About me

Foto saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Instagram: @dewikusumapratiwi Facebook: https://www.facebook.com/dewi.kusumapratiwi

Minggu, 12 Mei 2013

7 Aktivis Kampus di 'zamanku' yang Menginspirasi

Ada 7 orang aktivis kampus yang aku kagumi di 'zamanku' berada di kampus. :-)

Pertama adalah kak Ridwansyah Yusuf Achmad (Planologi ITB 2005), aku rasa gak perlu mendeskripsikan beliau karena terlalu panjang mungkin. Aku rasa semua aktivis di seluruh Indonesia mengenal beliau yang pernah menjadi kepala Gamais 2006/2007, Ketua BP Himpunan Mahasiswa Planologi 2007/2008, dan Ketua Kabinet KM ITB 2008/2009, dll. Bahkan ketika aku menghadiri acara forum nasional Rohis MIPA di Unila, Lampung, Sumatera Selatan, mewakili MILIS ITB, banyak temen-temen yang menanyakan soal beliau. Saat ini beliau sedang S2 di Belanda. Langsung aja kalau mau kenalan ke https://www.facebook.com/ridwansyah.yusuf.achmad?ref=ts&fref=ts atau via twitter @udayusuf

Kedua adalah kak Wintang Haryokusuma (Fisika ITB 2006), beliau adalah mantan Ketua BP Himafi (kahim himpunanku) tahun 2008/2009. Meskipun aku gak pernah ngerasain di bawah kepemimpinan beliau sama sekali, tapi aku cukup mendengar profil beliau dari kakak-kakak tingkat dan temen-temen. Selama yang aku tau di himpunanku, kak Wintang adalah kahim yang berprestasi. IP beliau di atas 3,5 (sekitar 3,8 atau 3,9). Yang aku tahu dan aku rasakan, IP di atas 3,5 tuh kalau di Fisika langka banget. Selain berprestasi dalam bidang akademik, di organisasi pun beliau berprestasi. (Eh dalam definisiku, prestasi itu adalah ketika kita dapat memberikan manfaat bagi orang lain. :-) Tapi emang gini ceritanya: . . . ) Kak Wintang pengertian banget sama anggota BP  dan masa himpunannya. Kata kakak 2007, beliau pernah pulang paling malam dan dateng ke himpunan paling pagi buat bangunin temen-temen yang nginep di himpunan buat subuhan saat himpunan sedang hetic. Udah gitu, katanya saat itu beliau juga punya 'ciwi' saat itu (cie, cie kak... :-P #eh bukan masalah itunya tapi) kebayang kan gimana cara beliau bagi waktu buat akademiknya, himpunan dan masa himpunannya, sama #ehm 'ciwi'nya. Wah, kak Wintang tuh inspiring banget dan aktivis Himafi berprestasi pertama yang membuat aku juga pengen jadi aktivis bahkan jadi kahim atau minimal sekretaris kahim saat itu #upz , hehe (latar belakangku: dulu pas TPB kerjaanku main, gak berorganisasi sama sekali selain Gamais, itu juga di Gamais cuma jadi anggota dan hanya tinggal menikmati --> pembinaan OASIS. haha. Pas tingkat 2 aku gak jadi pengurus Gamais, aku memilih himpunan untuk menjadi ladanga aktivitasku). Udah gitu, setelah lulus kak Wintang ini mengabdi di Indonesia Mengajar. Kalau kata anak himpunan, "mulia banget jalan hidupnya".

Ketiga adalah kak Ratna Nataliani (Teknik Fisika ITB 2008), beliau tuh "super muslimah" banget. Bukan karena beliau menulis buku itu tapi dalam pandanganku, beliau memang super muslimah. (Eh, jujur, malahan aku belum pernah baca buku beliau loh. "Hehe, peace kak." ^_^v)
Beliau mengajarkan banyak hal kepadaku.
Beliau ini seorang aktivis pergerakan kampus, periode kemarin menjadi wakil menko eksternal Kabinet KM ITB. Tentang amanahnya di sana, mungkin hanya teman-teman seperjuangannya yang mengetahui (saya bukan anak eksternal). Namun yang saya kenal, kak Ratna itu wawasannya luas, rajin baca buku (bahkan beliau membuat muwashoffat membaca buku, dalam 1 hari ada 5 jenis target buku yang harus beliau baca @minimal 5 halaman --> buku kuliah, buku agama, artikel / media-media yang memuat berita terkini, buku politik dan ekonomi, dan satu lagi (kalau gak salah) buku filosofi / tentang pemikiran), supel, open mind, suka bagi-bagi ilmu, pendengar dan penasehat yang bijak (biasanya kalau aku curhat, beliau responsif dan berusaha menggali lalu menurunkan solusi). Kak Ratna itu aktivis banget, sampai dosennya saja mencap beliau sebagai "aktivis", wanita orator, suka banget sama energi dan TA nya memang tentang energi. Selain itu, beliau juga rajin tilawah (denger2, pernah 5 juz per hari nih kak, subhanallah) dan kajian islam, belajar bahasa arab juga (ehm), dan saat ini beliau juga sedang berusaha menghafal Al-qur'an. Barakallah kak, semoga lancar dan segera menjadi hafidzah. B-)
Makin sukses ya kakak "hajah hafidzah super aktivis muslimah"... :-) Aamiin (do'a nih kak).
Kalau mau kenalan sama kak Ratna, bisa ke http://www.facebook.com/amaihisa?ref=ts&fref=ts atau via twitter @rnataliani

Keempat adalah Zetra Iez Zaputra (Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB 2009), dia suka disebut 'artis kampus'. Sebenernya aku belum kenal dia banget sampai dalem2nya, aku baru kenal dia di tim #melukisindonesia. Tapi 1,5 bulan berinteraksi di tim #melukisindonesia cukup buat aku kepo tentang dia. hehe. Yang aku tau, dia suka banget sama gundam, pemegang salah satu akun terkenal di kampus, supel banget (temennya banyak banget, fans nya juga --> itu aja yang kulihat), cute boy, alumni prematur (loh? Baru 20 tahun udah lulus sarjana euy), dia baik sama semua orang termasuk sama orang yang kurang dia sukai pemikiran / kelakuannya, dia mampu membaur ke banyak kalangan dari 'hitam' sampai 'putih'. Sama Zetra, aku belajar banget tentang pergaulan yang mendekati sempurna.
Dan dalam kacamata pribadiku, Zetra tuh hanif banget (cenderung kepada kebaikan dan suka mengajak kepada kebaikan). Selalu ada kebaikan yang ia sisipkan dalam setiap interaksinya dan aku pernah melihat bahkan merasakan itu.
Zetra yang aku kenal juga rendah hati. Dia gak pernah berkata kalau dirinya orang baik namun kalau sudah mengenalnya kalau dia adalah orang baik. Saat pertama kenalan sama dia, dia bilang hanyalah mahasiswa biasa yang suka main dan suka gundam, gak suka kajian dan pergerakan mahasiswa gitu. Tapi ternyata dia aktivis juga, bahkan dari tingkat I (Gamais, OSKM, Kenmi (?), dll gatau semua). >_<
Dalam pandanganku, Zetra itu 'wah'. Mau kepo twitter dan tumblr nya? @zetra_iz dan http://zetra006.tumblr.com

Kelima adalah Fajar Cipta Yudha Perkasa (Teknik Kimia ITB 2009), dia tuh sering banget disebut sebagai "Fajar Wacana" karena memang suka kajian dan kajian-kajiannya tingkat 'dewa' (lebay deng ini. hehe). Fajar tuh seakan-akan hobinya adalah mikirin bangsa Indonesia. Fajar rajin membaca, mengkaji, dan menulis. Tulisan-tulisan dia bisa dikepoin di profil dia nih https://www.facebook.com/fajarciptayudha.perkasa?ref=ts&fref=ts
Kalau dari segi kepribadiannya yang aku kenal, dia tuh type "bapak". haha. Terlihat dewasa, dia kalem-kalem-ngalah gitu kalau sama cewek. Dia rajin mencari uang, namun tetap rajin memikirkan bangsa ini, juga pastinya tetep belajar, secara dia anak Teknik Kimia ITB, jurusan yang terkenal 'sulit'. Kata Akrim (temen SMA nya), dulu Fajar sering jadi juara olimpiade. Orang seperti dia tuh:-)
Dua kata buat Fajar, "cerdas dan peduli". Tapi aku lebih suka memanggilnya 'Fajar Sabi' atau 'Fajar Wacana'.

Keenam adalah Nyoman Anjani (Teknik mesin ITB 2009). Sejujurnya aku belum pernah kenalan sama dia tapi dia cukup eksis dan aku banyak mengenal ke-nice-an dia dari temenku, Irma MRI09. "Halo Nyoman, salam kenal" :-D
Nyoman itu gadis tangguh, pecinta alam, suka banget naik gunung dan melukis, cantik, pinter, dan (kata Irma) religius & baik hati. Belum pernah sih nemu cewek kayak gini sebelumnya. Dan saat ini dia sedang mencalonkan diri sebagai ketua Kabiner KM ITB 2013/2014. Meskipun aku simpatisan dan pendukung gagasan #melukisindonesia (lawannya Nyoman), tapi aku punya pesan buat Nyoman, "Kalau kamu terpilih, jadilah the next Camilla Vallejo atau lebih baik dari dia, Nyom. hehe. Semangat ya cantik. Mudah-mudahan terus menginspirasi. Aku share ya kontak kamu biar makin bermanfaat dan banyak menginspirasi orang lain". ;-)
https://www.facebook.com/nyoman.anjani?ref=ts&fref=ts

Ketujuh adalah Muhammad Yorga Permana (Manajemen Rekayasa Industri ITB 2009). Seingetku, aku kenal Yorga ketika di sekre kabinet. Dia tuh ramah banget, dia suka nyapa duluan. Dan semakin ke sini, dia punya gaya unik tersendiri dalam menyapa orang, termasuk menyapaku. Dengan nada sunda dia selalu bilang "Assalamu'alaykum Dewi..." saat bertemu.
Yorga yang aku kenal juga religius. Dia selalu menebarkan kata-kata positif dan banyak hal tentang kebaikan. Yorga sering menebarkan semangat kepada teman-temannya meskipun saat itu dia sendiri sedang membutuhkan semangat. Dalam kepemimpinannya, Yorga adalah type konseptor (tingkat tinggi lah), namun dia juga type eksekutor (jadi bukan Yorga Wacana lagi, hehe, peace Jar ^_^v). Dia seakan-akan hidup untuk orang lain. Kalau mengingat 3 kriteria kepemimpinan --> pemimpin itu bagaikan burung elang: tajam pandangannya (visioner), kuat, dan setia pada tuannya (insan robbani / hidup untuk kepentingan umat) maka aku mau bilang, Yorga punya itu.
Kehidupan Yorga yang aku pandang tuh seakan-akan selalu oke-oke saja meskipun tempaan dalam hidup dia berat. Aku pikir, itu karena dia laki-laki tegar, sabar, pandai bersyukur, dan dekat engan Tuhannya. Kalau aku mengistilahkan, "Dia tuh mau digebhukin, disakitin, atau dicela, bakalan tetep lempeng-lempeng aja". Sejak kecil, Yorga selalu menjadi juara di sekolahnya. Waktu SMA, dia juga aktivis (ketua OSIS). Sejak masuk ITB juga udah menjadi aktivis, baik di organisasi terpusat, maupun wilayah, intra kampus, maupun ekstra kampus. Yorga tuh type aktivis pergerakan (sama kayak kak Ratna), seakan-akan gak pernah galau dalam kehidupan dan urusan-urusan internalnya karena ia selalu berpikir eksternal, update isu-isu nasional meski saat dia sudah tidak memegang jabatan sebagai menteri Kebijakan Nasional Kabinet KM ITB lagi (pernah, di kepengurusan kabinet kemarin bareng kak Ratna dia udah jadi menteri), dan meskipun dia seorang aktivis oke yang bertanggung jawab terhadap amanahnya, amanah akademik juga tidak dia abaikan (IPK nya cumlaude boo).
Dari Yorga, aku belajar sekali banyak hal yang seringkali aku rasakan saat berinteraksi dengannya, baik dari kepribadiannya maupun kepemimpinannya. Dan hal-hal itu cukup berpengaruh dalam kehidupanku secara pribadi maupun organisasi. (Ini murni dari hati, bukan karena sekarang lagi masa kampanye).
Yorga juga calon ketua Kabinet KM ITB 2013/2014 dengan gagasannya #melukisindonesia
Kalau mau kepo @kuaskita #melukisindonesia #MelukisIndonesiaReborn http://melukisindonesia.com/ http://www.facebook.com/groups/melukis.indonesia/?ref=ts&fref=ts
Dan profil, tulisan (dia juga suka membaca, nulis, dan kajian kayak Fajar), serta kontak Yorga di http://www.facebook.com/muhammadyorga.permana?fref=ts atau via twitter @yorgaperm

Nb: maaf ya, ngepost tulisan ini tanpa minta izin dulu ke kalian. Semoga kalian ridho untuk menjadi sumber inspirasi buat semua yang membacanya dab terus berkarya dan menginspirasi. :-)
Terima kasih kak Ucup, kak Wintang, kak Ratna, Zetra, Fajar, Nyoman, dan Yorga udah jadi inspiratorku & banyak orang dan terima kasih udah jadi orang-orang yang keren bangeeeettttt. >_<

Minggu, 14 April 2013

Setapak Jejak Kesuksesan

Menjelang SNM-PTN, setelah UN dan UAS, aku memilih tempat belajar untuk persiapan SNM-PTN.
Ada tempat bimbel yang terkenal se Indonesia tapi karena kelasnya banyakan, aku tidak memilihnya karena memang aku agak susah belajar rame-rame. Ada sih program intensifnya, tapi bayarnya 12 juta. haha. Gak mungkin lah aku 'nyekik' orang tuaku.
Ada suatu bimbel baru yang unik, tempatnya unik dan belajarnya intensif dan bisa privat 24 jam. Itulah yang aku cari. Apalagi, lulusannya pasti dapetin PTN (ya iyalah, siswa-siswi nya emang dasar pinter, dari SMA favourite sebelah semua). Nah, saat itu aku mupeng banget pengen les di sana, apalagi temennya sama anak sekolah itu semua. Namun ternyata, Tuhan tidak mengizinkanku les di sana, jadwalnya gak cocok dan kelas yang jadwalnya cocok udah penuh. Emang 1 kelas cuma dibatesi maksimal 8 orang.
Akhirnya ada 1 pilihan lagi di suatu bimbel yang lumayan unik juga, yang saat itu visinya menggambarkan target menuju Universitas yang aku impikan. Aku ngambil paket intensif SNM-PTN, cuma sebulan belajar di sana.
Yup, di sana aku bayar tidak terlalu mahal namun dengan fasilitas maksimal. Ada perlakuan spesial untuk siswa spesial. Haha, narsis. (^_^)v
Karena udah gak sekolah lagi, kami belajar intens dari jam 8.30-11.00 setiap hari Senin-Kamis. Namun aku selalu stand bay di sana dari jam 7 pagi (saat bimbel dibuka) sampai maghrib. Bahkan di hari Jum'at dan Sabtu pun. Di sana aku memanfaatkan fasilitas yang ada, hunting kakak2 yang kosong yang ada di sana saat itu buat ngajarin aku. Di sana aku juga belajar mandiri. Aku banyak ngobrol sama kakak2nya, ngobrolin soal pengalaman kuliah, pengalaman di kampus, bahkan ngobrolin soal sistem dari bisnis bimbel itu sendiri. Haha. Dengan kurang dari 1 juta, aku mendapatkan banyak ilmu yang luar biasa. Ditambah lagi, aku sering ditraktir makan siang, berapa kali ya makan pizza hut dalam sebulan itu? :-P Selain itu, aku juga mendapatkan banyak wawasan tentang islam, tentang tarbiyah (pendidikan) islam. Di sana, selalu dibiasakan untuk shalat tepat waktu, banyak dikasih nasehat dan tausiyah. Selain itu, aku bisa make pakaian kayak sekarang karena something yang aku dapet dari sana. Subhanallah banget lah kakak-kakaknya. :-)
Les di sana kayaknya aku dapet cash back lebih dari yang aku bayar deh. :-P
Wah, promosiin gak ya nama bimbelnya apa? :-P
Masuk ke cerita inti:
Kelasku isinya anak-anak gaul sekolahku dan sekolah sebelah (anak internasional semua lah, sedangkan aku hanyalah siswi biasa dari SMA yang lebih biasa. hehe).
Ada seorang temen yang sangat menginspirasiku. Dia ganteng, tinggi, putih, pinter dan dia adalah seorang model. Dia sangat bercita-cita untuk menjadi pilot. Saat yang lain masih sibuk persiapan UN dan UAS, dia udah berjuang buat dapetin suatu akademi pilot terkenal di Indonesia. Kayaknya gak cuma satu tapi yang paling heboh tuh yang di sana itu, yang tesnya panjang banget. Dia mengikuti rangkaian tesnya yang sangat banyak dan panjang itu dengan penuh perjuangan dan pengorbanan, membagi waktu antara sekolah, karir, dan perjuangannya untuk mendapatkan akademi tersebut. Sampai dia berhasil lolos tingkat provinsi. Kecerdasan otak, fisik, mental, dan waktu, semuanya diuji. Sempet masuk asrama juga kayaknya. Sampai pada saat (setelah UN juga kayaknya, pokoknya mah dia berbulan-bulan mengikuti rangkaian tes masuk akademi tersebut), dia mengikuti ujian terakhir kedua, yaitu tes tertulis. Dia berhasil meraih prestasi hasil tes "terbaik di seluruh Indonesia". Sangat optimis masuk. Kami pun sebagai teman turut mendo'a dan ikutan optimis kalau dia bakal diterima.
Karena kehecticannya mengikuti rangkaian tes tersebut, dia agak mengabaikan persiapan SNM-PTN. Hingga H - sekian pendaftaran SNM PTN, dia dinyatakan gagal dari tes masuk akademi perpilotan tersebut. Karena apa? Karena saat tes jongkok, dia gak bisa. Iya, gara-gara gak bisa jongkok, dia gagal. :'-(
Semua pun ikut bersedih...
Namun hebatnya dia, dia sangat tegar dan tetap ceria. Aaaaaa, ****.... >_< Pengen banget nyebut namanya tapi belum izin sama orangnya. hehe. Di saat temen-temannya yang gagal menangis, dia tetap tegar. Ya, bayangin aja berbulan2, membagi fokus juga buat UN dan UAS, belum juga dia tetep rajin les buat persiapan SNM-PTN meski dia nampak tidak maksimal waktu itu (wajar, skala prioritas).
Entah apa yang dia rasakan sebenarnya tapi kalau aku jadi dia, kayaknya bakal speechless banget. Hingga hari H terakhir pendaftaran SNM-PTN. Saat itu pun aku daftar SNM PTN di hari terakhir pagi karena selama ini galau milih jurusan selain FK **. Itupun, pas di UI Salemba (tempat daftarnya di sana), aku masih sempet nelpon kakak mentor buat minta pertimbangan fix. Akhirnya kupilihlah pilihan keduaku, FMIPA ITB dengan maksud dan tujuan, kalau aku diterima di pilihan kedua, aku mau belajar basic science di sini (kan di ITB ada TPBnya di tingkat I --> belum masuk jurusan, masih di Fakultas buat nguatin basic science) supaya tahun depan bisa ikutan ujian masuk FK ** lagi. :-) (masih gak nyerah saat itu)
Siangnya, pulang dari Salemba, temen aku tadi nelpon, minta pertimbangan ikutan SNM-PTN atau enggak. Dia galau karena persiapan SNM PTN nya gak maksimal. Yaaaaaahhhhh, ****... -_- Dengan sangat pasti, aku sangat mensupport dia untuk nerjang aja (ikutan). Aku ngasih semangat (aku lupa sih kata2nya) tapi intinya, dia kan cukup pinter di sekolah, udah belajar juga, udah ikutan les juga, meski gak maksimal tapi coba aja kali. Masalah hasil mah, Tuhan yang menentukan. Dan akhirnya dia ikutan. :-)

Temen aku yang satu lagi dari kelas internasional suatu SMA sebelah. Dia punya cita-cita yang tinggi juga.
Pilihannya: 1. Kedokteran **; 2. Manajemen **; 3. Manajemen ***** (salah satu kampus besar juga)
(kalau gak salah bener, haha, lupa lupa ingat)
Ada hal-hal yang nyambung kalau ngobrol sama dia karena ada cita-cita yang sama: "kuliah di kedokteran ** --> jadi dokter --> bangun rumah sakit". Kenapa harus di **? Ada lah alasannya.
Bedanya kalau aku pengen jadi dokter spesialis penyakit dalam, sedangkan dia pengen jadi dokter jantung.
Dia anaknya lucu dan unik.
Kan idealnya dengan cita2nya yang tinggi itu, dia harus berjuang keras juga. Namun (dunia memang tidak ideal, haha), di tempat les, dia terkenal sangat malas. Sampai mentornya pada stress nasehatin dia buat belajar. Aku gatau sih dia kalau di rumah belajar atau gak tapi saat itu emang terkesan 'males' dan kalau ujicoba hasilnya bukan yang paling tinggi juga kok. (hehe, peace sob. ^_^v)
Namun, dia punya keyakinan yang luar biasa. "Nothing impossible and impossible is nothing". Kata-kata itu seperti melekat erat dalam jiwanya, seakan-akan menjadi suatu kekuatan utamanya.
Ketika dinasehatin kakak mentor, ketika 'diomelin' seorang kk mentor yang agak 'cerewet' karena sayang (siapa ya? :-P), dia selalu menjawab dengan jurus itu. Dan seakan-akan dia berani jamin kalau dirinya bisa membuktikan kata-kata "Nothing impossible and impossible is nothing".
Suatu hari, ketika pengumuman hasil SNM-PTN, masing-masing update status tentang diterimanya di kampus mana. Temenku yang pertama tadi akhirnya diterima di suatu kampus besar juga di Bogor. #upz, disebut.
Lumayan kan, dengan usaha dia yang minim dia dapet di sana, sama kayak seorang juara kelas kita di sekolah lah, meski beda jurusan. :-)
Dan, temenku yang satunya lagi, update status gini, "gue bangga diterima di manajemen *****, tapi gue lebih bangga nolak manajemen *****".
Yah, dia berhasil diterima di Manajemen ***** namun dia memutuskan untuk tidak mengambilnya. Dia lebih memilih suatu Universitas Bisnis & Manajemen swasta di Jakarta yang katanya lebih bagus dan kayaknya sih emang lebih mahal. (Tapi kayaknya masih bagusan SBM ITB deh :-P (arogansi kampus) Haha, peace ^_^v)
Iya, kayaknya memang lebih bagus jurusan manajemen di kampus itu daripada manajemen *****. Katanya sih sistem dan linknya yang membedakan.
Hari berikutnya setelah pengumuman, kami kumpul-kumpul, ceritanya acara perpisahan pribadi (karena di bimbel pun ada acara perpisahannya). Waktu itu kami mau makan-makan di Taman Anggrek, namun sebelumnya kami mampir dulu ke bimbel buat sungkem sama kakak2 mentornya. :-)
Sangat wajar, kami sangat disambut dengan bangga oleh kakak-kakaknya. :-D
Dan dia bilang, "tuh kan kak bener apa kata saya, nothing impossible and imposssible is nothing". Yah, kali ini kakaknya 'kalah' dengan bangga karena adhiknya berhasil dapetin jurusan oke di  PTN besar. :-)

Dari temenku yang pertama, aku belajar tentang kerja keras. Dari temenku yang kedua, aku belajar tentang kekuatan keyakinan (optimisme). Meski aku pun dulu melakukannya, namun di tengah2 kehectican banyak hal yang ingin aku kejar saat ini, mereka mengingatkanku tentang itu.
"Kunci keberhasilan adalah kerja keras dan keyakinan", ditambah kunci kesuksesan yang aku alami saat itu: USAHA + DO'A = BERHASIL. Yup, banyak cara untuk sukses, namun kunci dari kesuksesan itu sendiri sudah ada dan tinggal dilaksanakan.

Dalam kondisi saat ini, aku diingatkan oleh seorang kakak mentor. Beberapa waktu yang lalu pas pulang ke Jakarta, aku main ke tempat les sekalian nganter adhikku (kebetulan adhikku sekarang sedang les di sana) dan ketemu salah beberapa kakak. Nostalgia, berbagi cerita. Kakak2nya udah pada nikah bahkan ada yang anaknya udah mau TK. :-) Kondisi ruangan, desain dan jargon di sana telah banyak berubah. Cukup inovatif kok.
Saat itu aku bercerita, "kak, aku habis naik gunung loh bareng temen2 kampus. Terus pas di tengah jalan kami kehujanan. Saat itu lemes banget. kedinginan, dan aku sering jatuh, tapi karena aku merasa temen2ku juga susah, aku mencoba kuat dan bertahan. Alhamdulillah pulang dengan selamat. :-) "
Seriusan, saat itu lagi murni cerita tentang itu. Tentang pengalaman di kampus tapi kakaknya nanggepin gini, "Dewi dari dulu gak berubah ya? Kuat dan selalu optimis". Cukup seperti mendengarkan sesuatu yang baru, "ah, masa sih kak?"
"Iya, Dewi tuh kalau punya keinginan, selalu berusaha keras untuk mencapainya, pantang menyerah meski orang sekitar bilang gak mungkin. Waktu dulu gak bisa ini-itu, Dewi paling bawel buat nanya dan selalu berusaha keras untuk bisa. Dewi juga paling kekeuh buat dapetin apa yang dimau". (Eh, jadi inget, kenapa sekarang aku masih juga di ITB dan saat tahun kedua memutuskan untuk tidak mengikuti ujian masuk FK ** lagi karena alasan yang besar, semoga next bisa sharing cerita)
Masih juga merasa baru, "ah, masa sih kak?"
Lalu berpikir, oh iya ya dulu aku gitu? Tapi kenapa sekarang kayak gini? "Nothing impossible and impossible is nothing Dewi, selama kita berusaha maksimal dan berdo'a!" >_<
Hmmm, aku sangat bersyukur aku telah diingatkan Allah melalui itu dan memang harusnya saat ini aku seperti dulu yang selalu optimis, kerja keras dan berazzam kuat.
Pas banget, reminder itu ada saat aku sedang sangat membutuhkannya. Saat itu aku sedang banyak masalah banget. Juga untuk saat2 ini. Alhamdulillah. :-)
Makasih kak...

Makasih juga buat 2 orang temenku yang sabi ini karena telah menginspirasi. Juga buat temen2 seperjuanganku yang lainnya, secara gak langsung, kalian menginspirasiku banyak hal. :-)
Serta untuk kakak-kakak yang selalu sabar dalam mengajari ilmu dan berbagi motivasi serta menginspirasi. Aku kangen banget sama kalian :-3
Saat ini, kalian pasti juga sedang berjuang. Ayo kita kerja keras dan saling mendo'akan,,, Semoga Tuhan menyertai langkah kita. Sampai jumpa di gerbang kesuksesan. :-D

In memory:
Perpisahan di PH, Taman Anggrek, Jakarta Barat
Dari kiri: Dewi, Hafish, Dhani, Azkya, Yodi
(Alhamdulillah, kami semua lulus PTN ^_^v)

Dari kiri belakang: Adis (65), Anis (78), Muti (78), Dewi (65), kak Yati, Gita (85), Vita (65), kak Penny, Tita (78), Dhani (78)
Dari kiri bawah: Aji (65), Yodi (65), (lupa seriusan, anak 85 kan), Iqbal (65), Pungky (65), Hafish (78)
Mereka semua kuliah di kampus2 oke loh :-P
Selamat dan sukses, teman2 :-D

Jumat, 08 Maret 2013

My Final Project on Undergraduate Program

Hello everybody, my name is Dewi Kusuma Pratiwi. You can call me Dewi. I am undergraduate student at Institut Teknologi Bandung. My major is Physics. My sub major is Nuclear and Biophysics. Now, I have a final project. The big topic is “Boron Neutron Capture Therapy (BNCT) for Brain Cancer”. My lecturer is DR. Rena Widiati.
Why I choise BNCT? BNCT is one of several cancer therapies. BNCT can treat kind of difficult cancer. The example difficult cancer is brain cancer. Many kinds of Brain cancer, one of all is Astrocytomas. Astrocytomas can spread to all brain cells quickly and and fused with normal cells. So, it difficult treated by operation. One kind of Astrocytomas is Glioblastoma Multiforme. It is a high class Astrocytomas. This cancer usually happen on adult people.
BNCT is a radiotherapy technique for cancer treatment. The principle of BNCT is boron-10 particles are distributed into the cancer cells. Then, the thermal neutrons emitted on it. The reaction that occurs produced recoiling lithium-7 nuclei and high-energy alpha particles.
Boron has high absorption for thermal neutrons. While boron components may interact with cancer cells with the help of a carrier agent. When irradiated with thermal neutrons, cancer cells that have interacted with boron receive high linear energy transfer, then its suffered damage. On my final project, I want to simulate it with a software.
Wish me luck. :-)

Kamis, 14 Februari 2013

Untukmu yang Sedang Merasa Masalahmu Saat Ini adalah Masalah Terbesar

Dear, aku pun pernah mengalami masalah besar. Aku pun pernah menangis. Aku pernah merasa masalah itu adalah masalah terbesar dalam hidupku yang orang pandang, aku pernah mengalami masalah yang jauh lebih besar daripada sebelum itu. Namun aku tetap menganggap masalah itulah yang paling besar. Bahkan ketika aku mendapatkan nasehat dari seorang sahabat, "Kalau kamu merasa masalahmua adalah masalah yang paling besar, coba lihat saudara-saudaramu di Gaza, Syiria, atau Afrika". Namun saat itu, hatiku membantah, "ya itu mereka, mereka dengan kapasitas mereka. Dengan masalah ini, gue merasa udah berat banget". Ah, childish. Namun, kita tidak dapat menjudge tingkatan masalah seseorang karena kita tidak pernah menjadi orang tersebut jika diberikan masalah itu dengan kapasitasnya.
Bahkan aku pernah menangis setiap hari dalam waktu +- 4 bulan hanya karena satu masalah. Meski terkadang aku merasa masalah itu hadir karena memang kesalahanku sendiri, kelalaianku sendiri, atau kekuranganku sendiri dalam berusaha. Atau masalah itu memang sudah menjadi suratan takdir dalam hidupku. Namun, aku tidak pernah menyesali itu semua.
Masalah-masalah itu yang membuatku bisa seperti sekarang, kondisi yang perlu aku syukuri. Kondisi di mana aku menjadi lebih kuat dari sebelumnya, kondisi di mana aku menjadi lebih dewasa dari sebelumnya, dan kondisi di mana menjadikanku kuat untuk mengejar ketertinggalanku dari banyak hal.
Saat itu apakah aku mengeluh? Yah, aku sering mengeluh, sampai sahabat-sahabatku terlihat bosan mendengarkannya. Apakah kerjaanku hanya mengeluh? Tidak, dalam keluhanku, aku selalu mencari celah solusi dan aku selalu berusaha move on dan beresolusi. Bergerak dan tidak meninggalkan pekerjaan-pekerjaanku yang lain. Mudah? Tidak. Perlu proses dan lama. Pedih? Iya. Bahkan orang-orang di sekitarku khawatir, "Dewi, kalau seperti ini terus, nanti kamu jadi gila". Apakah kondisiku seterpuruk itu? Bisa dibilang iya karena memang saat itu aku sangat down. Namun bisa juga enggak karena aku masih menjalankan ibadah dan ada kalanya ketika aku bersujud, aku merasakan ketenangan. Dan saat itu, aku lebih sering rindu dengan Allah, karena hanya saat berkhalwat (bercumbu) dengan-Nya lah aku merasakan ketenangan.
Yah, aku mensyukuri semua ini, karena aku jadi semakin dekat dengan-Nya.
Meskipun saat itu aku juga masih sering futur. Kadang aku kuat, kadang aku lemah. Saat berhadapan dengan Allah, aku menumpahkan segalanya, dan aku meminta banyak hal. Dari sana muncul energi postif, harapan dan keyakinan. Namun ya memang labil, dalam satu hari, aku bisa berubah-ubah rasa sebanyak 5-6 kali. Terkadang futur lagi, dan ketika mendapatkan teman curhat, kelemahanku muncul. Hingga ada salah satu sahabatku yang paling banyak menyimak kisahku, yang sampai terlihat bosan. Mungkin bukan bosan, namun ia sudah stak kehabisan kata-kata nasehat. +- 4 bulan aku menangis setiap hari, namun aku tidak pernah merasa air mataku sia-sia.
Ohya, memang aku pernah mendengarkan nasehat yang entah dari mana sumbernya, namun aku yakin, di dalam setiap nasehat selalu mengandung kebaikan:
"3 ciri tanda  orang yang benar
Ia selalu menyembunyikan ibadahnya
Ia selalu menyembungikan shadakahnya
Ia selalu menyembunyikan musibahnya"
Pada dasarnya nasehat itu sangat baik. Namun kata 'selalu' itu yang kurang realistis. Mungkin, orang-orang dewasa dapat 'selalu' melalui itu. Ah, tapi apa iya? Sahabatku saja yang sangat dewasa masih butuh juga didengar keluh kesahnya, untuk sekedar didengar, kemudian ia mencari solusi sendiri. Ada kalanya juga ia butuh masukan, bahkan dari aku yang childish. Padahal ia sudah sangat dewasa dan semua orang yang kenal dengan dia pun pasti mengakui itu. Bukankah para sahabat Rasulpun masih berkeluh kesah dengan Rasulullah? Mereka juga pernah galau.
Ah, jauh jika dibandingkan dengan mereka. Aku tidak akan melakukan pembenaran. Memang aku belum bisa 'selalu' menyembunyikan musibahku. Yah, aku memang masih childish. Tapi dari sana aku belajar.
Dengan terbuka, aku mendapatkan banyak masukan. Dengan terbuka, aku dapat dengan mudah bangkit dan semangat. Dengan terbuka, aku dapat menjadi seperti saat ini. Move on dari keadaaan yang jauh lebih buruk dari sebelumnya.
Sahabatku pun pernah mengalami apa yang aku alami. Memang ia saat ini jauh lebih dewasa, bahkan paling dewasa daripada semua sahabat dan teman yang pernah aku temui. Namun, ia bisa menjadi seperti itu karena ia mengalami banyak tempaan juga dan masalah yang sangat berat. Ia pun pernah mengalami masalah sepertiku yang membuat ia bersedih dan berproses hingga +- 4 tahun. Yah, sampai saat ini, ia masih suka berkeluh kesah kepadaku dalam masalah yang sama. Namun dalam prosesnya ia selalu beresolusi. Kini, yang dulunya ia terpuruk dalam suatu hal menjadi gemilang di banyak hal. Tidak semua orang bisa melihat prosesnya.
Dear, percayalah, bahwa masalah itu yang akan mendewasakan kita, masalah itu yang akan membuat kita semakin tegar, dan masalah itu yang akan menegaskan azzam atau tujuan kita.
"Intan itu bisa indah karena ditempa"
"Besi itu kuat juga karena ditempa"
Apapun masalahmu saat ini, anggaplah masalah itu adalah amanah dari Allah yang harus kita terima dan kita hadapi. Jalani aja dengan senyuman, meskipun di baliknya tergenang air mata. Bersyukurlah jika kau masih mendapatkan masalah, apalagi masalah besar yang tidak semua orang merasakannya, karena dari sana kita akan menjadi lebih kuat dari biasanya, lebih semangat dari bisanya, dan lebih indah dari biasanya.
Jangan peduli dengan apa kata orang saat ini, yang mencemoohmu di atas keterpurukanmu. Malahan, kau harus membuktikan kalau suatu saat kau akan jauh lebih baik daripada saat ini.
Jika kamu bertanya padaku, "curhat dan ngeluh itu beda tipis, lalu saya harus gimana?"
Idealnya, curhat sama Allah aja. Namun seperti para sahabat Rasulullah yang masih curhat juga sama manusia (Rasulullah). Namun kita? Kuncinya ada di Al-qur'an. Semua solusi ada di sana. "Bagaimana jika kita belum membaca semuanya?" "Ya baca!" "Tapi lamaaaaa". "Sabar lah..." Kan masih ada orang tua, ada teman-teman, ada sahabat, ada orang lain yang pernah membaca Al-qur'an dan mungkin pernah mengalami permasalahn juga sehingga semuanya bisa menjadi bagian dari solusi permasalahan kita.
Solusi itu datangnya dari Allah, namun bisa melalui siapapun. Dan solusi itu bisa jadi gak datang hanya dalam sekali nasehat dan atau dari seseorang saja, namun dari berbagai arah yang akan merangkai pola menuju satu titik solusi yang tepat untuk permasalahan kita.
So, jangan terlalu tertutup, namun tetap jadikan Allah sebagai nomor satu, jadikan Allah sebagai satu-satunya tempat bergantung, yang lain hanyalah sebagai jalan.
Syukuri setiap prosesnya, syukuri setiap orang-orang yang ada di sekitar kita, dan tetap syukuri setiap apa yang kita rasakan. Yakinlah kalau pertolongan Allah itu dekat. Yakin, yakin, dan yakin! Jangan pernah pudar keyakinan itu! Dan yakinlah kalau di balik hujan yang membasahimu hingga membuatmu sakit dan di balik halilintar yang menyambarmu serta membuatmu takut, akan ada pelangi yang indah yang menyambutmu. Di balik semua masalah pasti ada hikmahnya,tergantung kita mau mengambil hikmahnya atau tidak.
Allaahu'alam.
Keep smile, keep spirit, and go fighting, dear... :-)

Senin, 11 Februari 2013

Special everything, this day is tiring but very beautiful ^_^

This day is very tiring. But, I'm very happy. ^_^
Strugle is love. And love make me strong.
I praise Allah for sending me strength...

This day, I did some things and get special everything:
Business plan proposal.
Arabic lesson from my close friend.
Guidance from my final project lecturer.
Advices and spirit from Mr. Narendra (asistent of Medical Physiscs Class, student at Biomedical Engineering Imperial College London).
Study with my special friends (super activist) who inspire me all this time (Aldi W, Yorga, Ilman, etc).
Experience and spirit from Mr. Vannly Seng (doctor student from Pnompenh city, Cambodia).
And I can talk face to face with them. :-)

"Bikin ******, karena itu yang akan memudahkanmu untuk menuju ke 'sana'; Jadikanlah dosen sebagai orang tua di kampus; Jangan hanya berpikir di sana asiknya saja, apa yang kita suka itu pasti akan ada sulitnya juga, but don't wory! It's back to willing, back to you; Galau itu wajar karena itu proses pendewasaan buat kamu. Tapi jangan kelamaan galaunya. Cepetan kerjain yang di depan kamu dulu..."
Daaaannnn, banyak cerita serta nasehat darinya. ^_^

If we feel difficult to conversation with him, he give us some motivation. "don't afraid with pronoun"; "if you feel difficult, tell me, please"; "more diligent to writting and listening, maybe from a song". He is very kind, always smile on every situation, patient, and motivate us.
Last time, when we are assembled, one of us who felt bad mood. He is very considerate and tell about something. I'm forget his full story (about his friend who lost an I-phone last week), but he said "If you sad, please to manage your emotion. So, your life can be easy"

Thank you for experience, for advice, for spirit, and for everything, every body... ^_^

Now, I can smile with my all problems. :-)

Berusahalah menjadi Pejuang Sejati, Dewi...

Pejuang yang heboh ria memamer-mamerkan amalnya adalah ANAK KEMARIN SORE.
Yang takjub pada rasa sakit dan pengorbanannya juga begitu.
Karena mereka jarang disakiti di jalan 'perjuangan' ini.
Karena tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya besar.
Maka sekalinya hal itu yang mereka kerjakan, sekalinya hal itu mereka rasakan, mereka merasa menjadi orang besar.
Dan mereka justru jadi lelucon dan target do'a para 'pejuang' sejati, "Ya Allah, berilah dia petunjuk... Sungguh, Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang"

Membaca nasehat ini, aku merasa itu adalah diriku. Yang selama ini berjuang belum sepenuhnya ikhlas karena Allah, masih bercampur dengan unsur duniawi. T_T
Memang, mencintai Allah lebih dari segala-galanya itu sulit. Memenuhi hati dengan hanya Allah itu sulit. Mencintai semua hal karena Allah itu juga tidak semudah yang diucapkan.
Seperti dalam lirik lagu Opick:
meski ku rapuh dalam langkah
kadang tak setia kepada-Mu
namun cinta dalam jiwa
hanyalah pada-Mu
maafkanlah bila hati
tak sempurna mencintai-Mu
dalam dada ku harap hanya
diri-Mu yang bertahta
Ketika melantunkan lagu ini, sepertinya ada kemunafikan dalam diri ini. "Namun cinta dalam jiwa HANYALAH pada-Mu". Ah, tidak, masih ada rasa cinta terhadap duniawi, yaa Allah. Amalan-amalan selama ini pun seringkali tidak aku lakukan hanya semata-mata untuk-Mu. Masih karena mereka, masih karena keinginan, masih karena dunia. T_T Dan terkadang aku lalai kalau untuk mereka pun harusnya KARENA-MU. Namun, "dalam dada KU HARAP hanya diri-Mu yang bertahta"
Sulit, namun seperti ustadzku pernah berkata ketika aku bertanya "ustadz, bagaimana supaya niat kita selalu lurus karena Allah?" Ustadz tersebut menjawab, "saya saja tidak tahu apakah niat saya mengisi pengajian di sini lurus karena Allah atau tidak. Namun sebagai manusia kita hanya bisa mengusahakannya".

Lalu, aku ingat dengan salah satu sirah sahabat:
Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz. Dia memimpin hanya sebentar. Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung. Tidak ada lagi orang miskin yang bisa diberi sedekah. Tubuh mulia itu terkoyak-koyak. Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah (pemimpin itu) bekerja. Tubuh yang segar bugar itu sampai rontok. Hanya dalam 2 tahun ia sakit parah kemudian meninggal. Toh memang itu yang diharapkannya, mati sebagai jiwa yang tenang.
T_T

Yah,
Memang seperti itu 'perjuangan'.
'Perjuangan' adalah cinta.
Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu.
Sampai pikiranmu.
sampai perhatianmu.
Berjalan,duduk, dan tidurmu.
Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang perjuangan. Tentang 'orang-orang' yang kau cintai.
Lagi-lagi memang seperti itu. 'Perjuangan'. Menyedot saripati energimu. sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yang menempel di tubuh rentamu. Tubuh yang luluh lantak diseret-seret... Tubuh yang hancur lebur dipaksa lari

Ayah, aku teringat pada perjuanganmu dulu. Untukku dan untuk keluarga. T_T
Ibarat kepala menjadi kaki dan kaki menjadi kepala, setiap hari bermandikan keringat, berlumuran dengan luka, dengan tekanan mental, dan kekuatan hati yang sering terluka, hingga engkau sakit, hingga badanmu kecil dan seperti tinggal tulang, hingga kamu meninggal dengan senyuman itu. Aku masih mengingatnya. T_T
Semua demi memenuhi kewajibanmu sebagai seorang ayah, seorang pemimpin keluarga, seorang yang wajib memberikan nafkah. Dan dengan hati yang kuat, dengan perjuangan yang keras, engkau masih menerima celaan, bahkan tidak jarang mendengarkan kami mengeluh akan hasil kerja kerasmu. Namun engkau tetap berjuang dan terus berjuang keras, engkau tetap tegar, engkau terus menguatkan hati, engkau selalu berusaha ikhlas, dan engkau tidak pernah lari, engkau bertanggung jawab, engkau tetap melakukan semuanya untuk kami karena Allah. T_T
Semoga engkau mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya.
Aku merindukanmu, ayah. Dan aku berjanji akan memberimu hadiah yang pernah aku janjikan di syurga nanti. T_T
Aku akan berjuang untukmu seperti apa yang pernah engkau perjuangkan dulu, ayah.
Aku akan berusaha menjadi manusia dewasa yang BUKAN ANAK KEMARIN SORE lagi.
Yah, aku akan terus belajar dan berusaha.
Belajar dan berusaha menjadi pejuang sejati...

(Kata bercetak miring dikutip dari kumpulan nasehat langit (ulama) dengan pengubahan kata 'dakwah' --> 'perjuangan'; 'mujahid' --> 'pejuang'; dan 'umat' --> 'orang-orang')

Sabtu, 09 Februari 2013

Aku Ingin Menjadi Kuas yang Dapat Melukis dengan Warna Cat Terbaik

Mentari Bernyala di sini
Di sini di dalam hatiku
Gemuruh apinya di sini
Di sini di urat darahku

Meskipun tembok yang tinggi mengurungku
Berlapis pagar duri sekitarku
Tak satupun yang mampu menghalangimu
Bernyala di dalam hatiku

Hari ini hari milikku
Juga esok masih tebentang
Dan mentari kan tetap bernyala
Di sini di urat darahku

Mendengarkan lagu ini, membuatku merenung dan meneteskan air mata.
T_T
Lagu ini yang telah menyambutku ketika aku masuk kampus tercinta ini, di mana saat itu aku disambut dengan kata-kata "Selamat datang putra-putri terbaik bangsa". Muncul berbagai keidealismean dalam benakku, banyak yang ingin aku capai di kampus perjuangan ini: IPK cumlaude, kenal dengan sebanyak-banyaknya orang, berkontribusi di himpunan, berwirausaha dan menciptakan lapangan pekerjaan, lulus segera, dan kontribusi untuk Indonesia pasca kampus.
Namun, seiring berjalannya waktu, keidealismean itu mulai terkikis. Banyak cobaan, banyak masalah, banyak rintangan, dan banyak godaan. Sempat aku labil dan tidak konsisten dengan apa yang ingin aku capai. Namun, lagu ini mengingatkanku kembali pada semua itu.
Muncul banyak pertanyaan renungan:
"Udah ngapain aja aku selama di kampus ini?"
"Kontribusi apa yang udah aku berikan untuk kampus ini?"
"Kebaikan apa saja yang sudah aku berikan untuk Indonesia?"
"Sudah seberapa manfaatkah aku untuk kampus ini dan untuk Indonesia?"
T_T
Yah, aku merasa belum berbuat apa-apa, aku belum banyak berbuat untuk kampus ini dan untuk Indonesia. Keegoisan semata yang aku lakukan selama ini. Meskipun aku berorganisasi, meskipun aku berhimpun, dan meskipun aku banyak melakukan hal namun aku merasa masih kurang, masih sangat kurang. Ilmu yang aku peroleh juga masih sangat kurang.
Betapa sulitnya memperjuangkan untuk dapat masuk ke dalam kampus ini, maka setelah keluar pun aku harus membawa banyak hal, membawa banyak bekal, dan dapat memberikan banyak kebermanfaatan dari kampus ini.


Suatu hari nanti, insya Allah lagu ini yang akan mengantarku pula untuk keluar dari kampus ini. Namun aku ingin keluar dari sini dengan perbekalan yang cukup. Untuk Tuhan, bangsa, dan almamater.

Aku pikir masih ada waktu untuk aku belajar dan menimba banyak ilmu di kampus ini. Ilmu-ilmu yang mungkin sudah diperoleh kakak-kakak seniorku atau teman-temanku atau bahkan adik-adik tingkatku; ilmu-ilmu yang tidak semua orang tertarik padanya; serta ilmu-ilmu yang tidak semua orang mendapatkan kesempatan untuk memperolehnya. Aku masih ingin belajar, menimba sebanyak-banyaknya ilmu di sini, dan memberikan kontribusi semaksimal yang aku bisa.

Tentang lulus cepat, insya Allah semester ini beban SKS kuliahku selesai (semoga mata kuliah yang aku ambil di semester ini lulus semua), tinggal TA 2. Rencana awal aku ingin mengambil TA 2 di SP supaya aku dapat mengejar wisuda Oktober 2013. Namun, sepertinya aku belum siap untuk menghadapi dunia pasca kampus dengan bekal seperti ini. Ada banyak hal yang masih ingin aku lakukan di kampus ini. Banyak, bukan hanya satu. Yang pasti, aku ingin mempersiapkan bekal. Dan bekal itu yang harus aku miliki untuk menghadapi dunia pasca kampus dan memberikan kontribusi terbaik untuk Indonesia.

Yah, "setiap dari kita adalah bagian dari perubahan". Setiap dari kita adalah kuas-kuas yang akan melukis Indonesia. :-)
(aku kutip dari salah seorang tokoh kampusku saat ini yang sangat menginspirasiku)
Aku ingin berusaha menjadi "kuas" yang dapat melukis dengan warna cat terbaik. Dan mulai saat ini aku akan mencari cat dengan warna terbaik tersebut. :-)



Berjuta rakyat menanti tangan ini, namun aku masih perlu bekal untuk menghadapi mereka.
Dan bekal itu akan aku timba di kampus ini, salah satunya adalah dengan cara ber-KM ITB. :-)