About me

Foto saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Instagram: @dewikusumapratiwi Facebook: https://www.facebook.com/dewi.kusumapratiwi

Kamis, 07 Februari 2013

Jangan Ucapkan Selamat Padaku, Aku Hanya Butuh Do'a yang Tulus

Hari ulang tahun (milad), hari di mana orang selalu mengucapkan "selamat ya?"
Hari yang sangat aku tunggu-tunggu karena aku mendapatkan banyak kado dari teman-teman dan saudara-saudara. :-)
Sejak kecil, aku selalu mendapatkan ucapan, "selamat ulang tahun dewi, semoga panjang umur". Pada suatu saat (aku lupa kapan, yang pasti aku masih SD), aku protes sama ibu dan tante, "kok tiap tahun didoakan panjang umur sih? Kapan aku matinya?" Entah karena masih polos atau aku sudah merasakan lelahnya hidup. Namun hari ulang tahun tetaplah menjadi hari yang aku tunggu karena aku mendapatkan kado dari orang-orang terdekat. ;-)

Saat ini, aku sadar kalau setiap tahun usiaku bertambah, yang artinya jatah waktuku di dunia ini semakin berkurang, yang artinya kesempatanku untuk memperbaiki diri juga semakin berkurang. Seharusnya orang-orang turut berduka, bukan malah memberikan selamat.
Pada waktu tingkat I kuliah (TPB), pada saat H-1 hari ulang tahunku, aku diajak seorang sahabatku yang bernama dian Andriani, "Dew, besok ulang tahun kamu. Malam ini kita bermuhasabah yuk. Aku juga mau ikutan do'ain kamu". Huhuhu, pelajaran yang sangat berarti, dan ukhuwah yang sangat berarti, serta cinta yang sangat berarti. T_T "Dian, aku sayang kamu karena Allah". Pada malamnya pun aku melaksanakan shalat tahajud dan bermuhasabbah dari jam 12 malam. Dian pun menemaniku. T_T

Memperingati hari ulang tahun, memang di Al-qur'an tidak ada petunjuknya. Yang menurutku hukumnya mubah selama kita tidak merayakannya dengan kegiatan-kegiatan yang menyerupai kaum kafir sehingga hukum mubah itu menjadi haram. Malahan kita bisa menjadikan mubah menjadi pahala, seperti yang diajarkan Dian, misalnya. Sebaiknya kita memang banyak bermuhasabbah, "apa saja yang telah kita lakukan selama sekian tahun yang lalu?" "Dosa apa saja yang telah kita lakukan selama sekian tahun yang lalu?" "Kebaikan apa yang belum kita lakukan selama ini?" "Sekian tahun ini kita udah ngapain aja?" "Amal baik kita apakah lebih banyak daripada dosa kita?" dll. Dan setelah itu kita berdo'a kepada Allah supaya diistiqomahkan dalam kebaikan, di sepertiga malam terakhirnya, saat Allah langsung turun ke bumi untuk mencaris etiap hamba-NYA yang memohon ampunan akan diampuni dan yang berdo'a akan dikabulkan. Karena istiqomah itu adalah hal yang paling sulit. Lebih sulit daripada memulai suatu kebaikan. Sedangkan keistiqomahana adalah adalah penentu akhir hayat kita akan seperti apa. Maka berdo'a supa kita istiqomah adalah do'a yangs ebaiknya tidak kita tinggalkan.

Muhasabbah, mata ini pasti akan mengalirkan hujan air mata, di mana setiap waktu, hanyalah dosa yang raga ini lakukan. T_T
Muhasabbah tentunya bukan hanya dilakukan setiap tahun, namun setiap hari, setiap malam, setiap selesai shalat, bahkan setiap saat. Muhasabbah adalah sarana untuk kita berinstropeksi diri, merengungi dosa-dosa yang telah dilakukan baik jangka panjang maupun jangka pendek. Maha Suci Allah yang sangat baik, selalu memberikan kesempatan hamba-Nya untuk bertaubat. Bahkan hanya dengan istighfar, maka dosa kita akan digugurkan. Namun taubat terbaik tentunya adalah taubat nasuha (taubat dengan azzam tidak akan mengulangi lagi kesalahan-kesalahannya). Allaahu 'alam. MAHA SUCI ALLAH.

Ketika kita lelah menjalani kehidupan ini, ketika kita merasakan bahwa hidup ini berat, ketika kita merasa tak mampu lagi untuk menghadapi cobaan dan menanggung beban hidup ini, kita akan selalu merindukan syurga. Yah, rasanya ingin istirahat saja di syurga. Namun, untuk menuju ke sana, kita akan mengalami proses kematian. Dan, kematian itu menyakitkan. "Tidak ada kematian yang tidak menyakitkan". Itu adalah kutipan tausiyah dari teman mentoringku. Ia menceritakan tentang Rasulullah. Katanya meninggal itu seperti dikuliti (Allahu 'alam karena aku belum pernah meninggal). Yang pasti, Rasulullah sampai menyebut umatnya 3X karena saking cintanya beliau kepada kita (umatnya). Rasulullah saja, manusia terbaik, mengalami kesakitan ketika meninggal, apalagi kita?
(yang mau tau cerita lebih rincinya, silakan baca sirah (sejarah atau biografi) rasulullah).
Namun setelah kematian, apakah pasti kita langsung akan masuk syurga? Jangan-jangan disiksa dulu di alam kubur, jangan-jangan dicuci dulu di neraka. T_T Allahu 'alam, kita hanya bisa berusaha dan berdo'a supaya mati syahid atau minimal meninggal dalam keadaan khusnul khatimah, diberikan kemudahan di dunia dan di akhirat, dibebaskan dari siksa kubur dan dilindungi dari api neraka, serta dimasukkan ke dalam syurga-NYA.
Yah, ketika nabi Adam dan Siti Hawa diturunkan ke bumi dari syurga (QS. Al-Baqarah 30-52), Allah berfirman "Turunlah kamu dari syurga! Kemudian jika benar-benar datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati" (QS. Al-Baqarah: 38)
Petunjuk dari Allah itu jelas adalah Al-qur'an. Dan memang seharusnya kita membaca, mentadaburi (mempelajari / mendalami), dan mengamalkannya. (Ini adalah nasehat untuk diriku sendiri pada khususnya)

Kado, memang sebagai tanda ukhuwah (persaudaraan, persahabatan, silaturahmi). Selain itu juga sebagai salah satu dari bentuk rasa sayang dan cinta kepada saudara, sahabat, orang tua, dll.
“Hendaknya kalian saling memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. Al Bukhari)
Namun, apakah ukhuwah dan cinta hanya diungkapkan ketika milad saja?

Do'a, kenapa do'a harus diumbar2? bukankah salah satu do'a yang dikabulkan adalah do'a yang tidak diketahui oleh yang dido'akan? Do'a yang tulus dan ikhlas ditujukan untuk saudaranya tersebut.
“Sesungguhnya do’a seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendo’akan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan do’anya. Tatkala dia mendo’akan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Amin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.” (HR. Muslim)

Sahabat, aku sangat senang mendapatkan hadiah, kasih-sayang, dan cinta dari kalian. aku sangat bersyukur. Namun, kado dan ukhuwah terbaik yang pernah aku rasakan adalah do'a-do'a tulus kalian yang pernah kalian berikan ke aku. Yang memang tidak nampak nyata tapi aku sangat merasakannya. Bahkan mungkin, sebagian dari kesuksesanku selama ini, hidayah yang aku terima selama ini, sembuhnya aku dari penyakitku yang bahkan saat itu dokter memvonis aku tidak akan pernah bisa sembuh, dan ketika aku sakit yang lain kemudian sembuh, salah satu perantaranya adalah do'a-do'a dari orang-orang yang tulus, kedua orang tuaku, dan kalian para saudara dan sahabatku. Aku sangat percaya dengan kekuatan do'a. Do'a dari orang-orang yang aku cintai dan atau mencintaiku yang tulus dan sungguh-sungguh. :-)

Sahabat, keinginan dan harapan terbesarku adalah:
"Aku selalu istiqomah dalam kebaikan hingga aku meninggal dalam keadaan khusnul khatimah, menjadi sebaik-baiknya manusia, menjadi bagian dari solusi permasalahan umat, dan menjadi golongan dari umat terbaik di akhir zaman":-)
Dan kado terbaik dari kalian adalah jika kalian sudi mendo'akan aku itu dengan tulus. :-)

Jazakumullaahu khairan katsiran untuk setiap kebaikan kalian selama ini. :-)

Senin, 14 Januari 2013

Move On

Tentang kamu yang "baru saja" aku "kenal".
Yang selama ini aku kenal sangat cuek dan menyebalkan.
Ternyata kamu baik hati, peka dan perhatian.
Kamu adalah sahabat yang bukan hanya menjadi "tempat sampah" namun sumber "solusi".
Hari ini aku mendapatkan banyak pelajaran.
Pelajaran yang sangat berharga untuk kondisiku saat ini.
Yang selama ini aku cari ke berbagai sumber dengan air mata yang membutuhkan waktu cukup lama.
Tentang kamu yang pernah jatuh dan berada di bawah.
Di mana saat itu "dunia" mencelamu.
Namun, bukan pasrah yang kamu lakukan, bukan pula balas dendam terhadap "dunia" yang kejam. Namun kamu ingin memberi manfaat sebanyak-banyaknya kepada dunia dengan segala kekuranganmu.
Tentang kebangkitan.
Tentang perjuangan.
Tentang cinta.

Tentang kamu yang telah bercerita mengenai lika-liku perjalanan hidupmu. Aku menulisnya di sini supaya aku tidak pernah melupakannya. Pelajaran hari ini untuk selamanya:
- Kenalilah diri sendiri meski membutuhkan waktu yang cukup lama dan carilah passionmu.
- Jangan telan mentah-mentah semua kritikan orang lain, baik yang berbentuk nasehat, harapan, maupun celaan. Kumpulkan saja, simpan, dan gunakan saat kamu perlu.
- Rumuskan peta semua masalahmu, solusikan dengan gabungan nasehat-nasehat dan harapan-harapan orang lain terhadap dirimu.
- Ingat skenario awalmu, gabungkan. Jika tidak sesuai dengan kondisi saat ini maka carilah alternatif lainnya dengan tujuan yang tidak jauh dari visi misimu selama ini.
- Yakinlah bahwa petolongan Allah itu sangat dekat.
- Terimalah semua resiko dan konsekuensi dari apa yang kamu lakukan karena setiap perbuatan (bahkan perbuatan baik pun) pasti beresiko di dunia ini.

Untuk aku yang sedang jatuh terlalu dalam.
Untuk aku yang telah melewati jalan terjal naik, pernah terjatuh dan terluka dalam perjalanan tersebut, berkali-kali dan aku mampu bangkit kembali.
Dan untuk aku yang kali ini sedang terjatuh lagi namun kekuatanku yang sedang melemah beberapa bulan belakangan ini sehingga aku merasa aku jatuh sudah sangat dalam sehingga aku tidak kuasa untuk naik lagi dengan luka-luka ini.
Untuk aku yang sedang tertatih-tatih.
Untuk aku yang sedang kehilangan semangat.
Untuk aku yang pesimis untuk naik ke atas lagi bahkan untuk sampai ke puncak menyusul mereka yang sudah hampir berada di puncak.
"Gue doain lo, semoga bisa melihat tali gak jelas yang gue buat.
Semoga lo bisa menciptakan momentum perubahan secepatnya.
Masalah itu masalah kecil.
Sepertinya dulu gue bisa melihat ketegaran di dalam diri lo . . . (sensor)
Jadi lo pasti bisa lah ya...
Move on (bangkit) itu hanya butuh dorongan yang kecil insyaAllah buat lo yang sebenernya kuat"
Makasih buat uluran talinya, sob. :-D
Aku sangat bersyukur Allah telah mengirimkanmu untukku. :-)

@ybs: maaf kalau redaksi nya ada yang tidak sesuai karena gak mungkin kopas semua bahasamu ke sini. ;-)

Jodoh adalah Cermin Diri

Bismillah.
Pertama kali menonton film Habibie & Ainun bersama dua orang sahabatku, haru biru, dan ibroh yang aku peroleh pun masih sekitar tentang "haru biru", tentang Habibie & Ainun, tentang cita-cita, tentang kesetiaan, tentang cinta suci yang apa adanya, tentang pasangan yang saling menguatkan, dan tentang-tentang yang lain yang masih tercecer banyak; yang bercampur aduk dengan perasaan saat itu. Perasaan yang sedang kacau. Itu film bagus menurutku, isinya. Ingin membaca novelnya, ingin tau lebih spesifik dan ingin tau cerita dari sisi bu Ainun nya. Dan saat itu memang terbawa perasaan.

Kedua kalinya menonton bersama ibu dan kedua adhikku, sebelumnya aku mengajak adhikku untuk mengucapkan basmallah, supaya kami dapat mengambil pelajaran positif sebanyak-banyaknya. Aku tidak lagi banyak menangis di 'spot-spot' yang dulu aku menagisinya dengan sangat serius (kalau gak salah ada sekitar 5 spot yang bikin aku menangis --> ketika bu Ainun dilamar, ketika bu Ainun pengen pulang ke Indonesia saat hidup mereka masih susah, ketika pesawat diterbangkan, ketika LPJ Presiden Habibie ditolak sampai akhir film non-stop aku menangis), namun kali ini aku dapat menahan tangisan dan lebih banyak mengambil ibroh. Bukan saatnya lagi untuk menangis. Namun saatnya menyimpulkan ibroh dan eksekusi.
Supaya ibroh-ibroh yang sangat banyak itu dapat aku ingat selalu, maka aku membuat kesimpulan dari film itu yang menggambarkan semua ibroh yang aku dapatkan dan kesimpulan ini insya Allah dapat menjelaskan semuanya secara kompleks, yaitu:
"Kriteria pasangan seperti apa yang kamu inginkan, maka berusahalah menjadi seperti kriteria itu terlebih dahulu"
Pernyataan ini tidak mutlak namun insya Allah pernyataan ini dapat menjawab semua pertanyaan. :-)
Go fight, Dewi... ^_^

Rabu, 02 Januari 2013

Tentang Mimpiku

  
Mimpi, kata salah seorang sahabatku, "tulislah mimpi-mimpimu, biar banyak yang mendo'akan dan mengingatkan."
Di kertas pink ini, aku "disuruh" menuliskan mimpi-mimpiku, ketika kami sedang berkumpul pada suatu agenda "kekeluargaan sahabat". Semua yang hadir di sana menuliskan mimpi-mimpinya, kemudian ditandatangani dan diberikan komen satu sama lain. Kami saling mendo'akan dan menyemangati. Aku lupa dengan tanggal saat acara itu berlangsung, namun aku masih ingat momen dan tempatnya, di tempat salah seorang sahabat kami yang bernama Sika.
Beberapa hari yang lalu, di salah satu group ukhuwah (persaudaraan/persahabatan) di fb yang isinya mereka, para sahabat-sahabat yang insya Allah selama ini aku cintai karena Allah, admin group meminta kami untuk mengisi biodata. Lalu di kolom cita-cita, aku menuliskan ini:
"membahagiakan ibu dan menghajikan ibu;
technopreneur;
punya suami yang sabar, SETIA dan selalu mencintai aku dan keluarga apa adanya;
jadi ibu rumah tangga yang soleha yang selalu memprioritaskan anak2 dan suaminya;
haji dan umrah bareng keluarga;
punya perusahaan besar dan rumah sakit yang memberikan pelayanan dengan harga terjangkau terutama untuk golongan rakyat menengah ke bawah;
punya sekolah dan kampung islami sebelum khilafah tegak (kontribusi umat terbaik);
khusnul khotimah dan menjadi penyelamat keluarga besar di dunia dan di akhirat.
Mohon do'anya yaaa"
Kemudian, hari ini aku diingatkan dengan suatu quotes yang sangat membangun dan membuatku menangis ketika diucapkan dalam filmnya:

Jika kalian menginginkan suatu hal, janganlah terlalu berpikir tetapi hanya cukup memulainya dan melakukannya.
Janganlah terlalu banyak ide karena ide kalian itu gak akan pernah berguna kalau kalian tidak bisa memaparkannya.
Setiap orang pasti banyak mengalami kegagalan, hambatan, tantangan di dalam hidupnya, sebenernya dia hampir mencapai tujuan yg dia inginkan.
Mimpi-mimpi kamu, cita-cita kamu, keyakinan kamu, apa yang kamu mau kejar, biarkan ia menggantung, mengambang “5cm” di depan kening kamu.
Dan… sehabis itu yang kamu perlu cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya, serta mulut yang akan selalu berdoa
#5cm
Sahabat, tolong ingatkan aku selalu tentang mimpi-mimpi ini. Mimpi-mimpi yang ingin aku wujudkan untuk meraih ridho-Nya. Mimpi-mimpi yang akan membawa kita menuju syurga-Nya. Aku merindukan kalian dan sangat menantikan pertemuan dengan kalian di syurga kelak. Semoga kita semua termasuk golongan orang-orang yang sukses dunia-akhirat. ;'-)
"Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu." (Novel Sang Pemimpi - Andrea Hirata)
"Kejarlah kehidupan duniamu seakan-akan kamu hidup selamanya, kejarlah kehidupan akhiratmu seakan-akan kamu akan mati besok" 

Go fight! Allaahu akbar! ^_^

Sabtu, 29 Desember 2012

Istiqomahlah yang Sedang Belajar, Belajar tentang Kebenaran

Sahabat, ketika aku mulai belajar islam, pelan dan perlahan, aku merasakan kenikmatan-kenikmatan di dalamnya. Indahnya islam dengan segala aturan / syari'at dan ukhuwah(persaudaraan)nya, yang tidak sebanding dengan apapun. Aku sangat bersyukur ketika aku diberikan hidayah untuk menjalankan syari'at islam, satu per satu, karena belum tentu semua orang merasakannya. Aku juga bersyukur ditempatkan di tempat yang "cukup kondusif" seperti di sini. Hingga sekarang pun, aku masih dalam proses belajar dan aku merasa aku belum kaffah (menyeluruh) dalam berislam sehingga aku harus belajar lebih banyak lagi dan beramal lebih giat lagi. Mungkin, ini adalah alasan mengapa rasulullah saw dulu mengajarkan ilmu akidah saja sampai puluhan tahun kepada para sahabatnya, itu saja untuk level para sahabat rasul. Lalu untuk aku dengan segala keterbatasan & kekuranganku, butuh berapa puluh / ratus tahun lagi? Entah, aku hanya bisa berusaha semampuku.

Menuntut ilmu itu aku ibaratkan dengan mendaki puncak gunung. Kita tidak bisa melakukannya dengan sendiri. Kita butuh teman. Kita memiliki cita2 besar, yaitu mencapai puncak. Pada saat mendaki, kita akan menemukan banyak rintangan yang "memaksa" kita untuk survive (bertahan) dan kitapun harus tetap memperhatikan teman-teman kita. Kita akan saling menjaga dan saling menolong. Rintangan dan cobaan itu bentuknya bermacam-macam: batu-batuan terjal, jalanan yang licin, binatang buas di sekitar, hujan, badai angin, dan lain-lain.
Ketika sudah sampai di pertengahan pendakian, sangat wajar jika kita merasakan kelelahan. Di sanalah keistiqomahan kita akan diuji. Apakah kita akan melanjutkan pendakian, atau akan kembali turun ke bawah. Dan mungkin saja akan ada rintangan atau cobaan yang melanda, misalnya kita kepeleset, digigit ular, kejatuhan batu dari atas, atau yang lainnya sehingga kita dapat terjatuh atau menggelinding ke bawah. Di sanalah peran teman kita atau peran kita sebagai teman.
Mengutip dari film 5 cm, ketika Genta mengingatkan teman-temannya bahwa kalau merasa lelah, bilang saja, satu lelah semuanya berhenti & istirahat. "Pendaki gunung itu gak boleh gengsian. Banyak pendaki yang berguguran di tengah jalan karena gengsi". (mungkin redaksinya gak sama persis, tapi inti yang ingin aku ambil seperti itu).

Begitu juga dalam menuntut ilmu, ada kalanya kita merasa jenuh atau kecewa, maka godaan-godaan akan berdatangan. Jika rasa lelah atau rasa kecewa itu kita pendam sendiri sehingga membuat kita mencari pelarian yang dapat melanggar syari'at islam, maka ibarat kita digigit ular namun diam saja, atau kita ditimpa batu namun kita tidak teriak mengadu sehingga teman-teman kita tidak akan mengetahui kalau kita saat itu sedang membutuhkan bantuan. Jika luka itu kita diamkan berlama-lama, maka akan terjadi infeksi /penyakit dan kita tidak akan kuat lagi melanjutkan perjalanan, bahkan mungkin kita bisa mati (gugur). Pun kalau kita hanya jatuh, maka akan sulit untuk bangun kembali, tanpa teman.

Akan terasa berbeda jika kita baru memulai langkah untuk mendaki gunung, kita akan bersemangat menuju puncak karena kita belum melewati rintangan-rintangan dan cobaan-cobaannya. Maka, perbaikilah, perkokohlah dan luruskanlah niatmu dari sekarang. Kuatkanlah prinsipmu dari sekarang. 

"Istiqomahlah kamu yang sedang belajar, belajar tentang kebenaran".

Istiqomahlah kamu yang sedang berjuang, memperjuangkan kebenaran.
Karena pengalaman perdana naik itu terasa lebih mudah daripada ketika harus naik lagi setelah terjatuh.
Walaupun, dengan sering jatuh, kita akan merasa lebih kuat. Itu juga jika kita sanggup untuk bangun kembali. Tidak mustahil jika kita tidak akan pernah bisa bangun kembali atau saat itu kita telah mati (gugur).

Pada dasarnya, jika seseorang yang berada di ketinggian yang telah dilaluinya dalam waktu yg tidak singkat dengan penuh perjuangan, lalu ia terjatuh, maka akan sangat sulit untuk ia naik kembali bahkan untuk bangkit sekalipun. Ia harus memiliki mental yang kuat dan jiwa yang tegar. Seandainya ia mampu naik kembali, ia akan melalui beberapa proses yg sangat berat: bangun dari jatuhnya, mengobati luka-lukanya, belajar berdiri dan berjalan, menunggu lukanya hingga sembuh atau minimal merasa telah baikan, baru ia bisa memulai melanjutkan perjalanannya kembali. Penuh perjuangan dan air mata. Berat.

Bersyukurlah yang sedang belajar dalam kebaikan. Istiqomahlah dan teruslah berusaha naik, jangan sampai terlena dan terjatuh karena keindahan sekitar.

Istiqomahlah kamu yang sedang belajar memakai kerudung (QS. An Nur:31),

istiqomahlah kamu yang sedang belajar memakai jilbab (QS. Al-Ahzab:59),
karena banyak yang melepasnya.
Dan ketika sudah lepas, sulit sekali untuk memakainya kembali.
Istiqomahlah kamu yang sedang belajar tentang arti dari "hijab" (hijab dalam arti sesungguhnya, yang bukan hanya sekedar batasan pakaian, namun juga meliputi hati dan jiwa),

istiqomahlah kamu yg sedang belajar tentang "tazkiyatun nafs" (penyucian jiwa),
karena sekalinya terjerumus, sangaaaaaaattttttttttt sulit untuk menatanya kembali.

Menyatukan kembali piring kaca yg telah pecah itu jauh lebih sulit daripada berhati-hati dan menjaganya supaya tidak pecah atau dipecahkan orang lain. Karena sekalipun piring pecah itu dapat disatukan kembali dengan lem termahal sekalipun, maka tidak akan pernah bisa sesempurna sebelumnya. Akan ada bekas yang sulit dihapuskan.

Istiqomahlah sahabat...


Karena aku di sini berbagi pengalaman, aku di sini mencintaimu, maka aku tidak ingin kamu terjatuh di lubang yang pernah aku rasakan.

Luruskan kembali niatmu, sahabat; kuatkanlah prinsipmu; lalu istiqomahlah, meski jalan ini berat...beraaaaatttttttt sekali bahkan.
Yakinlah, di depan sana ada puncak indah yang menantimu. :-)

note: ilmu di sini bisa diluas-artikan dengan dakwah atau jihad di jalan Allah.

Allaahu 'alam bish shawab.

Minggu, 09 Desember 2012

Jika Kau Ingin Menjadi Bagian dari Solusi

Ini kisah nyata. Pelajaran ini aku peroleh dari suatu forum, kemarin, sabtu, 8 Desember 2012.
Entah, jalan ini berkah atau tidak. Allahu 'alam. Aku hanya berusaha melakukannya karena Allah. Aku berharap, jalan ini diberkahi dan semua yang berada di jalan ini selalu diridhai Allah dan dimusahkan segala urusannya.
Amanahku memang tidak sebanyak mereka yg amanahnya lebih banyak dariku. Kapasitasku juga masih kecil dibandingkan mereka yg berkapasitas lebih besar. Bahkan jika aku dibandingkan dengan sahabat2ku yang berada di sini hari ini, aku seperti buih yg tidak berarti. Aku sangat ketinggalan jauh dari mereka. Mereka berwawasan sosial-politik yang luas, mereka memikirkan umat setiap hari dan selalu berusaha menjadi bagian dari solusi. Mereka mengkaji masalah untuk menghasilkan solusi setiap malam, di mana pada waktu2 tersebut, saya sedang tidur lelap. Mereka juga dituntut oleh tuntutan akademik, akademik mereka tidak semuanya oke, namun semua itu tidak pernah membuat mereka mundur dari jalan ini. Belum lagi ada yg harus bertanggungjawab terhadap finansial dirinya sendiri dan atau keluarganya, namun semuanya tidak membuatnya mundur dr jalan ini. Tenaga dan pikiran mereka diperas untuk dakwah ini.
Betapa lemahnya saya hingga cobaan sekecil ini pun, saya belum bisa lolos (ikhlas).
Ketika semuanya sedang menimpa secara bersamaan dan bertubi2 yang saya anggap masalah2 yg datang dr berbagai arah, saya masih mengeluh, "ya Allah, kenapa harus aku lg yg mengemban amanah ini? Sedangkan akademikku masih butuh perhatian khusus, TA ku belum kesentuh sama sekali, sedangkan ini sudah akhir semester. Banyak deadline tugas besar. Sebentar lagi juga UAS, dan aku belum belajar. Sedangkan si A, si B, si C dan yg lainnya bisa fokus dg urusan akademik. Kenapa harus aku lagi ya Allah? Padahal dg amanah2 ini gak menjanjikan kalau TA ku bisa beres dengan sendirinya, akademikku membaik dg tiba2, dan bahkan kalau ada apa2, gak ada yg bertanggung jawab atasnya. Belum lagi masalah2ku yang lain. Masalah keluarga, masalah pribadi, ditambah amanah2ku yg lain. Kenapa harus aku lagi ya Allah?"
Ah, ternyata semua keluhanku tadi sangat tidak berarti. Banyak orang2 hebat dan kuat di sekitarku. Mereka ditempa banyak problematika kehidupan yang SANGAT KOMPLEKS. Alangkah tidak dewasanya aku, dasar childish! Lemah! Gitu aja ngeluh! Lihat mereka! Mungkin masalah mereka lebih besar!
Tapi ternyata, gak ada alasan untuk mundur dari sini, dari jalan ini.
Kata salah seorang sahabat (satu di antara mereka), "Bahkan salah satu dari dosa besar adalah ketika kita mundur dari jalan perang tanpa alasan yg syar'i. Alasan akademik tuh gak ada di Al-qur'an sob!"
Bahkan salah seorang sahabat yg lainnya (hari ini beliau sangat menginspirasi saya) berkata, "dakwah ini bukan mengorbankan seseorang. Kita di sini berjama'ah. Kami butuh dukungan dari kalian, yg gak hanya sekedar do'a dan kata "semangat". Namun, kenapa masih ada yg mementingkan URUSAN DUNIAWI? IPK saya juga masih rendah, saya PMDK (Persatuan Mahasiswa Dua Koma) dan saya harus memperbaikinya, saya juga punya target buat lulus tahun depan. Tapi, apakah lalu saya akan meninggalkan mereka? Tidak, saya akan membantu semaksimal kapasitas yg saya punya, sembari saya memperbaiki akademik saya tsb".
:'(
Subhanallah.
Kata sahabat yg lain lagi, "jangan hanya berpikir "ini masalah gue". Kita semua punya masalah pribadi. Dan kitapun punya masalah bersama. Lihat Indonesia sekarang! Setiap dari kita harus menjadi bagian dari perubahan bangsa ini. Setiap dari kita harus mengkaji masalah bangsa ini lalu menghasilkan solusi2. Jangan apatis, yg hanya mementingkan diri sendiri! Ini masalah kita bersama!"
- Dari mereka, aku diajarkan bahwa masalahku ini tidak ada apa2nya, bahkan hanya seperti buih jika dibandingkan dengan masalah bangsa ini, bahkan mungkin bangsa2 lain di belahan bumi bagian sana.
- Dari mereka, aku diajarkan untuk tidak apatis. Kajilah masalah umat ini di manapun dan kapanpun, lalu jadilah bagian dari solusi. Oh, ternyata untuk mengkaji, aku harus berwawasan sosial politik sedangkan update berita aja jarang. Ah, itu bukan alasan! Bilang aja males buka berita (tv, radio, koran, internet)!
- Selama ini, saya termasuk org yg chupu masalah sos-pol. Lalu dari mana saya haru memulai ketertinggalan saya yg sudah sangat jauh ini? Kata temen, "Dimulai dari baca buku!" Ah, saya tuh males banget baca buku, saya gak suka baca! Kata kakak tingkat yang saat ini aktif bergerak di bidang sos-pol kampus, "dulu gue juga gak suka baca, bahkam gue gak suka berada di ranah2 kayak gini. Dulu gue anti kemahasiswaan, namun ada kakak tingkat yg ngejebak gue di sini. Dan mau gak mau gue ngikutin alur di sini. Dari sana gue banyak ingin tau dan ingin berwawasan luas, shg ada 5 macam buku/tulisan yg "wajib" buat  gue baca setiap harinya: 1. Buku ttg agama; 2. Buku ttg keprofesian saat ini (jurusan masing2); 3. Berita2 terkini (berupa artikel, dll); 4. Buku yg gak paling kita sukai: sosial-politik-ekonomi; 5. Buku ttg filsafat atau pemikiran.
Dan semua itu harus gue baca tiap harinya meski cuma beberapa lembar, lalu gue buat tumpukan list buku yg belum gue selesaiin. Jadi gue ngerasa punya tugas buat baca buku2 itu."
Saya sadar, dakwah itu selain untuk meng-Esa-kan Allah, juga untuk melayani umat (adil dan sejahtera terhadap umat). Intinya, kita dituntut untuk memikirkan permasalahan umat dan menjadi bagian dari solusi permasalahan2 umat. "Bagaimana kita akan menjadi bagian dari solusi jika kita tidak paham masalahnya?"
#update sosial politik boss.
Karena islam juga mengatur ke sana.
Semoga tulisan ini selalu menjadi reminder bagi saya dan bermanfaat untuk yg membacanya. :-)

@yang kata2nya saya kutip di tulisan ini: maaf sob, kak, jika kutipan kalimatnya tidak sama persis.
Semoga tidak mengurangi aliran pahala kebermanfaatannya untuk kalian. Aamiin. :-D

Selasa, 09 Oktober 2012

Mengapa wanita sekolah tinggi, padahal akhirnya akan masuk dapur juga?

Beberapa hari yang lalu ada beberapa teman yang menanyakan tentang ini padaku. Jawabannya saya kirim via message fb, namun tak ada salahnya jika saya share di sini. Jawaban berdasarkan apa yg saya yakini:
1. Q.S. Al Mujadilah ayat 11
Menurut saya ini bukan teori. Ini ayat Al-qur'an dan Al qur'an itu bukan teori. Jika antum menjudge Al qur'an adalah teori tanpa antum buktikan terlebih dahulu kebenaran2 di dalamnya, berarti antum melakukan fitnah besar.
2. Menuntut ilmu itu hukumnya fardhu bagi semua manusia.
Kita samain dulu ya definisi ilmu yg saya pahami dan antum pahami sebelumnya.
Ilmu itu adl segala sesuatu yg mendekatkan diri kpd Allah. Kata imam Al Ghazali (ulama), saya lupa redaksinya, tp intinya jika seseorang bertambah ilmunya maka akan bertambah kedekatannya dg Allah dan jika tidak, maka yg diperolehnya itu hanyalah kesesatan.
Ilmu terbagi jd 2: syariah (berdasarkan Al-qur'an) dan ghairu syari'ah (berdasarkan nalar/akal).
Nah hukum nya:
1. Fardhu 'ayn: harus dituntut semua manusia (misalnya ma'rifatullah / mengenal Allah / Rabb)
2. Fardhu kifayah: kl 1 muslim uda menuntut, gugurlah kewajiban yg lain, tp hukumnya bs jd fardhu 'ayn jika kebutuhan di sekitarnya masih terbatas. Misal: ahli nuclear medicine di indonesia msh terbatas, apa lg yg muslimnya, maka fardhu UNTUK yg sedang menjalani studi tentangg nya, asal tujuannya masih untuk menegakkan kalimat Allah. Jadi gak ada alasan untuk malas belajar bidang ini di samping belajar tentang islam.
Dan menuntut ilmu yg paling terfasilitasi menurut saya adalah di institusi pendidikan. Misal di ITB, karena di ITB saya bisa belajar banyak hal dan fasilitasnya ada (tentang islam, tentang science, tentang engineer, tentang art, tentang sosial, dll)
3. Nyari link dan fasilitas belajar.
"kenapa sih anak2 pd mau blajar plano? Pdhl di indonesia, ilmu2 plano itu terlalu idealis dan gak banyak kemungkinan untuk diterapkan di Indonesia."
Kenapa saya belajar di fisika ITB? Bukan hanya karena saya mau jadi fisikawan. Dan saya yakin, sekitar 80% temen2 saya lebih ingin jadi selain fisikawan daripada jadi fisikawan. Tapi yang dipelajari di fisika adalah "pola pikirnya". Toh banyak lulusan fisika yang kerja di bank, jadi pengusaha, S2 di kedokteran, ekonomi, manajemen, dll. Memang ada juga yang mendalami Fisika hingga menjadi profesor.
Kenapa harus susah2 belajar di ITB? Karena link. Saya gak hanya belajar di fisika ITB, tapi di himpunan mahasiswa fisika ITB, di unit kegiatan mahasiswa ITB, di kabinet Keluarga Mahasiswa ITB, di organisasi2 eksternal kampus (seperti kampus peduli), di tempat saya belajar memperdalami agama saya (islam), dan sebagian lagi bisa kenal dengan dosen2 ITB, alumni2 ITB, barangkali nanti ada proyek atau info tentang job vacancy, dsb. Dan belum tentu saya dapetin ini kalau saya gak kuliah dan gak kuliah di kampus ini.
4. Jadi pendidik,terutama untuk anak2 saya nanti karena yg memegang peran besar dalam mendidik anak adalah ibu. Haha.
Gak mungkin kan kita mau ngasih sesuatu tp kita gak punya sesuatu itu? Sekali lg, di kampus saya gak hanya belajar fisika, kadang di agenda kemuslimahan saya mendapat ilmu tentang rumah tangga (memasak, menjahit, merajut, ilmu mendidik anak, dll). Di pergaulan, saya mendapat ilmu tentang kemasyarakatan. Di kampus saya kenal berbagai macam type orang dengan ideologi yg dibawanya. Mereka juga termasuk yang berpendidikan. Jadi akan selalu ada ilmu yang bisa saya peroleh dari mereka.
Ilmu itu bagaikan benda yang hilang, yang akan selalu kita cari dan bisa kita dapatkan dimanapun.
Kalau saya punya keinginan untuk s2 dan s3 berarti karena saya merasa ilmu2 yg saya dapatkan selama ini belum cukup, sangat belum cukup (ilmu yg telah saya definisikan tadi, semuanya), apa lg untuk mendidik anak2 saya nanti, yg saya harapkan jadi seorang pemimpin. Karena buah jatuh gak akan jauh dari pohonnya. Hehe. Dan kalaupun saya gak lanjut s2 dan s3, harapan saya, saya gak akan berhenti untuk menuntut ilmu di manapun saya berada karena ilmu itu luas dan gak akan cukup untuk kita pelajari sepanjang usia kita.

 Kesimpulan: ilmu apapun itu gak ada yg sia2, setiap ilmu punya manfaatnya masing2 dan akan selalu ada manfaat sesuai prasangka kita atas manfaat yg akan kita dapatkan di mejelis/tempat kita menuntut ilmu. Jadi insya Allah gak akan ada yg sia2, bahkan malah akan sangat bermanfaat. Dan bermanfaat juga bagi wanita, meski wanita adalah calon ibu rumah tangga. ;-)