerita. Kini, sentuhan itupun terasa sangat berarti sekali. Sore itu setelah segalanya berlalu, yang tersisa hanyalah keheningan dan kesunyian hati. Canda dan riang Jessica kecil, tidak akan terdengar lagi. Budi mulai membuka buku cerita peri kecil yang diambilnya perlahan dari onggokan mainan jessica di pojok ruangan. bukuya sudah tidak baru lagi, sampulnya sudah usang dan terkoyak. Beberapa coretan tak berbentuk menghiasi lembar-lembar halamannya seperti sebuah kenangan indah dari Jessica kecil. Budi menguatkan hati dengan mata yang berkaca-kaca. Ia membuka halaman pertama dan membacanya dengan suara keras. tampak sekali ia berusaha untuk membacanya dengan keras. Ia terus membacanya dengan suara keras-keras, halaman demi halaman, dengan berlinang air mata. "Jessi, dengar! Papa baca buatmu, nak." Selang beberapa kata, hatinya memohon lagi, "Jessi, papa mohon ampun nak, papa sayang sama Jessi." Seakan setiap kata dalam bacaan itu begitu menggores lubuk hatinya.
Tak kuasa menahan sakit, budi bersujud dan menangis, memohon kepada Tuhan untuk diberi satu kesempatan lagi untuk BELAJAR MENCINTAI.

Teringat ketika dulu aku mengabaikan panggilan orang tua karena padatnya amanah di kampus sehingga aku tidak sempat bertemu dengan ayahku di nafas terakhirnya. T_T

Ibroh yang bisa kita ambil dari kisah ini:
1. Perhatikanlah keluarga kita!
--> sesibuk apapun urusan kita, sempatkan setiap hari untuk menghubungi keluarga, minimal sms untuk sekedar menanyakan kabar atau meminta do'a kepada orang tua. Dan perhatikanlah keluarga kita!
 “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim: 6)

2. Perhatikan orang-orang terdekat kita dan orang-orang di sekitar kita!
--> lihatlah walau hanya dengan "melirik" tentang kondisi orang-orang terdekat kita, maupun orang-orang di sekitar kita, minimal mengetahui keadaan fisiknya (apakah dia sehat?) walaupun tidak selalu kita bisa menyimpulkan dengan benar apakah orang yang kita perhatikan tersebut sedang sehat atau tidak, sedang bermasalah atau tidak, dan sedang membutuhkan bantuan kita atau tidak.
"...maka bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu; dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman”. (QS. Al-Anfal:1)
"Sesungguhnya mukmin itu bersaudara" [QS. Al-Hujuraat (49:10)]
"Tidak beriman seorang muslim itu sehingga dia mencintai saudaranya
sepertimana dia mencintai buat dirinya"
(HR Al-Bukhari)
"Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. At-Taubat:71)

3. Perhatikan amanah dan amalan yaumiyah kita!
--> sekecil apapun amanah yang kita ambil, kelak akan dipertanggungjawabkan. Dan sebanyak apapun amanah kita, perhatikanlah, terutama amanah yang diprioritaskan di paling terakhir.
 ”Dan (sungguh beruntung) orang-orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya, serta orang yang memelihara sholatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” [QS. Al-Mu'minun (23:8-11)]
--> Perhatikan amalan yaumiyah kita! Kalau perlu, catat dalam buku / kertas muwashoffat.
"Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan" (QS. Al-Hasyr: 18)

4. Perhatikan pemimpin kita! (dimulai dari pemimpin dalam amanah-amanah)
--> “Setiap kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya” 
(H.R. Bukhari dan Muslim). Pemimpin2 kita juga manusia, mereka juga saudara kita. Mereka juga terkadang membutuhkan bantuan kita. Mereka terkadang butuh kita untuk mengingatkannya. Mereka terkadang juga butuh kepekaan dari kita untuk membantu menyelesaikan tugas2 dengan sebaik-baiknya.
Perhatikan posisi kita. Ketika kita menjadi staff, bayangkanlah,  bagaimana jika kita berada di posisinya (pemimpin kita)? apakah kita siap ditinggalkan staff2 kita untuk menanggung beban sendirian? Berusahalah untuk meringankan bebannya, semampu kita. Bantulah ia dengan apa yang bisa kita bantu.
"Barangsiapa melepakan kesusahan seorang mukmin di dunia, niscaya Allah akan melepaskan kesusahannya di akhirat. Barangsiapa memudahkan urusan orang yang dilanda kesusahan, niscaya Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan di akhirat. Barangsiapa menutup cela seorang muslim, niscaya Allah akan menutup celanya di dunia dan di akhirat. Dan Allah senantiasa memberikan pertolongan kepada hamba-Nya selama ia memberikan pertolongan kepada saudaranya." (HR. Muslim)
Dan ingatkanlah dengan cara yang baik ketika ia bersalah.
"Serulah (manusia) kepada jalan Robb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik…" [QS. an-Nahl (16: 125)]
"Mengatakan kebenaran kepada pemimpin yang bersalah merupakan sebuah kesetiaan dan menyembunyikannya merupakan sebuah pengkhianatan" (Abu Bakar Ash Shidiq) 

5. Perhatikanlah orang-orang yang kita cintai!
--> Lakukan yang terbaik apa yang bisa kita lakukan untuknya, seminimal-minimalnya adalah selalu menyertakannya dalam do'a2 kita. Bukankah salah satu do'a yang dikabulkan adalah do'a yang tidak diketahui oleh orang yang kita do'akan?
"Cinta itu memberi, bukan menerima", seperti yang dilakukan ibu dan ayah. Selalu lakukan yang terbaik untuk orang-orang yang kita cintai karena bisa jadi hari ini adalah kebaikan terakhir kita untuknya, bisa jadi hari esok kita sudah tidak dapat berjumpa lagi dengannya, tidak lagi mendengar suaranya, tidak lagi melihat senyumnya dan tidak lagi merasakan cintanya.
Tak ada yang abadi kecuali ALLAH.


Wallaahu 'alam bi showab.