About me

Foto saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Instagram: @dewikusumapratiwi Facebook: https://www.facebook.com/dewi.kusumapratiwi

Jumat, 19 Juli 2013

Catatan Pendakian Gunung Merbabu 3145 mdpl #Part 1


Mendaki gunung, menurutku adalah tarbiyah (pendidikan) yang cukup baik untuk orang yang melakukannya. Bukan sekedar wisata untuk menikmati keindahan ciptaan-Nya, namun merupakan simulasi dari kehidupan kita. Tracknya terjal, sulit, dan melelahkan, bahkan terkadang membuat kita menyerah. Namun kita memiliki satu tujuan besar, yaitu berpijak pada puncak tertinggi gunung tersebut. Begitupun hidup. Tak jarang, banyaknya masalah membuat kita pusing dan menyerah, banyaknya cobaan membuat kita mengeluh dan pasrah, dan banyaknya godaan membuat kita terlena. Namun seperti pada pendakian gunung, kita diberikan kesempatan untuk istirahat. Hanya saja istirahat kita tidak boleh terlalu lama karena hanya akan membuat kita terlena. Juga tentang keistiqomahan (kekonsistenan) semangat kita, jika kita menyerah maka kita tak akan pernah sampai puncak. Dan tujuan besar kehidupan ini adalah Allah. Jika kita terlena dengan godaan, maka kita akan tersesat, bahkan dapat jatuh ke dalam jurang kesengsaraan.
Mendaki gunung, membuat kita merenungi betapa sulitnya perjalanan Rasulullah SAW dan para sahabatnya dulu ketika memperjuangkan agama islam. Di tengah panasnya padang pasir yang minim air, di antara bukit-bukit, mereka mempertaruhkan nyawa menghadapi musuh demi menegakkan agama Allah di muka bumi ini. Di tengah sulitnya medan dan keadaan, jiwa kepemimpinan mereka diuji. Di mana, berdasarkan kajian tentang pemimpin yang pernah aku dapatkan, ciri-ciri pemimpin itu ada tiga, yaitu memiliki visi-misi yang jelas, kuat, dan hidup untuk orang lain. Pada pendakian gunung, kekuatan tujuan kita (puncak) pun benar-benar diuji, di mana kita harus selalu menjaga kekonsistenan tujuan kita untuk sampai di puncak bersama full team. Kenapa full team? Karena rasulullah juga melakukan dakwah untuk menyelamatkan umatnya. Dakwah, mengajak objeknya mengesakan Allah dan mengharapkan syurga bersama-sama tanpa ada yang ingin ditinggalkan. Kepedualian kita terhadap saudara-saudara kita, keitsaran (mendahulukan kepentingan orang lain) kita, jiwa motivator kita, dan kesetiaan kita juga diuji. Tak ada lagi sifat egois di sana, semua akan saling membutuhkan dan melengkapi. Begitupun dengan kekuatan fisik dan mental kita, selalu akan teruji.
Dalam hidup, kita juga tak mampu sendirian. Fitrah manusia adalah saling membutuhkan dan melengkapi. Kita akan fokus pada tujuan (puncak), namun kita juga tetap harus memperhatikan teman. Jika teman kita terjatuh, maka wajib bagi kita untuk menolong. Begitupun jika kita jatuh, kita tidak boleh berlama-lama menikmati luka, kita harus segera bangun, menyembuhkannya, kemudian melanjutkan perjalanan kembali.
Mendaki gunung, adalah salah satu sarana tazkiyah (pembersihan jiwa) karena termasuk ke dalam tafakur alam, seperti yang ada di buku Tazkiyatun Nafs (Penyucian Jiwa) dengan penulis ahli spiritual, Sa’id Hawa. Karena saat melaluinya, tiada hentinya kita mengucap rasa syukur, tasbih, tahmid, tahlil, istighfar, dan do’a.
Pada tanggal 6-7 Juli 2013 lalu, aku diberikan kesempatan oleh Allah untuk mendaki Gunung Merbabu 3145 mdpl (puncak kentheng songo) bersama teman-teman Tamasya Ganesha. Mereka adalah tim yang super. Bukan hanya karena kekuatan fisiknya namun insya Allah juga ruhiyahnya. Saling menjaga, mengingatkan, dan mengajak untuk senantiasa dekat dengan Allah dan berusaha bersikap islami. Hari itu juga adalah hari pertama aku naik gunung (beneran). Dengan persiapan yang mendadak dan sangat minim, aku nekat berangkat. Tentunya setelah diizinkan orang tua meski harus melalui proses lobi berkali-kali. Banyak sekali pelajaran dan kenangan yang aku peroleh di sana.
Di postingan ini, aku ingin bercerita tentang teman-teman perjalananku beserta kesanku terhadap mereka.

Yang pertama adalah Bibit Musnaini. Dia adalah ketua komunitas Tamasya Ganesha. Alhamdulillah Allah mempertemukan aku dengannya karena selama ini aku cukup kesulitan mencari tim untuk mendaki gunung yang konsisten dan berpengalaman. Dia yang mengajak aku dan memasukkanku ke forum Tamasya Ganesha. Dia juga yang bantuin aku melengkapi spekku, meski banyak yang terlupakan. Dia yang banyak memberi aku motivasi dan keyakinan akan mendaki gunung, bahkan di tengah-tengah kegalauan dan ketakutanku yang memuncak saat itu. Dia yang selalu mewujudkan mimpi orang-orang untuk mendaki gunung manapun sejak ia pertama muncak (selama ini baru di pulau Jawa dan Nusa Tenggara, insya Allah akan mengusahakan semua gunung tertinggi di seluruh pulau di Indonesia) dengan menjadi fasilitator (visi misi Tamasya Ganesha). Sifat kolerisnya yang membuat segalanya harus bisa dilakukan dan semua wacana harus menjadi realita. Sifat melankolisnya yang membuat dia menyusun strategi2 dan persiapan2 dengan rapih.
“Makasih banget buat Bibit yang udah memasukkan aku ke dalam forum keren ini. Tanpamu, belum tentu aku bisa mendaki hari itu atau bahkan selamanya. Thanks so much for your urgent motivate”. ;-)

Kedua adalah Angga Prabowo. Baru banget aku kenal dia ketika mau berangkat dari sanggar Pramuka, tapi banyak jasa yang dia berikan kepadaku dengan ikhlas. Kalau mereka bilang, dia adalah porter (orang yang mebawakan barang-barang pada saat mendaki gunung) gratisanku. Memang, dia yang membawakan carierku sepanjang perjalanan Bandung-Jogja-Klaten dan menukar daypacknya untuk aku bawa. Dia juga yang setia membawakan carierku beserta isinya selama pendakian, sedangkan aku hanya membawa daypack. Dia yang selalu setia menemaniku yang lambat saat turun dari puncak dan saat turun dari sabana (tempat kita ngecamp).  Namun bagiku, dia bukan sekedar porter biasa atau bahkan porter gratisan. Dia adalah sahabatku yang akan selalu bersamaku nanti saat pendakian2 berikutnya. “Iya kan, de’?” :-P Angga adalah sahabat yang setia. Dia adalah salah satu yang membuatku percaya diri mengikuti double summit Merapi-Merbabu di pendakian pertamaku ini. Tentunya bersama Bibit, dan yang lainnya. Angga pernah bilang, “aku juga baru kok kak, santai aja. Pasti kita bisa”. Dia juga yang pernah memberikan motivasi berharga ketika aku menyerah dan merasa membebani tim, “tujuan kita tuh sampai ke puncak kak, bukan sampai puncak jam berapa”. Dan dia bersama Bibit banyak bercerita tentang orang-orang yang mendaki gunung untuk aku jadikan pelajaran dan motivasi.
“Thank you so much my kaewong*, welcome back to our next hike. I hope, it will be nicer then before”. ^_^

(Bibit di kiri, Angga di kanan --> lokasi: depan Sanggar Pramuka, Sanken, ITB)

Ketiga adalah Agis Nurholis. Bisa dibilang, di pendakian pertamaku ini, dia adalah pahlawan utamaku. Dia adalah ketua tim pendakian dan aku adalah anggota terdepan (berada di belakang Agis). Dia yang banyak mengajariku banyak hal selama pendakian. Tentang kenapa harus sedikit minum dan sedikit istirahat, tentang bagaimana menyikapi rasa dingin, tentang motivasi kenapa harus sampai puncak, dan tentang yang lainnya. Dia juga yang selalu menghiburku ketika jalan, di tengah kepanikanku saat pendakian. Agis juga banyak sekali berkorban untukku, banyak sekali itsar (mendahulukan kepentingan orang lain) yang dia lakukan, bahkan dengan mengorbankan dirinya sendiri tanpa aku minta. Di hawa dinginnya atmosfer Merbabu, dia tidak mengenakan jaket dan kaos tangan karena dipinjamkan ke aku. Dia yang selalu menolongku (menarikku) saat melewati medan yang sulit, padahal dia membawa carier berat berisi barang2 kepentingan umat seperti tenda, bahan makanan dan logistik2 yang lain). Dia yang sempat membawa 2 tas depan-belakang (carier dia dan daypack yang aku bawa) di medan yang paling sulit, padahal aku tidak pernah berani memintanya saat kesulitan, namun dia sangat peka. Dia juga yang hampir nyeker (tanpa alas kaki) karena sepatunya dia tawarkan ke aku (saat itu aku memakai sandal gunung dan cukup merasa sakit namun aku menolak tawaran Agis karena aku tau itu akan semakin menyulitkannya yang sudah cukup sulit). Agis yang selalu mengerti apa yang aku butuhkan meskipun aku tidak pernah berani mengungkapkannya. Dia observer sejati. Dia yang membangunkan kami dan menyiapkan minuman hangat saat kami tertidur pulas. Subhanallah banget lah satu orang ini, luar biasa.
“You are great boy, Gis. Jazakumullaahu ahsanal jazaa’ for all your gift for me. I’ll always remember your kind. Call me ‘Dewi’ pleaseeee without ‘teh’”. :-3
Btw dengan semua yang dilakukan Agis, membuatku berazzam, next aku harus lebih kuat dan gak banyak nyusahin orang lain lagi (kecuali Angga). :-P Semoga bisa jadi pahlawan kayak Agis juga tapi versi akhwat (gak sampai bawain carier orang juga tapi. Haha).

Keempat adalah Indah Rosidah Maimunah. Indah adalah akhwat (cewek) terdewasa di tim. Dia yang paling mengayomi akhwat2 yang lain, bahkan termasuk aku yang sebenarnya lebih tua darinya. Indah yang meminjamkan P3Knya (capucon gunung) untuk dibalut di tanganku yang tidak memakai kaos tangan ketika aku mulai kedinginan. Padahal capucon itu pasti aku seret-seret ke tanah karena saat mendaki, aku banyak merangkak. Indah dan Agis yang paling mempengaruhi aku saat aku menyerah untuk tidak melanjutkan perjalanan sampai puncak. Indah yang selalu sabar dan mengerti orang lain. Indah memang terkenal gordes dan mudah dekat dengan orang tua. Waktu di rumah Adam, Indah lah yang paling dekat dengan ibu dan ayahnya Adam. Jadi, memang jiwanya keibuan. :-P
“Hatur nuhun Indah selalu mengerti aku dan berusaha keep aku. Akhirnya aku tahu kalau kamu berharap aku yang lebih dewasa, maaf aku tidak sesuai ekspektasi awalmu. Semoga next, aku bisa menjadi sesuai dengan ekspektasi awal kamu terhadap aku. I wanna try, insya Allah”. ;-)

(Agis di kiri, Indah di kanan --> lokasi: puncak tertinggi Gunung Merbabu dengan membelakangi Gunung Merapi)

Kelima adalah Asnin Nur Salamah. Tidak menyangka kalau aku bakal naik gunung bareng Asnin, BP Himafi angkatan bawahku. Memang ketika perjalanan naik, aku tidak memperhatikan orang2 di belakangku, termasuk Asnin. Namun Asnin adalah tim sweeper bareng aku ketika turun. Dia juga yang banyak mengabadikan gambar di HPku ketika turun dari puncak ke tempat camping (photographer HP aku). Asnin sama Indah yang mewarnai perjalananku berikutnya, yaitu jalan-jalan ke Jogja.
“Thanks for colouring my nice trip, Nin. I hope, we can hike together again and we more be close”. ;-)

(aku dan Asnin bersama seseorang dari tim lain yang tiba2 ngajak poto saat kami sampai di gerbang keluar jalur pendakian)

Keenam adalah Adam Wicaksono. Rumah dialah yang menjadi homebase gratis kami beserta segala fasilitas dan makan. Ibunya yang selalu repot menyiapkan masakan untuk kami selama di sana dan menyiapkan bekal untuk kami saat mau mendaki. Meskipun aku baru kenal dia saat itu, namun di sana kami cukup menjadi akrab. Apalagi malam setelah pendakian Merbabu di rumahnya. Aku banyak ngobrol sama dia, Bibit, Angga, dan tim Merapi (Azka dkk yang nyusul pada hari itu ke rumah Adam). Adam juga berhalangan mengikuti pendakian Merapi sepertiku karena hari seninnya harus KP di Semarang. Ternyata rumah dia bertetanggan kota dengan rumah nenek aku loh... ^_^
“Dam, kalau aku pulang kampung, main2 yaaa. Ayo Dam, bis lebaran kita lanjutkan perjalanan kita yang tertunda. Go to Puncak Merapi! Yeeeeyyyyyy”. 

(Adam yang setia menemani, membawakan, dan membuatkan minuman sehat untuk tim yang tertinggal di belakang saat turun gunung --> lokasi: pos 3 jalur selo Gunung Merbabu)

Ketujuh adalah Melia Silmi. Sebelum ketemu dia, aku sudah mendengar namanya, “Meli”. Kata Bibit, dia klopannya Indah dan ternyata memang bener. Dia seasrama dan cukup dekat dengan Indah. Meli adalah gadis yang cantik dan strong. Sebelumnya memang sudah berpengalaman naik gunung Sindoro, Sumbing, dan Semeru. Ketika turun gunung, dia yang paling lincah dan paling duluan nyampe dengan berlari.
“Aku harap, suatu hari aku bisa selincah kamu, Mel. Harus banget beli sepatu kayak yang kamu pake. Hehe. Daaannnnn, sering2 berforum bareng aku Mel, biar kita semakin dekat”. ;-)

Kedepalan adalah Nur Laily. Lily adalah gadis yang lucu dan bersuara imut. Panggilan sayang buat dia adalah “Lingling”. Katanya dia juga hobi jalan2 dan naik gunung. Carier dialah yang paling berat di antara semua akhwat. Kamera dia juga yang paling banyak mengabadikan gambar2 kami selama di sana. Lily itu lucu dan menggemaskan. >_<
“Ly, I hope, we can trip together again someday and more be close”. :-)
(Meli di tengah, Lily di kanan --> lokasi: depan rumah Adam)

Kesembilan adalah Dimas Jalaluddin. Dia yang paling pendiem di tim. Kalau semua sifat pasti keluar saat mendaki gunung, berarti Dimas memang sangat pendiem. Dia juga yang ikutan setia menununggu terlambatnya tim. Padahal dia paling gesit jalannya. Waktu turun, Dimas tiba2 ilang sampai Agis nungguin di tengah hutan cukup lama. Ternyata, Dimas yang paling nyampe duluan. Haha.
“You are so sweet, brother. Thanks for your nice testimony in my notebook”. :-3
(Dimas di pojok kanan bawah à lokasi: puncak tertinggi gunung Merbabu dengan membelakangi gunung Lawu)

Kesepuluh adalah Ilham beserta timnya. Mereka adalah teman-teman Adam yang sudah pernah mendaki Merbabu sebelumnya. Bisa dibilang, dia tim expertnya. Mereka yang menemani tim kami dan sabar menanti keterlambatan tim kami. Mereka yang membuatkan kami nutrisari dan api unggun saat makan malam di hutan dalam keadaan dingin, mereka juga memberikan kami makanan di malam hari ketika di sabana (meski aku gak ikutan karena udah terlanjur kedinginan di dalem tenda). Dan akhirnya mereka gak sampai puncak karena gak dibangunin sama tim kami. -_-" (Maaf ya Ilham and the gank)
“Maaf, belum banyak kenal kalian karena tim kita lebih sering terpisah. Sambung silaturahmi via facebook ya? Semoga next bisa naik gunung bareng lagi” :-D
(Full Team --> lokasi: Sabana I)

Dan terakhir adalah Azka Muji Burohman. Meskipun dia berhalangan mengikuti pendakian Gunung Merbabu, namun dia cukup berkontribusi dalam memotivasiku saat nyaliku sedang ciut. Dia yang melepaskan kepergianku bersama Bibit dan Angga dari Sanggar. Dia yang masih mengajakku melanjutkan summit ke Merapi meskipun akhirnya aku tidak jadi ikutan, namun dia beserta tim pendakian Gunung Merapi telah membuatkanku video testimony khusus untukku dan oleh2 foto track jalur Merapi.
“Matur nuwun Azka… Next, triple summit Sindoro-Sumbing-Dieng insya Allah aku tanpa ragu lagi”. :-3
(upload-an video dari Azka dkk (tidak jadi menyusul (karena ada hal yang perlu disensor))


Kamis, 18 Juli 2013

Latar Belakang dan Motivasiku Naik Gunung

Dulu aku paling males naik gunung karena udah capek2 dan susah2 jalan naik, keindahan yang kita nikmati hanya sementara. Udah gitu, idungku suka sakit kalau di ketinggian. Meski kaderisasi2 ekstrakurikuler di SMAku banyak yang diadakan di Puncak (yang hampir aku ikuti setiap tahun adalah OSIS, Rohis, dan Paskibra), biasanya di Bogor atau Sukabumi.

Pertama Hiking Sampai Puncak (Tangkuban Perahu)
Pada saat tingkat III, aku diajak geng gong (geng yang pernah aku ceritakan sebelumnya) naik gunung Tangkuban Perahu via Jaya Giri, di mana jaraknya sekitar 11 KM. Sekitar 5 jam kami menempuh perjalanan hiking di sana. Saat itu ada 7 ikhwan, sedangkan akhwatnya ada aku, Siti, dan Pipit. Siti memang wanita tangguh, dia gak pernah ngeluh, barangnya dibawa sendiri, jalannya paling cepet dan gak pernah nyusahin ikhwan2nya, meski sebenernya dia gak terlalu interest naik gunung. Sedangkan aku dan Pipit paling nyusahin yang lain. Tas minta dibawain, udah gitu sering2 minta ditarik. Haha. Semales itu aku naik gunung. Bahkan setelah itu, Pipit kapok dan gak pernah mau lagi naik gunung apapun lagi.

Demotivasi yang Memotivasi
Namun, suatu saat aku mendapatkan sindiran dari seseorang (yang membuatku merasa tertantang), katanya aku lemah, katanya aku gak mungkin bisa naik gunung, katanya aku gak mungkin bisa ikutan bacpackeran, dan aku merasa sangat diremehkan. Kenapa kata2 seseorang itu berpengaruh buat aku? Itu ada ceritanya sendiri, yang pasti saat itu juga, kolerisku muncul dan menjadi sangat dominan. “Oke, gue buktiin kalau gue adalah wanita yang kuat”.

Gara-gara Film 5 cm
Setelah itu, muncullah film 5 cm. Aku nonton bareng geng gong. Seperti yang lainnya, aku ingin muncak di Semeru. Tapi lagi2, geng aku bukan type yang sukia naik gunung, ikhwannya gak ada yang berani tanggung jawab jagain akhwatnya. Oke, aku bisa mengerti, setiap orang punya kapasitas.
Lalu, aku pun nekat mengajak teman2 aku yang lainnya, geng sebelah, temen2 organisasi luar kampus, temen2 himpunan, dll. Ada yang menyepakati namun akhirnya hanya menjadi wacana. Dan di antara mereka ada yang berpesan, “Dew, kalau mau naik Semeru, naik dulu gunung2 yang lebih kecil , misalnya Papandayan atau Manglayang, Ciremai, baru ke Semeru”. Mereka memang tahu kalau aku belum pernah naik gunung sebelumnya selain “gunung2an” seperti Tangkuban. “Gunung2an”? Iya, karena saat mereka nanya, “udah pernah naik gunung apa?” Ketika aku jawab “Tangkuban”, mereka ketawain aku. -_- Padahal naik Tangkuban aja capek. Huhuhu.


Latihan Hiking Lagi (Tangkuban Perahu)
Pada awal liburan semester VII, aku menjadi panitia suatu acara latihan kepemimpinan, di mana out bond nya hiking Gunung Tangkuban Perahu via Villa Istana Bunga. Waktu itu kami menempuh perjalanan sekitar 6-9 jam. 6 jam itu rombongan peserta yang disuruh lari. 9 jam itu tim sweeper yang kesasar. Karena naiknya bersama sahabat2 (kebetulan semua panitianya adalah sahabat2ku, dari geng Tazzam), maka aku semangat dan gak kerasa lelah sampai post terakhir out bond kami. Ohya, sebelum menuju post terakhir, aku sempat minta istirahat karena pusing banget. Waktu itu dompet aku ilang dan kepikirannya sampai jadi pusing beneran. Saat itu aku masih gak mau ngaku sama temen2ku. Aku hanya bilang, “aku mau istirahat”. Terus Setyo nyelethuk, “katanya mau naik Semeru, masa’ gini aja minta istirahat?”. Memang dasar koleris, ketika dicela aku akan bangkit dan aku pun jalan kembali. Namun  aku masih tetap memikirkan dompet yang hilang itu karena kondisinya setelah turun Tangkuban aku mau langsung pulang ke Jakarta, sedangkan di dompet ada sejumlah uang yang lumayan, ATM dan semua ID cardku juga di sana. Hingga aku benar2 merasa pusing, aku minta istirahat lagi. Kemudian ada yang nanya, “kenapa sih, Dew?”. Kemudian aku ngaku, “dompet aku ilang”. Saat itu wulan bilang, “udah, kasih aja, Ma, kasian…”. Daaaaannnnn, ternyata diumpetin lah sama mereka. -_- Mereka bilang mau ngasih surprise aku di puncak nanti. Huhuhu, so sweet lah mereka, aku jadi nyesel dan malu sendiri. “Jadi, semangatku masih materialism dong, bukan semangat karena Allah”. Astaghfirullah. Dan bener, saat itu juga rasa pusingku hilang. Haha. Di post terakhir, kami mendapatkan hadits penyemangat karena setelahnya kami melewati medan yang cukup sulit di gunung itu. Intinya kita semua harus bersatu baik peserta maupun panitia, saling menjaga, jika 1 berhenti maka semua berhenti, jika 1 istirahat maka semua istirahat. Saat itu aku menjadi tim sweeper bersama 5 orang sahabatku (Seny, Wulan, Haris, Setyo, kak Angga). Saat itu juga gerimis turun. Panitia mendahului peserta dan beberapa kali menyambut jalannya peserta dan memberikan semangat. Hingga gerimis menjadi hujan, peserta dibawa lari oleh sang ketua acara. Sedangkan tim sweeper, entah kenapa malah jadi lamban dan kehilangan jejak mereka. Hingga kami menemukan pertigaan jalan, kami galau (kebetulan tim sweeper gak ada yang tahu jalan), kemudian kami memilih jalan yang sulit dan terjal karena jalan yang satunya nampak seperti bukan jalan gunung. Di sanalah, aku sering sekali jatuh karena aku tidak memakai sepatu hiking (yang bawahnya karet), melainkan sepatu running (licin). Saat itu juga aku menggigil karena aku tidak terbiasa dingin2an apalagi aku pernah sensitif dengan hujan dan itu perdana aku hujan2an di track yang cukup berat. Selain karena itu, jalannya memang terjal ke bawah dan licin. Hingga kami menemukan jurang dan kami menyimpulkan kalau kami salah jalan. Di sana aku hampir menyerah. Namun, di sana juga aku merasa sahabat2 aku mengkeep aku lebih dari biasanya. Entah kata sahabat itu aku ucapkan setelah melakukan perjalanan dengan mereka atau sebelumnya memang kami sudah pernah bersahabat. Namun di sana aku merasa ditarbiyahi oleh alam. Itsar mereka sangat tinggi namun itu yang membuatku kuat dan tau diri, “Gue harus bisa, gue harus kuat, karena yang lain juga kedinginan, yang lain juga lagi kesulitan, jadi gue gak boleh ngeluh dan menambah kesulitan mereka”. Dengan kekuatan Allah, muncullah strong way. Fokusku ada di “sampai puncak”. Dan perjalananpun lancar meski kami basah kuyup. Sampailah kami di puncak dengan keterlambatan sekitar 3 jam. Di sana kami ada acara penutupan kemudian kami pulang. Saat di mobil, dingin banget bo. Kami pun tertidur, dan aku merasa tidur mati banget karena tiba2 sampai di kampus. Saat bangun aku kaget dan harus segera turun, ngambil barang di sekre dan pulang dengan jalan kaki. Rasanya pusing dan berat banget, berasa udah mau pingsan, tapi aku berusaha memunculkan strong way via pikiran positif sehingga aku selamat sampai di rumah. Setelah mandi dan ganti baju, aku langsung menghubungi anggota geng BRT à “Bang Rosy Team” (Andre, setyo, Mandela, Afin, aku, Ami, Diah) karena hari itu Setyo milad (ulang tahun), lalu aku ke BIP mencari asesoris kado yang telah disiapkan Afin. Ba’da maghrib kami kumpul di The Kiosk untuk memberikan surprise untuknya. Saat itu aku merasa seperti tidak ada kejadian (kehujanan) di siangnya. Alhamdulillah aku gak sakit. J Dan aku merasa aku sudah pernah latihan naik gunung, yaitu naik gunung Tangkuban Perahu dengan kondisi basah kuyup. :-3 Dari sana juga, aku menyimpulkan bahwa “Naik gunung bukan sekedar wisata untuk menikmati keindahan, namun naik gunung adalah pembelajaran kehidupan, melatih kekuatan fisik, mental, dan social”.

Mendapatkan Tim Naik Semeru Namun Gagal
Menjelang liburan semester VII, Kampus Peduli mengadakan acara kekeluargaan di suatu villa di kaki Gunung Puntang. Di sana aku menemukan teman2 baru karena memang K-Ped sudah ada 2 angkatan saat itu sedangkan aku angkatan pra K-Ped. Acara itu membuat kami semua cukup akrab sehingga aku menemukan komunitas baru. Dan akhirnya aku mendapatkan tim untuk naik Semeru. Isinya emang cowok2 2010 namun aku hajar saja, langsung daftar. Saat itu bulan Januari dan wacananya kami naik Semeru akhir Mei. Hal itu yang membuatku semangat untuk segera mengerjakan TA. Namun pada bulan April, ketua tim, Ibut (panggilan akrab) KL2010 memberi kabar, “Dew, kayaknya kita gak jadi naik Semeru akhir Mei ini karena gue KP. Kemungkinan Agustus”. Oke, aku menjadi lebih tenang karena aku merasa masih belum cukup persiapan saat itu, terutama mental, TA juga belum beres. Namun tiba2, awal bulan Mei, Ibut nelpon dan bilang, “Dew, 31 Mei ini kita jadi naik Semeru”. Kyaaa, aku kaget banget lah. Di satu sisi, saat itu aku lagi fokus2nya ke akademik, udah gitu aku merasa gak akan sempet melakukan persiapan meski masih ada waktu 3 minggu lagi karena akhir Mei aku juga ada plan backpacker bareng geng tazzaam ke kepulauan di Lampung. Saat itu, pikiranku masih lebay, harus beli carier beserta isi2nya yang saat itu aku gak tau, isi carier untuk naik gunung tuh apa aja. Pas aku check ke counter body pack, harganya mahal banget (padahala ada versi murahnya atau bisa minjem orang lain), rasanya tabunganku gak cukup atau terlalu saying untuk membeli itu semua (ya iyalah, aku lebay). Namun di sisi lain, aku mau banget dan selama ini susah dapet tim Semeru. Saking galaunya, aku gak gerak sama sekali bahkan untuk meminta izin kepada ibu sekalipun. Hingga 2 hari setelahnya Ibut nelpon aku lagi, “Dew, minta data2 kamu buat pendaftaran dan siapkan uang 300ribu untuk bayar ke timnya”. Wah? Makin tertekan, dadakan banget. Terus aku bilang minta waktu sampai isya’ buat ngobrol sama ibu dulu. Saat itu juga, ibu aku melarang. Ibu aku tau kalau Semeru adalah gunung tertinggi di Jawa dan beliau khawatir. Aku pun berusaha melobi kemudian ibu aku bertanya siapa saja yang mau ikutan. Dan memang di antara mereka, tidak ada yang ibuku kenal karena memang mereka teman2 baruku. And the last, ibuku bilang, “kalau mau ikut, boleh tapi harus ada Fanni dkk (geng gong), Adam, Andre, atau Setyo. Seenggaknya ada Pipit”. Dengan spontan aku bilang, “bu, Pipit gak bisa naik gunung. Gak mungkin ngajakin Pipit, bu”. Kata ibu, “yaudah, yang penting ada salah satu dari yang ibu sebut tadi Karen ibu percayanya sama mereka”. Kemudian aku langsung menghubungi mereka kecuali Setyo karena aku tau saat itu Setyo sedang repot mengurusi sesuatu. Dan hasilnya nihil. Aku masih tetap memaksa, terutama Fanni. Namun emang dia yang paling jago nenangin aku, menjanjikan nanti naik bareng pas udah lulus, sehingga aku mengikhlaskannya untuk tidak ikut. Namun masih dengan berat hati, aku bilang ke Ibut kalau aku gak jadi ikutan naik Semeru karena tidak diizinkan ortu.

Secercah Harapan, bertemu dengan seorang Bibit dan Hasti
Pada kisaran waktu yang hampir sama, aku menjadi inisiator geng tazzam untuk backpacker. Pernah ada opsi ke Semeru, minimal yang gak suka naik gunung bisa berhenti di danau Ranu Kumbolo dan mengadakan acara di sana sambil camping. Namun dengan beberapa alasan dan ada nya banyak opsi, akhirnya kami memutuskan untuk backpacker ke Lampung. Salah satu dari anggota Tazzam ada yang expert naik gunung, yaitu mereka yang berasal dari komunitas Tamasya Ganesha. Langsung saat itu aku masukin 2 orang dari sana untuk menjadi tim inti backpacker Tazzam ke Lampung. Alhamdulillah, kami bisa ke 3 Pulau dan taman kupu2 dengan budget sekitar 300ribuan. So pasti bener2 model backpacker: dapet penginapan khusus gratis, makan gratis selama di sana, dan resort gratis selama di Pulau. Nanti aku ingin bercerita tentang itu di postingan selanjutnya. Dan orang2 yang ikut memang menjadi lebih dekat, hamper semua sifatnya keluar namun kami jadi saling mengerti dan semakin solid. Selama mengurusi agenda tersebut, aku banyak ngobrol dengan Hasti dan Bibit tentang gunung. Dua orang itu sering banget naik gunung dan bawa orang. Keantusiasanku membuatnya memasukkanku ke group komunitas Tamasya Ganesha. Banyak sekali jadwal naik gunung mereka. Ketika aku masuk, yang paling dekat adalah gunung Cikuray, Garut. Namun saat itu aku berhalangan naik Cikuray. Selanjutnya aku mendapatkan sms dari Ibut, “Dew, tgl 5 Juli kita mau naik Guntur, mau ikut gak?” Karena aku memang mau latihan, semua tawaran pasti aku terima. Namun ketika tanggal 5, Ibut sendiri yang berhalangan sehingga aku juga batal mengikutinya. Tapi Allah memberikan takdir yang lebih indah, aku diberikan kesempatan untuk naik Gunung Merbabu bersama tim Tamasya Ganesha. Saat itu, rencananya double summit Merbabu-Merapi berturut2 tanggal 6-9 Juli 2013. Jika dihadapkan pilihan antara Guntur dan Merapi-Merbabu, saat itu mentalku masih kelas memilih Guntur, makanya ketika Ibut bilang batal, aku galau banget mau ikutan Merapi-Merbabu atau gak. Namun, tim tamasya Ganesha memang pandai sekali memotivasi orang lain sehingga saat itu aku berbekalkan rasa nekat, bismillah aku siap2 dan minta izin. Seperti yang kemarin2, ibuku sempat melarang dan menanyakan siapa saja teman2nya. Kemudian aku berusaha menjelaskan kalau temen2 Tamasya Ganesha adalah orang2 yang udah biasa naik gunung. Hingga aku cerita sama Bibit tentang ibuku yang tidak mengizinkan, lalu bibit menjelaskan kalau spek dan safety insya allah lengkap, ada homebase gratis, jadi barang2 yang gak kepake bisa ditinggal di sana, dan ada tim expertnya. Lalu aku mencoba menjelaskan kembali ke ibuku, kemudian ibuku teryakinkan dan mengizinkanku untuk pergi.

Secercah Harapan itu adalah Tamasya Ganesha
Komunitas Tamasya Ganesha, ternyata tim mereka memanglah tim terpercaya. Mereka adalah tim yang sangat solid dan saling menjaga anggota timnya. Mereka akan selalu berusaha untuk sampai di puncak bareng, tanpa ada yang tertinggal. Satu sampai puncak, semuanya harus sampai puncak. Satu berhenti, semua harus berhenti. Mereka adalah motivator2 hebat. Mereka sudah berpengalaman mendaki gunung dengan membawa anggota2 baru bahkan yang baru naik gunung, lebih dari 10x. Itu kata para anggota yang pernah mengikutinya, dan ketika aku muncak bareng mereka, aku merasakan itu.
Tim Tamasya Ganesha, selain kekeluargaannya yang cukup erat, mereka isinya orang2 hanif (cenderung kepada kebaikan). Bahkan di salah satu visi misinya, “meskipun di gunung, kita harus tetap islami”. Insya Allah kalau muncak bareng mereka, waktu shalat tidak akan terabaikan, dan interaksi antar jenisnya pun tidak berlebihan. Namun mereka tetap solid dan saling menjaga serta saling menolong.
Dari penjelasan lambang dan visi-misi Tamasya Ganesha, yang aku tangkap:

  • Gambar gunung dan pantai mengartikan bahwa tim tersebut mewujudkan mimpi2 anggotanya untuk mengunjungi pantai atau gunung manapun dengan menjadi fasilitasor (namun selama ini banyakan ke gunung).
  • Gambar matahari terbit mengartikan setiap pendakian gunung, tujuannya adalah mengejar sunrise (dapat menikmati sunrise dari puncak).
  • Gambar burung dua ekor, depan belakang mengartikan bahwa di tim tersebut pasti ada yang mengayomi dan diayomi, ada yang menolong dan ada yang ditolong, ada yang memberi motivasi dan ada yang diberikan motivasi.
  • Gambar 5 sinar mengartikan meskipun kita berada di gunung, pantai, atau tempat wisata, kita harus tetap islami.
Aku cukup trust sama mereka meskipun baru sekali muncak bareng mereka. Sekalinya muncak bareng mereka, aku langsung bisa deket banget sama mereka dan saat itu mereka keep aku banget. Mereka mengajari aku banyak hal. Aku sangat bersyukur, Allah mempertemukan aku dengan mereka sehingga aku dapat mewujudkan mimpiku untuk naik gunung.

Kamis, 11 Juli 2013

Rindu (part II)

Rindu masa2 ketika pertama kali aku belajar islam yg sesungguhnya, keantusiasan untuk terus berubah jadi lebih baik.
Bukannya kini merasa sudah sempurna, namun sepertinya 'zaman' telah mendegradasiku.
Kekecewaan terhadap yg aku saksikan dan dusta mereka yg aku rasakan, membuat aku mendendam.
Kutahu segala hal di dunia ini pasti akan membuat kecewa, kecuali Allah.
Namun kerapuhan iman ini yg membawaku pada arus perubahan zaman.
Rindu dg komunitas yg isinya orang2 soleh, meski kesolehan mereka bisa jadi fatamorgana, tapi itu lebih baik menurutku.
Karena bersamanya aku terus beresolusi.
Karena melihatnya, aku menjadi iri.
Iri dg cintanya yg begitu besar kpd Allah.
Iri dg kebaikannya yg selalu tercurahkan untuk sesama.
Dan iri dg perubahannya yg semakin membaik.

Sakit Karena Kesalahan Sendiri

Dulu aku sering sakit2an dan kalau lagi sakit, aku manja banget.
Hingga suatu saat aku sakit infeksi saluran usus selama sebulan karena kesalahanku sendiri yang sering males2an makan, bahkan seringkali makan nasi hanya 2 hari sekali, seringkali tersugesti kenyang dari jajanan yang kurang sehat, seperti gorengan. Biasa, sok2an sibuk, sok2an jadi aktivis. :-D
Pada saat aku sakit tersebut, di sisiku masih ada 'orang', namun dia cukup keras sama aku. Saat itu aku malah dicuekin. Kalau aku protes, aku malah dimarahin. Aku sering diomelin: "rasain tuh akibat dari perbuatan kamu sendiri!". Sedih banget waktu itu. Namun aku tau, maksud dia baik. Maksud dia adalah mendidik aku supaya aku tidak mengulangi kembali kesalahanku. Dan beberapa hari setelahnya, dia pergi sangaaaaattttt jauh dan takkan pernah kembali lagi. Rasanya seperti jatuh kemudian tertimpa tangga, namun ini semua berhikmah bagiku. Saat itu juga aku taubat dg segala kesalahanku selama ini, yaitu dzholim terhadap tubuh sendiri. Setelah itu aku jadi rajin ke pasar dan masak. Aku lebih disiplin dalam makan meskipun aku masih sulit makan 3x sehari seperti pesan dia. Minimal, aku makan berat 2x sehari lah, seperti orang shaum kan? Gak kurang dan gak lebih. :-P
Aku teringat kata2 guru aku waktu SMP: "Sakit itu disebabkan oleh kesalahan sendiri. Rasulullah saja jarang sakit, karena beliau selalu menjaga kesehatan. Coba instropeksi, kalau kalian sakit perut, itu karena apa? Pasti karena kalian salah makan kan? Berarti kalian sendiri lah yg menyebabkan diri kalian sakit".
Aku mau nambahin, rasulullah pun pernah sakit tapi setauku memang jarang. Sakit beliau juga adalah tanda kalau beliau manusia biasa. Dan ada juga hadits, bahwa sakit akan menjadi penggugur dosa bagi seseorang. Sakit bisa jadi merupakan bentuk musibah / cobaan sehingga jika kita sabar dan ikhlas maka insya Allah akan menjadi penggugur dosa bagi kita, seperti kisah nabi Ayyub A.S. Namun jika kita sering sakit seperti aku dulu, bisa jadi itu karena kesalahan kita sendiri atau memang karena kita banyak dosa makanya sering dikasih sakit. :'(
Sakit fisik, menurutku juga berasal dari pikiran. Beberapa hari ini, setelah aku pulang dari naik gunung, badanku terasa gak enak, sering kedinginan, dan ketika aku pegang leherku cukup panas. Mungkin aku demam. Tapi aku menyadarinya setelah ada yang bilang barusan: "teteh sehat? Kok kemarin saya lihat mukanya pucat?". Tadi pagi aku ketiduran dan kedinginan padahal biasanya aku paling anti tidur pagi, apalagi ba'da subuh. Dan setelah bangun, kepalaku memang terasa pusing. Setelah itu, dapet sms dari adhik tingkat, sehingga aku sadar: Oh, aku sakit ya? Aku pikir beberapa hari ini badanku terasa berat cuma karena aku malas sehingga aku harus memaksakan diri untuk tetap mengerjakan pekerjaan2ku dan bolak-balik ke kampus.
Tapi alhamdulillah, aku gak sadar kalau aku sakit karena kalau aku sadar, sifat manjaku bisa keluar, sedangkan pekerjaanku saat ini cukup banyak.
Aku percaya, kalau rasa sakit berasal dari sugesti / pikiran.
Seperti saat naik gunung kemarin, kekuatan itu berasa dari sugesti positif (mutlaknya dr Allah tentunya).
Karena pikiran dan jiwa yg sehat akan menghasilkan fisik yang sehat. :-D
Seeeemaaanggaaaaatttttt >_<
#RamadhanSehat

Ramadhan Efektif part 1

"Pada bulan ramadhan, setiap amal kebaikan akan dibalas dengan 10x kebaikan, kemudian dilipatgandakan sebanyak 700x kebaikan. Kecuali puasa. Sesungguhnya, puasa itu untuk Allah dan Allah sendirilah yang akan membalasnya" (redaksi asli, lihat di hadits)

"Banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa2 kecuali lapar dan dahaga" (redaksi asli, lihat di hadits)
Karena puasa tidak sekedar menahan lapar dan dahaga, melainkan menahan diri dari yang haram, makruh, bahkan yang mubah saja sebaiknya ditinggalkan. Meninggalkan ucapan2 yg sia2, meninggalkan hal2 yg sia2 didengar, dan meninggalkan hal2 yg tidak berguna untuk dilakukan meskipun hukumnya mubah dan makruh.
[Isi ceramah kemarin malam]
Terus mikir, terkadang masih sering melakukan perbuatan sia2 seperti ngobrol di whatsapp, twitter, message, sms. Sering juga mengerjakan sesuatu tidak cekatan, padahal kerjaan sangat banyak. Tidur juga masih banyak, bahkan terkadang lebih dari 4 jam. Padahal, setiap detik di bulan ramadhan ini sangat berharga. Segala kebaikan akan dilipatgandakan sangat banyak. Namun diri ini masih sering menyia2kannya. :'(
#muhasabbahdiri
Namun, ternyata kebaikan bukan hanya ibadah shalat-tilawah-shadaqah, berinteraksi dg saudara2 kita jika kita niatkan untuk silaturahmi insya Allah bernilai ibadah, membaca buku jika kita niatkan untuk menuntut ilmu karena ingin lebih mendekatkan diri kepada Allah insya Allah bernilai ibadah, mengerjakan TA jika kita niatkan untuk jihad (baca: menuntut ilmu) insya Allah juga akan bernilai ibadah, membaca,mendengarkan & melihat media jika kita niatkan untuk memperluas tsaqafah insya Allah akan bernilai ibadah. Banyak sekali hal2 positif dan kebaikan yang bisa bernilai ibadah. Semua tergantung niat.
Jadi intinya, "selalu luruskan niat, semuanya karena Allah"
^_^
Allaahu 'alam
#RamadhanEfektif

Rabu, 10 Juli 2013

What's My Childish Anyway?

Aku akui aku terlalu childish, bahkan di depan adhik2 tingkatku atau bahkan adhikku sendiri. Mereka jauh lebih dewasa sehingga melankolisku sering muncul dan mengeluhkan segala kekuranganku dan berkata, "aku childish, kapan aku dewasa?" Dan mereka bilang:
"ngeluh itu tanda gak bersyukur";
"perlu proses, Dew, gak ada yg instant. Yg instant jadinya akan instant pula perginya";
"what's childish anyway? Yang penting diilangin ngeluhnya".
That's right, I know I must be study and don't sigh anyway. Hingga aku pasang besar2 di benakku "KUNCI DARI SEMUA MASALAH ADALAH JANGAN PERNAH MENGELUH" karena mengeluh hanya akan memfokuskan kita pada masalah, padahal seharusnya kita fokus pada solusi.
Yup, until now it still very difficult for me but I must be always try and never ever surrender.
I praise Allah for sending me a much of best friends who care, understanding, and patient to teach me. :'-)