About me

Foto saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Instagram: @dewikusumapratiwi Facebook: https://www.facebook.com/dewi.kusumapratiwi

Rabu, 07 Februari 2018

Tentang Rasa Part 4


Hampir setiap hari libur, saat Rati mendengarkan program acara kirim-kirim salam di radio kesukaannya, ia selalu mengirimkan salam, puisi, dan lagu untuk Adi.
"Hai mb Deska, sperti biasa aq mw mngirimkan puisi utk some1 di Cangkringan.
"Hai, aq tak tahu hrs mnyebutmu apa...
Akhir2 ini bayangmu mngganggu kpalaQ...
Aq rindu dg bau tubuhmu...
Aq rindu dg snyummu yg mahal...
Aq rindu dg suaramu yg mnenangkan...
Aq rindu dg matamu yg tajam & prnah mnusuk hati ini,
Smpai aq tak mampu mlepaskannya dan tak rela mnyembuhkan goresannya...
Krn bagiku, goresan ini sgt brarti..."
Tlg putarkan lagunya Olive, Ttg Rasa ya mb, spesial bwt dy..."
(Hai mbak Deska, seperti biasa aku mau mengirimkan puisi untuk someone di Cangkringan.
“Hai, aku tak tahu harus menyebutmu apa…
Akhir-akhir ini bayangmu mengganggu kepalaku…
Aku rindu dengan bau tubuhmu…
Aku rindu dengan senyummu yang mahal…
Aku rindu dengan suaramu yang menenangkan…
Aku rindu dengan matamu yang tajam dan pernah menusuk hati ini,
Sampai aku tak mampu melepaskannya dan tak rela menyembuhkan goresannya…
Karena bagiku, goresan ini sangat berartyi…”
Tolong putarkan lagunya Olive, Tentang Rasa ya mbak, spesial buat dia…” - red)

Ternyata Adi pun sering mendengarkannya. Namun ia tak begitu yakin kalau itu adalah pesan Rati untuknya karena tak ada nama pengirim dan yang dikirimi salam di SMS itu. Daerah rumah yang disebutkan memang sama. Adi memang tinggal di Cangkringan dan Rati tinggal di Teras. Lagu-lagu yang dikirimkanpun adalah lagu kesukaannya yang pernah ia sampaikan kepada Rati. Adi belum berani mengambil kesimpulan, namun pesan di radio itu selalu menjadi pesan teka-teki baginya.

Bersambung 

#day16 #30DWC #30DWCjilid11

Tentang Rasa Part 3

Hari-hari Rati di kelas IX terasa berbeda. Meskipun tetap banyak teman yang mendekatinya karena mengetahui bahwa ia pintar. Hampir semua teman laki-laki ngefans dengannya meskipun ia tak modis. Ia manis, namun penampilannya apa adanya. Ia selalu mengikat rambut ikal sebahunya dan memakai kacamata murahannya. Teman-teman perempuan pun sangat menghormatinya meskipun ia tak berpenampilan keren. Guru-guru juga sangat menyayanginya meskipun ia tak pernah membayar uang bulanan sekolah dan mengandalkan beasiswa. Ialah juara bertahan di sekolahnya yang sering membawa harum nama sekolahnya dengan memenangkan beberapa kejuaraan olimpiade.

Di tengah kecemerlangan prestasinya, hari-hari Rati selalu diusik dengan perasaan rindu. Rindu yang tak terobati. Meskipun satu sekolah, namun jarak kelas memisahkanya dengan Adi. Arah pulang ke rumah merekapun berbeda. Setiap pulang sekolah, mereka keluar melalui pintu gerbang yang berbeda. Kantin sekolah pun ada 4. Biasanya anak-anak kelas IX A-C makan di kantin sebelah barat, sedangkan anak-anak kelas IX D-F makan di kantin sebelah timur. Malu bagi Rati jika harus sengaja main ke daerah barat hanya untuk bisa bertemu dengan Adi. Tak ada alasan untuknya, karena pada dasarnya mereka juga bukan teman yang dekat sekali.

Saat naik kelas IX Rati memiliki HP, hadiah dari ayahnya karena prestasinya yang cemerlang. Meskipun hanya Nokia 3315, namun itu hasil kerja keras dan menabung ayahnya selama 1 tahun yang lalu. Ingin sekali ayahnya membelikannya dari dulu, namun belum mampu. Gajinya pas-pasan untuk hidupnya di Jakarta dan mengirim sebagian uangnya ke kampung untuk istri, orang tua, dan ketiga anaknya. Bagi Rati, itu hadiah yang sangat berharga dari ayahnya tercinta. Kini Rati bisa SMS-an dengan teman-temannya. Sangat memudahkan ia saat janjian belajar kelompok. Dan ia pun bisa melakukan SMS kepada penyiar radio.

"Slmt siang, mb Deska. Aq pngen kirim salam bwt some1 yg sgt aq rindukan. Sseorg yg dl prnh dkt tp skg jauh. Request lagu Ttg Rasa-nya Olive y... Spesial bwt dy yg mnyukainya. Dr some1 di Teras." (Selamat siang, mbak Deska. Akun pengen kirim salam buat someone yang sangat aku rindukan. Seseorang yang dulu pernah dekat tapi sekarang jauh. Request lagu Tentang Rasa-nya Olive ya… Spesial buat dia yang menyukainya. Dari someone di Teras. - red)

Tak lama kemudian, sang penyiar memutarkan lagu requestnya.

Aku tersesat
Menuju hatimu
Beri aku jalan yang indah
Ijinkan ku lepas penatku
Tuk sejenak lelap di bahumu

Dapatkah selamanya kita bersama
Menyatukan perasaan kau dan aku
Semoga cinta kita kekal abadi
Sesampainya akhir nanti selamanya

Tentang cinta yang datang perlahan
Membuatku takut kehilangan
Ku titipkan cahaya terang
Tak padam di dera goda dan masa
Bersambung

#day15 #30DWC #30DWCjilid11

Tentang Rasa Part 2



Rati berasal dari kalangan keluarga ekonomi lemah. Ia bisa sekolah di SMP favourite di kota kecilnya itu dengan beasiswa. Jangankan memiliki HP, sepatunya saja sudah hampir lapuk. Sepatu KW satu-satunya sejak masuk SMP belum pernah diganti. Baju putihnya menguning seiring ia naik kelas. Tasnya kumal. Sepedanya butut, dibelikan ayahnya dari pasar loak yang menjual barang-barang bekas.

Berbeda dengan Adi yang berasal dari kalangan keluarga berkecukupan. Papanya pengusaha, mamanya PNS. Barang-barang brandednya memang selalu membuatnya terlihat keren. Masih SMP saja sudah dipegangi motor Suzuki Shogun R untuk pergi ke sekolah. Meskipun hanya dipakai di jalan perkampungan dan diparkir di toko belakang sekolah. HP-nya saat tahun 2004 itu adalah Nokia N-Gage. Jam tangan dan tasnya brand internasional. Namun ia tak pernah sengaja menonjolkan diri, apalagi memanfaatkan kekerenannya untuk mendekati perempuan-perempuan.

Adi tampak cool, namun sebenarnya ia hanyalah anak pendiam. Tak banyak teman perempuan yang bisa berinteraksi dekat dengannya. Namun Rati bisa. Perbedaan status sosial tidak menghalangi pertemanan Rati dan Adi. Rati memiliki kelebihan sendiri. Ia adalah anak yang cerdas, pandai bergaul, selalu juara kelas, dan baik kepada semua orang. Ia tak pernah pelit ilmu terhadap teman-temannya.

Obrolan mereka selalu tampak biasa. Namun selalu ada perasaan rindu yang menggebu di hati Rati untuk bisa mengulangnya kembali. Meskipun jarak belasan KM harus ia lalui dengan mengayuh sepeda bututnya, ia selalu bahagia saat pergi ke sekolah. 4 hari berikutnya selalu dinantikan Rati untuk bisa mendengarkan suara Adi yang lembut lebih dekat, mencuri pandang matanya yang tajam, mencium tubuhnya yang selalu wangi dengan parfum AXE gravity. Ia belajar semakin giat supaya bisa menjawab semua pertanyaan-pertanyaan Adi dan mengajarinya secara intens. Benih-benih rasa yang tak biasa rupanya tumbuh di hati Rati. Mungkin itu yang namanya cinta pertama. Hingga kenaikan kelas pun tiba. Undian yang dilakukan oleh pengurus sekolah harus memisahkan mereka. Rati di kelas IX E dan Adi di kelas IX A.


Bersambung

#day13 #30DWC #30DWCjilid11

Tentang Rasa Part 1



"Ngaca' dong ngaca'!" teriak Yudha setiap berpapasan dengan Rati. Satu semester lamanya, sepanjang kelas IX, kata-kata itu selalu dijumpai Rati saat berpapasan dengan Yudha dan teman-teman segengnya. Meskipun cukup mengusik hati, namun Rati selalu merindukan papasan dengan mereka. Karena di sana ada Adi.

***

Rati dan Adi pernah satu kelas di kelas VIII B. Peraturan duduk rolling mempertemukan mereka setiap 4 hari sekali dalam posisi sejajar depan-belakang. Hal itu membuat mereka menjadi lebih mudah untuk mengobrol di sela-sela jam pelajaran sekolah. Adi sering bertanya tentang mata pelajaran kepada Rati. Sedangkan Rati sering bertanya tentang teknologi kepada Adi. Bukan hanya itu, terkadang mereka juga mengobrol hal-hal ringan dan tidak penting.
"Kamu suka dengerin radio?" Tanya Adi kepada Rati.
"Iya, kalau hari libur."
"Biasanya dengerin channel apa?"
"Cinta Jaya FM..."
"Pasti suka kirim salam gitu ya?"
"Hahaha. Gak lah. Aku kan gak punya telepon sama HP."
"Kamu paling suka denger lagunya siapa?"
"Hampir semuanya suka kok. Jikustik, Peterpan, Kotak, Olive. Kalau kamu?"
"Olive, Tentang Rasa."

"Kamu pernah berantem gak sama adhekmu?" tanya Rati kepada Adi.
"Sering lah..."
"Kirain aku aja yang sering berantem sama adhekku..."
"Pasti kamu sering nakalin adhekmu ya?" Adi mencoba iseng.
"Yeay, yang ada dia yang sering ngisengin aku, jadinya aku marah..."
"Keliatan kok kamu orangnya galak dan sering marah-marah..."
"Ih nyebelin," sangkal Rati sembari mencubit tangan Adi. Namun dalam hatinya malu, karena benar adanya ia adalah kakak yang galak.
Lalu ia melamun, "Yah, Adi ilfiel gak ya sama aku karena aku galak?"
Dan tiba-tiba lamunannya berkembang, "Dia ilfiel juga gak ya kalau tahu aku hanyalah anak dari seorang pembantu rumah tangga dan seorang buruh bangunan di kota Jakarta?"


Bersambung

#day12 #30DWC #30DWCjilid11

Minggu, 04 Februari 2018

Menghadapi Netizen Julid Ala Emak Jalan Now

Cara menghadapi netizen julid, ya diasikin aja. 😎 Hidup memang seperti bermain bola. Ada komentator, ada supporter. Bedanya, kalau komentator bola digaji. 😬 

Sebagai pemain bola, tentu sakit rasanya, kita sudah bekerja keras, namun dengan enaknya sang komentator berkomentar asal. Komentator ya, alias tukang komentar, bukan pelatih... Namun pemain bola nampaknya bijak. Ia memilih tetap bekerja daripada baper dan menanggapi komentar-komentar dari setiap komentator.

Mahmud dan menantu jaman now juga sering dihadapkan dengan permasalahan "komentator" yang tak jarang membuat mereka baper. Bagaimana jika kita para Mahmud dan menantu  meniru para pemain bola yang bijak saja? Memang tidak mudah ya untuk tidak tersinggung dengan komentar orang-orang, apalagi yang sok tahu.
Saat anak kita dibandingkan dengan anak lain. Dibandingkan dengan saudaranya sendiri saja sakitnya tuh di sini kan, Mak?
Saat pilihan cara kita dalam mendidik anak disalahkan. Padahal kita kan juga belajar ilmu parenting ya, Mak?
Juga untuk menantu yang belum dikaruniai  rezeki anak. Seringkali bukan do'a yang didapat, namun malah luka hati.

"Cucu saya baru umur 3 bulan udah bisa nganter paket ke JNE, anakmu udah bisa ngapain?" 😅 Yaudah, bilang "wow" aja, Mak. Emang ajaib kan bayi bisa nganter paket?
Eh itu contohnya terlalu fiksi ya? 🙈
Contoh nyata akan saya tulis kemudian.

Sebetulnya orang-orang julid kasihan juga Mak. Bisa jadi mereka itu kurang piknik atau memang waktunya terlalu banyak. Eits, tapi kebanyakan berasal dari kalangan jaman old. Jadi, lebih baik kita jaga perasaan mereka saja dengan "keep calm and work hard". 😬 Menanggapi hanya akan membuatnya sakit hati balik dan masalah baru yang berkepanjangan. Lagian terkadang sebetulnya maksud mereka baik, seperti fans berat gitu loh, hanya ingin kita jadi lebih baik meskipun definisi "baik"nya seringkali tidak seragam dengan kita. Dan masalah perasaan yang tersakiti, kalau kata salah satu sahabat saya, "emak-emak emang salah satu tugasnya adalah menjaga mood". 😎


#day14 #30DWC #30dwcjilid11

Kamis, 01 Februari 2018

Tulislah Sekarang

Tulisan ini saya dedikasikan untuk kamu yang masih muda. Gunakan masa mudamu untuk bergerak. Karena gerak adalah tanda kehidupan. Teruslah bergerak untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya dan pengalaman seluas-luasnya.

Jika kamu mahasiswa, jadilah aktivis. Jangan habiskan waktumu hanya untuk belajar akademik saja dan tidur. Memang memiliki IP cumlaude itu membanggakan, namun akan lebih membanggakan lagi jika kamu aktivis ber IP cumlaude. Banyak ilmu yang bisa kamu dapatkan dari selain pelajaran akademik yang pasti akan berguna bagi kehidupan pasca kampusmu kelak.

Jangan jadi mahasiswa egois yang hanya memikirkan diri sendiri padahal fasilitas yang kamu dapatkan berasal dari rakyat. Pikirkanlah orang lain. Pikirkanlah nasib orang lain. Berbuatlah untuk mereka meski hanya dengan tulisan. Jika mampu terjunlah ke kediaman mereka untuk membantu yang sedang kesulitan.

Lalu janga lupa menulis. Tulislah segala pengalamanmu saat itu juga. Jangan ditunda. Karena menunda itu rugi. Tulisanmu tidak akan sebaik saat kamu mengalami sambil menulis. Karena saat kamu mengalami, kamu akan menulis menggunakan feel.



#day11 #30DWC #30DWCjilid11 #randompost