About me

Foto saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Instagram: @dewikusumapratiwi Facebook: https://www.facebook.com/dewi.kusumapratiwi

Rabu, 29 Februari 2012

Semua Urusan Kita Akan menjadi Mudah, jika....

Jika hanya satu surat dalam Al-qur’an yang turun, cukuplah QS. Al-Ashr. “Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beramal soleh. Dan saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran”
Secara umum, taqwa adalah menjalankan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya.
Secara harfiah, taqwa berarti takut dengan kesadaran yang tinggi. Dapat dianalogikan dengan takutnya seorang anak terhadap orang tuanya namun tetap ingin dikasihi.
Dalam QS. Al-Baqarah:1-5
Surat yang didahului dengan ayat Alif Laaaaaammiim berarti mengundang perhatian dengan sangat.
Al-qur’an diturunkan dengan kebenaran yang nyata.
Kitab itu adalah bimbingan bagi orang-orang yang bertaqwa, yaitu:
-          Yakin kepada yang ghaib
-          Mengerjakan sholat
-          Mementingkan kepedulian dengan berinfaq
-          Yakin kepada seluruh kitab Allah, khususnya Al-qur’an
-          Yakin kepada hari kiamat
Orang-orang yang bertaqwa akan mendapatkan hidayah dan kesuksesan, berupa:
-          Allah selalu membuka jalan keluar untuk setiap masalahnya à QS. Ath-Thalaq (65:2),
Allah akan mencukupkan keperluannya, memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka à QS. 65:3, Barangsiapa yang bertaqwa kepada ALLOH niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rejeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya”
Rezeki adalah pemberian Allah, sesuatu yang dimakan dan diminum, sesuatu yang dipakai, dan sesuatu yang diinfakkan (ini meruoakan rezeki abadi)
-          Memudahkannya dalam semua urusannya à QS. 65:4 “...Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. 65:4)
Contoh urusan: rezeki, amanah2 (akademik, amanah dakwah, amanah sebagai orang tua, anak atau suami), jodoh, dll.
Allah menghapus kesalahan2nya dan akan melipatgandakan pahala baginya à QS. 65:5,
“….Dan Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya”
Tidak ada beban yang lebih berat daripada dosa. Dosa membuat urusan2 menjadi sulit.
-          Mendapatkan furqan (pembeda), mana yang benar dan mana yang salah, mana yang harus disikapi dan mana yang tidak.
Salah satu dalam do’a pada al-Matsurat, penyakit2 taqwa yang kita berdo’a untuk dihindarkan daripadanya adalah:
-          Kebingungan (kegelisahan)
-          Kesedihan (frustasi, futur, bete)
-          Kelemahan (tenaga, akal, ruhiyah)
-          Kemalasan
-          Sikap pengecut (takut resiko dalah berbagai hal: ibadah, berjuang, belajar, dll)
-          Pelit
-          Hutang (hutang uang, hutang urusan yang tertunda seperti: belajar yang ditunda2 sehingga materinya menumpuk, gak dateng pembinaan beberapa kali sehingga akhirnya jadi sungkan untuk dateng lagi karena ‘hutang’ (gak dateng pembinaan) yang menumpuk, hafalan yang ditunda2, pengerjaan tugas dan amanah yang tertunda2 sehingga menumpuk)
-          Kesewenangan orang lain
Unsur-unsur atau elemen-elemen taqwa dari segi pengalaman:
1.       Mu’ahadah (merasa / yakin terikat janji dengan Allah)
Sesungguhnya kita telah terikat janji dengan Allah, yaitu: Dalam bacaan Al-Fatihah kita “Hanya kepada-Mu lah aku menyembah dan hanya kepada-Mu lah aku memohon pertolongan”. Selain itu, dalam do’a kita di Al-Ma’tsurat yaitu sayyidul istighfar yang isinya muhasabbah.
2.        Muraqabah (merasa diawasi (direkam) oleh Allah SWT)
Muraqabah adalah puncak ibadah, yaitu ihsan : beribadah kepada Allah hingga melihat Allah atau minimal merasa bahwa Allah melihatnya. Perhatikan diri kita ketika sholat, apakah kita sudah bermuroqobah?
3.       Muhasabbah (menghisab diri)
Tiga hal yang perlu dihisab: lahir, batin, dan akal.
Cara bermuhasabbah: merenung dan berdzikir setelah sholat, curhat tentang amalnya yang gak naik-naik, merenungi diakhiri dengan istighfar (dalam al-ma’tsurat, “Yaa Allah, malam sudah datang lagi, siang sudah pergi lagi, banyak dari hamba2-Mu yang memohon kepadamu. Maafkan aku yang tidak optimal hari ini, yaa Alla”, muhasabbah secara runtut menghisab dirinya tentang kebaikan dan keburukan yang telah banyak dilakukan.
4.       Mu’aqabah (mengiqab diri)
Umar bin Khathab pernah ketinggalan sholat ashar berjama’ah karena sibuk menggarap kebunnya di Madinah. Beliau melihat rombongan kaum muslimin. “Dari mana kalian berombongan?” “Loh, kok kamu bertanya seperti itu, Umar” “Aku kan berhak bertanya kepada kalian” “Kami dari masjid, sholat ashar berjama’ah”. Seketika itu Umar meminta ampun kepada allah karena telah lalai gara2 perkebunannya sehingga beliau menginfakkan seluruh kebunnya yang telah membuatnya lalai sholat ashar. Bagaimana dengan kita?
5.       Mujahadah (berjihad = bersungguh-sungguh)
Ciri-ciri mujahadah:
-          Istimror,  mau damwan (rutin, kontinu)
Contoh: mau meluangkan waktu antar maghrib-isya untuk hafalan al-qur’an, mau meluangkan waktu setelah shubuh dan asharnya untuk membaca Al-Ma’tsurat, dll.
-          Marhaliah, mau bertahap
Contoh: belum menjadi kader inti, mau mengikuti tahapan atau proses pembelajaran untuk mengejar ketertinggalan dari teman2nya dan terus berusaha menjadi lebih baik.
-          Mau berkorban

Tentang hadits arba’in ke-18: Dari Abu Dzar, Jundub bin Junadah dan Abu ‘Abdurrahman, Mu’adz bin Jabal radhiyallahu 'anhuma, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau bersabda : “Bertaqwalah kepada Allah di mana saja engkau berada dan susullah sesuatu perbuatan dosa dengan kebaikan, pasti akan menghapuskannya dan bergaullah sesama manusia dengan akhlaq yang baik”. 
(HR. Tirmidzi, ia telah berkata : Hadits ini hasan, pada lafazh lain derajatnya hasan shahih) [Tirmidzi no. 1987]
-          Bertaqwa kepada Allah di manapun dan dalam keadaan apapun
-          Mengikuti keburukan dengan kebaikan
-          Memperlakukan manusia dengan ihsan
Ketaqwaan belum lengkap kalau belum memperhatikan kebersamaan. Dalam hadits arba’in ke-35: Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, ia berkata : “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda : “Kamu sekalian, satu sama lain Janganlah saling mendengki, saling menipu, saling membenci, saling menjauhi dan janganlah membeli barang yang sedang ditawar orang lain. Dan jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lain, maka tidak boleh menzhaliminya, menelantarkannya, mendustainya dan menghinakannya. Taqwa itu ada di sini (seraya menunjuk dada beliau tiga kali). Seseorang telah dikatakan berbuat jahat jika ia menghina saudaranya sesama muslim. Setiap muslim haram darahnya bagi muslim yang lain, demikian juga harta dan kehormatannya”. [Muslim no. 2564]
-          Jangan hasad
-          Jangan saling menipu
-          Jangan saling membenci
-          Jangan saling membelakangi / menjauhi
-          Jangan membeli sesuatu yang sudah dibeli orang lain (termasuk mengkhitbah seseorang yang telah dikhitbah oleh saudaranya)
-          Jadilah hamba Allah yang bersaudara
Taqwa tidak lepas dari kebersamaan dengan manusia lain, bukan hanya beribadah saja, tidak terpengaruh dengan apapun (tidak perlu membenci politik karena taqwa letaknya di dalam qalbu).

Dalam QS. Ali Imran:133-135, "Dan bersegeralah Kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa." (QS. Ali Imran: 133)
"(yaitu) orang yang berinfaq baik di waktu lapang atau sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan." (QS. Ali Imran: 134)
"dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau mendholimi diri sendiri, mereka bersegera mengingat Allah lalu, memohon ampunan atas dosa-dosanya dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedangkan Mereka mengetahui." (QS. Ali Imran: 135)
-          Segera mencari ampunan
-          Raih syurga yang seluas langit dan bumi
Dengan cara:
-          Berinfak di waktu yang lapang dan sempit
-          Menahan amarah
-          Mema’afkan kesalahan orang lain
-          Sadar diri akan perbuatan kejinya lalu memohon ampunan
Harta, rizki, jodoh, kemenangan adalah hal DUNIAWI. Tapi kalo kita tidak mendapatkannya atau sulit untuk mendapatkannya, ketaqwaan kita dipertanyakan karena Allah telah berjanji memberikan kemudahan dan pertolongan dalam setiap urusan-urusan bagi orang2 yang bertaqwa.
Kapan batas sabar itu? Dalam QS. Al-Baqarah:214. “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, pada-hal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh mala-petaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.”
 Jadi batas kesabaran adalah ketika pertolongan Allah tiba. ^^
Wallahu ‘alam bo showab
[Notulensi Kajian tentang Taqwa bersama ustadz Asep Rodhi]

Minggu, 22 Januari 2012

Rindu (part I)

Hijaunya dedaunan tak nampak
Semilirnya angin tak terasa
Percikan air tak terdengar
Sunyi,
Sesunyi hati ini...
Allah, mengapa hati ini membeku?
Tak ada tetesan embun cinta
tanpa percikan air kisah suci
tanpa sentuhan angin rindu
keras, beku, hampa
Astaghfirullah al adziim,
mungkin aku bersalah dan berdosa
Selama ini aku mengkhianati-Mu, Allah
Selama ini aku tak setia kepada-Mu
Aku telah menduakan-Mu
dengan kepentingan dunia ini
yang indahnya fatamorgana,
membutakan mata batinku,
dan janjinya tak pernah tepat
Kini, ketika dunia menerlantarkanku, aku kembali pada-Mu
Aku kembali di saat aku butuh Engkau
Aku kembali dengan segunung dosaku
Apakah pantas aku kembali pada-Mu, Allah?
Mampukah aku berjanji pada-Mu untuk selalu setia pada-Mu?
Dan tidak akan pernah lagi mengkhianati-Mu?
Sepertinya aku tidak akan pernah mampu, Allah
Tapi aku sangat membutuhkan-Mu!
Membutuhkan cahaya kasih dan cinta-Mu
Aku ingin bersimpuh dan bersujud di hadapan-Mu, Allah
Aku ingin merasakan belaian kasih dan cinta-Mu
Lalu tetap begini, dan tetap di sini, bersama-Mu

Senin, 19 Desember 2011

Be your self and remember QS. Al-Baqarah (2:138)

Aku adalah seseorang yang berkepribadian Dominant-Infuencer-Complain. Kepribadian koleris membuatku menjadi seseorang yang selalu ingin berada di garda terdepan, menjadi sesuatu yang ada di depan, memulai, memaksa dan keras kepala. Karena kepribadian Influencer, aku adalah seseorang yang senang mengajak walaupun terkadang aku merasa lelah dengan orang2 yang susah diajak. Aku juga seseorang yang sangat ceria, namun terkadang aku bisa menjadi seseorang yang mudah menangis, mudah terbawa suasana dan mudah ditebak (ekspresif). Dan karena kepribadian melankolis (complain) itu, aku adalah seseorang yang sensitif dan mudah tersinggung. Ketika ada seseorang yang mengingatkanku, aku sangat senang dan bersyukur, tapi tanpa dusta, terkadang aku merasa "sakit hati". Sakit hati di sini lebih karena sensitifnya aku.

Beberapa waktu yang lalu aku diingatkan oleh seseorang yang sangat baik orangnya, sangat perhatian padaku dan tentunya sayang padaku karena ia adalah teman baikku dan juga saudariku. Pesannya berisi tentang sesuatu yang menyangkut tentang karakter diriku. Saat itu, respon spontanku adalah, "Oh, aku salah. Dia kan lebih tinggi ilmunya menurutku, mungkin memang dia benar" dan ketika itu aku langsung melakukan suatu perubahan yang membuat banyak teman2ku bingung. Ah, kata mereka aku malah jadi aneh, bukan seperti itu yang mereka inginkan dariku, dan aku sempat meninggalkan sesuatu yang yang seharusnya aku tetap di sana untuk melakukan banyak hal, untuk memberi banyak manfaat dan untuk mencapai visi misi yang selama ini aku tanam dan ingin aku raih.
Aku juga merasa, perubahan ini membatasi ruang gerakku, membatasi karyaku, dan membatasi kesempatan untukku mencapai tujuanku di semua ranah.
Aku, beberapa hari ini banyak mengurung diri dan merenungi, tapi ternyata memang aku tidak banyak gerak dan tidak banyak melakukan hal. Padahal seharusnya banyak yang harus aku lakukan dan bisa aku lakukan melalui potensiku itu.
Hari ini aku disadarakan oleh seorang kakak tingkat yang beliau insya Allah sevisi dan setujuan, hampir sepemahaman dan karakternya hampir sama denganku. Sepenglihatanku, beliau sangat hebat di bidangnya, sangat profesional di ranahnya dan beliau banyak memberikan manfaatnya, salah satunya dengan karakternya itu, "kesupelannya terhadap siapapun". Beliau adalah salah satu kakak yang aku kagumi selama ini, "akhwat super keren".
Beliau sangat menginspirasiku untuk lebih banyak belajar lagi tentang banyak ilmu, tentang hal yang seharusnya banyak kita pelajari mulai sekarang! Karena masa hidup kita di kampus ini sangat singkat. Banyak hal yang bisa kita lakukan di sini, "berkarya dan banyak memberikan manfaat; mengajak dan menginspirasi orang lain; belajar dan mencari pengalaman seluas-luasnya; dan memikirkan orang lain".
Menyangkut karakter, hari ini, aku menemukan tulisan dalam buku "Agar Bidadari Cemburu Padamu" karya Salim A. Fillah (yah, buku lama baru baca ya? iya, soalnya sejujurnya aku gak terlalu suka baca tapi aku sedang berusaha untuk cinta baca):
"Alangkah sunyi dunia jika semuanya seragam. Biarkan semuanya sesuai karunia karakter yang Allah letakkan pada diri kita. Maka akan tetap ada akhwat jago karate seperti Nusaibah binti Ka'ab yang melindungi Rasulullaah ke manapun beliau bergerak dalam perang. Akan tetap ada yang berkepribadian kuat dan pemberani seperti Ummu Hani' binti abu Thalib. akan tetap ada yang suka bermanja dan ceria seperti 'Aisyah. Ada yang tetap bisa membentak dan tertawa terbahak seperti Hafshah. Akan tetap ada yang lembut dan keibuan seperti Khadijah."

Namun dalam buku tsb menjelaskan bahwa  karakter2 itu sebaiknya memang perlu kita "celup" dengan "celupan Allah" yang membingkainya menjadi sesuatu yang indah. Ia menjaganya untuk tetap menjadi kemuliaan di manapun, kapanpun sehingga memang perlu beberapa penyesuaian tertentu.
"Celupan warna Allah. Dan siapakah yang lebih baik celupan warnanya daripada Allah. Dan pada-Nya sajalah kami beribadah." [QS. Al-Baqarah (2:138)]

Yah,  aku memang masih dalam proses belajar dan sampai saat ini pun aku masih belajar dan harus lebih banyak lagi porsi belajarnya karena aku banyak tertinggal dari teman-temanku yang lain dan aku cukup bisa dibilang "lemot" dan "keras kepala" dalam materi2 aplikatif seperti ini.
Aku sangat bersyukur karena aku merasa Allah masih menyayangiku melalui teguran ini, peringatan ini, inspirasi ini, melalui mereka, sahabat2ku, kakak2 tingkatku, dan semua orang-orang di sekitarku. ^,^
Dan semoga Allah tetap dan selalu tetap menyayangiku, menyayangi mereka dan menyayangi semua orang-orang yang aku sayangi. aamiin. :-)

Jumat, 16 Desember 2011

Belajar Mencintai dan Memperhatikan

Beberapa hari yang lalu, aku membaca email dari salah seorang temanku. Isinya mp3 berjudul "Jessica".
Pada suatu malam, Budi, seorang eksekutif sukses seperti bisanya sibuk memperhatikan berkas-berkas pekerjaan kantor yang ia bawa pulang ke rumah karena keesokan harinya ada rapat umum yang sangat penting dengan para pemegang saham. Ketika sedang asik menyeleksi dokumen kantor tersebut, Putrinya, Jessica, datang mendekati, berdiri, tepat di sampingnya sambil memegang buku cerita baru. Buku itu bergambar seorang peri kecil yang sangat menarik perhatian Jessica.
"Pa, lihat, Jessi punya buku baru bagus deh." Jessica berusaha menarik perhatian ayahnya. Budi menengok ke arahnya sambil menurunkan kacamatanya. Kalimat yang keluar hanyalah kalimat basa basi, "wah, bagus ya Jes?" "Iya..." Jessica merasa senang karena ada tanggapan dari ayahnya. "Bacain Jessi dong, pa." pinta Jessica dengan lembut. "wah, papa sedang sibuk sekali nih, jangan sekarang deh." sanggah Budi dengan cepat, lalu ia segera mengalihkan perhatiannya pada kertas-kertas yang berserakan di depannnya. Jessica diam, tapi ia belum menyerah. dengan suara yang sedikit manja dan lembut, ia kembali merayu ayahnya. "Pa, mama bilang, papa mau baca untuk Jessi". "Lain kali Jessica, sana papa lagi banyak kerjaan nih!" Budi berusaha memusatkan perhatiannya  pada lembar-lembar kertas tadi. Menit demi menit berlalu. Jessica menarik nafas panjang dan tetap di situ. Berdiri di tempat dengan penuh harap dan tiba-tiba ia memulai percakapan lagi. "Pa, gambarnya bagus-bagus deh. Papa pasti suka." "Jessica! papa bilang lain kali!" Budi membentaknya dengan keras.
Kali ini Budi berhasil membuat Jessica mundur. Matanya berkaca-kaca dan ia bergeser menjauhi ayahnya. "Ia pa, lain kalia aja ya pa?" Ia masih sempat mendekati ayahnya dan sambil menyentuh lembut tangan ayahnya. Ia menaruh buku cerita si pangkuan sang ayah. "Pa, kalo papa ada waktu, papa baca keras-keras ya pa supaya Jessi bisa denger."
Hari demi hari berlalu, tanpa terasa dua pekan berlalu, namun permintaan Jessica kecil tidak pernah terpenuhi. Buku cerita peri kecil, belum pernah dibacakan bagi dirinya. Hingga suatu sore terdengar suara hentakan keras. Beberapa tetangga melaporkan dengan histeris bahwa Jessica kecil terlindas kendaraan seorang pemuda mabuk yang melajukan kendaraan dengab kecang di depan rumah Budi. Tubuh Jessica mungil terlempar beberapa meter. Dalam keadaan yang begitu panik, ambulance didatangkan secepatnya. Selama perjalanan menuju rumah sakit, Jessica kecil sempat berkata dengan begitu lirih, "papa, mama, Jessi takut. Jessi sayang papa dan mama." Darah segar terus mengalir dari mulutnya hingga ia tidak tertolong lagi ketika sampai di rumah sakit terdekat.
Kejadian hari itu begitu mengguncang hati nurani budi. Tidak ada lagi waktu tersisa untuk memenuhi sebuah janji. Kini yang ada hanyalah penyesalan. Permintaan sang buah hati yang sangat sederhana pun tidak ia penuhi. Masih segar terbayang dalam ingatan budi, tangan kecil anaknya yang memohon kepadanya untuk membacakan sebuah cerita. Kini, sentuhan itupun terasa sangat berarti sekali. Sore itu setelah segalanya berlalu, yang tersisa hanyalah keheningan dan kesunyian hati. Canda dan riang Jessica kecil, tidak akan terdengar lagi. Budi mulai membuka buku cerita peri kecil yang diambilnya perlahan dari onggokan mainan jessica di pojok ruangan. bukuya sudah tidak baru lagi, sampulnya sudah usang dan terkoyak. Beberapa coretan tak berbentuk menghiasi lembar-lembar halamannya seperti sebuah kenangan indah dari Jessica kecil. Budi menguatkan hati dengan mata yang berkaca-kaca. Ia membuka halaman pertama dan membacanya dengan suara keras. tampak sekali ia berusaha untuk membacanya dengan keras. Ia terus membacanya dengan suara keras-keras, halaman demi halaman, dengan berlinang air mata. "Jessi, dengar! Papa baca buatmu, nak." Selang beberapa kata, hatinya memohon lagi, "Jessi, papa mohon ampun nak, papa sayang sama Jessi." Seakan setiap kata dalam bacaan itu begitu menggores lubuk hatinya.
Tak kuasa menahan sakit, budi bersujud dan menangis, memohon kepada Tuhan untuk diberi satu kesempatan lagi untuk BELAJAR MENCINTAI.

Teringat ketika dulu aku mengabaikan panggilan orang tua karena padatnya amanah di kampus sehingga aku tidak sempat bertemu dengan ayahku di nafas terakhirnya. T_T

Ibroh yang bisa kita ambil dari kisah ini:
1. Perhatikanlah keluarga kita!
--> sesibuk apapun urusan kita, sempatkan setiap hari untuk menghubungi keluarga, minimal sms untuk sekedar menanyakan kabar atau meminta do'a kepada orang tua. Dan perhatikanlah keluarga kita!
 “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim: 6)

2. Perhatikan orang-orang terdekat kita dan orang-orang di sekitar kita!
--> lihatlah walau hanya dengan "melirik" tentang kondisi orang-orang terdekat kita, maupun orang-orang di sekitar kita, minimal mengetahui keadaan fisiknya (apakah dia sehat?) walaupun tidak selalu kita bisa menyimpulkan dengan benar apakah orang yang kita perhatikan tersebut sedang sehat atau tidak, sedang bermasalah atau tidak, dan sedang membutuhkan bantuan kita atau tidak.
"...maka bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu; dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman”. (QS. Al-Anfal:1)
"Sesungguhnya mukmin itu bersaudara" [QS. Al-Hujuraat (49:10)]
"Tidak beriman seorang muslim itu sehingga dia mencintai saudaranya
sepertimana dia mencintai buat dirinya"
(HR Al-Bukhari)
"Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. At-Taubat:71)

3. Perhatikan amanah dan amalan yaumiyah kita!
--> sekecil apapun amanah yang kita ambil, kelak akan dipertanggungjawabkan. Dan sebanyak apapun amanah kita, perhatikanlah, terutama amanah yang diprioritaskan di paling terakhir.
 ”Dan (sungguh beruntung) orang-orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya, serta orang yang memelihara sholatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” [QS. Al-Mu'minun (23:8-11)]
--> Perhatikan amalan yaumiyah kita! Kalau perlu, catat dalam buku / kertas muwashoffat.
"Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan" (QS. Al-Hasyr: 18)

4. Perhatikan pemimpin kita! (dimulai dari pemimpin dalam amanah-amanah)
--> “Setiap kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya” 
(H.R. Bukhari dan Muslim). Pemimpin2 kita juga manusia, mereka juga saudara kita. Mereka juga terkadang membutuhkan bantuan kita. Mereka terkadang butuh kita untuk mengingatkannya. Mereka terkadang juga butuh kepekaan dari kita untuk membantu menyelesaikan tugas2 dengan sebaik-baiknya.
Perhatikan posisi kita. Ketika kita menjadi staff, bayangkanlah,  bagaimana jika kita berada di posisinya (pemimpin kita)? apakah kita siap ditinggalkan staff2 kita untuk menanggung beban sendirian? Berusahalah untuk meringankan bebannya, semampu kita. Bantulah ia dengan apa yang bisa kita bantu.
"Barangsiapa melepakan kesusahan seorang mukmin di dunia, niscaya Allah akan melepaskan kesusahannya di akhirat. Barangsiapa memudahkan urusan orang yang dilanda kesusahan, niscaya Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan di akhirat. Barangsiapa menutup cela seorang muslim, niscaya Allah akan menutup celanya di dunia dan di akhirat. Dan Allah senantiasa memberikan pertolongan kepada hamba-Nya selama ia memberikan pertolongan kepada saudaranya." (HR. Muslim)
Dan ingatkanlah dengan cara yang baik ketika ia bersalah.
"Serulah (manusia) kepada jalan Robb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik…" [QS. an-Nahl (16: 125)]
"Mengatakan kebenaran kepada pemimpin yang bersalah merupakan sebuah kesetiaan dan menyembunyikannya merupakan sebuah pengkhianatan" (Abu Bakar Ash Shidiq) 

5. Perhatikanlah orang-orang yang kita cintai!
--> Lakukan yang terbaik apa yang bisa kita lakukan untuknya, seminimal-minimalnya adalah selalu menyertakannya dalam do'a2 kita. Bukankah salah satu do'a yang dikabulkan adalah do'a yang tidak diketahui oleh orang yang kita do'akan?
"Cinta itu memberi, bukan menerima", seperti yang dilakukan ibu dan ayah. Selalu lakukan yang terbaik untuk orang-orang yang kita cintai karena bisa jadi hari ini adalah kebaikan terakhir kita untuknya, bisa jadi hari esok kita sudah tidak dapat berjumpa lagi dengannya, tidak lagi mendengar suaranya, tidak lagi melihat senyumnya dan tidak lagi merasakan cintanya.
Tak ada yang abadi kecuali ALLAH.


Wallaahu 'alam bi showab.

Kamis, 24 November 2011

Islam adalah Pedoman segala aspek kehidupan

Catatan yang pernah diajarkan guru agama saya.
” Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.......” (Ali Imran: 19)
Islam sebagai pedoman hidup:
1. Konsep keyakinan 
"Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya." (QS.Al-Baqarah:255)

2. Moral
"Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi." (QS. 7:99)
Jika kita sudah yakin dengan adanya Allah sebagai Sang Pencipta alam semesta ini, langit dan bumi beserta isisnya; Allah yang terus menerus mengurus makhluk-Nya; Allah yang tidak mengantuk dan tidak tidur; Allah yang Maha Mengetahui sedangkan kita tidak tau apa2 selain yg DIA kehendaki, maka kita akan senantiasa menjaga moral kita di manapun kita berada.
Misalnya, moral sebagai mahasiswa (tidak mencontek ketika ujian), moral sebagai pemerintah negara (tidak korupsi), dll karena kita tidah akan pernah merasa aman (takut) dengan pengawasan Allah yang tidak pernah mengantuk dan tidur.

3. Tingkah laku
"Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya daripada Allah? Dan hanya kepada-Nyalah kami menyembah." (QS. 2:138) 
Shibghah Allah (Celupan Allah):
    Untuk mengobati luka umumnya digunakan kapas dan cairan pembersih untuk mengobatinya. Bila seseorang yang terluka tersebut dihadapkan pada tiga buah cairan yang terdiri atas cairan limun (sirop), Alkohol/ zat antiseptic, dan baygon/ pembasmi hama, tentunya orang tersebut akan memilih cairan alkohol/ zat antiseptic, dikarenakan dalam kondisi tersebut zat itulah yang dibutuhkan.
    Bila kapas itu diibaratkan manusia, maka Alkohol lah yang bisa diumpamakan sebagai celupan Allah. Hal ini disebabkan karena celupan Allahlah yang paling ampuh untuk membimbing kehidupan manusia. Seorang muslim memilih celupan Allah tersebut sebagai pewarna kehidupannya, dan (celupan Allah) ini tentunya dipilih muslim atas dasar kecintaan keridhaan serta keyakinan akan arahan-arahan Allah selama hidup didunia –sesuai dengan ikrar Syahadat yang diucapkannya. [1]
   Bagaimanakah shibghah itu akan tampak dalam kehidupan individu yang mencelupkan diri ke dalamnya? Individu itu akan bersifat seperti ayat berikut ini : "Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji (Allah), yang melawat, yang ruku`, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma`ruf dan mencegah berbuat mungkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mu'min itu." (At-taubah : 112)

* At-Taibun (bertaubat)
"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa." (Ali Imran : 133).
"Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah ? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui." (Ali Imran : 133)  lihat Qs.3:135

* Al-‘Abidun (beribadah) yakni menimbang segala sesuatunya dengan al-Islam.
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku." (Adz Dzariat : 162).
Katakanlah: "Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam." (Al An’am : 162) 
"Sesungguhnya jawaban orang-orang mu'min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan, “Kami mendengar dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (An Nuur : 51)
*Al Hamidun (selalu memuji Allah) yakni memperhatikan dan memfungsikan alam.
"Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat ? Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita ? Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita ? kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu (daripadanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya." (Nuh : 15-18)
lihat Qs. Al An’am:95-99, Al Baqarah : 152, Ibrahim :7

*As Saa’ihun (penjelajahan dengan menggunakan nalar dan hati untuk memahami alam dan sejarah kehidupan)
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (Ali Imran :190-191)
lihat Qs.An Nahl : 36, Fatir 28

*Ar Raki’un As Sajidun (ruku’ dan sujud untuk mengokohkan  hubungan dan memperbaikinya)
"Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdo`a kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka." (As sajadah : 16)
lihat Qs. An Nuur 37, Adz Dzariat 17-18

*Al Aamiruna bil ma’ruf wan nahuna ‘anil munkar (bersifat sebagai hudwah)
"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung." ( Ali Imran : 104)
lihat Qs. At Taubah 122

* Al Hafizhuna lihududilah (menjaga ketentuan-ketentuan Allah dalam diri, rumah tangga dan masyarakat)
"Sesungguhnya jawaban orang-orang mu'min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan, "Kami mendengar dan kami patuh." Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung."(An Nuur : 51)
lihat Qs.An Nisa 65 
[2]

4. Perasaan
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.(Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS. 30:30)

(bersambung)

next time:
5. Pendidikan
6. Sosial
7. Politik
8. Ekonomi
9. Militer
10. Hukum

Referensi:
 Disalin dari majalah al muslimun No.272

Sabtu, 12 November 2011

Ukhuwah ini begitu indah KARENA KITA memanglah KELUARGA

Sore ini aku Mendapat kesempatan untuk bertemu dan banyak sharing dengan saudariku, Zainab Nururrohmah. Ternyata "pikiran" kita hampir sama. Pikiran tentang apa? Tentang ukhuwah ini,

Ukhuwah, kata2 yang sering terucap dan terdengar. Tapi, apakah maknanya telah sampai pada hati kita? Apa hanya masuk melalui telinga kanan dan keluar melalui telinga kiri? Ukhuwah, kata yang sangat indah, dan terkesan lebih indah lagi jika dibuatkan puisi kemudian disebar melalui sms, dikirim kepada orang2 yang kita cintai. Ukhuwah, apakah hanya sekedar indahnya kata2?

Aku mengenal ukhuwah ini melalui kalian.

Sore itu (liburan semester II), aku pulang dari syuro persiapan danus IsEF untuk keesokan harinya. Aku bukan anggota divisi danus tapi memang aku suka nyusup ke syuro2 divisi di IsEF, bahkan syuro tim inti pun aku ikuti. Apa niatku saat itu ya? Sepertinya aku hanya sekedar ingin belajar bersama kalian yang selama ini banyak menginspiraiku. Saat itu aku masih tinggal di asrama putri ITB. Kamarku telah rapi karena aku sudah melakukan packing dari hari sebelumnya. Sebenarnya aku ingin pulang siang itu juga tapi sepertinya lebih baik aku mengundurnya sehari untuk membantu panitia IsEF mencari danus. Aku putuskan, aku  pulang ke jakarta besok sore untuk menjenguk ayahku yang telah pulang dari rumah sakit sejak seminggu lalu setelah sekitar 1 bulan di rumah sakit.
Tapi, baru aku duduk di kasur dan mencoba menyapa anak2 calon 2010 (saat itu ada 4 orang calon anak 2010 yang menginap di kamarku), aku mendapatkan telepon dari rumah. Tanpa basa basi, suara mbak terdengar, "Dewi, cepat pulang sekarang juga! Pokoknya bisa gak bisa harus pulang sekarang juga!" Jantungku mulai berdetak tidak teratur. Ditambah ketika aku mendengar suara tangis di belakang suara mbak. Dan suara teriakan yang menunjukkan saat itu ibuku sedang pingsan. T_T Tidak bisa berpikir lagi saat itu aku langsung ambil tas langsung pergi.Aku pamit ke adik2 2010, "kk pulang dulu ya?" "kok mendadak kak? kan kita baru sebentar ngobrol2nya" "iya" Aku menjawab singkat dan langsung pergi. Saat itu adzhan maghrib, aku belum tau nomor kontak travel.

Ketika aku keluar dari gerbang asrama, Aku mencoba menelpon ibu, tapi Dikky, adik aku yang kecil yang mengangkatnya dan akupun mendengar tangisannya. "De', knapa?" Adik kecilku, dia menangis tersedu. "ayah meninggal mbak" T_T Aku menutupnya dan mempercepat langkah kakiku dalam kondisi yang lemas, tapi aku berusaha untuk kuat. Aku sms sahabat terbaik yang sekaligus menjadi saudariku selama di bandung. Aku tidak berani mengungkapkan apa yang terjadi. Aku hanya sms, "Pit, aku pulang. Tiba2 aku disuruh pulang dan aku gatau kenapa aku harus pulang sekarang. Aku takut Pit. T_T". Saat itu juga Pipit nelpon aku dan menenangkan aku, dia bilang, "semoga aja ga terjadi apa2. Dewi jangan panik ya? Sekarang nyampe mana? Pit anter ya ke jakarta?" Karena aku hanya ingin sendiri, aku menolak tawarannya. Aku jalan kaki menuju tempat angkot dan naik angkot ke leui panjang. Karena sudah malam, bus damri jurusan leui panjang sudah tidak ada jadi terpaksa aku harus muter ke kalapa dulu baru ke leui panjang. Sepanjang perjalanan aku menangis dan aku membawa harapan kosong, aku berharap ini hanya mimpi, aku berharap tidak terjadi hal2 yang tidak aku harapkan, aku berharap apa yang aku dengar tadi salah. Aku berusaha melipatgandakan harapanku. Bahkan aku berdoa kepada-NYA, "Yaa Allah, katanya Engkau Maha pengabul do'a? Tolong kabulkan do'aku kali ini, tolong jangan ambil ayahku sekarang yaa Allah. masih banyak yang belum aku berikan padanya, masih banyak dosaku padanya, aku ingin meminta maaf padanya yaa Allah, aku ingin membuatnya bahagia yaa Allah. Tolong beri aku kesempatan. T_T" Aku juga berdo'a, "Yaa Allah, seandainya memang ayahku sekarang meninggal, tolong kembalikan lagi yaa Allah. kembalikan ia ketika aku sampai di rumah. Tolong yaa Allah." Aku tidak tau apakah do'aku ini salah, tapi itu yang terucap ketika itu.

Di dalam perjalanan yang aku rasakan cukup panjang (sekitar 4 jam), banyak sekali yang aku pikirkan, kalut, takut, sedih tak terhingga, berharap, bahkan aku berpikir, seandainya ayahku memang pergi, aku akan menjadi anak yatim? anak yatim? selama ini aku senang sekali ketika aku bisa menyenangkan hati anak2 tetangga2ku yang yatim/piatu, tapi kini aku menjadi bagian dari mereka? Gelar itu, gelar itu aku sukai karena dengannya aku memiliki ladang amal, tapi saat itu aku merasa gelar itu, aku sangat tidak menyukainya karena harus aku yang menyandangnya. T_T
Aku tidak menginginkan itu ya Allah karena aku yang ingin terus beramal baik untuk mereka, bukan orang lain yang beramal baik untuk aku. T_T
Sedih....sekali ketika aku berpikir, ayahku telah pergi... ayahku tidak dapat menjadi teman cerita dan teman bercandaku lagi. Ayah yang selama ini berjuang keras, memeras keringat, memutar otak, menguras tenaga, dan menaruhkan nyawa, semuanya hanya demi aku? T_T Dan apa yang telah aku lakukan selama ini untuknya? Bukan membahagiakannya tapi berbuat banyak dosa kepadanya. T_T
Allah, aku ingin meminta maaf kepadanya dan tolong berikan aku kesempatan untuk mebahagiakannya. Aku ingin beliau menjemputku di sabuga pada tahun 2013 nanti karena pada tahun 2009 kemarin beliau telah megantarkanku ke sini, ke sabuga dan ke kampus ini, kampus yang dibanggakan jutaan orang tua termasuk beliau. Aku ingin beliau menyaksikan aku maju ke hadapan rektor untuk menerima predikat cumlaude. Aku ingin beliau merasakan gaji pertamaku nanti. Aku ingin pergi haji bersamanya, bersama ibuku tercinta juga. Aku ingin beliau menjadi wali ketika aku menikah nanti, bukan orang selainnya. T_T

Ketika aku turun dari bus, aku berharap ayahku yang menjemputku seperti biasa. Tapi bukan beliau, malah tetanggaku. T_T Aku tidak suka ini! Di sepanjang perjalanan ini, biasanya aku berdua dengan ayah, aku cerita tentang kisah2ku di kampus, cerita tentang kampus kebanggan, cerita tentang kuliahku, cerita tentang sahabatku, cerita tentang teman2 TPBku, dan cerita tentang Gamais (hal yang paling ayah senangi karena dari dulu ayah selalu ingin aku masuk kerohanian islam supaya aku dapat bergaul bersama orang2 yang (insya Allah) soleh).

Ketika sampai di rumah, rumahku telah ramai, banyak orang, banyak yang menyambut dan menuntun jalanku. Aku sangat tidak suka dengan itu. Apa2an sih? Aku bisa kok jalan sendiri, dan aku tidak suka rumahku ramai seperti ini karena aku ingin bertemu ayah dan aku ingin bercerita padanya. Aku ingin bercerita kalau selama ini aku gak bisa pulang dalam jeda yang agak lama karena aku mengikuti acara Gamais seperti yang ayah mau. Aku ingin meminta maaf karena sudah lama aku tidak menjenguknya.
Tapi,,,, ketika masuk rumah aku memeluk ibuku. Di sana, ibuku tampak berusaha menguatkan aku. "Sabar ya sayang. Sekarang ayah udah gak sama kita lagi. Kita harus bisa belajar sendiri" T_T
Loh? Ini kebalikan bu, harusnya aku yang bilang gini sama ibu. Aku yang harusnya menguatkan ibu. Tapi saat itu akulah yang lebih lemah. Aku mencoba sms Pipit, "Pit, ayahku meninggal". Kemudian pipit langsung menelpon, dia tampak berusaha menghibur dan aku hanya mengiyakan semua perkataannya karena saat itu aku tidak berani mengungkapkan perasaanku. Setelah telpon ditutup, aku mendekati jenazah ayahku, di sana aku melihat wajahnya yang tampan, badannya yang sudah tidak kering lagi (seperti yang aku lihat ketika awal masuk rumah sakit yang ke dua, saat itu ayahku sangat kurus dan terlihat hanya tinggal kulit dan tulang karena kanker yang menggerogoti paru-parunya), saat itu aku melihat badannya segar, wajahnya terlihat sedikit senyum, seperti orang tertidur pulas. Subhanallaah, katanya ayahku meninggal dengan mengucapkan kalimat syahadat, dengan tuntunan ibuku. Ayahku juga meniggaal tanpa bantuan tabung oksigen (saat itu telah dilepas 1 hari karena permintaannya) dan ayahku dalam keadaan sehat saat itu, sudah mulai banyak makan karena saat sakit makanan tidak dapat masuk, mau minum susu, dan nafasnya sangat teratur dan halus ketika beliau hembuskan yang terakhir. Air mataku pun tak tahan untuk jatuh walaupun orang2 di sekitarku mengingatkanku untuk tidak menjatuhkan air mata di depannya. Aku ingin menciumnya lagi tapi karena mataku basah aku dihalangi oleh orang. Ketika aku membacakan ayat-ayat Al-qur'an di sampingnya, air mataku pun terus mengurai. Banyak suara2 di sekitarku, suara yang berusaha menasihati dan menguatkanku. Dan ketika aku mendapatkan sms dari seorang temanku dari Blitar (hah? kenapa dia yg sms aku pertama kali? dapet info dari mana dia? padahal dia hanyalah teman facebook). Aku mengabaikan sms nya. Kemudian masuk lagi sms berturut2, dan itu berasal dari Adam, Yazid, Fahmi, Aris, Mirnov, dll. Aku sangat tersentuh dengan kata2 mereka, aku merasa sangat terkuatkan, aku merasa hidupku tidak secacat ketika aku harus menerima kenyataan ini, aku  merasa memiliki keluarga spesial yang menguatkan. Kata2 motivasi mereka yang panjang, aku tidak begitu mengingatnya, tapi yang paling aku inget adalah, "kalau nanti dewi perlu apa2, bilang ke kami ya? kami teman2 gamais insya allah siap membantu" dan kata2 yang tak akan pernah aku lupakan dan akan terus menjadi memori indah adalah. "KARENA KITA KELUARGA," Mereka bilang, mereka tidak dapat berkunjung ke rumah saat itu karena mereka masih ada acara di Bogor. Ketika itu, entah kenapa kata KARENA KITA KELUARGA terasa bukan hanya sekedar slogan.

Entah jam berapa, aku merasa sangat lemas, lelah, badanku terasa gak enak, dan kepalaku pusing. Akupun tertidur. Dalam tidurku aku masih berarap kalau ini hanyalah mimpi, ketika aku bangun, aku berharap ayahku juga bangun dan mendengarkan ceritaku serta memelukku. Tapi, sekitar pukul 3 kalau gak salah aku dibangunkan nenekku, "ndhuk, bangun. Sana temani ayah sebelum ke tempat terakhirnya. Doakan ayah ndhuk, bacakan Al-qur'an di sampinganya. Tuh, dari tadi lantunan ayat Al-qur'an dari tetangga dan saudara2 gak berhenti, kamu ikut gabung ya?" Ah, kenapa ini bukan mimpi? Kenapa ayahku belum bangun juga?? Aku mengambil air wudhu dan melakukan QL. Di sana aku berdoa. Kemudian aku menghampiri ayahku dan gabung dengan tetangga2 dan saudara2 untuk membaca Al-qur'an bersama di samping ayahku.

Hingga pagi hari ketika ayahku dimandikan dan disholatkan, aku menyempatkan utnuk membalas sms2 teman2ku, dan aku hampir lupa memberi tahu teman2ku di SMA. Hanya 2 orang sahabatku yang aku sms. Dan setelahnya banyak sms masuk, dari kakak2, teman2 , dan adik2 Rohis. Secepat itukah info tersampaikan ke mereka? Subhanallaah ukhuwah islamiyah ini. Gamais (Keluarga Mahasiswa Islam ITB) dan Rohis (Rohani Islam SMAN 65 Jakarta), merekalah keluargaku.

Ketika pemakaman ayahku, dari teman2ku, hayalah satu orang yang berkesempatan untuk mengikuti proses pensholatan jenazah dan pemakaman ayahku. Dia bersama mama dan papanya. Awalnya dia bukanlah teman dekatku, hanyalah sebatas teman OSIS. Jurusan kami pun berbeda sehingga kelas kami agak berjauhan. Tapi beberapa bulan yang lalu ayahku mengantarkanku ke rumahnya untuk mengantarkan file untuk acara kampus ekspo dari jaringan alumni 65 angkatan 2009. Di sana ayahku kenal dengan papa temanku ini dan mungkin karena sama2 dari Jawa dan yang paling utama pastinya karena Allah, mereka menjadi akrab dalam waktu beberapa menit dan di sini keluarga kami saling menyambung tali silatirahmi (insya Allah sampai sekarang). Mungkin sekarang aku menganggapnya saudara, walaupun jauh, dia di UI dan aku di ITB. Jazakumullaahu khairaal jazaa', Miranty dan keluarga, terima kasih atas kebaikan kalian selama ini. :-)

Aku dan ibu sengaja ikut bersama ambulance jenazah ayahku karena memang kami ingin dekat di hari2 terakhir pengantaran jenazahnya. Ketika di sana, aku sudah diinisiai oleh banyak orang untuk tidak meneteskan air mata selama pemakaman.
(Dengan memajukan alur), banyak orang sana (entah pengunjung atau warga sekitar karena ini hanyalah cerita yang aku dengar setelahnya) yang berkomentar, "siapa sih ini yang meninggal? banyak sekali yang mengantarkan? (dari pintu gerbang hingga makam yang hampir di belakang tempatnya)" ketika melihat nama di nisannya, katanya ada yang bilang, "oh, pantesan aja, orang pejabat hukum yang meninggal". Padahal ayahku bukan pejabat dan bukan orang hukum, nama ayahku Jaimin Suryadi Hartanto, dan di nisannya tertulis Jaimin S.H. Mungkin orang salah sangka.
Aku pernah mendengar dari sahabatku, ketika dulu staff TU sekolah kami ada yang meninggal, beliau adalah orang yang sangat dikenal baik masyarakat ,saat itu yang menyolatkan dan memakamkan sangat banyak lalu temanku berkomentar, "ketika 40 orang yang menyolatkan insya Allah beliau meninggal dalam keadaan baik". Wallaahu 'alam.
Dan aku juga banyak mendengar dari tetangga, teman2 ayahku para ustadz, mereka bilang, "subhanallaah, belum tentu ketika saya meninggal nanti seperti pak jaimin", dan kertika banyak yang merasa kehilangan, mereka para teman2 ayahku dari jakarta barat sampai jakarta timur, teman2 dan saudara2 dari pamanukan, dari boyolali, dari solo, dan mereka semua sangat merasa kehilangan dan bilang mas jaimin adalah orang yang soleh, banyak berkorban untuk sekitar, tulus, ramah sama semua orang bahkan hampir semua warga kampung rawa dan sekitarnya mengenal beliau sebagai orang yang ramah, tetap menyapa duluan walaupun orang lain cuek, tetap sabar walaupun dicerca, berjuang keras untuk keluarganya, dan banyak yang mengenalnya baik. Semua itu hanya menjadi kenangan bagi kami. Bahkan beberapa hari setelah sepeninggal ayah, masih banyak temen2nya dari luar jakbar, teman2 lamanya, teman2 seperjuangan ketika masih muda yang sekarang sudah banyak pindah dari daerah kami, mereka masih berkujung ke rumah. T_T
Aku hanya berharap ayahku juga meninggal dalam keadaan terbaik, khusnul khotimah dan di sana mendapatkan jalan dan tempat terbaik yang abadi. Dan aku berharap, aku, ibu dan kedua adikku tertarbiyah dengan baik supaya kami dapat saling menyelamatkan di akhirat nanti.
Dari sana, aku mulai menghapus air mataku. Aku harus mengikhlaskan kepergiannya, aku akan menghapuskan harapan2 bodoh seperti yang aku rasakan tadi malam karena menurutku itu hanyalah menghalangi ketenangan kepergian ayahku. Ayahku telah meninggal dengan cara yang baik dan aku harus mengikhlaskannya dan aku harus berhusnudzhon kepada Allah, mungkin Allah lebih mencintai ayahku daripada aku dan semua orang yang masih ada di dunia ini. Mungkin Allah ingin membahagiakan ayahku dan melepas bebannnya setelah sekian lama ayahku berlelah2, bersusah payah dan merasakan sakit demi memperjuangkan keluarga yang dicintainya.

Sms2 dari teman2ku masih terus saja masuk. Ada satu dari seorang kakak Rohisku yang selama ini banyak menginspirasiku, "yang bisa Dewi lakukan saat ini hanyalah menjadi amal jariyah untuk beliau yaitu anak soleha yang mendo'akannya". Dari sana aku mulai bisa menularkan kekuatan baruku untuk adik2ku dan mencoba menasehati mereka.

Ketika sampai di rumah, ternyata teman2, kakak2, dan adik2 Rohis sudah ada di rumahku. Aku merasakan ukhuwah di sini. Wah, setelah sekian lama kami tidak berjumpa, terutama kakak2 2007 nya. Mungkin dengan cara ini Allah menemukan kami kembali.
Kemudian siang menjelang sorenya hadirlah teman2 dan kakak2 dari Milis, Gamais, dan katanya Garda Ganesha. ^^ Kak Sri, kak Hari, Rizky, Lukman, Adit, Wahyu, Rosita, dan pastinya ada pipit juga (sepertinya ada yg lupa aku sebutkan, ma'af... ;-)
Aku sangat senang ketika mereka datang. Aku juga merasakah ukhuwah di sana. Indah sekali. Tapi sayanganya, saat itu ibuku masih sangat sibuk karena banyak sekali tamu yang datang sehingga ibuku tidak terlalu menyambut hangat mereka. Tapi ada eyang angkatku yang mewakilkannya. (seseorang yang dianggap bapak oleh ayahku sejak ayahku merantau di jakarta ketika masa mudanya hingga sekarang kami menjadi keluarga besar di jakarta karena kebetulan keluarga besarku yang sebenarnya ada di solo semua kecuali 1 keluarga omku dari ayahku).

Dan esok harinya datanglah empat sekawan tim inti IsEF, Adam, Yazid, Fahmi, Aris. Subhanallaah, mereka menyempatkan kepulangannya dari bogor untuk mampir kerumahku.
Di sinilah aku merasakan ukhuwah dan KELUARGA.

Ternyata memang bukan sekedar slogan, tapi ini nyata. Gamais, Rohis, Milis, merekalah keluargaku seseungguhnya yang care selama ini. Bukan hanya yang hadir fisik, tapi juga mereka yang hadir melalui sms. Aku sangat terharu dengan mereka semua, aku sangat bersyukur karena Allah mengirimkan mereka untuk menyayangiku, untuk care sama aku, dan untuk menjadi teman, sahabat, saudara dan keluargaku untuk berjuang di jalan ini. Bukan hanya saat itu saja, tapi hingga saat ini.

Itu kenapa aku sangat semangat sekali untuk membantu internal G09, misalnya menjarkom dan menginfokan ketika ada yang sakit atau kenapa2 SEPENGETAHUANKU.
Aku juga ingin mereka merasakan apa yang aku rsakan. Aku ingin mereka juga merasakan indanya ukhuwah yang aku rasakan yang mungkin jika diceritakan terkesan biasa saja tapi di hati ini masih membekas rasa keindahan.

Aku sangat sedih ketika mendengar di antara meraka ada yang sakit. Apa lagi jika yang sakit itu adalah orang yang selama ini banyak mengerjakan amanah2, amanah yang seharusnya ditanggung sekian banyak orang namun hanya segini orang yang menanggungnya sehingaa mereka  mengalami double, triple, quarter bahkan multi job.

Ketika pipit sakit typus, memang salah satu kebodohanku tidak memprioritaskan untuk menjenguknya, aku hanya menyalami nya ketika ia dijemput bapak. Setelah itu aku tidak menjengukinya lagi ke rumahnya. Saat itu aku terlalu asyik dengan amanah2ku, aku hanya meng-sms-nya setiap hari dan dia selalu bilang udah gapapa, aku merasakan tenang padahal jelas2 dia belum ngampus lagi. Hingga dia benar2 sembuh dan kembali ke asrama, aku belum sempat menjenguk ke rumahnya. Maafkan aku pipit. T_T Semoga kebodohan ini tidak terulang lagi dan tidak aku ulang untuk teman2 yang lain juga.

Ketika Icha sakit sampai sekitar 2 minggu, bahkan mendengar kabarnyapun aku tidak. Sepertinya ketika postingan di group ttg sakitnya Icha, ketika itu aku pulang kampung beberapa hari, di sana aku tidak mendapatkan sinyal modem dan sulit sinyal AS. Hingga ketika Dera masuk Boromeus dan aku + temen2 menjenguknya, Dera menanyakan kabar Icha, aku baru tau dari situ kalo Icha sakit dan saat itu Icha udah sembuh. Maafkan aku Icha. T_T

Liana, selama ini aku belum banyak berbuat baik kepadanya bahkan aku belum menjadi sosok seorang sahabat buat dia padahal aku sekelas. Aku juga tidak begitu tau kehidupannya selama ini karena memang ketika bergaul dengan Liana, yang sering kami bahas hanyalah soal mata kuliah. Dia hadir di kelas ketika memang kuliah udah akan atau udah dimulai dan pulang lebih awal dariku. Ketika ia sakit, aku juga baru menjenguknya 2x, sebelum operasi dan setelahnya. Ketika dibawa pulang, aku belum sempat menjenguknya, hanyalah wacana, niat dan wacana bersama salah seorang teman dekatku di kelas, Ismi. Hingga Allah telah memanggilnya. Semoga Liana diberikan tempat terbaik. T_T Maafkan aku Liana, aku belum menjadi sahabat baik kamu. Aku belum melakukan apa2 buat kamu. T_T Semoga Allah memberikan kebahagiaan buat kamu di sana.

Kenapa ikhwan selalu super untuk mengerjakan pekerjaanya sendiri dan membantu pekerjaan akhwat juga?
Ketika Arbi sering sakit2an saat megang amanah menjadi kadiv acara OASIS. Aku merasa tidak dapat membantu apa2, juga tidak dapat meringankan bebannya, malahan mungkin hal2 yang seharusnya bisa aku kerjakan sebagai staffnya, malah dia juga yang mengerjakannya. Dia menunjukkan kepedulian terhadap jundinya karena memang saat itu, aku sedang double job dengan mametcar MPAM Himafi. Maafkan aku, Bi. T_T
Dan ketika Rizki (Khairun) sakit, semuaya berasa mendadak, ketika sorenya aku pamit dengannya bahwa aku tidak dapat membantu kepanitiaan di hari H P3I (Idul Adha Salman) karena aku harus pulang ke jakarta, aku menyerahkan plakat yang belum jadi ke dia pagi harinya dan kemungkinan dia juga yang menyelesaikannya, ternyata dia sedang sakit dan aku tidak tau. Sorenya ia sakit dan dibawa ke rumah sakit. Kemudian besok paginya, dia dibawa pulang ke Medan. T_T
Maafkan aku Rizki. T_T Semoga rizki segera sembuh dan cepet balik ke kampus lagi. Banyak yang menanti kehadiran Rizki di sini, dosen2 Rizki, temen2 Rizki, kakak2 dan temen2 Gamais + asrama, dan semuanya.

Ketika Rifqi menghilang selama +- 3 minggu ini. Aku juga tidak dapat berbuat apa2. Padahal selama ini aku satu amanah dengan dia, 3-4 bulan kami kerja bareng di tim mametcar MPAM Himafi, kita satu kelas di mekanika dan gelombang, satu shift praktikum di fisika komputasi, tapi aku gatau dia di mana bahkan ga pernah bisa ngehubungi dia via sms dan fb, gatau kabarnya, gatau dia kenapa, gatau dia sakit apa, ah, temen macam apa aku ini? T_T
Tapi, alhamdulillaah hari ini aku melihat rifqi sekilas ketika keluar dari lab fiskom. Dan memang aku belum sempat ngobrol dengannya untuk sekedar menanyakan kabarnya, kenapa dan di mana dia selama ini.

Ketika aku mendapat kabar dari Adam bahwa Andre sakit, ketika dikabarkan dia gejala typus dan belum dibawa ke dokter, ke mana temen2nya? Aku tidak bisa berbuat apa2, saat itu akupun juga sedang sakit di Jakarta. Tapi memang aku tidak akan pernah bisa menolongnya karena aku akhwat dan dia ikhwan. Apalagi ketika aku ingat status dia beberapa bulan yang lalu, ketika dia juga sakit, dia bilang "Ketika puluhan sms "syafaakallaah" masuk ke inboxku, mereka tidak mengirimiku sms seperti itu, tapi menemaniku di tempat tidurku, merawatku, hingga aku kembali tersenyum". Di sini, dalem banget maknanya. Seandainya aku adalah teman ikhwan Gamaisnya, aku akan berusaha berbuat lebih dan real sebagai anak Gamais daripada teman2 yang dia maksudkan di statusnya itu (jika memang aku tau kalau dia sedang sakit).

Ketika aku sharing dengan Zae (Zainab) ttg ini, dia pun berpendapat dan pernah merasakan hal yang sama terhadap hampir semua dari mereka yang aku sebutkan di atas. Seandainya tidak ada keterbatasan di antara kita, mungkin kami akan melakukan banyak hal untuk kalian, wahai para super pejuang.

Mungkin, dari semua kisah ini dapat menjadi pelajaran buat aku, Zae dan kita semua. Ukhuwah itu bukan hanya sekedar indahnya kata, tapi bukti yang nyata. Dan seminimal mungkin, ukhuwah itu terletak dalam do'a TULUS yang tidak diketahui oleh orang yang kita do'akan.

Mungkin memang usahaku untuk berukhuwah ini masih sangat minim, apalagi dengan segala keterbatasan ini, ketika kalian para sahabatku (akhwat) yang berada di wajihah lain, berada di prodi lain, mungkin di prodi sendiri pun aku masih belum bisa berbuat lebih, apalagi kalian yang di sana, bahkan kalian yang berada di univ lain, aku tidak akan sanggup untuk memperhatikan kalian semua satu persatu, menghibur kalian ketika kalian sedih SEPERTI APA YANG KALIAN LAKUKAN SAAT ITU, memberikan solusi ketika kalian mendapatkan masalah,  merawat kalian ketika kalian sakit, memberikan hadiah ketika kalian milad, membantu kalian ketika kalian mengalami kesulitan, dan memenuhi kebutuhan kalian sebagai seorang sahabat. Apalagi untuk para sahabatku yang ikhwan, karena adanya batasan2 untuk kita, mungkin aku tidak akan bisa berbuat apa-apa untuk kalian selain do'a.

Tapi apa yang bisa aku lakukan dan aku tahu, mungkin akan aku lakukan untuk kalian. Dan kalian, kalian semua sahabat2ku, insya Allah akan ada dalam do'a2ku, sebagai sahabat2ku dan orang2 yang aku cintai. Ana uhibbukun fillaah, yaa ikhwah fillaah.
"Ukhuwah ini begitu indah KARENA KITA KELUARGA"